Penjelasan

Lampu rumah sakit menyinari matanya yang sekian lama tertutup rapat. Di sampinya terlihat Cassi sangat bahagia melihat Raya yang sudah mampu membuka matanya dari sebuah tidur panjangnya. Cassi dalam keadaan dilema untuk menemui Reland sedangkan Raya sendiri di ruangan akhirnya dia memilih untuk menunggu Reland datang dan memanggilkan dokter sejenak kemudian kembali lagi.

"Makasih ya kamu sudah menemaniku di sini." Ucap Raya yang terlihat pucat .

"Iya kak." Ucap Caca

"Memang Reland gila, pacarnya di tinggal sendiri. Keluar kemana itu anak?" Tanya Raya dengan tenaga yang dia punya.

"Tidak tahu Kak, tadi bilang sebentar." Ujar Cassi yang sedang berbohong.

"Kamu pacaran sama Reland sudah berapa lama?" Tanya Raya.

"Maaf Kak bukan pacarnya, nama aku Cassi teman Kak Reland satu tingkat di bawahnya jadi Adik kelasnya." Jawab Cassi dan dibalas anggukan oleh Raya.

Tidak lama Reland pun datang dengan raut muka sangat bahagia melihat Raya. Untuk pertama kalinya Cassi melihat senyum lebar Reland yang hampir tidak pernah memperlihatkannya. Pandangannya tidak lepas, ternyata Cassi baru mengakui bahwa sejujurnya Reland dangat tampan, hidung mancung yang sempurna, mata tegas, dan auranya tidak main-main.

"Raya, kamu sudah sadar syukurlah" Ujar Reland terkejut untuk kedua kalinya melihat seorang yang dia sayang telah sadar.

" Iya tetapi badan aku rasanya pegal semua, kamu dari mana?" Tanya Raya.

"Ke kamar mandi sebentar." Jawab Reland.

"Aku benar-benar tidak tahu ada apa dengan semua ini, terlebih lagi dengan masa lalu seorang Reland yang penuh tanda tanya untuk apa juga aku ikut ke sini, untuk menyaksikan ini?" Tanya Cassi pada hatinya.

Hari berikutnya, Cassi dan Reland masih dekat. Meski terlihat aneh dengan kedekatan mereka tanpa ada ikatan apapun. Sesekali Cassi juga merasa apa maksud dari Reland yang selalu melibatkan dia dalam beberapa keadaan. Bagaimana jika ada rasa yang seharusnya tidak ada. Pulang sekolah, dua orang yang berbeda saling berjalan bersama memasuki sebuah rumah sakit lagi.

"Kak, kenapa terlihat tidak semangat, ada masalah? Padahal Kak Raya keluar dari rumah sakit hari ini." Ucap Cassi yang menyamakan langkahnya dengan Reland.

"Hari ini Raya keluar tapi mau ke Bandung langsung." Jawab Reland.

Pantas saja dia tidak bersemangat, "Kenapa tidak menetap di sini dulu Kak?" tanya Cassi.

"Ada urusan keluarga katanya" Jawab Reland lagi.

Di sebuah ruangan yang telah dipenuhi keluarga kecil Raya yang telah terlihat siap keluar dari ruangan. Melihat kedatangan Reland semuanya menyambut dengan senyuman. Beratnya Reland melangkahkan kakinya untuk mengucapkan selamat tinggal.

"Reland, sini sama Cassi lagi." Ucap Papa Raya menunjuk ke arah Cassi.

"Iya Pa, Bagaimana hari ini jadi berangkat ke Bandung Pa?" Tanya Reland memastikan.

"Iya soalnya nenek Raya ini sudah kangen sama Raya. Meskipun sebenarnya kesehatan Raya belum optimal tetapi dokter sudah mengizinkan pulang" Jelas Mama Raya.

"Kenapa kamu kangen juga sama aku?" Tanya Raya menggodanya.

"Sebentar maaf memotong, dari tadi aku penasaran ini cewek kamu Land?" Tanya Ares selaku Kakak Raya.

"Bukan Kak, aku Cassi teman Kak Reland " Jelas Cassi dengan mengembangkan senyumnya.

"Oh, bagus jangan mau sama Reland, perkenalkan aku Ares Kakaknya Raya." Ucap Ares.

"Udah-udah ayo kita berangkat kasihan nenek menunggu lama." Lerai Papa Raya.

Rayapun resmi keluar dari rumah sakit bersama dengan keluarganya yang langsung pergi ke Bandung. Di tempat hanya terlihat Reland yang memandangi mobil yang semakin menjauh dari pandangannya yang ditemani oleh Cassi. Keberangkatan yang mendadak ini dikarenakan nenek Raya sudah sakit parah dan untuk terakhir kalinya ingin melihat Raya meskipun banyak harapan keluarga untuk nenek segera sembuh.

"Ih, Kak kamu menangis." Ucap Cassi yang membuat sontak Reland menoleh ke arahnya.

"Enak saja menuduh, mana ada menangis." Jawab Reland ketus dan mengambil motornya.

"Gengsiannya kebangetan, padahal cowok juga manusia nangis tidak masalah." Gerutu Cassi.

Diperjalanan mereka ingin menuju ke sebuah tempat yang berharap dapat memberikan ketenangan. Mereka memutuskan untuk pergi ke sebuah taman untuk berjalan kaki mengelilingi taman dengan membicarakan. Masih belum ada yang membuka suara, Cassi melirik ke arah Reland ada hal yang ingin ditanyakan tetapi masih tertahan.

"Kak, aku mau tanya. Kenapa Kakak sering ajak aku, bukannya kita belum lama kenal?" Tanya Cassi yang masih jalan beriringan dengan Reland.

"Mana aku tahu, tidak ada jawaban untuk pertanyaannya. " Jawab Reland.

"Dasar labil, aku pernah mendengar dari seseorang kalau Kak Reland anti sama cewek. Ini buktinya mau jalan sama aku." Ucap Cassi.

"Jangan sering mendengar cerita orang, kadang apa yang kita dengar sebelum mengenal itu menyimpulkan kebencian. Kamu cuma mendengar cerita dari satu pihak. Sudah kita istirahat dulu." Ucap Reland sembari menunjuk ke sebuah kursi di dekat taman.

Reland membiarkan Cassi untuk duluan menuju ke kursi tersebut dan dia pergi untuk membeli sebuah air mineral.

"Nih, minum." ujar Reland dengan memberikan sebotol minuman.

"Kak, waktu di rumah sakit itu kan ada cewek yang tiba-tiba datang, siapa?" Tanya Cassi.

"Menurut kamu?" Tanya Reland balik sambil bersiap meminum airnya.

"Sebenarnya aku sempat bertanya ke Kak Fatan kemarin, katanya cewek itu namanya Kak Raena yang saat ini statusnya sudah mantannya Kak Reland tetapi sayangnya ada yang belum bisa melupakan." Jelas Cassi panjang dengan menambahkan nada ejekan untuk Reland.

"Padahal baru di kasih tahu, jangan mendengarkan cerita orang. Kenapa kamu tidak tanya langsung ke aku?" Tanya Reland dengan menatap Cassi.

Deg!

Degupan kencang kembali lagi, kata aku yang diucapkan Reland sangat jelas belum lagi tatapannya saat ini. Cassi ingin berteriak tidak kuat, mata tajam ini benar-benar mendominasi perasaannya. Cassi segera mengalihkan pandangannya dan meminum airnya tadi sebanyak mungkin. Rupanya dia gugup.

"Hm, kenapa harus tanya langsung. Teman Kakak pasti juga tahu." Ucap Cassi yang masih mengalihkan pandangannya.

"Memang benar apa yang dikatakan Fatan, tetapi untuk belum lupa itu bohong. Aku mudah melupakan orang yang tidak penting." Jawab Reland.

"Padahal aku tidak bilang Kakak yang belum bisa melupakan." Tutur Cassi.

Padahal sekarang Cassi sedang tidak bisa menahan dirinya. Gelisah, padahal dia gugup setengah mati. Tetapi masih ada pertanyaan yang perlu ditanyakannya. Genggaman tangannya mulai mengepal agar tidak terlihat. Beruntungnya Reland tidak menyadari gerak-geriknya.

"Sepertinya dari pandangan aku kemarin, Kak Raena masih sayang sama Kakak. Kangen kemarin bilangnya berarti masih peduli." Ucap Cassi.

"Aku bukan tipe orang yang mengingkari janji, sekalinya berkhianat saat aku sudah serius maka rasa peduli hilang. Kenapa kamu jadi banyak pertanyaan?" Tanya Reland yang fokus memandangi langit.

"Hanya ingin tahu saja Kak, ingin kenal sama orang yang katanya di sekolah tampan dingin yang paket komplet susah di dekati." Ujar Cassi yang kemudian menutup mulutnya.

"Memang banyak yang mengakui, fakta sih itu." Jawab Reland percaya diri.

"Padahal aku tidak serius Kak." Ucap Cassi.

"Terserah, biasanya perkataan yang diucapkan di awal itu lebih benar" Jawab Reland yang menatap Cassi lagi.

Sudah cukup tidak kuat batin Cassi yang beberapa kali mengalihkan pandangannya.

"Hubungan sama Kak Raya apa?" tanya Caca

"Raya itu teman dari SD yang waktu itu pindahan dari Bandung. Aku sudah menganggap Raya itu seperti Adik jadi apapun yang membuat luka Raya pasti akan berhadapan sama aku." Jelas Reland.

Melegakan bagi Cassi apa yang didengarnya. Dalam benaknya juga muncul pikiran apakah selama ini Reland menggapnya sebagai Adik. Sulit mengartikan kepeduliannya, tetapi jika mengingat sosok Reland yang di kenal di sekolah maka ada harapan bahwa Cassi orang yang istimewa untuk Reland. Bukankah seperti itu?

"Sama kayak Kak Arza yang selalui siap melindungi aku, memang enak punya Kakak." Ucap Cassi yang memandangi langit hanya sekedar mengingat kebersamaannya bersama sang Kakak di masa kecil.

"Sekarang, aku juga akan melindungi kamu." Ucap Reland lirih tanpa mengalihkan padangannya dari langit. Berbeda dengan Cassi yang sontak langsung mengalihkan pandangannya ke arah Reland.

"Hah! Kamu tadi ngomong apa kak?" Tanya Cassi yang seakan-akan tak mendengar ucapan Reland tadi, maksudnya dia ingin memastikan lagi.

"Ngomong apa? Diam dari tadi." Ujar Reland dan mengalihkan pandangannya ke arah Cassi.

Cassi pun menghadap ke depan, cowok di sebelahnya ini agak lain dari yang lain. Tetapi sayup-sayup dia mendengar perkataan Reland. Setelah mereka selesai bercerita, Reland pun mengantar Cassi pulang.

"Mau langsung pulang Kak?" Tanya Cassi yang sudah berdiri di depan gerbang rumah.

"Iya langsung balik. Makasih buat hari ini." Ucap Reland.

"Iya Kak, hati-hati." Balas Cassi sembari melambaikan tangannya.

Relandpun meninggalkan Cassi yang masih berdiri menunggu pemilik motor itu hilang dari pandangannya dan setelahnya dia pun masuk rumah. Keadaan rumah besar itu sama seperti biasanya, hanya saja tidak terlihat Arza yang duduk di sofa menanti pulangnya Cassi. Di rumah impian ini Cassi merasakan hampa.

"Kayaknya bunda sudah pulang, tetapi di mana ya?" Ucap Cassi pada dirinya.

Ketika berjalan langkahnya terhenti, tidak sengaja melihat bunda di dalam kamar Arza yang sedang berbicara yang sangat membuat Cassi ingin tahu. Dia berjalan mengendap-endap menuju balik pintu untuk mendengar pembiacaraan yang ada di dalam ruangan itu.

"Kamu yakin Nak tidak ingin melanjutkan perjuangan kamu menjadi dokter? Bunda hanya bisa mendukung keputusan kamu saja yang terbaik buat kamu." Tutur Rani yang terdengar oleh Cassi.

"Apa? Kak Arza tidak jadi meneruskan impiannya. Apa yang membuat Kak Arza goyah?" Tanya Cassi terkejut mendengar hal ini dan masih mendengar pembicaraan Rani dan Arza.

"Iya Bun, melihat kondisi Ayah Arza lebih memilih untuk belajar dan bekerja di perusahaan meskipun Arza belum ada pengalaman." Ucap Arza dengan tenangnya.

Arza, sikapnya yang kadang-kadang menjengkelkan di mata Cassi tetapi dia juga memiliki sikap dewasa sejak dulu. Setiap keputusan yang diambil selalu bijaksana dan mampu memecahkan permasalahan. Cassi selalu kagum dengan Kakaknya. Definisi dewasa karena keadaan yang membuat terbiasa. Tetapi apa yang baru saja dia dengar, tidak mungkin.

Terpopuler

Comments

YouTube: hofi_03

YouTube: hofi_03

candu banget bacanya 😍😍😍😍😍😍😍

2023-10-12

1

Nori

Nori

Kepalang suka deh!

2023-09-30

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!