"Jangan bohong kamu Yusuf!, Aku Janu, dengan nama Tuhan, aku bersumpah telah melihat Yusuf berzina dengan wanita sundal itu!" teriak Bu Janu.
Seketika suara sorak dari warga terdengar, mereka menuntut seperti tuntutan Janu.
"Tenang, tenang. Sidang masih berlanjut." ucap perwakilan itu.
"Kenapa kamu berselingkuh Yusuf?, lihat istrimu, pandangi Anak-anakmu. Tidakkah kau iba pada mereka?" tanya wakil Datuk itu.
"Aku tidak berselingkuh." jawabnya tegas
"Bohong!!" bantah Bu Janu, "Rajam mereka Datuk!, lempar batu perempuan itu!, dia merusak kebaikan, wanita itu menodai nya!" pekik Janu.
Syarifah terisak, dia pasrah jika itu harus terjadi. Matanya beralih pada sosok wanita keibuan itu,
"Istri Yusuf" batinnya. Kemudian, mata nya memindai pada dua anak yang masih kecil-kecil. "Itu pasti anak Yusuf."
Syarifah menutup matanya, ia tidak mampu membendung air mata. Terdengar teriakan,
"Jangan!" Itu suara Yusuf. Kemudian, suara ramai dari warga, "cambuk!, rajam!" teriakan yang memekakkan telinga.
Syarifah masih menutup matanya, meresapi setiap umpatan yang torehkan pada nya.
"Jangan kalian menyentuh Syarifah, dia istriku!" pekik Yusuf.
Seketika, semua tersentak. mereka terdiam, Syarifah membuka matanya, air mata kembali menetes.
"Kamu bohong!" seru Bu Janu.
"Tidak, aku tidak berbohong. Aku bersumpah Datuk, Demi Tuhan.., Syarifah istri pertamaku." tutur Yusuf
Mahira mengangkat wajah nya, terperangah dengan kenyataan pahit yang didengarnya. Ternyata wanita itu istri pertama suaminya.
Datuk Ahmad berdiri. "Jadi, wanita itu istri pertamamu, Yusuf?"
"Iya Datuk." Jawab Yusuf
"Apakah Yusuf suami mu, Nak?" tanya Datuk
Syarifah menunduk, kemudian, melihat istri dan anak Yusuf. Mata anak-anak tidak berdosa. Lalu, syarifah mengangguk.
"Iya, Yusuf suamiku." jawabnya.
"Deg" jantung Mahira berkedut sakit. Sambil memeluk kedua anaknya.
"Apa kalian saling mencintai?" tanya Datuk lagi.
"Iya, kami masih saling mencintai." jawab Yusuf tegas.
"Bagaimana denganmu, Nak?" Datuk bertanya pada Syarifah.
Syarifah menatap kembali Mahira dan anak-anak Yusuf.
"Tidak, aku tidak mencintainya." suara Syarifah bergetar.
Mahira kembali mengangkat wajahnya, menatap nanar pada wanita itu.
Mahira menggelengkan kepalanya. Ia tau wanita itu berbohong.
"Syarifah???" Yusuf terkesiap.
"Apa kamu ingin bercerai?" tanya Tetua adat itu.
"Tidak, aku tidak akan menceraikannya." jawab Yusuf sembari menatap tajam.
"Bagaimana dengan mu, Nak?" tanya Datuk. semua diam mematung, mereka menahan nafas menunggu jawaban Wanita berwajah teduh itu.
"Saya ingin bercerai." jawab Syarifah, sembari menutup matanya menahan gejolak di dalam dadanya.
"Boom!"
Seperti dihantam beribu batu, tubuh Yusuf luruh , dia tidak mampu mempertahankan wanita yang sangat dicintainya. Semua orang tersentak dengan jawaban Syarifah.
"Yusuf, anakku. Mahira adalah masa depan mu, lihat anak-anakmu. Mereka sangat membutuhkanmu. Sementara wanita itu, dia hanyalah masa lalu mu. lupakan dia , ucapkan talak tiga." tutur Datuk.
Semua mata memandang, talak tiga adalah momok menakutkan bagi pernikahan. Mereka mengutuk keputusan Datuk Ahmad. Tetapi, sang Datuk tetap pada pendiriannya.
Syarifah menatap nanar pada suaminya, walaupun bibirnya mengatakan cerai. Tapi, jauh di lubuk hatinya masih sangat mencintai Yusuf suaminya.
Sedangkan Mahira, wanita itu menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin Yusuf menjatuhkan talak kepada Syarifah. Mahira mengerti bagaimana sakitnya hati istri ketika tau suaminya mendua, apa bedanya hatinya dengan hati Syarifah.
"Cepat ucapkan, Nak" Datuk Ahmad sedikit memaksa.
"Syarifah, benarkah kamu ingin bercerai dari ku, suami yang sangat kamu cintai?" Yusuf memastikan.
"Iya, Aku ingin bercerai dan Kamu hanyalah masa laluku." Matanya menatap kedua bocah kecil itu.
"Baiklah, Aku tidak bisa berjuang sendirian Syarifah. Jika bercerai adalah keputusanmu." ucap Yusuf lemah
"Saya jatuhkan talak tiga kepada Syarifah Binti Syarifuddin. Maka jatuhlah talak tiga saya, mulai detik ini saya dan Syarifah sudah bukan suami istri lagi" suara Yusuf bergetar, Hatinya begitu sakit, dia baru bertemu dengan istrinya setelah sekian lama terpisah.
Talak tiga itu menghujam ke jantung Syarifah, wanita itu menutup matanya, air mata kembali menetes.
Talak tiga itu menusuk seluruh tubuh, hingga kakinya tidak mampu menopang tubuhnya. Tubuhnya luruh, perjuangannya telah usai. Tuhan mengabulkan do'a nya tetapi, hanya sementara.
Begitu juga Bibi Naima, wanita paruh baya itu menangis, dia berlari memeluk wanita malang itu.
"Syarifah, putriku. Maafkan Bibi mu ini, maafkan aku." sembari menangis di pelukan syarifah.
Mama Fatimah dan papa Husin, ikut menangis melihat penderitaan Syarifah, wanita yang mempertaruhkan nyawa nya demi membantu mereka.
semua orang yang hadir di persidangan itu terisak melihat Syarifah. wanita malang yang mereka sangka pelakor, ternyata istri Sah. Kesedihan bertambah ketika mengetahui suami istri itu baru berjumpa setelah sekian lama terpisah. Lalu, Kata talak yang dia terima. Kejadian ini diluar dugaan mereka, semua tiba-tiba terbalik.
Sungguh kejam Datuk Ahmad di sidang kali ini. Orang berwibawa itu di kenal kebijaksanaan nya dan sekarang, mereka kecewa dengan keputusan sang Datuk.
Bi Tum dan Bi Tim, orang yang biasanya menggosip seketika terdiam, rasa bersalah merasuki hati mereka.
Datin, istri Datuk Ahmad terpaku mendengar keputusan suaminya, wanita itu sedih, keadilan mana yang diterapkan oleh suaminya. Datin berlalu meninggalkan sidang, dia tidak kuasa melihat kesedihan wanita malang itu.
Bu Janu mematung di tempatnya. keadilan apa yang diharapkan, pada kenyataannya Mahira adalah yang kedua dan wanita itu istri sah Yusuf. keadaan menjadi terbalik. Ia ingin menghukum wanita itu ternyata, sekarang hatinya yang tersiksa.
Syarifah melangkah kan kaki, meninggalkan kerumunan itu. pandangannya kosong menatap lurus. Masih terngiang di kepala nya Pertemuan manis dan talak tiga.
Malam itu, malam terakhir hubungan mereka, ciuman pertama dan yang terakhir disematkan oleh Suaminya.
Sidang telah usai, Datuk Ahmad kembali ke peraduannya. Hatinya diliputi rasa bersalah tetapi, dia harus menyelamatkan pernikahan putrinya. putri satu-satunya dari keluarga Rajo.
"Suhairah, mana Istriku Datin?" tanya Datuk kepada pelayan.
"Di taman belakang, Datuk." jawab suhairah.
Pria paruh baya itu berjalan, menghampiri pujaan hatinya.
"Datin, istri ku. mengapa kamu menjauh?"
"Datuk, duduklah." ujar Sang istri, sembari berdiri menyambut suaminya.
"apa yang membuatmu menjauh, Datin?" kembali Datuk bertanya.
"Tidak ada, Datuk. Aku hanya berpikir, sampai kapan kita hidup di dunia ini." sembari duduk kembali di samping suami nya.
Datuk menarik nafas lalu, membuangnya kasar.
"jika hidup hanya sebentar, lalu, kenapa kita lalai dalam waktu." kembali Datin berujar.
"saudara itu lebih dari segalanya." balas Datuk.
"Andai keluarga bisa menjadi penolong, tidaklah ada gunanya sholat." jawab Datin.
"janji ada hutang, tidaklah bisa kita hidup dengan tenang, jika janji tidak ditepati." kembali Datuk membalas.
"Jangan gegabah suamiku, janji mu karena engkau belum tau kebenarannya. jika wanita itu menyimpan rasa sakit akibat keputusan yang tidak tepat, bagaimana?, bukankah dosa nya besar, suami ku?" tutur Datin penuh kelembutan.
Datuk terdiam.
Datin memegang erat tangan suaminya, "semoga wanita itu tidak menyimpan rasa sakit itu berlarut-larut"
pria bertubuh tegap itu memeluk erat istrinya. meski usia sudah kepala enam tetapi, parasnya masih terlihat tampan, tubuhnya gagah di umur yang terbilang sudah tua.
***
"Syarifah, mengapa tidak jujur pada Bibi?" tanya Bibi Naima
"Aku patuh pada suamiku, Bibi." jawab nya menatap kosong.
"Tetapi, ini menyakitimu, Nak." mama Fatimah menimpali, mama Fatimah menghampiri Syarifah dan Bi Naima kedalam kamar, sembari memeluk gadis penolongnya.
"Bang Yusuf ingin memberitahu pelan-pelan pada Mahira dan takut jika langsung mengatakannya Mahira akan sakit hati." tutur Syarifah.
"Namun, belum sempat itu terjadi, semua ketahuan." sambungnya lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments