Terdengar suara derapan kaki dari seorang pria yang kali ini tidak biasa menghampiri Cassi tanpa pemberitahuan. Pria ini adalah Reland, sepulang sekolah dia ke kelas Cassi untuk menemuinya berhubungan kelasnya sudah keluar duluan. Sontak membuat kaget Lintang dan Tasya yang baru keluar dari kelas. Mengapa cowok-cowok tampan di sekolah mereka mendekati sahabatnya. Tetapi tidak dengan mereka berdua.
"Ada Cassi?" Tanya Reland.
"Hm, ada ini Kak orangnya" Ucap Tasya.
"Aku tunggu di parkiran, cepat!" Ucap Reland lalu pergi begitu saja.
"Cassi ada apa ini?" Tanya Tasya menyipitkan matanya.
"Apanya, aku juga tidak mengerti." Ucap Cassi yang pura-pura tidak mengerti.
"Kamu sudah jadian sama Kak Reland?" Tanya Lintang.
"Jangan sembarangan berbicara Lin, tentu tidak." Jawab Cassi sambil melangkahkan kakinya yang diikuti Tasya dan Lintang.
"Terus kenapa bisa sedekat ini? Bukan tanpa alasan kan tidak mungkin. Banyak yang bilang dia itu cowok yang susah dekat dengan perempuan." Ucap Lintang panjang dan Tasya menganggukan kepala menyetujui perkataan Lintang.
"Besok lagi ya, Kak Reland sudah lama menunggu." Ujar Cassi yang melarikan diri untuk menghindari pertanyaan kedua sahabatnya itu.
Di parkiran sudah terlihat seorang Reland menunggunya. Tatapannya ke depan seperti ingin menelan orang karena tajamnya. Cassi melangkah pelan dengan penuh kepastian.
"Kita makan terlebih dahulu." Ujar Reland.
"Boleh Kak" Jawab Cassi.
Akhirnya mereka berdua keluar dari gerbang sekolah, berhenti disebuah rumah makan yang tidak asing bagi Cassi karena dia pernah kesini. Merekapun memesan makanan dan memakan pesanan yang sudah tiba.
"Sejak kapan mau memanggil sebutan Kak?" Tanya Reland di sela makan mereka.
"Hm, sejak kapan mana tahu. Tapi memang seharusnya seperti itu, harus menghormati yang lebih tua." jawab Cassi yang hanya diangguki saja oleh Reland.
"Kak kamu mau tidak pulang nanti beli ice cream, lantaran habis kehujanan kemarin Kak Arza tidak member izin makan es." Ucap Cassi memelas berharap Reland terbuka hatinya.
"Sekarang sudah sehat?" Tanya Reland yang dia sendiri bingung mengapa menjadi peduli seperti ini.
"Kapan juga aku sakit?" Tanya Cassi.
"Habis ini kita beli bunga dulu." Ucap Reland dan Cassi hanya bisa mengangguk.
"Sebenarnya siapa yang setiap hari diberi bunga sama Kak Reland. Pacarnya kah, bisa-bisanya tidak bosan?" Ucap Cassi yang sedang berbicara pada pikirannya sendiri dengan nada lesu dan sampai ia menghentikan makannya.
"Cepat dihabiskan, perjalanan masih jauh." Tegur Reland yang melihat Cassi seperti melamun.
Selesai makan, Cassi menemani Reland membeli bunga dengan bunga pilihannya. Cassi sedikit merasa tidak senang. Siapa perempuan yang beruntung sekali diperhatikan oleh Reland. Benar kekasihnya, tetapi setiap hari bukannya berlebihan. Cassi memandangi Reland, dia berpikir yang katanya banyak orang mengatakan Reland dingin dan tidak berperasaan sepertinya mereka tidak mengenali Reland. Dia bisa bersikap manis dengan caranya sendiri. Tanpa disadari Cassi tenggelam dalam pikirannya cukup lama. Hingga Reland menunggu dia tersadar kembali.
"Sudah melamunnya, ini tolong bawa." Ucap Reland yang memberikan sebuket bunga cantik yang Cassi pun menyukai bunga itu.
"Kak, kita mau kemana?" Tanya Cassi.
"Bertemu seseorang" Ucap Reland yang sedang memakai helmnya.
"Jangan bilang Kak Reland mau ajak aku untuk menjadi tukang foto seperti Kak Fatan kemarin. Sudah bawa bunga lagi ini, trauma lama-lama jadinya." Ucap Cassi membatin.
"Masih di situ, belum mau naik?" tanya Reland dan Cassi sadar dari pikirannya yang tidak tahu melayang kemana.
Cassi dibuat kaget, melihat mereka sedang berhenti di sebuah rumah sakit. Siapa yang sakit, separah itu harus dirawat. Cassi berpikir bahwa yang saat ini dia kunjungi bersama Reland adalah kekasihnya. Langkahnya sedikit berat jika itu benar.
"Kak siapa yang sakit?" Tanya Cassi.
"Masuk dulu nanti tahu." Jawab Reland.
Cassi mengikuti langkah Reland dari samping, dia dibuat bingung oleh pria ini. Dan sampai di sebuah ruangan dengan menampakkan seorang wanita yang terbaring lemah tak berdaya. Wanita yang seumuran dengannya. Cassi berjalan dengan sangat berhati-hati.
"Haii Ray, kamu belum sadar juga.Ini aku bawa bunga baru untuk kamu. Perkenalkan ini Cassi yang sudah bantu aku cari bunga cantik ini untuk kamu. Ray buka mata kamu." Ucap Reland dengan wanita yang sedang terbaring tersebut.
Cassi hanya bisa terdiam menyaksikan Reland yang terlihat sedih karena wanita yang sedang di depannya itu tak berdaya. Dia sedikit mendekati Reland, menepuk bahunya pelan.
"Sabar ya Kak, Kakak harus yakin dia pasti segera sembuh." Ucap Cassi menenangkan.
Cassi selanjutnya dibuat terkejut melihat tumpukan novel dan bunga yang ada di meja wanita ini. Ternyata seorang Reland sangat peduli dengan wanita yang sedang terbaring itu. Timbul lagi pertanyaan Cassi sepertinya mereka mempunyai hubungan spesial.
"Cass perkenalkan ini Raya." Ucap Reland dan Cassi mengangguk mengerti.
"Siapa perempuan ini Kak, pacar, adik, keluarga atau apa hubungannya dengan Kak Reland?" Tanya Cassi dalam hati.
Sesuai dengan permintaan Cassi sebelum mereka pergi ke rumah sakit, Reland memberhentikan dia di sebuah toko untuk membeli ice cream. Reland sangat terkejut melihat Cassi yang banyak sekali mengambil ice cream digenggamannya.
"Beneran bisa menghabiskan semua ini?" Tanya Reland.
"Bisa lihat saja nanti, sebentar tunggu di sini aku bayar dulu." Ucap Cassi namun Reland langsung pergi ke kasir membawa ice cream yang telah Cassi ambil dan membayarnya.
"Makasih ya Kak. Sering-sering ajak keluar tidak masalah." Ujar Cassi dengan senyum sumringahnya.
"Masalahnya buat aku" Jawab Reland.
Tujuan selanjutnya Reland mengajak Cassi ke taman. Melihat reaksi Cassi yang sangat bersemangat membaut Reland tersenyum simpul. Angin sore memang sangat menenagkan ditambah cuaca yang tidak terlalu panas.
Merekapun sampai di sebuah taman dan Cassi langsung pergi untuk mencari tempat duduk yang nyaman.
"Kak cepat di sini kosong kursinya." Panggil Cassi menunjuk ke arah kursi yang tidak berpenghuni.
"Kamu juga harus makan Kak, ice cream ini kan yang beli Kak Reland tapi sebentar—“ Cassi yang sengaja menggantung ucapannya.
"Kenapa?" Tanya Reland.
"Aku takut sikap Kakak nanti tambah dingin aku jadi—" Ucap Cassi yang lagi-lagi terpotong. “Susah jalan sama Kak Reland” Tambahnya diucapkan dalam hati.
Keadaan tiba-tiba menjadi canggung.
Bagaimana bisa Cassi berkata seperti itu, malu untuk kesekian kalinya. Andai Reland tahu kelanjutan ucapan Cassi pasti dia akan merasak tidak nyaman dan menilai Cassi wanita yang mudah sekali mendekati laki-laki.
"Jadi apa? Lanjut." Ujar Reland ingin mendengarkan ucapan Cassi.
"Hm, lupa Kak. Tiba-tiba hilang sinyal, lebih baik kita makan ice cream ini daripada cair." Ucap Cassi mengalihkan pembicaraan yang dibalas Reland dengan gelengan kepala.
Cassi menikmati makanannya dan Reland hanya bisa memandangi sekitarnya. Namun tiba-tiba Reland merogoh sakunya yang menampakkan sebuah sapu tangan.
"Kamu makan seperti anak kecil saja." Ujarnya dan mengelap bibir Cassi secara perlahan.
Cassi hanya diam terpaku dan di dalam hatinya hanya ada degupan yang sangat kencang.
"Apakah Kak Reland mendengarnya?" Batin Cassi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments