“Mungkin jika hati ini ikhlas untuk menerimanya, maka kepergianmu tak akan menjadi derita.”
***
Kiara dan Syarifah masuk kedalam rumah sembari mengucapkan salam.
Mama menjawab salam, dan memeluk ke dua putri nya.
"Ma, capek banget, Kiara ke kamar ya." ujar Kiara.
"Iya sayang" balas Mama.
Ma, Syarifah juga istirahat ya,"
"Iya, istirahat lah Nak, kalian pasti lelah." balas Mama Fatimah.
Kiara melirik tidak suka. kemudian, melanjutkan langkah nya.
Kedua nya masuk ke kamar masing-masing, dan terlelap hingga keesokan pagi.
"Mama, mau kemana?" tanya Kiara saat melihat Mama Fatimah berkemas.
"Papa mau keluar kota lagi sayang, kasihan Papa kesepian." jawab Mama Fatimah.
"Mm, kapan pulang, Ma?" tanya Syarifah sembari duduk di sebelah Kiara.
"Palingan Minggu depan Mama dan Papa sudah di rumah." jawab Mama lagi
"Ya udah, hati-hati ya Ma, Papa mana?" ujar Kiara hendak berangkat kerja.
"Itu Papa" tunjuk Mama pada Papa Husin baru keluar dari kamar.
"Pa, Kiara berangkat dulu ya." Sembari mencium punggung tangan Papa sama Mama nya.
"Iya, hati-hati." ucap Mama.
Kiara berangkat dengan mobil merahnya. Gadis itu sama sekali tidak menegur Syarifah.
"Syarifah, Mama sama Papa, berangkat ya. Tinggal sendirian tidak apa-apa 'kan?" ucap Mama Fatimah.
"Enggak apa-apa, Ma. Santai aja." Syarifah tersenyum, sembari mencium punggung tangan Mama Fatimah.
Setelah kedua Orang tua angkatnya pergi, Syarifah bersiap untuk keluar mencari angin.
Di rumah sendirian akan mengingat luka nya, dia pun keluar menenangkan hati dan pikirannya.
"Bi Ijah, Syarifah keluar dulu ya, nanti kalau sudah selesai, Bibi titipkan kunci ke Pak Nanang ya." ucap Syarifah.
"Iya, Non" jawab Bi Ijah, pelayan di rumah Kiara.
"Pak Nanang, Syarifah keluar dulu ya, nanti Bi Ijah nitip kunci" sembari melempar senyum pada pria berkumis tebal itu.
"Iya Non, hati-hati!" Satpam Papa Husin itu membalas senyum Syarifah.
Syarifah bergegas, menghidupkan motornya, kemudian melanjutkan perjalanannya menuju taman kota.
Dia lebih suka memakai motor kemana-mana, walaupun Papa Husin sudah menyiapkan mobil untuknya.
Motor melaju hingga sampai ketaman kota.
Walau pun sendiri, ia tetap menikmati nya.
Syarifah melihat penjual permen kapas, dia pun beranjak membelinya.
Syarifah duduk di bangku taman sembari memakan permen kapasnya, air mata nya meleleh tidak terbendung, ia teringat saat Yusuf membeli dua permen kapas, mereka berlomba menghabiskan permen kapas itu dan Pasti nya Syarifah yang akan menang.
Dia kembali tersenyum walau air matanya menetes. Yusuf selalu memberi hadiah walau hanya sekedar ciuman. Hal receh itu sudah membuat Syarifah bahagia.
Kemudian, dia berkeliling mengitari taman kota, setelah bosan terus melanjutkan perjalanan ke sebuah Mall di Ibu kota.
Disana dia menikmati setiap permainan yang di mainkan oleh anak-anak, setelah itu berbelanja walaupun dia bukan orang yang hobi belanja.
Setelah puas berkeliling di mall, Syarifah kembali pulang.
Motor melaju dengan lambat, agar bisa menikmati pemandangan Ibu kota.
Tiba-tiba,
"Bruk"
Suara itu mengagetkan nya, mata Syarifah mengarah pada suara itu, dan ia terkejut melihat Pria buta yang ia temui di pesawat.
"Syukurlah security kantor itu menangkapnya dan kaki pria itu pasti sakit terkena kursi." batin syarifah
Syarifah berhenti dan membantu Pria itu.
"Kamu?" Syarifah menggantung ucapan nya, ia bingung ingin bicara namun, menyadari Pria itu buta dan tuli, Syarifah mengurungkan nya.
Pria itu diam saja, tidak menanggapi Syarifah.
"Pak, maaf ya, ini teman saya, dia buta dan tuli. Maaf ya Pak." sembari menyatukan kedua telapak tangannya.
Satpam menatap bingung,
"Hem." Firdaus mendehem.
"I-iya Bu," Satpam itu mengangguk setelah Firdaus bersuara.
"Maaf Bu, saya mengenal Pria ini, dia sudah mulai bisa mendengar." kata satpam itu meneruskan akting Firdaus.
"Oh, iya kah. Alhamdulillah" sambil tersenyum.
"Apa dia bekerja?" tanya Syarifah pada security itu.
"Tidak mbak, dia hanya mencari angin, hehehe" jawab satpam sambil terkekeh.
"Ooh" Syarifah mengangguk.
"Tuan, apa kamu mendengar saya?" ucap Syarifah, bibirnya hampir menyentuh telinga Firdaus.
Bulu kuduknya meremang merasakan nafas Syarifah terasa lembut ditelinga nya.
Firdaus mengangguk sambil melempar senyum.
"Kamu sudah makan?" tanya wanita bermata hijau itu lagi.
Firdaus menggeleng seperti bocah kecil yang lucu. Syarifah tersenyum gemes melihat wajah Firdaus.
"Syarifah, ngapain disini?" tanya Malik yang tiba-tiba keluar dari dalam gedung.
"O-oo mm, mencari kerja, ya?? melamar pekerjaan!" jawab Syarifah berbohong. Dia tidak mau Malik tau kalau dia sengaja menghampiri laki-laki buta itu.
"Tapi, ini sudah sore Syarifah, kantor sudah tutup kalau pukul segini." sambil menunjuk arloji di tangannya.
"Ah, iya. Kiara mana?" Syarifah kembali mencari alasan.
"Kiara sudah pergi, bareng temannya." jawab Malik, matanya menatap Syarifah.
"Teman?, Rosi dan Maura?"
"Bukan, katanya teman kencan nya."
"Ouh, cowok apa cewek?" tanya Syarifah lagi.
"Aku kayak tersangka di introgasi sama wanita cantik" jawab Malik dengan gombalannya.
"Hem," Firdaus mendehem.
"Minum, Pak?" sembari menawarkan minuman ditangannya.
"Bapak?, Apa dia sudah Bapak-Bapak?"
"Itu..." saat Malik hendak menjawab, Firdaus kembali mendehem.
"Oo iya Syarifah, kamu sudah makan?" Malik mengalihkan pembicaraan.
"Belum, ini mau ngajak Tuan.."
"Panggil saja Firdaus" Firdaus menimpali
"Ah, iya. Mau ngajak Tuan Firdaus makan." sambil tersenyum kepada Malik.
"Yuk sekalian saja" ajak Malik.
"Motor ku gimana?" ujar Syarifah.
"Tenang," balas Malik sambil menatap lobi kantor.
"Orang yang ditunggu-tunggu datang." Bibir nya tersenyum saat Maura dan Rosi datang.
"Apa an sih Malik?" Gemes melihat senyum Malik, biasanya itu senyum senyum ada mau nya.
"Rosi tolong bawa motor Syarifah ya, dan berhubung juga aku nggak bisa bareng kalian, lebih baik kalian naik motor pulang, ok."
Maura mendelik, "mm, iya." jawabnya.
Setelah kunci di serahkan pada Maura, kedua wanita itu berlalu pulang membawa motor Syarifah. Sementara, Syarifah, Malik dan firdaus menaiki mobil Malik dan Menuju sebuah cafe.
Tidak banyak pembicaraan, hanya Malik sedikit makan hati melihat tingkah bos nya itu.
Syarifah menyuapkan makanan ke mulut Firdaus, pemandangan yang menjijikkan bagi Malik.
Firdaus tersenyum mengejek Malik, tentu tanpa sepengetahuan Syarifah.
Setelah makan bareng, Malik mengantar Syarifah, kemudian mengantarkan Malik.
"Makasih ya Malik." ucap Syarifah.
"Iya, sama-sama." jawab Malik dengan wajah kesal.
Mobil kemudian melaju meninggalkan rumah Syarifah.
"Mau di antar kemana ini?" tanya Malik datar.
"Ke kantor saja, mobil disana." Sembari menepuk punggung Malik.
Tanpa menjawab Malik mengantar Firdaus ke garasi kantor.
"Jangan marah, ntar ganteng nya hilang" godanya sambil tertawa.
"Untuk apa mendekati Syarifah?, kamu sudah punya istri, jangan ganggu Syarifah lagi." ujar Malik.
"Itu bukan urusan kamu." jawabnya. Lalu, melangkah ke dalam mobilnya dan meninggalkan Malik seorang diri.
"Brengsek, untung dia Bos, kalau tidak udah gue hajar tu orang, nyebelin banget." gerutu Malik.
"Syarifah, walaupun orang desa itu menyebutmu pelakor, tapi, bagiku kamu bidadari." batin Malik senyum senyum sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
S dani
siap👍
2023-10-03
1
Umi Azzam
lanjut,,,
2023-10-02
1