"Bisa enggak sih, kalian jangan muji-muji Syarifah melulu, bosan tau enggak." ucap Kiara kesal.
"Iya, maaf." balas Maura.
"Kami pulang ya Kia, besok kita jemput kemari." ujar Malik.
Ketiga rekan Kiara pamit pulang, menyisakan Kiara sendiri dengan kejengkelan nya.
"Kamu sih, Maura. Muji Syarifah sampai segitunya. Kiara pasti cemburu." ujar Rosi.
"Eh, kok aku, Kan, emang si Syarifah itu cantik kan, enggak mungkin di bilang jelek padahal asli nya cantik." balas Maura tidak mau kalah.
"Mm, memang Kiara yang sensitif." Malik menimpali.
"Kamu juga Malik, si Kiara itu suka sama kamu, kenapa malah lihatin Syarifah terus. kalau aku jadi Kiara sih, pasti juga eneg." Rosi merungut kesal.
"Jangan salahkan aku dong!" suara Malik sedikit meninggi.
"Sudah, sudah. Kenapa jadi kalian berantem sih." Maura melerai keduanya.
Mobil melaju hingga sampai di rumah masing-masing. Usai mengantar kedua sahabatnya, Malik beristirahat sembari membayangkan wajah Syarifah, gadis ber netra hijau, senyumnya mampu membius seorang Malik, idaman semua wanita.
Malik dengan wajah tampan, Jambang tipis, tubuh atletis, jika tersenyum terlihat lesung pipi sebelah kanan.
***
Keesokan hari nya, hari yang dinanti tiba. Mereka berkemas untuk berangkat tour ke ujung pulau S. Jika di tempuh dengan mobil akan memakan waktu yang lama. maka dari itu, perusahaan menyewa sebuah pesawat untuk mereka.
"Tin tin" klakson mobil Malik berbunyi.
Pemuda itu sudah menjemput Maura dan Rosi. kini, mereka sudah di depan rumah Kiara.
Terlihat Kiara melenggang tanpa membawa apapun, sedangkan Syarifah mengikutinya dari belakang, membawa dua buah koper dan beberapa kantong plastik di selipkan di ketiaknya.
Malik turun dari mobil, sedikit berlari mendekati Syarifah, pemuda itu membantu membawa kan kedua koper ditangan Syarifah. "terimakasih" ucap Syarifah sambil tersenyum.
Malik membalas dengan senyuman, kemudian, mereka berjalan menuju mobil.
Maura dan Rosi kasihan dengan Syarifah, namun, mereka tidak bisa membantu, takut Kiara marah.
Mobil kembali melaju hingga sampai di bandara. Malik meninggalkan mobilnya dan akan di jemput oleh supir sang ayah.
"Kiara, bawa sendiri kopermu, kasihan Syarifah." ujar malik
Dengan kesal Kiara menarik kopernya dari tangan syarifah. lalu, berjalan meninggalkan Malik dan Syarifah. Sementara, Rosi dan Maura sudah di depan bergabung dengan rekan mereka yang lain.
Pesawat sudah lepas landas, Maura Rosi dan Lidia teman kantor duduk berbaris, sedangkan Malik, Kiara dan Celin teman kantor yang di tarik Kiara agar duduk disampingnya.
Syarifah berdiri, matanya memindai tempat sekelilingnya, Mencari tempat duduk yang kosong. Syarifah tersenyum ketika melihat ada Kursi kosong, kemudian, dia berjalan dan duduk di sebelah pria berkaca mata hitam.
Syarifah menyapa sembari tersenyum, namun pria itu hanya diam menatap ke arah nya. Syarifah tampak kikuk, saat senyumnya tidak dibalas,
"Mungkin pria ini buta" batin Syarifah. Lalu, duduk santai di samping Pria itu.
Sementara, Malik bingung tidak melihat wanita idamannya.
"Kiara, Syarifah mana?" tanya Malik
"Tau" jawab Kiara cuek.
"Kia, kasihan Syarifah, disini dia pasti merasa terasing." tutur pemuda itu lagi.
"Iya, iya. Itu dia di depan." balasnya kesal.
"Astaga, ngapain dia disana." sambil menepuk jidatnya.
"Ngapain tadi Syarifah enggak duduk di sampingmu, Kia?" Malik terlihat kesal dengan Kiara.
"Jangan salahkan aku dong!, dia yang pergi ke depan. Sudahlah Malik, kita masih satu pesawat, wanita sok suci itu tidak bakalan hilang." ketusnya.
"Masalahnya itu tempat duduk siapa?, kamu tau kan, yang disebelah Syarifah itu siapa? Atau memang Kamu sengaja." Malik semakin geram dengan Kiara.
"Kalau iya, emang kenapa?" ucap Kiara sembari meneteskan air matanya.
"Kamu jahat Kia." bisik Malik pelan.
"Iya aku jahat, apa kamu enggak jahat?, Aku temenan sama kamu, tetapi, kamu malah menjauh" Kiara terisak membuat Ceril bingung.
"Kalian kenapa berantem?" tanya Ceril.
"Kami enggak berantem kok" sambil menghapus air matanya.
Syarifah mencoba berkomunikasi dengan pria disamping nya.
"Apa Bapak bisa mendengar saya?" tanya Syarifah sedikit mengencangkan suaranya. Namun, pria disampingnya tidak menjawab bahkan tidak menoleh.
"Apa dikira gue budeg." batin Firdaus, pemilik perusahaan Wijaya grup.
"Kasihan, sudah buta, budeg lagi. Semoga Allah menyembuhkan penyakitmu. Aamiin." ucap Syarifah sembari mengusap wajahnya setelah berdo'a.
"Astaga, wanita ini. Apa dia tidak mengenalku, malah di kata budeg, buta." kesalnya dalam hati.
Beberapa menit kemudian, Syarifah mengambil minuman dan memberikannya pada pria itu.
"Oh iya, aku lupa. Bapak 'kan enggak bisa mendengar." bisiknya.
Syarifah mencolek lengan pemuda itu, sehingga Firdaus menoleh, lalu, Syarifah mendekatkan minuman ke bibir Firdaus.
"Minum yang banyak Pak" tutur Syarifah sambil mengelap bibir pemuda itu. Syarifah tersenyum.
" Semoga bapak bisa menerima ujian ini ya, walau bapak tidak mendengar dan melihatku, aku tetap meminta kepada Allah." ucapnya tulus.
"Astaga, ini cewek terbuat dari apa sih, masyaAllah cantik banget, matanya, hidungnya, senyumnya, astagfirullah, maafkan aku Tuhan jangan buat aku buta beneran." Firdaus membatin.
Pesawat sudah landing di kota tujuan, selanjutnya mereka naik bus ke pelosok desa.
Ketika turun dari pesawat, ada hal yang menjadi pusat perhatian seluruh karyawan. Bagaimana tidak, seorang Owner perusahaan harus di papah saat turun dari pesawat dan yang membuat makin menggemaskan, Firdaus malah keterusan peran buta nya.
"Pak, bapak bisa jalan sendiri?" tanya Syarifah tetapi, setelah itu dia menepuk jidatnya.
"Oh, iya Bapak 'kan tuli., terlalu lengkap penderitaannya, lebih baik Bapak punya asisten." ujar Syarifah sambil memapah Firdaus keluar dari pesawat.
Sebenarnya dia sangat jengkel dengan wanita ini, tetapi, dia sudah terlanjur akting, malu jika ketahuan bohong.
Semua mata memandang, Syarifah cuek saja, dia tidak perduli tatapan orang.
"Syarifah!" panggil Malik
"Kamu lagi-" ucapan Malik menggantung
"Hmm" Firdaus mendehem
"Apa Malik, mana Kiara?" tanya Syarifah
"Ooh tidak, kenapa kamu memapah laki-laki ini?" Malik kembali bertanya, sengaja ia menekan suaranya.
"Dia buta dan tuli Malik, kasihan dia." tutur Syarifah.
"Kurang ajar" batinnya sedikit geram.
"Ooh, buta dan tuli. Kasihan juga ya. Apa kamu tidak takut kalau dia hanya pura-pura?" tanya Malik
"Hus, jangan bicara sembarangan. mana koper ku?" Syarifah tidak ingin berburuk sangka.
"Ini, aku yang bawa." jawab Malik.
"Ayo Syarifah, entar ketinggalan lho." Malik melangkah sambil menyeret kedua koper. Sedangkan Syarifah masih sibuk memapah si Tuan pura-pura buta itu.
"Iya, ayo Pak." ajak Syarifah.
"Sudahlah, terpaksa ikut naik bus, daripada ketahuan hanya pura-pura, tambah malu." batinnya.
Di dalam bus, mereka kompak bernyanyi. Tertawa dan bersenang-senang.
"Mau lagu apa, ada yang request?" ujar Sandi sebagai gitaris.
"Terlanjur basah ya sudah mandi sekali." teriak Malik, Firdaus melirik dari kaca matanya, dia tau Malik pasti menyindirnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Umi Azzam
sedih,,,
2023-10-02
0
Karpet tempur
ceritanya jagat banget thor, author harus lanjutin!
2023-09-28
1