"Brengsek" Firdaus mengepalkan tangannya.
Firdaus murka karena Video diri nya dan Syarifah beredar di media sosial,
Orang yang tidak tau apa-apa menghujat Syarifah, apalagi caption nya pelakor syar'i, membuat berita itu viral seketika.
Firdaus mematikan media sosialnya, beberapa orang menyerang pribadi nya dan pasti nya, Syarifah juga akan mereka teror.
Dengan cepat Firdaus Menghubungi temannya, agar menghapus video yang beredar.
Firdaus: "Halo Jo, aku punya tugas untuk mu,"
Jo: "Apa itu, katakan saja."
Firdaus: "Tolong hapus video yang viral di medsos, kalau perlu cari sekalian penyebar di video itu."
Jo: "Ok, bro."
Firdaus; "Cepat Jangan pake lama." lalu, mematikan ponsel nya.
"Kurang ajar kau Anita, aku tidak pernah mengusik kesenangan mu dan sekarang kamu pura-pura perduli dengan pernikahan." desis Firdaus.
***
Kaki terasa lemah untuk melangkah, kejadian yang sama terulang kembali.
Luka yang selama ini tersimpan terbuka kembali.
Syarifah melangkah meninggalkan kantor, dia tidak ingin bertemu dengan siapapun termasuk Malik. Laki-laki itu juga membohonginya.
Sampai di depan kantor sebuah taksi berhenti di hadapannya.
"Syarifah, ayo masuk." ujar Gion.
"Eh, kalian. Mana Ibu, Gion?" ucap Syarifah.
"Itu di belakang," tunjuk Gion.
Syarifah masuk ke dalam mobil, duduk bersama Hendra dan juga ibu.
Dia melupakan sejenak rasa sakit nya, mengubah wajahnya menjadi ceria.
"Mana Hendri?" tanyanya menatap Hendra.
"Dia masih ada kerjaan." jawab Hendra
"Oo" sembari mengangguk angguk kan kepalanya
Mobil melaju hingga ke rumah sakit.
Gion menggendong ibu di belakang punggungnya. Lalu, membawa kedalam rumah sakit.
Syarifah terharu melihat perlakuan Gion, pemuda bertampang sangar. tapi, hatinya hello Kitty.
"Apa penyakit Ibu saya, dok?" tanya Gion setelah dokter memeriksa Ibu nya.
"Mm, ibu sudah terkena asam lambung, darah rendah dan juga penyakit tipus." jawab dokter.
"Tolong setelah ini, makanan ibu nya harus diperhatikan. Jangan makan sembarangan, rajin makan buah serta membersihkan sekitar tempat si Ibu." tutur dokter lagi.
"Iya, dok," Gion menunduk sedih, ada rasa penyesalan yang dalam dihatinya.
"Sudah, jangan terlalu di pusing kan. Mulai sekarang, biar Ibu tinggal bersama ku. Disana tempatnya lebih bersih dan makannya juga pasti lebih teratur." Ujar Syarifah.
"Iya, Syarifah. terimakasih." Gion semakin tertunduk dan menghapus air matanya.
"Iya sudah, Ibu sudah bisa di bawa pulang, ini resep yang harus di tebus, dan jangan lupa di minum ya." ucap Dokter sambil memberikan resep nya kepada Gion.
Gion mengambil resep itu, kemudian menggendong kembali sang Ibu.
"Gion, biar aku yang menebus obatnya, kalian tunggu di lobi ya." ujar Syarifah dan dibalas anggukan oleh kedua Pemuda itu.
Malik yang sedari tadi mengikuti Syarifah kebingungan, melihat Syarifah tidak ada di antara mereka.
"Kemana Syarifah" bisiknya, matanya memindai ke segala arah.
Tidak menunggu lama Syarifah muncul dari dalam. Bibir nya masih bisa tersenyum sementara dia lagi ada masalah.
"Syarifah!" panggil Malik.
Syarifah menoleh, senyum nya hilang seketika.
"Syarifah, Aku bisa jelasin." ucap Malik lagi.
"Tidak ada yang perlu di bahas, Malik. Sudahlah." jawabnya dengan sikap acuh.
"Syarifah, boleh tidak, bergabung bersama kalian?"
"Silahkan, nggak ada yang larang." balasnya.
"Malik." ucap nya sambil mengulur tangannya ke arah Gion.
Gion memandang Syarifah, wanita itu mengangguk.
"Gion" menerima jabat tangan Malik
"Hendra" sahut Hendra saat tangan Malik terulur kepadanya. Dan tidak lupa Malik mencium punggung tangan orang tua Gion.
"Kalian mau kemana?" tanya Malik.
"Mau pulang." jawab Syarifah singkat.
"Aku juga mau pulang. Kita bareng aja, bagaimana?" ajak Malik.
"Ya udah, kami mau ikut. Tapi, kami harus mengambil pakaian ibu dulu di rumah." balas Gion.
"Ya udah, nggak apa-apa." Malik bergegas membantu Gion membuka pintu mobil, Gion dan Hendra memapah Bu Nur.
Seperti kesepakatan tadi, Malik akan mengantar ke rumah Gion dulu baru ke kontrakan Syarifah.
Tiba di kontrakan, Syarifah membuka pintu dan mempersilahkan tamu nya masuk.
"Bentar ya, biar aku beres kan dulu agar Ibu bisa istirahat." ujar Syarifah, lalu masuk ke dalam kamar
"Ayo Bu." ucap Gion membungkuk untuk menggendong Ibu nya kembali.
"Sudah, Ibu jalan saja. Kamu sudah lelah dari tadi gendong Ibu terus." sambil mengusap punggung putra nya.
"Baiklah, mari Bu." Gion dan Hendra memapah Bu Nur, ibunya Gion.
"Ibu istirahat saja ya, disini lebih nyaman daripada dirumah kita." ucap Gion.
"Iya, Nak. Semua berkat malaikat penolong itu." balasnya penuh haru.
"Syarifah memang wanita berhati malaikat, Bu." bisiknya agar Syarifah tidak mendengarnya.
"Iya, jaga dia, jangan sampai ada orang yang jahat padanya." balas Bu Nur, sambil menggenggam tangan sang Anak.
"Iya, Bu. Pasti." ucap Gion.
Gion keluar dari kamar sang Ibu, Kemudian ikut bergabung dengan yang lain, duduk di samping Hendra dan Hendri.
Syarifah ikut bergabung dengan membawa kopi Pahit di dalam gelas.
"Ini minum dulu." Sambil meletakkannya.
"Terimakasih Syarifah." ucap mereka.
"Syarifah, kami boleh tinggalkan Ibu disini kan,?" tanya Gion kembali.
"Iya, boleh." balasnya tersenyum pada Gion.
"Maaf merepotkan mu." ucap Gion lagi.
"Tidak, aku senang kok, disini aku sendiri, dengan adanya Ibu, aku tidak kesepian lagi." senyumnya mengembang. Membuat siapapun memandang terasa nyaman.
Malik hanya mendengarkan nya saja, dalam hatinya, dia sangat kagum dengan Syarifah. "Bagaimana bisa mereka tega menyakiti wanita selembut Syarifah" batin Malik.
"Oh ya Malik, ada nggak pekerjaan untuk cowok, bantuin mereka dong." pinta Syarifah.
"Eh, iya. Ada." Suara Syarifah membuyarkan lamunannya.
"Jika kalian mau, besok saya akan pertemukan dengan Bos saya. Bagaimana?" sambung Malik lagi
"Baik Pak." jawab ketiga sahabat itu.
"Jangan panggil bapak lah, berasa tua banget" sambil terkekeh.
"Sorry bro, tapi, emang sudah Bapak-Bapak kan,?" goda Gion.
"Gimana mau jadi Bapak-Bapak, calon aja enggak punya." jawab Malik sambil tertawa.
Syarifah tertawa mendengar candaan ke empat pemuda itu.
Sementara di belahan bumi lainnya, suasana terlihat sunyi. rumah yang biasa nya terlihat senyum, kini sudah jarang terlihat.
Yusuf masih sama, dia hanya bicara seperlunya saja. Hatinya semakin hari semakin terasa sakit. Rasa bersalah itu kian merajai jiwanya.
"Bang, jangan begini, Syarifah sudah kembali ke kota, namun, kita masih seperti ini. Tidak bisakah kita kembali seperti dulu?" pinta Mahira. dia tetap merasa sakit walau janda suaminya itu tidak di hadapannya.
"Mahira, bisa kah kamu sekali saja mengerti hati ku?" Yusuf menghiba, dia merasa sangat bersalah tapi, tidak bisa berbuat apa-apa.
"Aku harus bagaimana, apa aku kurang mengerti dirimu, Bang?, masih kurang kah siksaan yang engkau berikan padaku?" Mahira tidak kuasa menahan tangisnya.
Yusuf terdiam, dia membenarkan dalam hatinya tapi, wajah Syarifah dan rasa bersalahnya membuatnya tidak tenang.
"Biarkan kita begini saja, aku tidak akan menceraikan mu dan aku akan tetap menafkahi mu." desis nya.
Mahira terpaku dengan ucapan suaminya, bagaimana rasanya menikah, tidak ada kemesraan, tidak ada canda tawa. Semua nya pasti hambar, seperti masakan tanpa garam.
"Aku tidak bisa melihatmu begini. Kalau memang dirimu masih menginginkan Syarifah, pergilah. Aku ikhlas lahir bathin." ucap Mahira sembari menutup kedua matanya, menahan sesaknya ucapan yang keluar dari mulutnya.
"Tidak ada yang bisa merubah status ini, Mahira. Sudah lah, biarkan begini saja. Jangan lagi mengungkit kesakitanku. Biarlah namanya tersimpan seperti dulu sebelum Syarifah muncul di hadapanku, walau tidak akan sama." balas Yusuf.
Sekuat apapun hatinya untuk melupakan cinta pertama nya, sekuat itu pula rasa sakit menggerogoti dadanya.
"Sampai kapan?" Isak tangis terdengar dari bibir Mahira.
"Sampai dia bahagia atau pun sampai aku tiada." balas Yusuf.
"Yusuf??"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments