Luka

Kamar Arza yang tadinya hanya terdengar suara yang lirih kini kehadiran Cassi yang tidak terduga membuat suasana sedikit memanas. Lebih tepatnya Cassi yang tidak menerima keputusan tersebut.

"Kak, kenapa tiba-tiba membatalkan impian menjadi dokter dan memilih bekerja di perusahaan Ayah. Apa Ayah yang memberitahu Kakak? Menjadi dokter impian Kakak dari kecil kenapa melepaskannya." Ucap Cassi yang langsung masuk dengan deretan kalimat yang panjang membuat Rani dan Arza terkejut.

"Sayang kamu dari tadi mendengarnya?" Tanya bunda.

"Tidak sepenuhnya Bunda, Cassi tidak setuju jika Kakak tidak melanjutkan kuliah kedokterannya. Bunda juga tahu kan kalau Kakak itu dari kecil sudah ingin menjadi dokter." Protes Cassi yang ingin mempertahankan impian Arza.

"Cass, ini bukan dari Ayah murni semuanya keputusan Kakak yang ingin terjun ke dunia bisnis." Ujar Arza menjelaskan pada Cassi.

"Kak, impian Kakak yang bertahun-tahun hilang hanya dalam waktu beberapa bulan. Aneh kak!" ucap Cassi.

"Sudah sayang ini keputusan Kakak, kita menghargai keputusannya. Kakak kamu juga yang akan menjalaninya." Ujar Rani yang menenangkan Cassi.

"Cassi sebenarnya kecewa dengan keputusan Kakak, apalagi sudah hampir dua minggu lamanya Ayah belum juga pulang. Cassi tahu Ayah bekerja, tetapi tidak bisakah pulang sejenak bahkan memberi kabar pun Cassi tidak mendapatkannya. Jika ini pilihan Kak Arza baiklah, semoga pilihan Kakak tepat dan tidak menyesalinya" Ucap Cassi meninggalkan Rani dan Arza yang hanya diam.

"Kak, biarkan Adik kamu sendiri dulu, dia butuh waktu menerima keputusan kamu."Cegah Rani pada Arza yang ingin mengejar Cassi.

Cassi berlari dengan meneteskan air matanya dan melangkahkan kaki menuju ke kamar untuk mencurahkan rasa sakitnya ini. Dia langsung mengunci pintu kamar dan membanting tubuhnya di atas kasur yang ditemani boneka beruang besar hadiah dari Arza dan memeluknya erat. Alasan Cassi seperti ini karena dia peduli dengan Arza, dia yang selalu bekerja keras untuk meraih impiannya mengeluh pun Cassi tidak pernah melihatnya.

"Kamu kenapa Kak harus mengorbankan impian yang sejak lama Kakak kejar, jika nanti aku tahu ada hubungannya dengan Ayah. Aku tidak akan memaafkan Ayah! "Ucap Cassi yang masih meneteskan air matanya semakin deras.

Cahaya matahari mulai memasuki cela-cela jendela yang membuat Cassi mengedipkan matanya. Yang dia tahu hari ini adalah hari libur dan Cassi bangun lebih siang dari biasanya.

"Hm, siang sekali aku bangun." Ucap Cassi dengan mengusap matanya

"Mending aku mandi biar segar, kali saja ada yang ajak jalan." Ucap Cassi sendiri dan merasa geli dengan apa yang diucapkannya.

Cassi pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sesudahnya dia memakai pakaian dan entah mengapa dia ingin berdandan dengan dandanan yang sangat natural namun terlihat cantik. Cassi memandangi dirinya di depan cermin dengan mengembangkan senyumnya.

"Semalam nangis hari ini senyum-senyum, besok apalagi suasana hati ini berubah-ubah terus." Ujar Cassi di depan cermin.

Setelah puas memandangi wajahnya, tiba-tiba handponenya pun berdering. Baru saja dia mengatakan bahwa pasti dandannya tidak sia-sia ternyata benar ada yang menghubunginya. Matanya membulat sempurna yang menghubunginya Reland, ada apa lagi.

"Iya, Kak kenapa?" Tanya Cassi malu-malu.

"Bisa Kak sore saja ya." Jawab Cassi.

Reland hari ini mengajak Cassi untuk jalan yang belum diketahui tujuannya ke mana. Cassi mengiyakan ajakan Reland karena dia ingin melepaskan lelah yang dirasakan karena pikirannya kemarin.

Cassi pun keluar dari kamar dan tidak sengaja melihat Arza yang keluar dari kamar Ayahnya. Namun Cassi sedikit curiga karena yang dia tahu Arza tidak akan memasuki kamar Ayahnya di saat pemiliknya tidak ada. Ini seperti bukan Arza yang biasanya.

"Kenapa Kak Arza masuk kamar Ayah, bukannya Ayah belum pulang?" Tanya Cassi sendiri.

Arza tidak mengetahui ada orang yang sedang melihatnya, Arza langsung pergi keluar rumah bersamaan dengan Cassi yang mengikutinya diam-diam dari belakang.

"Demi aku yang penasaran, aku harus mengikuti Kak Arza meskipun memakai sepeda." Ucap Cassi sambil mengayuh sepedanya dengan harapan dapat mengikuti mobil Arza yang melaju sedikit kencang.

"Lelah juga ternyata, sebenarnya Kak Arza mau ke mana. Kenapa belok ke sini kantor Ayah kan ke sana?" Tanya Cassi merasa bingung.

Kakinya mulai letih mengayuh sepeda di sepanjang jalan. Namun,ketika mobil itu berhenti Cassi mulai bertanya-tanya karena mobil yang Cassi ikuti berhenti di sebuah rumah sakit.

"Siapa yang sakit?" Tanya Cassi pada dirinya dan memarkirkan sepedanya di tempat yang aman dengan segera mengikuti langkah Arza.

Arza berhenti di suatu ruangan yang masih sama membuat Cassi memiliki banyak pertanyaan. Cassi mencoba mengintip di jendela yang tertutupi sehelai gorden dengan memanfaatkan celah yang ada.

Dia mulai melakukan aksinya, akan tetapi sungguh membuat Cassi terkejut. Melihat seorang lelaki yang selama ini terlihat gagah saat ini terbaring dengan perban dikepala dan selang yang terpasang dibadannya.

Air mata Cassi tak bisa lagi dibendung dan keluar sederas-derasnya. Kakinya pun bergetar tak dapat menahan beban badannya hingga dia jatuh ke lantai. Cassi masih berusaha mencerna apa yang dilihatnya, sepertinya ini mimpi. Tetapi terasa sangat nyata, dia berdiri kemudian berlari memasuki ruangan itu.

"Ayah!" Panggil Cassi dan membuka pintu dengan kasar. Air matanya terus mengalir deras. Rani dan Arza terkejut bukan main atas kehadiran Cassi.

"Ayah apa yang terjadi, kenapa Ayah di sini?" Tanya Cassi pada ayahnya dan tidak melepaskan pelukannya pada pria yang sedang terbaring lemah ini.

"Sayang, Ayah kamu belum sadar dari koma." Ucap Rani dengan mengelus puncak kepala Cassi.

"Bunda sama Kak Arza jahat, sudah tahu Ayah begini tapi tidak ada satupun yang memberi tahu Cassi keadaan Ayah." Ucap Cassi dengan nada kecewa.

"Padahal Cassi juga anak Ayah tapi kenapa Cassi sendiri yang tidak tahu. Bagaimana jika Ayah meninggalkan Cassi tiba-tiba. Apa tidak ada yang berpikir bagaimana hancurnya menerima kenyataan nantinya?" Tambah Cassi semakin hatinya memanas, terasa pedih.

Rani dan Arza pasrah melihat Cassi yang nampak kecewa berat dengan keadaan ini karena memang bukan salah Cassi. Akan tetapi, memang keadaan yang mengharuskan Cassi tidak mengetahui kabar ini.

"Ayah, Cassi minta maaf. Ayah sakit Cassi tidak menjenguk Ayah bahkan mengurus pun Cassi telat datang kemari. Kenapa banyak sekali selang yang melekat di badan Ayah, pasti sakit. Ayah cepat sembuh, cepat buka mata Ayah." Ucap Cassi yang berharap ayahnya dapat membuk mata dan membalas perkataannya.

Rani yang meneteskan air mata hanya bisa melihat Cassi yang meratapi keadaan Ayahnya yang sedang terbaring. Hingga Cassi pun lelah dan tertidur dengan menggenggam tangan ayahnya.

"Maafkan Bunda sayang." Ucap Rani dan mengecup pipi lembut Cassi.

Rani pergi untuk membeli makanan dan Arza sudah dari tadi kembali ke kantor. Namun, sedari tadi handphone Cassi berbunyi sudah beberapa kali Reland menelpon tapi tidak ada balasan dari Cassi. Relandpun mengirimkan beberapa pesan berharap Cassi membalasnya namun tetap saja tidak ada balasan dari gadis itu.

Rani sudah kembali, Cassi masih setia memejamkan matanya. Karena waktu sudah sore, Rani membangunkan tidur Cassi yang masih dengan posisi yang sama.

"Sayang, bangun Nak. Pasti kamu belum makan." Ucap Rani dengan mengusap kepala Cassi.

"Cassi tidak lapar Bunda." Ucap Cassi singkat.

"Jangan seperti ini sayang, kamu harus makan nanti sakit. Tidak kasihan sama Bunda sudah membawa makanan buat kamu." Bujuk Rani agar Cassi mau makan meskipun sedikit saja.

"Iya Bun, Cassi makan." Ujar Cassi dan melepaskan genggaman di tangan Ayahnya.

Cassi memakan suapan dari Rani. Dia tidak bisa memandang ke arah Rani karena dia sangat kecewa dengan apa yang terjadi tentang kebohongan ini. Hingga selesai makan pun tidak ada pembicaraan.

"Sayang." Panggil Rani dan Cassi pun menoleh ke arahnya sejenak setelahnya dia berpaling kembali.

"Bunda minta maaf sayang, Bunda akan ceritakan semuanya. Sebenarnya waktu Bunda sering pulang malam Bunda mengurus Ayah di sini. Waktu itu kejadiaannya sore, Ayah mau pergi ke luar negeri dan kamu tahukan itu. Namun, belum lama Bunda dapat kabar kalau Ayah kecelakaan, Bunda panik dan langsung kasih kabar Arza. Bunda tidak tahan melihat darah yang keluar dari tubuh Ayah begitu banyak." Rani berusaha menceritakan peristiwa Sanjaya yang kecelakaan.

"Terus kenapa Bunda tidak memberitahu Cassi?" Tanya Cassi dan kembali lagi air matanya menerobos keluar.

"Sayang ,di perjalanan ke rumah sakit Ayah masih sadar dan minta sama Bunda untuk merahasiakan ini ke kamu, Bunda berbohong kalau Ayah ada pekerjaan di luar kota. Bunda menerima permintaan Ayah kamu sampai nanti sehat kembali." Jelas Rani dan Cassi hanya bisa menagis dengan menganggukkan kepala mengerti.

Caca sedikit mengerti dengan mendengar penjelasan Rani. Saat ini, Cassi masih setia duduk di samping ayahnya yang tengah terbaring. Diapun baru memeriksa handphonenya dan melihat terdapat panggilan dari beberapa orang disertai pesan yang tak terbalas. Dia membalas pesan yang menggagu matanya.Pesan itu dari Reland dan Cassi membalas dengan alasan yang membuat Reland mengurangi kecemasannya.

"Aku pikir, hari ini sedikit dandan akan jalan dengan seseorang namun aku salah. Aku bertemu dengan sayap patah yang tidak dapat terbang dan hanya bisa terbaring lemah. Ayah di sini masih setia dengan matanya yang tertutup."

Terpopuler

Comments

YouTube: hofi_03

YouTube: hofi_03

sabar Cassi /Cry//Cry/

2023-10-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!