...Sebelum lanjut part selanjutnya, aku mau bilang terima kasih atas dukungannya dan mohon bantuannya untuk menambah semangat menulis karya ini jangan lupa untuk vote. Apabila ada yang ingin memberikan saran dan masukan sangat dianjurkan ya karena aku juga masih pemula:)...
...Happy Reading...
...----------------...
...Luka ini berat membuat bibirku membisu tak bisa membaca dan diam tanpa bahasa. Seakan segalanya telah menjadi kehidupan yang sunyi meredupkan segalanya,hingga kamu pun datang tiba-tiba dengan seberkas cahaya."
...
...~Cassiopia Maurine...
..."Sebenarnya bukan sunyi yang meredupkan segalanya namun kau yang tak mampu menerima kenyataannya dengan ketulusan hingga ragu aku rasa cahaya tak sebanding dengan sang luka."
...
...~Reland Gustian
...
Senin pun tiba,namun langkah Caca gontai dan tidak bersemangat memasuki kelas. Arza mengantarkannya, tetapi Cassi tidak ingin membuka suara maupun banyak bicara yang sebenarnya Arza pun telah mengetahui apa penyebabnya. Penampilan Cassi tidak seperti biasanya, rambutnya yang diikat ke bawah dan raut wajah sedikit muram itulah yang terlihat.
"Anak Ayah harus tegar, Ayah saja kuat menahan sakitnya." Ucap Cassi menyemangati dirinya dan menghela nafas panjang selanjutnya diapun masuk kelas .
"Kenapa Cass ada masalah?" Tanya Tasya melihat Cassi yang lesu.
"Biasa berantem sama Kak Arza." Jawab Cassi berbohong.
"Kebiasaan kalian ini." Ujar Lintang.
"Memang." Jawab Cassi yang duduk dan meletakkan tanggannya diatas meja untuk sandaran kepalanya.
"Kamu sakit Cass?" Tanya Lintang lagi yang merasa khawatir melihat kondisi Cassi berbeda.
Casssi pun hanya menggelengkan kepala. Hingga bel berbunyi menandakan upacara akan dimulai. Cassi merasa lelah untuk mengikuti upacara, dia pergi ke UKS tanpa ketiga sahabatnya karena hanya butuh istirahat.
Di UKS, Cassi hanya seorang diri karena petugas PMR berada di lapangan, hingga diapun terlelap. Ketika Cassi terbangun ada sebungkus roti dan teh hangat dimeja dekat kasur yang dia tiduri. Melihat sekitar tidak ada seorang pun berada di sana. Melihat jam ternyata Cassi tertidur cukup lama. Kemungkinan dia melewatkan satu pelajaran hari ini.
"Jangan lupa makan, Cassiopeia?" Tanya Caca yang terdapat kertas kecil di dekat teh hangat tersebut. Sepertinya belum lama orang itu menaruhnya.
"Siapa ini yang iseng memberi makan, padahal aku tidak lapar." Ucap Cassi sambil mengunyah roti tersebut.
Tiba-tiba saja handphone Cassi berdering pertanda pesan masuk.
"Pulang sekolah harus bareng, tidak ada penolakan." Ucap Cassi yang membaca pesan itu yang tak lain dari Reland.
"Pemaksaan." Cassi yang bergumam.
Sepulang sekolah Cassi dengan segera pulang tak lupa dia berpamitan dengan ketiga sahabatnya. Namun,sebelum mencapai parkiran Cassi menabrak Risto. Bisa bersamaan seperti itu, karena suasana hatinya tidak baik Cassi hanya bisa meminta maaf tanpa berisik seperti biasanya.
"Aduh, maaf Kak tidak sengaja." Ucap Cassi yang meminta maaf.
"Santai-santai, kamu gebetan Reland kan Cassi. Perkenalkan Risto yang paling ganteng antara siswa yang lain." Ujar Risto yang menyombongkan diri.
"Iya Kak salam kenal, maaf ya tidak bisa lama permisi." Ucap Cassi yang pasalnya dia tak ingin berdebat panjang dengan suasana hati yang tak pasti ini.
"Sopan sekali, memang aku sudah setua itukah?" Batin Risto yang melihat kepergian Cassi.
Di parkiran, Reland dengan keadaan menaiki motornya helm terpasang dan wajah tegas menatap kedepan menunggu Cassi datang.
"Mau ke mana Kak?" Tanya Cassi dan masih saja pandangan Reland lurus ke depan.
"Naik!" perintah Reland
Entah mengapa Cassi tak bisa menolak dan mengikuti permintaan Reland karena melihat Reland yang tidak seperti biasanya membuatnya sedikit takut. Apakah Reland marah karena kemarin. Tidak ada suara hingga sampai di sebuah rumah di mana yang Cassi tahu itu rumah yang pernah dia datangi bersama Reland yang pada saat itu meluapkan segalanya.
"Mau apa Kak di sini?" Tanya Cassi yang berusaha menyamakan langkahnya dengan menaiki beberapa anak tangga.
Reland masih tak membalas dan sampailah di teras rumah bagian atas, Cassi terdiam melihat lelaki itu duduk di tengah teras yang tak beralaskan apapun. Rumah itu memang sudah lama tidak dihuni yang menjadi tempat favorit Reland ketika dunianya tidak baik-baik saja. Tidak ada satu orang pun yang lepas dari kesedihan semua orang pasti merasakannya. Di sinilah tempat pelarian Reland.
"Kenapa kamu selalu menjadi tanya untukku?" tanya Reland tiba-tiba dengan tatapan memandang ke depan.
"Maksud kamu apa Kak?" Tanya Cassi balik yang tidak mengerti maksud Reland.
"Kenapa kemarin tidak menjawab telpon? Aku ke rumah kamu tetapi sepertinya tidak ada orang." Ujar Reland.
"Kemarin ada pekerjaan yang tidak bisa di tunda kak, maaf." Jawab Cassi yang merasa bersalah.
"Aku khawatir Cass, kemarin kamu yang tiba-tiba tidak ada kabar. Apalagi kamu sempat sakit sebelumnya." Ucap Reland yang saat ini merubah pandangannya ke arah Cassi.
Cassi terdiam tidak mempunyai keberanian untuk membalas pandangan Reland. Hatinya yang berdegup tak beraturan namun lukanya kemarin tiba-tiba terbuka kembali.
"Kenapa kamu diam Cass?" Tanya Reland
.
Cassi pun tetap diam dan mata yang sudah tak bisa menahan air matanya untuk jatuh ke pipi mulusnya.
"Kamu menangis? Cassi—" Panggil Reland.
"Aku tidak mengerti Kak. Di mana orang yang aku sayang ternyata belum bisa mempercayai segalanya ke aku. Aku bagian mereka tetapi mengapa harus ada yang ditutupi." Ujar Cassi yang tangisannya yang sudah pecah.
"Cerita semuanya Cass, aku mendengarkan." Ucap Reland yang memandangi Cassi dengan air matanya yang terus mengalir.
Cassi menceritakan segalanya tanpa ada yang kurang sedikit pun tentang apa yang membuatnya kecewa dengan keluarganya pada Reland hingga Cassi merasa lebih tenang dari sebelumnya.
"Mungkin mereka tidak ingin kamu khawatir Cass juga yang ingin menutupi semua ini Ayah kamu sendiri. Kamu harus mengerti kenapa mereka melakukan semua ini, di saat itu pasti tidak mudah ada di posisi Bunda kamu." Jelas Reland yang berusaha membuat Cassi mengerti keadaan.
"Untuk saat ini aku jug amasih berusaha mengerti Kak tetapi masih saja ada kecewa." Ucap Cassi sembari menitikan air mata.
"Cengeng!" Ketus Reland memandangi Cassi.
"Apa?" Ucap Cassi menyipitkan mata ke arah Reland.
"Aku tidak membawa tisu maupun saputangan, jadi berhenti menangis." Ucap Reland.
"Padahal kemarin juga Kak Reland menangis, dasar." Ucap Cassi sembari mengelap air matanya dan Reland pun tak ingin membalas.
Setenang ini Cassi merasa dirinya lebih baik, ternyata saat seperti ini memang perlu seseorang untuk membantu menenangkan dan mendengarkan. Mungkin beberapa dari kehidupan orang lain tidak seberuntung Cassi yang masih mempunyai tempat cerita dan rumah berpulang yang cukup nyaman.
Orang yang terluka juga butuh obat bukan berbentuk pil maupun cair tetapi seseorang yang selalu siap menemani saat suka maupun duka itu sudah menjadi pereda yang cukup.
"Sekarang kalau kamu butuh tempat cerita, hubungi aku saja." Ujar Reland.
"Nanti bosan, Kak Reland juga tidak pernah menceritakan kehidupan Kakak. Kenapa aku harus bagi-bagi cerita" Ucap Cassi.
"Tidak mau juga tidak masalah." Ketus Reland.
"Terima kasih untuk kamu yang sudah mau menjadi bagian hidup aku paling berharga. Aku tidak tahu harus berkata apa untuk mengungkapkan hubungan ini, mungkin Adik dan Kakak. Tetapi jika ku menyebutnya seperti itu aku akan berbohong dengan perasaanku." Ucap Cassi dalam hati sambil memandangi Reland yang ada di sampingnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
YouTube: hofi_03
Reland obat untuk Cassi yg sedang sedih
2023-10-13
0