"Bukannya hati ini tidak sakit dan bukannya hati ini tidak hancur, bukan pula hati ini tak perih. Hanya saja kepasrahan selalu mengiringi."
*****
Syarifah juga mencoba menghubungi Mama Fatimah, Namun, kemudian, dia urungkan.
Lalu, Syarifah menghubungi Kiara lagi, tidak menunggu lama panggilan terjawab.
Syarifah: "Kiara, Aku melihat kekasih mu bersama wanita lain."
Kiara: "Lalu, aku harus bilang Waw, gitu "
Syarifah: "Kia, aku serius."
Kiara: "Kamu tidak perlu mencari tau kekasih aku ya. Aku lebih percaya seribu persen padanya dari pada sama kamu. Paham."
Syarifah: "Kia!" panggil Syarifah, namun, panggilan sudah terputus.
Syarifah meletakkan ponselnya, dan merebahkan tubuh nya di atas ranjang. mata nya menatap kosong langit-langit kamarnya, ingatannya terlempar pada beberapa bulan lalu, Saat berada di Desa Lestari.
"Yusuf, bagaimana kabarmu, Apakah sepeninggalan ku, engkau bahagia?" bisiknya pelan.
Sembari membayangkan kisah-kisah rumah tangganya, hidup bersama orang yang sangat mencintai nya.
"Sejujurnya aku tidak bisa melupakanmu, setiap aku mencoba, hanya sesak yang kurasakan." ucapnya pelan dengan deraian air mata.
Bayang-bayang membuai angannya, hingga kantuk membelai netranya. Syarifah tertidur dengan membawa sejuta duka.
Pagi nan cerah, langit biru menemani hati sang pecinta. Terbuai dengan sejuknya udara pagi.
Syarifah mencoba untuk lebih tegar, hidup terombang ambing di negeri orang, harus bisa berjalan sendiri.
"Hoam, ngantuk banget." Sambil duduk di atas ranjangnya.
"Aku lelap banget ya" bisiknya sambil melihat jam weker di atas nakas nya.
"Hah!, aduh bagaimana ini, sudah jam sembilan." Syarifah melompat dari ranjangnya, lalu, berlari ke dalam kamar mandi.
Syarifah buru-buru hingga ia lupa di rumahnya tidak sendirian lagi.
Wanita itu keluar kamar mandi dengan melilitkan handuk sebatas dadanya. Rambut nya di gulung ke atas memperlihatkan leher jenjangnya.
"Syarifah, kenapa berdiri disana, cepat masuk." ujar Bu Nur, wanita tua itu sedang duduk bersama Firdaus.
"Hah!" Syarifah tersentak kaget.
Mata Firdaus melotot, Syarifah dengan rambut hitam bergelut ke atas, leher putih di hiasi rambut-rambut halus, dada putih bak porselen, Kaki jenjang putih mulus.
"Astagfirullah," gumam Firdaus sambil memalingkan wajah.
Syarifah berlari ke dalam kamar lalu, melompat ke atas ranjang. Dia telungkup bergulung dengan selimut.
"Kenapa aku lupa di rumah kan, ada Bu Nur, astagfirullah. Dia melihatku dalam keadaan begini." Syarifah memaki dirinya, rasa malu nya sudah di ubun-ubun.
Beberapa jam sebelumnya.
Salam terdengar dari balik pintu, rumah minimalis itu terkunci rapat dan terlihat sepi.
Bu Nur keluar dari dapur. dan membuka pintu.
"Cari siapa, Nak?" tanya Bu Nur pada laki-laki berjambang tipis itu.
"Syarifah Bu, apa rumahnya disini?" balasnya sembari bertanya.
"Oh, Syarifah. Iya, ini rumahnya." jawab Bu Nur.
"Sampeyan siapa nya Syarifah?" tanya orang tua itu lagi.
"Saya pimpinannya, Bu." jawab Firdaus
"Silahkan masuk, Pak." Sambil melebarkan pintu.
"Iya Bu." Firdaus masuk ke dalam rumah Syarifah.
"Syarifah masih tidur Pak." ujar Bu Nur.
"Jangan panggil Pak ya, Bu, saya temannya Syarifah, panggilan saya seperti dia." tutur Firdaus.
"Baik Pak, eh, Nak. Maaf." Bu Nur tersipu malu.
"Syarifah masih tidur, tadi malam dia susah tidur, maaf ya Nak, Ibu sengaja nggak membangunkan." ucapnya
Bu Nur mengambil secangkir minuman ke dapur, sembari menunggu Syarifah, Firdaus berbincang-bincang pada Bu Nur dan dia baru tau kalau Bu Nur ibu nya Gion.
***
Syarifah keluar dari kamarnya, lalu, menghampiri Firdaus. Walau sebenarnya dia sangat malu. tapi, dia mencoba tetap cuek, seperti tidak terjadi apa-apa.
"Ada apa Kamu kemari?" tanya dingin.
"Syarifah, aku minta maaf." balasnya.
"Aku sudah memaafkan mu, sekarang, pergilah."
"Sya.." Firdaus menggantung ucapannya.
"Pergi!" teriak Syarifah sembari terisak.
Firdaus berjalan ke luar rumah, ada rasa sakit ketika melihat air mata Syarifah.
Syarifah menekuk tubuhnya, tangisnya terdengar pilu di telinga Bu Nur.
"Syarifah, bangun Nak." sambil mengusap punggung Syarifah.
"Ini hari apa, Bu?"
"Minggu, Sya." jawab Bu Nur.
Syarifah mengangguk, lalu berdiri dan masuk kedalam kamar.
Bu Nur menatap Iba pada gadis itu, walau sebenarnya dia tidak tau apa yang terjadi, namun, dia bisa merasakan ada luka dalam hatinya.
Setelah menenangkan diri, Syarifah keluar dan pamit pada Bu Nur.
Sebuah taksi sudah berhenti di hadapannya, Syarifah masuk dan membawanya ke Taman Kota.
Begitulah cara Syarifah mengatasi kesepiannya, Berjalan di Taman kota, menikmati hari liburnya.
Setelah lelah, dia duduk menikmati ramainya taman di waktu sore, menatap senyum anak-anak tanpa beban, melihat pasangan-pasangan romantis.
"Syarifah?" sapa Mama Fatimah dari sampingnya.
"Ma?" Syarifah memeluk Ibu angkatnya.
"Apa kabar, Nak?" tanya Mama.
"Alhamdulillah, sehat Ma, Mama apa kabar?" balas Syarifah sambil menggenggam tangan Mama angkatnya.
"Mama sehat." jawab Mama Fatimah.
"kenapa kamu pergi dari rumah, Nak?"
"Aku hanya ingin mandiri, Ma." jawabnya sambil tersenyum
"Ya sudah, kalau memang itu keinginanmu, Mama akan selalu menerima dengan tangan terbuka.
Setelah berpelukan, Mama Fatimah pun beranjak, tinggallah Syarifah seorang diri.
Mama Fatimah menyimpan semua ucapan Kiara tentang Syarifah, dia yakin Syarifah tidak begitu.
Matanya kembali memicing, melihat kekasih nya Kiara bersama seorang wanita. Syarifah meraih gawainya, lalu, memvideokan pasangan itu.
Syarifah mengirim ke nomor Kiara. Tidak menunggu lama Kiara menghubungi.
Syarifah: "Halo Kiara, Kamu sudah lihat kan?"
Kiara: "Aku tidak butuh video kamu, Roland laki-laki baik dan jangan sekali-kali kamu memvideokan atau apalah yang menghancurkan hubungan kami. Paham!" jawab Kiara dengan emosi.
Syarifah terdiam, dan lagi-lagi panggilannya di putus oleh Kiara.
Syarifah menyimpan ponselnya, lalu, mengikuti Roland, dia penasaran siapa Roland dan pasangannya saat ini
Roland dan kekasih nya memasuki sebuah cafe, dan tentunya Syarifah Masuk juga dan berpura-pura menjadi pembeli.
pasangan itu sungguh tidak tau malu, mereka berciuman di tempat umum.
sedang asyik mendengar, mata nya melihat Gion tidak jauh dari Roland dan pasangannya.
"Sedang apa si Gion kesini, aduh, semoga dia tidak melihat" batin Syarifah
Syarifah keluar pelan-pelan dari cafe, kepalanya menunduk di tutup dengan tasnya, dan,
"Bruak"
Minuman yang di bawa waiters itu jatuh dan pecah, sehingga mengundang perhatian sekitar.
"Maaf, Maaf." sambil minta maaf, Syarifah berjalan keluar cafe.
"Huh, selamat." sambil mengusap dada nya.
"Apa yang selamat, hm." Roland sudah di depan mata nya.
"Si-siapa kamu?" gugup dan takut jika Roland bertindak kasar.
"Mengapa kamu takut sayang, Bukankah Kamu mengikuti ku, hm?" Ronald mendekati Syarifah, Lalu, menariknya ke dalam toilet.
"Lepas!" bentak Syarifah,
"Bukankah kamu ingin diriku, sayang?" tangannya membingkai wajah Syarifah.
"Aku akan katakan ini pada Kiara." ucapnya sambil menepis tangan Roland,
"Silahkan, dan dia tidak akan percaya." seringai terlihat di bibir Roland.
"Lepas!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments