"Baiklah Kiara, aku akan memasak untuk mu." sembari berlalu meninggalkan Kiara
"Gitu dong, jangan malas!" teriak nya.
Syarifah tidak menghiraukan Kiara, sebenarnya dia muak melihat tingkah Kiara, wanita itu sangat sombong, jika bukan karena Mama Fatimah dan Papa Husin, Syarifah sudah pergi jauh.
"Syarifah, ngapain di dapur?" tanya Maura sambil mencuci piringnya.
"Eh, Maura. masak untuk Kiara." jawab Syarifah
"Bibi kan, sudah masak." ujar Maura.
"Benarkah?" tanya Syarifah
"Iya, ini baru siap makan." sambil menunjuk piring ditangannya.
"Jadi, untuk apa Kiara memintaku memasak?" tanya Syarifah bingung.
"Enggak tau" Maura mengerdikkan bahunya.
Maura meninggalkan Syarifah dan tidak habis pikir dengan Kiara, tidak punya rasa empati sedikit pun.
Kiara menghampiri Syarifah ke dapur. Gadis itu marah melihat Syarifah duduk hanya menatap api kompor yang menyala.
"Syarifah! kamu ingin bunuh semua orang di rumah ini!" bentaknya
"Astagfirullah, maaf, maaf." Syarifah tersentak kaget, dan berlari mematikan kompor.
"Ya Tuhan, masakan apa ini, semua gosong." sambil mengangkat dan membuang masakan Syarifah.
Syarifah mematung, belum sembuh rasa sakit dihatinya, Kiara menambah luka nya lagi.
"Apa-apa an ini!" Bibi Naima tiba-tiba muncul dari depan pintu.
"A-anu Bi, Syarifah, masakannya gosong." Kiara gugup.
"Ngapain kamu masak Syarifah?" tanya Bibi
"Kiara yang meminta, Bi." jawab Syarifah,
Mata Kiara melotot, tidak menyangka jika Kiara berani menyebut namanya.
"Kiara! Apa maksud kamu menyuruh Syarifah masak!" bentak Bibi Naima
Kiara semakin gugup, kaki nya gemetar. Gadis itu takut jika, Bibi Naima memukul nya.
"Mm, mm" Kiara bingung
"Katakan!" Bibi Naima mendekat
"Ampun Bi, iya, Kiara yang minta Syarifah memasak. Kiara ingin sekali mie buatan Syarifah." sambil bersembunyi di belakang tubuh Syarifah.
"Benar begitu?" tanya Bi Naima, menoleh pada Syarifah.
"Iya Bi, Kiara memang sangat suka mie buatanku." jawab Syarifah, dia tidak ingin Kiara mendapat masalah.
"Bibi sudah memasak, makanlah apa yang ada, disini bukan di rumahmu. Kamu paham!" tunjuk ya pada Kiara.
"I-iya Bi." balas nya gugup.
"Minta maaf pada Syarifah, Bibi tidak mau tau, suka tidak suka. Jika itu yang ada, itulah dimakan. Jangan Boros." suaranya penuh tekanan.
"Iya Bi." jawab Kiara
"Syarifah, aku minta maaf ya sudah merepotkan mu." sambil menjabat tangan Syarifah.
"Iya" jawab syarifah singkat.
***
Malik uring-uringan di dalam kamar, semenjak ada kabar Syarifah menjadi pelakor, pemuda itu menjadi pendiam, dia tidak pernah keluar kecuali urusan penelitian.
Malik belum tau yang sebenarnya karena, memang dia dan teman-temannya memilih untuk tidak melihat sidang Syarifah.
Hatinya layu sebelum berkembang, dia menyesalkan perbuatan Syarifah.
Ketua tour sudah beralih padanya, karena Firdaus tiba-tiba pulang ke ibu kota.
Padahal, dia sudah senang saat firdaus tidak lagi pura-pura buta untuk menarik simpati Syarifah.
Hari berlalu hingga esok kembali hadir.
Syarifah sudah mulai membiasakan hatinya, seperti sebelum bertemu dengan suaminya.
Jika selama ini, dia berharap dan berdo'a agar tuhan mempertemukan dengan suaminya, sekarang ia meminta agar bisa menghilangkan rasa cinta nya.
"Syarifah, bantu Bibi memasak ya" pinta Bibi Naima dan ingin sekedar menghibur Syarifah.
"Iya, Bi" Syarifah memaksa senyumnya.
Bibi bercerita kenangan masa lalu nya, sesekali terdengar suara tawa mereka.
"Wah, asyik banget kayaknya. Maura bantuin ya, Bi." Maura dan Rosi yang tiba tiba menyelonong masuk ke dapur.
"Iya, ayo sini, mana yang lain?" tanya Bi Naima.
"Hei, kami disini." Sahut Heni dan teman yang lain.
"Masuk, masuk. Bantuin Bibi. Kita masak enak hari ini." ajak Bibi Naima.
Para gadis itu membantu Bibi dan Syarifah. Mereka tertawa mendengar cerita Bibi Naima.
Setelah selesai, mereka menata makanan di atas meja.
"Syarifah, apa yang membuatmu terpisah begitu lama dari Yusuf?" tanya Bibi Naima, dan para Gadis itu duduk disamping Bibi Naima, mereka ingin mendengarkan cerita Syarifah.
Syarifah menghela nafas dan membuangnya kasar. Musibah yang membuatnya terguncang dan harus kehilangan orang-orang yang disayangi nya.
"Tuhan sangat menyayangi Syarifah Bi," Syarifah tersenyum walau hatinya sakit.
"Nak, Bibi hanya ingin mendengarnya saja. Bukan ingin mengulik kembali rasa sakit itu." Bi Naima mengusap punggung Syarifah.
Sementara di luar rumah, Yusuf dan Mahira datang ke rumah Bibi Naima, mereka ingin meminta maaf pada Syarifah.
Tiba di pintu, mereka mematung saat mendengar Syarifah berbicara.
"Aku sangat mencintai Yusuf, Bi. Suami ku yang penuh kesabaran dan begitu banyak cinta di mata nya. Mungkin Tuhan menegurku, agar aku tidak lebih mencintai makhluknya daripada Rob Nya." ujar Syarifah seraya menitikkan air mata.
Mahira menyandarkan tubuhnya kedinding rumah Bi Naima. Hatinya tersentuh dengan ucapan wanita itu.
Wajah Yusuf menunduk, laki-laki itu tidak kuasa menahan air matanya, ucapan Syarifah bagai tombak menghujam hatinya.
Flashback POV syarifah
Sudah tiga tahun menikah, Kami belum di karuniai anak. Yusuf sangat sabar dan tidak pernah mempermasalahkan rahim ku, walaupun keluarga dan orang-orang menuding ku mandul.
Saat itu tepat di hari kelahiranku, aku ingin memberikan kejutan pada Yusuf.
Karena sudah telat satu bulan, aku memberanikan diri memeriksa air seni ku.
"Ya Tuhan." air mata ku menetes haru, yang aku tunggu selama ini menjadi kenyataan. Dengan perasaan bahagia, aku membungkus tespek ke kotak kecil, kejutan untuk suami ku.
Aku menunggu Yusuf, namun dia tidak bisa pulang secepat nya.
Meski pun begitu, aku tetap sabar menunggu nya,
"Lebih baik aku mempercantik diri, agar suami senang melihatnya." pikirku. Aku pun bersolek mempercantik diri sembari menunggu suami ku.
Hingga tepat jam delapan pagi, Yusuf pulang dan aku sangat bahagia. Ku usap wajah tampan Yusuf dan mengecup bibir nya.
"Wah, kejutan yang indah, selamat ulang tahun sayang, Abang tidak sempat membeli apapun." ucap Yusuf, kembali mengecup bibir ku.
"Nggak apa-apa Bang, adik yang akan memberikan kado spesial untuk Abang." balas ku, sambil memberikan kotak kecil itu ke tangan Yusuf.
Yusuf tersenyum bahagia, "Yang ulang tahun siapa, yang ngasih kado siapa." canda nya.
"Buka dong sayang." ucap ku sambil tersenyum manis.
"Duarrr!" suara gemuruh menggeledar.
"Astagfirullah, Bang." pekik ku kaget.
Tiba-tiba, Bumi berguncang dan gempa itu menghancurkan bangunan-bangunan di sekitar rumah.
"Gempa bang, lihat itu." tunjuk ku pada bangunan juragan kaya di dekat rumah ku.
Semua hancur luluh lantak. "Kita keluar dek!" teriak Yusuf sambil menggenggam erat tangan ku.
Aku dan Yusuf berlari keluar rumah, berlarian kesana kemari,
"Air! air!, cepat lari!" teriak salah satu warga.
Kamu semakin bingung, Aku tidak bisa berkata-kata lagi dan terus mengikuti langkah Suami.
"Aaa...,Bang..!" Aku berteriak, Air bah menerjang tubuh kami dan tangan ku tidak bisa lagi menggapai nya.
Saat itu, aku ketakutan. Suami ku hilang entah di mana, Aku menutup mata, pasrah dengan apa yang terjadi selanjut nya.
"Ya Tuhan, jika ini akhir hidup ku, ambil lah ya Allah." ucap ku lirih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments