"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam"
"Suhairah, apa Datuk di didalam?" tanya nya nya pada wanita itu.
"Iya Janu, Datuk ada di taman bersama Kak Datin." sahut Suhairah.
Janu berjalan hingga sampai di taman belakang, wanita itu menghampiri Datuk Ahmad keturunan Rajo.
"Datuk, Kak Datin." Bu Janu menghampiri keduanya.
"Apa yang membuatmu kemari, saudariku?" tanya Datuk lembut
"Datuk, aku.." lidahnya kelu, ada rasa malu dalam hatinya.
"Apa keputusan itu belum membuatmu puas, saudariku" sembari menatap saudaranya.
Bu Janu menggeleng sambil menghalau air matanya.
"Lalu, apa lagi Janu" suara Datuk terdengar menyakitkan di hati Bu Janu.
Wanita itu bersimpuh sembari menangis di hadapan Tetua adat.
"Aku telah berdosa saudara ku, aku menyeret mu dalam dosa, maafkan saudari mu yang bodoh ini." Tangisan penyesalan keluar dari wanita paruh baya itu.
"Sudahlah Janu, keputusan itu sudah tepat, jika aku tidak memaksa Yusuf menalak wanita itu, maka Mahira akan meminta cerai. Anak-anak akan menjadi korban." ucap Datuk Ahmad.
Wajah Janu terangkat melihat saudaranya itu. "Tidak, Datuk. Semua ini salah!"
"Bukankah kamu ingin menyelamatkan pernikahan Mahira, seperti yang kamu ucapkan padaku?" tanya Datuk seraya menatap dingin.
Janu terdiam, dia bingung, semua memang keinginannya.
"Sudahlah, Janu. Pulanglah. Bermohon Lah kepada Tuhan, supaya dosa kita terampuni." ucap Datin.
Bu Janu pulang membawa kehampaan, jika dulu dia datang ke rumah Datuk dengan api yang menyala-nyala, sekarang di pulang membawa kehancuran.
Hatinya hancur, Talak tiga yang di ucapkan Yusuf kepada wanita itu terngiang-ngiang di kepalanya.
Mahira berbaring disamping yusuf sambil memeluk dari belakang. Dia berharap mampu meredam rasa sedih di hati suaminya.
"Jika semula Abang jujur, tidak mungkin hatiku sesakit itu, saat melihat kalian bercumbu di belakang rumah Bibi Naima." kata Mahira sembari membenamkan wajahnya dipunggung Yusuf.
"Aku terlalu rindu padanya, Mahira. sehingga aku menemuinya. Sejujurnya, aku mengatakan pada Syarifah agar dia bersabar menungguku, untuk berterus terang padamu. Namun, belum sempat aku mengatakannya, kamu telah melihatnya." jawabnya dengan posisi yang sama.
"Kenapa wanita itu tidak mengatakannya?, kamu lihat!. Dia dipukuli hingga wajah dan tubuhnya lebam membiru."
"Dia wanita yang patuh, Mahira. Dari dulu Syarifah sangat patuh padaku, suaminya." jawab Yusuf, air mata berkumpul di pelupuk matanya.
"Deg" ucapan Yusuf seperti tamparan baginya, bahkan, dia sama sekali tidak mau mendengar penjelasan suaminya.
Mahira terdiam sambil melepaskan pelukannya dan keluar dari dalam kamar.
"sekalipun aku di dekat mu, tapi, hatimu tetap untuk wanita itu. Mengapa kamu tidak pernah berterus terang suami ku?" bisik Mahira
Salam dari Ibunya, lalu, membuka pintu rumahnya.
"Masuklah Bu, aku di kamarnya anak-anak." teriak Mahira dari dalam.
Bu Janu masuk ke dalam kamar, menatap wajah putrinya. "Jangan menangis sayang, semua ini adalah takdir." sembari mengusap kepala putrinya.
"Iya Bu, Mahira akan kuat menghadapinya,demi anak-anak." sambil memeluk sang Ibu.
***
Mereka membiarkan Syarifah menenangkan diri di dalam kamar, dan Heni pindah ke kamar Maura dan Rosi.
Mama Fatimah dan papa Husin akan pulang hari ini, mereka ingin membawa syarifah pulang, namun Syarifah ingin disini bersama Bibi Naima. Syarifah sadar bahwa Kiara menginginkannya keluar dari rumah mereka.
Ketukan pintu membuyarkan lamunannya, gegas ia keluar dari dalam kamar.
"Syarifah sayang, mama dan papa pulang ya." ujar mama Fatimah.
"Ma, maafkan Syarifah belum bisa ikut bersama mama dan papa." sambil memeluk wanita yang di panggilnya mama itu.
"Iya sayang, mama titip Kiara ya."
"Iya ma." balas Syarifah.
Syarifah memeluk mama Fatimah serta mencium punggung tangan papa Husin.
Kiara juga melakukan hal yang sama kepada orng tuanya,
Kedua orang tua Kiara pamit kepada Bibi Naima serta orang sekelilingnya. Kemudian, berangkat meninggalkan kampung Lestari.
***
Bu Janu berjalan menuju rumah Bibi Naima, langkahnya goyah melihat rumah itu semakin dekat.
Dia terdiam sejenak, duduk di bawah pohon berdaun rimbun. Kemudian, memutar kembali langkah nya hingga menjauh dari rumah Naima.
Wanita tua itu kembali kerumahnya, sembari bermenung seorang diri.
"Bagaimana bisa aku meminta maaf padanya, bukankah dia yang tidak mau berterus terang. Ah, sudah lah. Biarkanlah wanita itu, toh, sebentar lagi dia keluar dari desa ini." bisiknya.
Lama dia berfikir hingga ia tertidur di teras rumah nya.
"Ibu, bangun??. Ini sudah maghrib. Kenapa tidur di luar?" tanya Mahira heran.
"Oh, ini sudah Maghrib." sembari berdiri lalu, berjalan kedalam rumah. Mahira mengikuti Ibu nya kedalam.
"Ibu, ngapain?" tanya Mahira lagi.
"Ibu mau sholat, Mahira. Jangan ganggu Ibu." jawabnya sambil memakai mukena nya.
"Bu, kenapa tidak berwudhu dulu?" Mahira semakin heran.
"iya, Ibu lupa." sambil membuka mukena itu kembali, dan berjalan menuju sumur. Mahira kembali mengikuti Ibu nya.
Bu Janu mengambil air wudhu tapi, tidak seperti biasanya.
"Bu, itu salah. Kenapa ibu tidak mengusap wajah?" tegur Mahira lagi.
"oh, iya. Ibu lupa." lagi-lagi Bu Janu menjawab lupa.
Setelah mengambil wudhu, Ibunya kembali sholat dan lagi-lagi Mahira membantu ibu nya menyelesaikan sholatnya.
"Ibu kenapa tidak fokus?" tanya Mahira setelah Ibu nya menyelesaikan ibadahnya.
"Ibu memikirkan wanita itu, Mahira." jawab Bu Janu sambil menatap nanar
"Kita akan kesana Bu, Kita minta maaf padanya." ujar Mahira.
"Tidak, Nak. Kita tidak salah. Seandainya Yusuf tidak menalak wanita itu, pasti kamu di cerai Yusuf." Bu Janu mengingat ucapan saudara nya.
"Benarkah itu, Bu?" tanya Mahira melihat nanar Ibu nya.
"Iya, Nak. Datuk sudah mengatakannya kepada Ibu."
Sejenak Mahira terpaku, "apakah tindakan Talak tiga itu benar." batinnya.
"Tapi, Bu. Wanita malang itu berhak bahagia." ucap Mahira.
"Sudahlah, Jangan terlalu dipikirkan. Pergilah temui suami mu, dia akan menilai mu buruk, jika terlalu sering kamu tinggalkan." tutur Bu Janu
"baiklah Bu." Mahira menurut.
Mahira kembali kedalam rumah dan menemui kedua anaknya. Dia menciumi kedua bocah itu seraya terisak menahan tangisannya.
***
Syarifah terlelap dalam kegelapan, setelah memohon ketabahan kepada Rob nya, ia melepaskan segala gundah dalam hatinya sembari berdo'a hari esok akan lebih baik.
Keesokan pagi nya, Kiara menggedor-gedor pintu kamarnya.
"Syarifah, lama banget sih." gerutu Kiara.
"Ceklek" pintu terbuka. nampak Syarifah berwajah lesu.
"Ngapain saja sih Lo. Mengeram di kamar terus!" ketus nya.
"Ada apa Kiara?" tanya Syarifah lembut.
"Aku lapar banget, Bikin makanan gih." jawabnya memaksa
"Kamu bisa masak ' kan, Kia?"
"Bawel banget sih, sudah sana masak!. Emang kamu ngapain ikut tour kalau bukan membantu?" ucap Kiara kesal.
"Aku lagi enggak enak badan, Kia." Syarifah memelas.
"Kamu pikir aku kasihan padamu?, tidak!, Bahkan aku menyesalkan, kenapa kamu tidak di usir saja." ujarnya geram.
Syarifah terdiam, matanya nanar menatap Kiara, sekalipun ia baik pada wanita di hadapannya tetap ia akan terlihat buruk di matanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments