Setelah bertukar pesan Malik pun setuju akan bertemu dengannya,
Syarifah berangkat untuk bertemu dengan Malik dan ternyata Malik sudah ada disana.
"Sudah lama?" tanya Syarifah
"Belum." jawab Malik sambil berdiri menarik kursi untuk Syarifah.
"Makasih" ucap Syarifah tersenyum.
"Tolong hapus semua foto ku, yang ada di media sosial kamu" ucap Syarifah tanpa basa basi.
"Kenapa?" Malik masih tersenyum menatap Syarifah yang menurutnya lucu.
"Aku enggak suka." kesal Syarifah.
"Kamu suka nya apa?" goda Malik.
"Tidak suka apapun, dan tolong hapus Malik, jaga privasi ku." ucap Syarifah menatap sendu.
"Iya, iya, aku hapus, jangan menatap seperti itu, pengen nyium jadinya." Malik menekan ponselnya dan menghapus foto Syarifah di media sosialnya.
"Sudah aku hapus ya, jangan cengeng lagi." sambil terkekeh menatap Syarifah.
"Ish, iya." Wanita berwajah teduh itu kembali tersenyum.
"Di perusaan wijaya ada lowongan nggak." tanya Syarifah, dia kembali ceria seperti biasa.
"Entar aku kabari ya." balas Malik,
"Iya. Ini simpan nomor ponsel aku ya." Syarifah menyodorkan nomor kontaknya pada Malik.
Malik menyimpan nomor Syarifah, kemudian menghubungi nya.
Malik mengambil ponsel Syarifah dan menyimpan nomor nya di sana, "Malik tampan." menulis namanya di ponsel Syarifah.
"Narsis sekali pemuda ini." tawa Syarifah
Malik ikut tertawa mendengar ucapan Syarifah.
"Aku antar pulang ya, Sya." pinta Malik.
"Nggak usah, rumah aku dekat kok." ucap Syarifah
"Bukannya di rumah Om Husin?" tanya Malik heran
"Tidak lagi, aku sudah tinggal di kontrakan dekat sini." jawab Syarifah.
"Kok bisa?" Malik tidak percaya.
"Bisalah, ingin mandiri." jawab Syarifah.
"Bener?" ujar Malik dengan tatapan menyelidik.
"Iya," jawab syarifah singkat.
"Ya sudah, ayo aku antar saja, ingin tau rumah kamu." ajak Malik
"Ayo, tapi, nggak boleh singgah ya, udah malem ntar jadi fitnah." kata Syarifah.
"Iya bawel" balas Malik, sambil membuka pintu mobil untuk Syarifah.
Syarifah masuk ke dalam mobil Malik, Mobil pun berlalu menuju kontrakan Syarifah.
Tiba di kontrakan, Malik membuka pintu kembali, mengantar Syarifah Sampai di depan pintu.
"Sya, kontrakan kamu seram ya." ujar malik sambil mengusap lehernya, bulu kuduknya merinding. Tidak sengaja matanya menatap ke arah jendela, ada orang mengintip dari balik tirai.
"Seram gimana, nggak ada apa-apa kok di dalam. tapi, emang sih pertama tidur disini ada beberapa penampakan yang aku lihat." sambung nya lagi.
"Ih, serem. Aku melihat di sana." tunjuk Malik ke arah jendela.
"Udah ah, jangan bikin takut." ucap Syarifah. "Makasih ya." lanjutnya lagi, dia berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Malik masih mematung menatap Syarifah.
"Gila nih cewek, mau-mau aja tinggal di rumah setan begini." Malik bergidik ngeri, kembali masuk kedalam mobilnya, kemudian meninggalkan rumah Syarifah.
Syarifah memasuki rumah nya, tidak lupa melaksanakan sholat dan membaca Alqur'an, saat tidur dia akan memutar murrotal dari ponselnya.
Keesokan pagi nya, Syarifah sudah di hubungi Malik, dan meminta nya untuk datang ke perusahaan Wijaya.
Bergegas ia berangkat dengan harapan yang besar. Syarifah berjalan untuk menghemat uang nya.
Syarifah mengambil jalan pintas agar cepat sampai ke perusahaan Wijaya, tapi, di tengah jalan dia di cegat sekumpulan preman.
Dia berlari menuju jalan besar agar orang-orang menolong nya, namun, tidak ada yang perduli. kendaraan nampak lengang hanya lewat satu dua mobil.
Salah satu dari preman itu menarik tas Syarifah, hingga tubuhnya menubruk pembatas jalan.
"Jangan, tolong jangan dekat" Syarifah menghiba.
"Sayang, kami hanya ingin uang mu, kami bukan orang-orang bejat penikmat selangk*ngan." ucap si pria itu.
"Iya sudah, ambil saja, Aku hanya wanita yang tidak berdaya, wanita yang sudah hancur hatinya, wanita yang terpaksa di talak tiga suami nya." tangis Syarifah meledak.
Preman-preman jalanan itu menatap bingung.
"Bos Gion, kenapa malah curhat." bisik temannya.
Gion mengerdikkan bahunya, ketiga preman itu menatap Syarifah, seperti pendengar setia.
"Hei, jangan menangis, kamu masih bersyukur walaupun di talak, kamu masih bisa mencari yang lain." balas si preman yang di panggil Gion oleh temannya.
"Kamu pikir itu mudah, itu berat! Hatiku sakit saat mereka memperlakukanku seperti pelacur." teriak Syarifah mencurahkan sesak dalam hatinya.
"Maaf jika kami menakuti mu, serta menambah sakit hatimu. ini tas mu, pergilah. Jangan sedih-sedih lagi." kata Gion, dia kasihan melihat Syarifah dan mengembalikan lagi tas yang sudah mereka rampas.
"Bos" panggil Henri temannya Gion.
"Sst, sudah. kita cari mangsa lain." sahut Gion.
"Terimakasih, semoga Allah memberikan kita hidayah, agar hidup kita bahagia." Syarifah berdiri dan membersihkan celananya.
"Iya, sama-sama. Jika kamu butuh, kamu bisa meminta bantuan pada kami." balas Gion sambil tersenyum pada Syarifah.
Syarifah menatap haru, lalu, mengangguk pada Gion.
"Pergilah, sebelum kami berubah pikiran." ujar Gion.
Syarifah bergegas berlalu meninggalkan ketiga preman baik hati itu.
"Hendra, Hendri, kita pulang!" ajak Gion.
"Siap Bos" jawab mereka pulang mengikuti Gion.
**
Syarifah melanjutkan langkahnya hingga sampai di depan Kantor Wijaya Grup. Perusaan yang di kelola Firdaus.
"Alhamdulillah, sampai juga." bisiknya pelan
Wanita berpenampilan menarik itu berjalan menuju Lobi, dan tanpa sengaja Firdaus melihatnya. Laki-laki berjambang tipis itu seketika bersembunyi.
"Huh, syukur dia nggak lihat." bisiknya sambil mengusap dadanya.
Firdaus mengintip lagi, dan melihat Syarifah memasuki lift karyawan.
"Hampir saja." sambil membuang nafasnya kasar.
"Ngapain Syarifah kemari ya" batinnya. tiba-tiba dia teringat pada Malik.
"waduh, jangan-jangan yang di katakan Malik itu, Syarifah." mata nya melotot.
"Kurang ajar si Malik, dia enggak ngasih tau kalau yang mau melamar kerja itu Syarifah." Firdaus kembali menuju ruangannya.
Tiba di dalam kantor, Firdaus mengunci pintu agar Malik tidak membawa Syarifah ke ruangannya.
Dia mondar-mandir gelisah tidak menentu.
Ponselnya berdering, membuat nya tersentak kaget.
"Astagfirullah, bikin jantungan aja." gerutunya sambil mengangkat ponselnya.
Firdaus: "Iya Malik, ada apa?"
Malik: "Ini pelamarnya sudah datang Pak."
Firdaus: "Oh, kamu terima saja, terserah di bagian apa." pura-pura tidak tau.
Malik: "Berkas-Berkas nya tidak ada Pak, hanya surat lamaran saja"
Firdaus: "Kenapa?" kepo.
Malik: "Lebih baik Bapak bertemu langsung." Firdaus tidak tau saja, kalau Malik sudah sakit perut menahan tawa nya.
Firdaus: "Mm, Tidak usah." Firdaus dengan kesal, Malik sengaja mengerjainya.
Malik: "Jadi bagaimana Pak?,"
Firdaus: "Nggak jadi-jadian, masukkan saja sesuai kemampuannya. Sudah ya, aku sibuk." buru-buru Firdaus mematikan ponselnya.
Belum hilang rasa kesalnya, ponselnya kembali berdering.
Firdaus: "Apa lagi!"
Anita: "Hey, ini aku sayang, Anita."
Firdaus mengintip gawainya, tertera nama Anita disana. Dia meringis tidak suka.
Firdaus: "Iya, ada apa?" Firdaus datar.
Anita: "Ini sayang, aku nggak bisa pulang, Mami minta untuk menemaninya sampai besok. boleh 'kan?"
Firdaus: "Tumben minta ijin, biasa juga pergi aja ya 'kan."
Anita: "Bukan begitu Sayang, "Mami minta aku kesana, katanya Mami sakit dan aku butuh uang sayang."
Firdaus: "Iya, pergilah. dan tumben kamu meminta ijin padaku?"
Anita: "Ingin jadi istri yang baik, Mas."
Firdaus: "Mm" Firdaus malas menanggapinya.
Firdaus menutup ponselnya, Laki-laki bertubuh tinggi itu termenung memikirkan nasib rumah tangga nya.
Entah Rumah tangga seperti apa yang ia jalani, Tidak ada perhatian, yang ada hanya Uang dan Uang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
S dani
terima kasih sudah mampir di novel othor 🙏
2023-10-23
1
Medy Jmb
Pantesan Firdaus senang lihat Syatifah
2023-10-23
2