Azan subuh berkumandang, Syarifah dan Bu Nur terbangun dari tidurnya. Kedua wanita beda usia itu bergegas melaksanakan sholat.
Usai sholat, Syarifah beranjak ke dapur, menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
"Sya, Ibu bantu ya," ujar Bu Nur.
"Iya Bu, boleh." balas Syarifah
Bu Nur mendekat, tangan tua nya membantu Syarifah membersihkan sayur yang terletak di atas meja.
Setelah semua selesai, Syarifah berkemas karena sebentar lagi akan berangkat ke kantor.
"Bu, kita sarapan yuk" ajak Syarifah.
"Syarifah duluan ya, Ibu nungguin Gion." balas Bu Nur.
"Ibu sarapan dulu, nanti asam lambungnya kambuh." Syarifah mengisi piring kosong dan meletakkan di hadapan Bu Nur.
"Iya, Nak." Bu Nur sumringah, hatinya Bahagia karena Syarifah perhatian padanya.
"Ternyata enak punya anak perempuan." bisiknya.
Syarifah hanya tersenyum tanpa suara.
Seusai sarapan, Syarifah membersihkan piringnya. Kemudian, pamit sambil mencium punggung tangan wanita itu.
Terdengar salam dari depan pintu, Gion serta kedua temannya sudah berdiri di ambang pintu.
"Masuk saja Gion, ajak sekalian Hendra dan Hendri." ujar Syarifah.
"Iya" balasnya, Mereka masuk ke dalam rumah.
"Kalian sudah sarapan?" tanya Syarifah lagi.
Ketiga nya serentak menjawab tapi, dengan jawaban yang berbeda.
"Sudah." Jawab Gion.
"Belum" jawab Hendra dan Hendri bersamaan . Ketiga nya saling pandang dan tertawa malu.
Syarifah tertawa melihat kekonyolan tiga pemuda itu.
"Yuk, makan dulu. Ibu masih di dapur." ucap Syarifah.
Gion mengangguk malu, berbeda dengan Hendra dan Hendri, mereka tertawa cengengesan.
"Aku tinggal dulu ya." ucap Syarifah sambil melihat jam di tangannya.
Ketiga pemuda itu mengangguk, menatap kepergian Syarifah.
Syarifah berjalan menyusuri jalanan, gang demi gang hingga sampai di kantor Wijaya Grup.
Mata nya memicing saat melihat Firdaus di dalam lobi. Namun, ia mengabaikan laki-laki itu.
Kaki nya terus melangkah hingga memasuki ruangan cleaning service.
Firdaus menatap nanar, ia merasa bersalah tapi, ia terlalu gengsi untuk mendekati gadis itu.
Dengan hati yang galau, Firdaus berjalan ke dalam lift menuju ruang kerjanya. Sampai di dalam kantor dia menyalakan laptopnya.
"Syarifah, maaf kan aku" gumamnya, sambil memandang wajah Syarifah dari balik layar.
Tiba-tiba pintu di ketuk. Buru-buru Firdaus melipat laptopnya.
"Masuk" sahut Firdaus dari dalam.
Pintu terbuka, Malik berdiri di ambang pintu.
"Apa sudah ada?" tanya Firdaus.
"Sudah." jawab Malik.
"Mana?" tanya nya lagi.
"Tunggu sebentar lagi, mereka akan datang." balas Malik.
"Ok." sahut Firdaus.
Sambil menunggu, keduanya membahas masalah pekerjaan dan produk baru mereka .
Tidak menunggu lama, ponsel Malik berdering. Tertera nama Gion memanggil.
Malik: "Halo, kalian dimana?"
Gion: "Kami sudah di depan, Bro."
Malik: "Ok, kalian masuk saja. Katakan, kalian tamunya Pak Firdaus."
Gion: "Siap" sambil menutup ponselnya.
"Kita ke dalam." ajak Gion kepada kedua rekannya.
Ketiganya berjalan, masuk ke dalam perusahaan Wijaya grup. Mereka berdecak kagum melihat megahnya bangunan di dalam perusahaan.
"Wah" Hendra berdecak kagum, dengan mulut terbuka lebar
"Hey, tutup mulut, ntar ada lalat masuk" canda Hendri.
"Biarin, we" balas Hendra sambil menjulurkan lidahnya.
"Dasar, baby shark" ledek Hendri.
"Baby shark dududu" ejek Hendra menyanyikan ejekan Hendri.
"Ish, ketoprak jengkol" celetuk Hendri gemas.
"Ee, kerak telor" ledek Hendra lagi.
Gion yang ingin bertanya tidak bisa konsentrasi.
"Stop???, kalian bisa diam enggak sih." teriakannya tertahan.
"Hendra cari gara-gara" tuduh Hendri
"Hendri kok" kembali Hendra menyela.
"Astagfirullah, bisa enggak kalian diam, kalau tidak, jangan makan dirumah Syarifah " cecar Gion.
Keduanya terdiam saat mendengar ancaman Gion.
"Iya kami akan diam, tapi, kami boleh ya makan di rumah Syarifah." rengek Hendra.
"Iya" balas Gion.
"Astaga, kenapa ada teman model begini." batin Gion sambil menghela nafasnya.
Begitulah, kalau ketiga sahabat ini bertemu, ada saja yang bikin tertawa, tapi, kalau dengan orang lain, Hendri itu dingin apalagi dia bekas Mafia tobat.
"Udah, diam. Aku mau tanya Mbak jelita itu dulu." sambil menunjuk gadis cantik di meja resepsionis.
"Namanya Jelita ya Bos?" tanya Hendri.
"Iya, mungkin saja." jawab Gion. "Sudah ah, Aku kesana dulu, kalian ikut enggak?" tanya Gion.
"Ikutlah, masa nggak." canda Hendra.
"Ya udah, ayo." ketiganya berjalan menghampiri meja resepsionis.
"Mbak, kami tamu nya pak Firdaus." ucap Gion pada gadis berblazer hitam itu.
"Iya, Pak. Tunggu di sana sebentar ya, biar saya hubungi sekretaris Lina dulu." sambut gadis ber tag nama Sinta itu.
"Saya mau bertemu Pak Firdaus, Mbak, bukan sekretaris Lina." tegas Gion.
"I-iya, Pak." Sinta tersenyum canggung.
Setelah menghubungi sekretaris Lina, kemudian, Sinta mengizinkan Gion naik ke atas, keruangan Firdaus.
"Silahkan naik ke atas, Pak" ujar Sinta.
Gion dan kedua temannya terlihat bingung.
"Ma-maksudnya kami harus ke atas, jauh amat, apa tidak capek." ujar Hendra.
"Sst, diam saja, minta diantar saja." bisik Gion.
"Mari pak, biar saya antar." suara lemah lembut Sinta membuat hati Gion berbunga-bunga.
Sinta membawa ketiga pemuda masuk ke dalam lift.
"Mari, Pak. Saya antar keruangan Pak Firdaus." ucapnya lagi Sambil tersenyum ramah.
Ketiga pemuda itu mengangguk. dan mengikuti Sinta.
"Maaf merepotkan ya, Neng." Gion cengengesan.
"Tidak apa-apa Pak." Sahut gadis berambut sebahu itu.
Setibanya di ruangan Firdaus, Sinta pamit dan kembali turun.
"Bro, apa kabar?" tanya Gion dan menjabat tangan Malik dan Firdaus, di ikuti Hendra dan Hendri.
"Duduk, Bro." Firdaus ikut memanggil tiga sekawan itu dengan panggilan Bro.
"Makasih" ucap mereka serentak.
"Kenalin ini Gion, dan ini Hendra Hendri." Malik memperkenalkan ketiga nya.
"Iya, saya Firdaus, senang bertemu dengan kalian." jawab nya.
"Kalian bisa di percaya, tidak?" ucap Firdaus langsung ke poin nya.
"Mudah-mudahan kami amanah." jawab Gion.
"Baik, mulai sekarang kalian bekerja untukku dan aku punya tugas untuk kalian." sambil menatap tiga sekawan itu.
"Katakan, asal tidak membunuh, narkoba atau kejahatan lainnya, kami akan turuti." balas Gion dan di angguk kan dua temannya.
"Tidak, kalian tidak akan melakukannya jika tidak terpaksa." kata Firdaus.
Tiga sekawan itu melotot, Membunuh sangat mereka hindari apalagi itu berurusan dengan hukum.
"Jadi, apa tugas kami?" tanya Gion kembali.
"Kalian hanya perlu memata-matai istri saya. Dan saya juga butuh seorang supir." imbuh nya.
"Baiklah, kami setuju." jawab ketiga sahabat itu.
Lalu, mereka sepakat, ketiga pemuda itu resmi menjadi bawahan Firdaus.
"Kapan dimulai, Bos?" tanya Hendra.
"Besok, kalian harus mengikutinya." balas Firdaus.
"Baik, Bos." Sahut mereka.
"Kalian bisa pergi, besok Malik akan memfasilitasi kalian." ucap Firdaus.
"Siap" balas Mereka.
"Jika sudah selesai, kami pamit dulu ya, Bos" ujar Gion.
"Iya, Malik akan menjelaskan semua pekerjaan kalian." balas Firdaus.
"Baik Bos, kami tunggu tugas selanjutnya." sambil menjabat tangan, Mereka nya pun berpisah.
Usai pertemuan mereka, Ketiga nya pun keluar dari ruangan Firdaus. Wajah mereka sumringah karena sudah mendapatkan pekerjaan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments