Malik: "Berita apa, Kia?" Malik semakin penasaran.
Kiara: "Jika kamu tau berita ini, pasti kamu tidak percaya."
Malik: "Bikin penasaran saja sih."
Kiara: "Hahaha, sabar."
Malik: "Aku tutup nih, lama amat, keburu pingsan."
Kiara: "Hahaha, enggak sabaran amat sih, katanya mau di comblang kan sama si Syarifah, ternyata kesabaran kamu lebih tipis dari kulit bawang."
Malik: "Ya sudah, berita apa? Kayaknya penting."
Kiara: "Syarifah ketahuan mesum."
Senyap, tidak ada jawaban dari sebrang ponselnya.
Kiara: "Halo, Malik! masih hidup 'kan?" Kiara terkekeh, Kiara tau, pasti Malik diam mematung, shock.
Malik: "Hmm, iya Kiara. Ada apa lagi?"
Kiara: "Jangan bunuh diri ya, hahaha." Goda Kiara.
"Tut" panggilan terputus.
"Huh, patah hati kan, Terlalu memuji rupanya pelakor." desis Kiara.
Setelah memberitahu Malik, Kiara kemudian, melanjutkan panggilannya ke nomor orang tuanya.
Kiara: "Halo, assalamu'alaikum.!
Mama Fatimah: "Wa'alaikum salam, apa kabar Nak?, Syarifah mana?"
"Baru nelpon, sudah tanya syarifah" batinnya kesal
Kiara: "Syarifah kepergok berbuat mesum sama suami orang."
Mama Fatimah: "Apa! Astagfirullah, Astaghfirullah. Ini enggak mungkin."
Kiara: "Ya sudah, kalau Mama tidak percaya. Ini kenyataan kok."
Mama Fatimah: "Mama segera kesana, kamu hati-hati ya Nak. Assalamu'alaikum." sambil mengakhiri panggilan.
Kabar dari Kiara sangat mengejutkannya, segera Mama Fatimah menghubungi suaminya.
Mama Fatimah: "Pa, cepat pulang. Kita harus menyusul Kiara."
Papa Husin: "Kenapa Ma, apa mereka baik-baik saja?"
Mam Fatimah: "Pulang dulu, entar Mama omongin." lalu, memutuskan panggilan.
Wanita itu mondar-mandir memikirkan anak-anaknya di seberang pulau.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikum salam."
"Ada apa, Ma?" tanya Papa Husin was-was.
"Pa, Syarifah katanya kepergok selingkuh dengan suami orang." ujar Mama Fatimah sambil memberikan segelas air minum untuk suaminya.
"Hah!" Papa Husin tersentak hingga menyemburkan air dari mulutnya ke wajah Mama Fatimah.
"Pa..!" sungut Mama Fatimah.
"Maaf, maaf Papa kaget." sembari mengusap wajah sang istri.
"Apa mama percaya, Syarifah berbuat begitu?" tanya Papa Husin.
"Entahlah, Pa. Mama sih tidak percaya. tetapi, Kiara bilang Syarifah kepergok." jawab Mama.
"Ya sudah, kita berangkat ke sana Ma, biarlah, Kita bawa saja Syarifah pulang." ujar Papa Husin.
***
Bahkan, Malik tidak percaya dengan kabar yang disampaikan Kiara. Ia tau Kiara membenci Syarifah. "Pasti ini akal-akalan Kiara, supaya aku ikut membenci Syarifah." batin Malik.
Pemuda itu berjalan kerumah Bibi Naima, dia ingin tau cerita yang sebenarnya.
Malik mengetuk pintu dan mengucap salam,
Rosi membalas salam sembari membuka pintu.
"Malik? Ngapain kesini?" tanya Rosi, heran dengan kedatangan Malik
"Mana Syarifah?" Malik balik bertanya.
"Syarifah di kamar, dia tidak mau diganggu. Pergilah." jawab Rosi sambil menutup pintu, tetapi, ditahan oleh Malik.
"Aku ingin bicara sama Syarifah. Tolong suruh dia keluar." desak Malik.
"Malik, ini bukan waktu yang tepat, Syarifah lagi ada masalah, tolong mengertilah." tutur Rosi.
"Jadi, berita itu benar?" tanya Malik, memastikan cerita yang di dengar nya.
"Iya," jawab Rosi.
"Itu bohong kan, Mana mungkin wanita selembut Syarifah berzina." ucap nya tidak percaya.
"Itu benar, Malik. Tolong pergilah, jangan membuat masalah disini, jika penduduk desa melihat mu di sini, maka kita akan terusir." tutur Rosi.
"Iya, baiklah." balas Malik
Dan berlalu meninggalkan rumah Bi Naima, Malik berjalan gontai, harapannya pupus, cinta nya ternyata salah.
Di persimpangan jalan, Malik merasa risih, ketika Ibu-Ibu memperhatikannya. Mata mereka semua mengarah pada Malik.
"Bu, permisi mau lewat." Sambil tersenyum ramah kepada Ibu-Ibu.
"Iya silahkan, jaga etika ya Nak?, walau pun dari kota, kalian jangan berbuat zina , seperti teman kalian itu. Nampaknya saja lebih alim dari gadis kampung ini, ternyata dia gadis mengerikan, Pelakor syar'i." sindir Bi Tum, salah satu dari rombongan Ibu-ibu rumpi.
Malik diam dan melanjutkan langkahnya, dia tidak menghiraukan omongan Ibu-Ibu itu.
Sepulang dari rumah Bibi Naima, Bu Janu menemui anak menantu nya. Wanita itu mendengar tangisan Mahira,
Buru-buru dia melangkah memasuki kamar menantunya itu.
"Mahira?" Wanita paruh baya itu berlari memeluk putrinya.
"Jangan lakukan Nak, ini menyakitimu." sambil memegang tangan Mahira, menghentikan perbuatan Mahira. Yang menggigit tangan nya hingga berdarah.
"Bu, kenapa Bang Yusuf jahat pada Mahira?, Apa salahku Bu?, Apa aku masih kurang untuk Bang Yusuf?" seraya menguatkan pelukannya sambil ber urai air mata.
"Memang dari wajah, Mahira kalah dengan wanita itu, tetapi, Mahira ku wanita baik-baik. Tidak pernah selingkuh apalagi pelakor." batin Bu Janu.
"Mahira.., kamu tenang Nak, jangan sakiti dirimu. Ada Ibu disini." Bu Janu menenangkan Mahira sambil mengelus kepala putrinya.
"Lihatlah Bu, bahkan sudah begini, bang Yusuf tidak pulang kerumah, dia bersama wanita itu."
"Ibu akan bicara dengan suami mu, kalau memang dia tidak mau memutuskan perempuan itu, Ibu akan bawa masalah ini ke Tuan Ahmad. Biar ketua adat itu menghukum mereka." ucap Bu Janu.
"Mahira!" Tiba-tiba Yusuf memanggil dari luar kamar. Mahira berjalan membuka pintu kamar.
"Aku disini bang." balasnya datar.
"Mahira, Abang akan jelaskan semua." ucap Yusuf.
"Abang harap kamu jangan marah." Yusuf mencoba menjelaskan setenang mungkin.
"He! laki-laki jahann*m!, Apa lagi yang akan kamu jelaskan, mata kami menjadi saksi kegilaan kalian. Haram jadah!" teriak Bu Janu.
"Diam kamu, perempuan tua, jangan ikut campur yang bukan urusan mu!" bentak Yusuf.
"Jaga ucapanmu, Yusuf!" tunjuk Mahira.
"Mahira?" desis Yusuf
"Aku muak padamu, Yusuf! Kamu salah tetapi, tidak minta maaf. Kamu malah memaki ibu ku." sentak Mahira.
"Putuskan wanita itu, usir dia dari kampung ini, sebelum wanita tua ini melaporkannya." Kata Bu Janu sembari menepuk dadanya.
"Tidak!, Jika kau melakukannya, aku akan menceraikan Mahira." ucap Yusuf berlalu meninggalkan Ibu dan Anak itu.
Seketika, kedua wanita itu mematung. Tubuh Mahira luruh dengan tangis memilukan.
Keesokan paginya, wanita paruh baya itu kembali ke rumah Bibi Naima.
"Naima, mana wanita ****** itu! Suruh dia keluar!" teriak Bu Janu. Tanpa salam, wanita itu menerobos masuk kedalam rumah Bi Naima.
"Cari Syarifah ya, itu kamar nya." tunjuk Kiara, gadis itu sengaja tidak ikut bersama rekannya, dia menunggu orang tuanya menjemput Syarifah.
"Wanita sundal, Keluar kamu!" pekik Bu Janu sambil menggedor-gedor pintu kamar Syarifah
"Ceklek" Syarifah membuka pintu dan keluar menemui wanita tua itu.
"Gara-gara kamu, putri ku hancur. karena kamu, cucu-cucu ku kehilangan ayah!, Dimana hatimu sebagai wanita, dasar ******, pelacur murahan." caci maki keluar dari mulut Bu Janu.
"Plakk" Bu Janu menampar Syarifah, tidak hanya sekali tetapi, berkali-kali.
"Keluar kamu dari kampung ini!" kembali menyeret Syarifah.
Bu Janu sangat emosi, amarah nya meledak-ledak.
Kiara tersenyum melihat pemandangan yang mengerikan itu, Syarifah terjungkal hingga pelipis dan sudut bibirnya berdarah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments