Seorang gadis yang berusaha menyamakan langkahnya dengan pria yang ada di depannya, Cassi sedikit berjalan lebih lebar langkahnya karena Reland yang memiliki kaki lumayan panjang.
"Sebenernya kamu mau kemana Kak?" Tanya Cassi pada Reland yang memasuki rumah makan.
"Makan dulu, lapar." Jawab Reland.
"Terus aku?" Tanya Cassi lagi yang mengikuti Reland duduk.
"Iya kalau laper ikut makan." Jawab Reland santai sambil menunggu pesanan.
"Kenapa baru bilang ketika dia sudah pesan." Ucap Cassi bergumam sebal.
"Ini Mas dan Mbak silahkan dinikmati." Ucap pelayan itu pada kedua insan yang sedang duduk tanpa pembicaraan.
Cassi bingung mengapa ada dua piring yang tersedia sedangkan yang dia tahu seorang Reland hanya memesan makanan untuk dirinya sendiri.
"Kak makannya banyak harus pesannya dua." Ucap Cassi yang menuju pada Reland dengan harapan satu piring untuk dirinya.
"Itu buat kamu, takut saja kamu nanti kelaparan cuma gara-gara menemaniku." Jawabnya santai dengan bersiap menyantap makanannya.
"Oh, aku makan berarti." Ucap Cassi yang diabaikan Reland.
Setelah makan, Reland dan Cassi keluar dari rumah makan tersebut. Hanya diam,di perjalanan yang tak bertujuan itulah yang ada di dalam hati Cassi. Bertanya juga percuma Reland tidak memberi tahu tujuan sebenarnya.
"Sebenarnya kamu mau ajak aku ke mana?" Tanya Cassi berulang kali.
"Nanti pasti tahu" Jawab Reland.
"Tidak ada kan niat mau menculik Kak?" Ucap Cassi agak sedikit memekik.
"Gila! Untuk apa coba tidak laku juga." Ucap Reland yang tak habis pikir dengan ucapan Cassi barusan.
"Waspada saja, kita juga baru kenal terus Kakak mau ajak ke mana tidak menjawab. Mengerikan." Ucap Cassi lumayan panjang.
"Terserah Cass." ucap Reland yang terdengar sangat menyebalkan bagi Cassi.
Tetapi ada hal yang berbeda baru ini Reland menyebutkan namanya. Rasanya ada yang terbang, tapi tidak mempunyai sayap. Berdegup kencang tidak beraturan. Dia benci perasaannya yang tidak bisa digambarkan apa artinya.
Akhirnya mereka sampai di sebuah toko bunga. Membuat Cassi tak habis pikir dengan pria ini. Mengapa harus membeli bunga di tempat yang agak jauh dari biasa yang dia lihat di depan toko buku yang pernah dia lihat.
"Perjalanan selama ini tadi cuma untuk beli bunga di sini Kak?" Tanya Cassi sedikit heran.
"Menurut kamu?" Tanya Reland balik.
"Perasaan tadi sudah kita lewati toko bunga, harus di sini ya." Ucap Caca yang tak habis pikir dengan pria di depannya yang sibuk melepas helm.
"Kan udah lewat." ucap Reland yang terdengar sangat santai.
Cassi pun mengikuti Reland kembali, melihat-lihat bunga yang sangat cantik dan warna-warni, seperti pelangi tetapi ini mempunyai harum khas masing-masing.
"Menurut kamu bagus yang mana?" Tanya Reland tiba-tiba.
"Merah itu bagus Kak." Ucap Cassi sambil menunjuk sebuket bunga yang telah tersusun rapi.
"Oke, Mbak yang itu satu." Ucap Reland pada pemilik toko bunga.
"Iya Mas." Jawab sang pemilik toko bunga.
Reland pun melihat bunga yang sama seperti susunan bunga yang telah tersusun tadi tetapi yang ini hanya untaian saja. Tidak kalah indahnya dengan yang lain.
"Yang ini buat kamu." Ucap Reland yang hanya memberikan seuntai bunga berwarna merah kepada Cassi.
"Hah, ini buat aku." Ujar Cassi yang kaget melihat Reland membelikannya seuntai bunga, iya hanya seuntai saja.
"Makasih." Ucap Cassi penuh penekanan dan dibarengi dengan senyum yang sangat dipaksakan.
"Dikira ini romantis kali ya, sebiji seperti ini lebih baik tidak usah. Tetapi cantik juga bunganya, dasar Reland menyebalkan." Gerutu Cassi namun dapat didengar oleh Reland.
"Kalau tidak mau, sini kembalikan." Ucap Reland.
"Sudah sana cepat bayar." Ucap Cassi namun Reland tersenyum melihat Cassi kesal padanya dan itu tidak dilihat olehnya.
Jalan pulang, lagi tanpa pembicaraan. Hening dan hening, angin sore yang menghembuskan udaranya saat itulah yang dirasakan oleh kedua anak manusia ini. Sebelum Reland mengantar Cassi pulang, Cassi harus ke rumah Reland untuk menaruh buket bunga yang terbilang besar. Apabila Cassi tidak mengantar buket tersebut, maka Reland tidak akan bisa membawanya.
"Terima kasih sudah meluangkan waktu kamu hari ini Cass." Ucap Reland
"Oke, hati-hati Kak." Ucap Cassi.
Motor Reland telah melaju dan tidak terlihat dari pandangan Cassi. Dalam perjalanan masuk ke rumah dia merasa ada sedikit kebahagiaan yang muncul, beberapa kali dia tersenyun tanpa sebab. Sepertinya suasana hatinya sedang senang sembari membawa bunga pemberian Relan tadi.
"Dari mana gadis kecil?" Tanya Arza yang duduk manis di sofa.
"Dari luar Kak." Ucap Cassi yang langsung duduk di samping Arza.
"Tahu, maksudnya sama siapa dan di mana?” Tanya Arza lagi.
"Menemani Kakak kelas lagi mencari barang, sebagai manusia yang penuh dengan kebaikan aku harus menolongnya." Ucap Cassi menyombongkan diri.
"Terus bunga itu dari siapa?" Tanya Arza lagi dan lagi.
"Dari dia juga, jangan pikiran aneh-aneh. Tadi dia minta ditemani beli bunga dan aku sudah janji tidak mungkin menolak, bunga ini Cuma tanda terima kasih saja." Ucap Cassi sedikit lesu.
"Ini alasannya saja pasti, Kakak kelas kamu itu ingin pendekatan. Peka sedikit Cass." Goda Arza yang membuat pipi Cassi memerah.
"Mana bisa begitu, dia itu anti cewek tidak mungkin mendekati. Kakak ini yang sudah tua masih saja sendiri benar kali kalau tidak laku" Ucap Cassi yang sangat fakta dan Arza tidak bisa mengelak.
"Tidak boleh berprasangka buruk terhadap sesama manusia Cass, Kakak seperti ini belum saja menemukan yang pas." Tutur Arza meyakinkan Cassi.
Seperti inilah yang dinamakan saudara tidak ada habisnya untuk bertengkar. Pihak satu tidak ingin mengalah harus menang dan pihak satunya lagi menyerang tiada henti agar lawannya melemah. Tetapi tidak berarti untuk Cassi. Dia akan melawan terus sampai di titik kemenangan. Sering kali Arza yang mengalah karena untuk tanding beradu perkataan bukanlah keahlian Arza.
"Bunda belum pulang?" Tanya Cassi yang mengalihkan pembicaraan.
"Belum mungkin malam nanti." Jawab Arza.
"Baiklah, aku mau istirahat dulu saja." Ujar Cassi yang sedikit lesu mendengar jawaban Kakaknya.
Cassi pun pergi ke kamar, dengan satu butir air mata yang membasahi pipi mungilnya. Perasaannya begitu cepat rapuh jika berhubungan denga kedua orang tuanya. Kasih sayang yang diberikan saat ini sudah berkurang.
"Benar-benar waktu mudah sekali merubah keadaan, padahal dulu tidak sibuk seperti ini. Apakah harus bekerja sekeras ini?" Ucap Cassi membatin dalam hatinya.
Cassi pun duduk dikursi belajarnya melihat beberapa foto yang terpasang di dinding kamar tentang kebersamaan keluarganya yang saat ini telah banyak berubah. Setiap kali ingin lebih memahami tetapi sulit. Dia masih butuh cinta dari Ibunda dan Ayahnya.
"Aku harus mengerti." Ucap Cassi dengan menghapus air matanya.
Cassi mengingat seuntai bunga yang ada ditangan kirinya. Dipandanginya mengingatkan peristiwa yang terjadi hari ini, sekilas senyumnya kembali.
...-----...
Terima kasih sudah membaca jangan lupa tinggalkan jejak dam komen ya. See You Next Part;)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Alfan
aku bantu subscribe ya kak karyanya
2023-10-07
0
AngelaG👁💜
Bukan cuma seru, authornya pandai bikin kita merasa terlibat di cerita ini.
2023-09-30
1