MK - 19

Hati siapa yang tak bahagia ketika mendapat kabar akan kehamilan sang istri? Zean pun merasakan kebahagian yang luar biasa saat ini. Namun, keadaannya yang dikelilingi musuh tak terlihat membuat pria itu sedikit merasa khawatir. Bagaimana pun keselamatan istri dan calon anaknya harus ia jaga dengan baik.

"Apa ini? Kenapa ekspresimu seperti tidak menyukai kabar kehamilanku?" tanya Syifa dengan mata memicing menatap Zean yang masih larut dalam pikirannya.

"Tidak, aku sangat bahagia, tapi ...."

"Tapi apa?" tanya Syifa cepat karena Zean menggantung perkataannya.

"Tidak apa-apa?" Zean mengurungkan niat untuk menceritakan apa yang ia risaukan saat ini. Pria itu justru merendahkan tubuhnya lalu mengusap perut Syifa yang masih rata.

"Semoga kamu dan calon bayi kita sehat selalu," ucap Zean pelan lalu kembali berdiri menatap Syifa.

"Tinggallah bersamaku, dengan begitu aku bisa menjaga dan memastikan keamanan kalian," ujar Zean kemudian dengan wajah serius.

"Ajak juga ayah, katakan padanya untuk berhenti bekerja, biar aku yang memenuhi kebutuhan kalian," lanjut Zean ketika melihat raut wajah Syifa yang sedikit bingung.

"Tapi ayah tetap ingin bekerja, Mas. Aku juga," balas Syifa tertunduk.

"Kenapa? Ayah bisa mengajukan pensiun, sudah waktunya ayah istirahat, kamu juga sedang hamil, sebaiknya kamu istirahat," kata Zean meyakinkan.

"Maaf, Mas, tapi untuk saat ini aku tidak bisa," tolak Syifa dengan mata yang mulai berkabut.

Zean terdiam sejenak menatap mata wanita dihadapannya, lalu berkata, "Maaf, bukannya aku ingin menghalangi mimpimu, aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja."

Sejujurnya, Zean tidak tahu apa yang sebenarnya menjadi alasan sang istri menolak tawarannya untuk berhenti bekerja, ia merasa ada yang janggal dari jawaban Syifa, tetapi ia berusaha mengenyahkan dugaan-dugaan itu karena ia sadar, wanita di hadapannya itu belum ingin mengatakannya.

Zean kini meraih kedua tangan sang istri lalu menatap manik matanya. "Kamu bisa pindah bekerja ke rumah sakit ini, jika aku merindukanmu aku bisa langsung melihatmu. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan bersamamu, kumohon," pinta pria itu akhirnya.

..

Sore itu juga, Gunawan telah dibolehkan pulang, hanya saja ia belum diizinkan untuk melakukan perjalanan jauh oleh dokter. Alhasil, Zean meminta kepada sang ayah mertua untuk tinggal di rumahnya sampai keadaan pria paruh baya itu membaik karena ia tahu, mertuanya itu ingin tetap bekerja usai sembuh.

Zean juga meminta Mega dan Maisya untuk ikut tinggal bersama, tetapi mereka menolak mentah-mentah dengan alasan tak ingin tinggal di gubuk. Pada akhirnya, kedua wanita itu pulang ke kota mereka, sementara Syifa dan Gunawan kini dalam perjalanan menuju ke mansion miliknya.

"Selamat datang di rumah, biar aku membantu ayah turun." Zean segera keluar dari jok kedua mobil lalu menghampiri Gunawan yang duduk di samping Ken. Ia menyediakan kursi roda agar sang ayah mertua tak kelelahan selama dalam tahap pemulihan.

Berbeda dengan Zean yang sibuk, Gunawan maupun Syifa justru diam tak bersuara. Meskipun tubuh mereka bergerak keluar mobil, pandangan mereka tak lepas dari rumah yang sangat mewah di hadapannya.

"Ayo, masuk!" ajak Zean lalu mendorong kursi roda Gunawan dan diikuti Syifa di sampingnya.

Semua pelayan di rumah itu kini sudah berjejer rapi di pintu masuk menyambut kedatangan tuan muda mereka seperti biasa. Lagi-lagi hal itu membuat Gunawan dan Syifa semakin bingung sekaligus takjub.

Zean menghentikan langkahnya ketika telah berada di depan para pelayan itu. "Perkenalkan, ini Syifa istriku," ucap Zean sambil merangkul Syifa. "Dan ayah mertuaku," lanjutnya sambil memegangi pundak Gunawan.

Tak hanya para pelayan yang terkejut mendengar perkataan Zean, Ken yang sejak tadi bersamanya pun ikut terkejut karena baru mengetahui faktanya sang tuan muda yang ternyata telah menikah tampa sepengetahuan siapa pun.

"Mulai hari ini, mereka akan tinggal di rumah ini, jadi kuharap kalian bisa melayaninya dengan baik. Dan untuk kamu, Heru, karena kamu perawat pribadi di rumah ini, tolong bantu segala urusan ayah mertuaku," ujar Zean begitu tegas.

"Baik Tuan muda," ucap para pelayan dan perawat di rumah itu sambil menunduk sopan.

Zean kini mengantar Gunawan ke kamarnya untuk beristirahat, kemudian mengajak Syifa untuk ikut ke kamar pribadi miliknya.

"Kamu istirahat di sini dulu, yah, aku akan keluar sebentar," ujar Zean usai meletakkan tas sang istri di atas sofa lalu segera keluar.

Syifa hanya mengangguk patuh, meskipun ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan, tapi entah kenapa, Zean yang ia lihat sekarang auranya benar-benar berbeda. Siapa pun yang melihatnya akan merasa segan, termasuk dia sebagai istrinya.

"Siapa kamu sebenarnya, Mas?"

🦋🦋🦋

Zean meminta Ken untuk masuk ke ruang kerja milik almarhum ayahnya. Ada sesuatu yang sejak pagi tadi mengganggu pikiran pria itu, tetapi tak bisa ia selesaikan karena mengurus sang ayah mertua dan juga melakukan sebuah operasi. Ia bersyukur hari ini tak ada operasi jantung yang rumit sehingga ia bisa pulang sebelum malam menjemput.

"Ini daftar kebijakan baru rumah sakit yang tadi Anda minta, Tuan muda." Ken menyerahkan sebuah map berisi beberapa lembar kertas kepada Zean.

Zean membuka map itu dan mulai membacanya dengan teliti. Dahi pria itu berkerut membaca tiap poin kebijakan yang menurutnya tidak masuk akal.

"Apa ini? Mewajibkan semua pasien untuk membayar kamar rawat tanpa membeda-bedakan? Sistem pelayanan pasien berbayar dan BPJS harus dibedakan? Prioritas pasien berbayar? Pasien yang menunggak BPJS tidak akan dilayani?" Zean meremas kertas itu dengan kuat hingga urat tangannya terlihat.

"Kebijakan apa ini? Kenapa semuanya cenderung mengarah pada sistem kapitalisme? Tidak, bukan rumah sakit seperti yang diinginkan ayah!" ucap Zean dengan rahang mengeras.

"Ken, aku ingin kau menyelidiki aliran anggaran di rumah sakit. Ah, iya, selidiki juga semua tentang Paman Alvin. Aku pikir dia mengajukan diri menjadi direktur karena memang dia layak dan memiliki saham terbesar ketiga di rumah sakit, tapi kini aku mulai mencurigai sesuatu," ujar Zean.

"Ah, iya, tolong urus perpindahan Syifa ke rumah sakit Platinum Medisentra, dalam beberapa hari lagi dia akan bekerja di sana sebagai dokter umum."

"Baik, Tuan muda," balas Ken tegas. "Maaf, Tuan muda, apa ingatan Anda sudah kembali?" tanya pria itu penasaran.

"Iya, aku bahkan sudah mengingat semuanya sejak melihat ayah. Tapi jaga rahasia ini, aku tidak ingin orang-orang di rumah sakit mengetahuinya, termasuk hubunganku dengan Syifa," jawab Zean.

"Baik, Tuan muda."

🦋🦋🦋

Zean kini kembali ke kamarnya karena rasa mual dan pusing kembali menghampiri. Ia mengira Syifa sedang berisitirahat, tetapi ternyata wanita itu tak terlihat di sana. Suara gemericik air yang terdengar dari dalam kamar mandi menjawab apa yang ia pikirkan saat ini mengenai keberadaan sang istri.

Pria itu kini memutuskan untuk duduk bersandar di kepala tempat tidur dan mengistirahatkan tubuhnya. Tak lama setelah itu, ia mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Sudah jelas, itu adalah Syifa yang baru saja menyelesaikan bersih-bersihnya.

"Mas, kamu kenapa?" tanya Syifa ketika melihat Zean yang tampak kurang sehat.

"Besok kita periksa kandungan kamu, yah." Alih-alih menjawab pertanyaan Syifa, pria itu justru mengajak sang istri untuk memeriksa kandungan. Jika melihat keadaan Syifa yang baik-baik saja tanpa gejala mual muntah, sepertinya dugaan Vano waktu itu benar adanya, dia tidak sakit, hanya terkena sindrom couvade.

"Di rumah sakit tempat kerja kamu, 'kan?" tanya Syifa memastikan.

"Bukan, kita rumah sakit lain saja, aku jngin melihat kondisi kandunganmu saja," jawab Zean.

"Kenapa? Di sana, 'kan, ada dokter obgyn juga."

"Dokter obgynnya adalah Viona, dan aku tidak ingin dia tahu untuk saat ini," jawab Zean, tetapi hanya dalam hati.

🦋🦋🦋

Beberapa hari kemudian, Zean telah kembali bekerja seperti biasa. Usai memeriksa kandungan sang istri dan mendapatkan obat, tubuh pria itu terasa semakin baik, meski setiap subuh tetap saja ia akan mengalami morning sickness yang cukup menyiksa.

Seperti saat ini, ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangannya setelah melakukan operasi darurat pagi tadi. Namun, sepanjang perjalanan, ia tak sengaja mendengar tentang cerita kedatangan dokter umum baru.

"Gila, dokter baru itu cantik banget, sepertinya aku tergila-gila padanya."

"Hey, jangan seperti itu, dia adalah calon kekasihku."

"Hey, Rafael, apa kau sudah melihat dokter baru di rumah sakit kita? Jiwa jombloku meronta-ronta ketika melihatnya," ujar Vano menghampiri Rafael di ujung lorong.

-Bersambung-

Terpopuler

Comments

Nurmalina Gn

Nurmalina Gn

syukurlah emang gak banget buk Mega dan masak tinggal bersama zean

2024-01-09

1

Ina Ijal

Ina Ijal

yaaah baru juga up udah di gantung, bahkan ceritanya hampir lufa loh Thor tapi gpp deh semoga sehat selalu dan semangat terus untuk tetap berkarya dan semoga bisa up tiap hari klo perlu dobel

2023-11-04

1

Haikal Ispandi

Haikal Ispandi

thor tiap hari dong up ny
lagi seru

2023-11-04

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!