MK - 04

Zean mengusap dadanya yang terasa sakit setelah batuk yang tiba-tiba menyerangnya akibat tersedak air minum. Bukan tanpa alasan. Syifa yang awalnya malu-malu mengungkapkan perasaan, kini malah terang-terangan meminta nikah tepat di hadapannya.

"Kamu bercanda, 'kan?" Zean merutuki pertanyaan yang baru saja ia lontarkan. Rasanya ia benar-benar seperti pria pengecut karena melontarkan kalimat yang tidak seharusnya ia keluarkan.

"Tidak, aku serius," jawab wanita itu penuh keyakinan. "Nikahi aku! Aku tidak ingin melukai ayahku karena memiliki rasa cinta pada pria asing sepertimu," lanjutnya dengan nada tegas.

Zean tidak langsung menjawab. Pria itu tampak diam berpikir sambil tertunduk.

"Kenapa diam?" tanya Syifa. Sorot matanya menunjukkan adanya tuntutan akan sebuah jawaban.

"Kamu tidak akan memiliki masa depan jika menikah dengan pria asing tanpa identitas sepertiku." ucap Zean kemudian.

Sejujurnya ia sangat bahagia mendengar permintaan Syifa. Siapa yang tidak ingin menikahi wanita yang telah berhasil merebut hati? Zean pun demikian. Hanya saja pada saat yang sama, hatinya juga terasa sakit mengingat keterbatasannya.

Pria itu sadar jika dirinya sedang berada di fase abu-abu. Siapa dia, apa pekerjaannya, dari mana asalnya, hingga usianya saja tidak jelas. Mempertanggungjawabkan status dan kejelasannya saat ini saja ia benar-benar tidak berdaya, lalu bagaimana ia bisa bertanggung jawab atas istrinya kelak?

"Kamu tidak perlu memikirkan itu, aku yang akan memberikan semuanya padamu, termasuk identitas," jawab Syifa.

"Tidak, Syifa. Pernikahan itu bukan hal untuk dijadikan candaan. Kehidupan asliku tidak jelas. Aku takut fakta akan kehidupanku yang sebenarnya akan menyakitimu kelak," ujar Zean dengan tatapan sendu.

"Aku siap menerima segala konsekuensinya," jawab Syifa menegaskan.

"Bagaimana jika aku miskin dan pengangguran?"

"Asal kamu bisa bekerja keras dengan pekerjaan lain yang halal dan bertanggung jawab, insya Allah aku terima."

"Bagaimana jika aku seorang buronan?"

"Aku akan sabar menunggumu jika kamu harus tinggal di lapas."

"Bagaimana jika aku sudah menikah?"

Syifa yang tadinya sudah membuka mulut untuk menjawab, seketika lidahnya terkunci.

"Maaf, Syifa, aku tidak ingin memanfaatkan keadaanku ini untuk hal-hal yang justru dapat membuatmu tersiksa batin di kemudian hari," jelas Zean lagi-lagi menatap sendu ke arah Syifa. Berat rasanya mengatakan sesuatu yang bertolak belakang dengan keinginan hati.

Beberapa detik berlalu dalam keadaan hening, hingga Syifa mulai kembali bersuara, "Aku siap! tapi aku yakin kamu belum menikah karena di jarimu tidak ada cincin sama sekali."

Zean seketika refleks melihat jari-jarinya yang memang kosong. Ah, sungguh ia membenci keadaannya saat ini. Ingin maju, takut menyakiti. Ingin mundur, takut menyesali.

🦋🦋🦋

"Apa?" Kamu serius ingin menikah dengan Zean?" tanya Hadi yang begitu terkejut mendengar rencana Syifa ketika mereka sedang dalam perjalanan menuju hutan untuk mencari tanaman obat.

Syifa mengangguk yakin. "Iya, Paman."

"Tapi kenapa harus dia? Paman tahu, Zean memang tampan, berkarisma, dan memiliki tubuh yang sempurna, tapi bukankah selama ini begitu banyak pria tampan, mapan, dan jelas asal-usulnya yang berada di sekitarmu?" cecar Hadi pelan tapi penuh penekanan.

"Ya, karena memang dia takdirku," balas Syifa tetap tenang.

Hadi menggelengkan kepalanya tidak terima dengan alasan Syifa. "Tidak, tidak, ini tidak benar. Jika kamu memang mencintainya, setidaknya tunggu dia sampai sembuh, sampai ingatannya kembali. Asal-usulnya tidak jelas dan itu tidak baik untukmu."

Kali ini Syifa hanya diam tak menanggapi perkataan sang paman.

"Jangan bilang kamu seperti ini karena tuntutan keluargamu yang ingin agar kamu segera menikah?" tebak Hadi dan langsung mendapat gelengan kepala dari Syifa.

"Tidak, Paman, bukan itu yang menjadi alasan Syifa yakin untuk menikah dengan Mas Zean."

"Lalu? Alasan apa yang membuatmu seyakin ini?"

"Istikharah, Paman."

"Istikharah?"

Syifa mengangguk pelan, lalu berkata, "Iya, Paman. Sejak Paman menyimpulkan jika Syifa mencintai Mas Zean, Syifa tak tinggal diam. Syifa istikharah, minta petunjuk Allah. Bukan, sekali-dua kali saja, tapi berkali-kali dan jawaban yang Syifa dapat itu sama. Mas Zean."

Hadi bergeming, ia menatap sang keponakan dengan alis yang berkerut, seolah hendak protes, tapi tertahan.

"Paman, Paman tahu, 'kan? Syifa itu realistis, realistis sebagaimana ketentuan Allah. Itu sebabnya sampai saat ini Syifa belum menikah, bukan karena pemilih, tapi memang belum jodoh. Untuk yang satu ini, mungkin orang menganggap Syifa gegabah atau apalah. Bagi Syifa, pilihan Allah tidak pernah salah," jelas Syifa.

Awalnya ia memang mengesampingkan perasaan dan mempertimbangkan asal-usul Zean yang tidak jelas. Namun, semakin sering ia melakukan istikharah, pertimbangan-pertimbangan itu gugur perlahan.

"Bagaimana dengan ayahmu?" tanya Hadi kemudian yang kini terlihat lebih pasrah dari sebelumnya.

"Ayah nggak akan mempermasalahkan itu, asal Syifa yakin, insya Allah, ayah ridho," jawab Syifa santai.

"Lalu bagaimana dengan ibu dan suadara tirimu? Kalian itu keluarga dokter, ibumu sangat memperhatikan yang namaya kesetaraan strata sosial. Paman yakin, kamu akan kesulitan mendapatkan restunya."

Mendengar perkataan sang paman, Syifa terdiam. Benar, tidak mudah meminta restu dari ibu tirinya itu. Wanita itu terlalu menjunjung tinggi strata sosialnya karena dia seorang dokter yang memilih pensiun dini setelah menikah dengan ayah Syifa, anaknya pun adalah seorang dokter.

Meskipun sikap sang ibu tidak begitu baik kepadanya, tetap saja Syifa harus menghormatinya. Cukup lama wanita itu merenung, hingga sebuah senyuman terbit di wajah cantiknya.

"Aku akan berbicara pada ibu."

🦋🦋🦋

Usai ketiganya berunding bersama, Zean akhirnya sepakat untuk bertemu dengan kedua orang tua Syifa, meskipun ia begitu gugup dan tidak percaya diri. Tak pernah sekali pun pria itu menduga ada wanita yang mau menikah dengannya yang tidak jelas asal-usul dan sedang sakit seperti saat ini.

"Jadi siapa namamu, Nak?" tanya Gunawan, ayah dari Syifa.

"Nama saya Zean, Pak," jawab Zean begitu gugup.

"Apa kerjamu? Dari mana asalmu? Apa kerja kedua orang tuanmu?" kini giliran Mega, ibu tiri Syifa yang mencecar Zean dengan pertanyaan. Sesekali pandangan wanita paruh baya itu tertuju pada lengan dan kakinya yang masih memakai gips.

Zean bergeming, rasanya ia benar-benar tak berdaya menjawab pertanyaan tersebut. Bagaimana tidak? Dari sekian pertanyaan, tak ada satu pun yang ia ketahui jawabannya. Mungkin lebih tepatnya, ia sama sekali tak mengingat apa pun tentang dirinya di masa lalu.

"Jujur saja!" ujar wanita paruh baya itu dengan tegas.

"Maaf, Tante. Saya tidak mengingatnya," jawab Zean jujur.

"Apa?" pekik Mega begitu terkejut. Dahi wanita paruh baya itu tampak berkerut dalam.

Melihat gurat emosi di wajah sang ibu, Syifa dengan cepat membuka suara, "Em, begini, Yah, Ma. Sebenarnya Mas Zean ini mengalami amnesia."

"Apa?" Lagi-lagi suara Mega terdengar begitu melengking, apalagi ditambah suara Maisya, kakak tiri Syifa yang tak kalah nyaring dari sang ibu.

"Syifa, apa sebegitu putus asanya kamu mencari jodoh hingga bersedia menikah dengan pria ini? Apa yang kamu harapkan darinya? Berjalan saja butuh bantuan, sekarang ditambah lupa ingatan, apa kamu bercanda?" timpal Maisya dengan tatapan meremehkan ke arah Zean.

Zean tertunduk dengan hati yang terluka mendengar perkataan saudara tiri Syifa. Harga dirinya benar-benar diinjak seolah ia begitu rendah di hadapan mereka. Jika memang tidak setuju, lebih baik ungkapkan penolakan itu dengan baik dan bukan malah melukai hatinya.

"Aku tidak bercanda, Mbak. Aku mencintai Mas Zean tulus, tidak peduli bagaimana keadaannya saat ini," tegas Syifa yang tak terima Zean direndahkan seperti tadi.

Mega dan Maisya tertawa meremehkan. "Kamu pikir cinta saja bisa membuat hidupmu bahagia? Percuma cinta jika pada akhirnya hidupmu malah melarat.

"Sudah-sudah, hentikan keributan ini!" seru Gunawan tegas hingga semua orang di dalam ruangan itu diam.

Pria paruh baya itu kini menatap Syifa dengan tatapan serius. "Nak, jelaskan pada ayah, apa alasanmu ingin menikah dengan Nak Zean saat ini? Bukankah kamu masih bisa menunggunya hingga dia benar-benar pulih dan mengingat dan mengingat segalanya?"

"Syifa ingin merawat Mas Zean secara intensif, Ayah. Dukungan fisik dan mental saat ini yang dia butuhkan. Syifa ingin membersamai pemulihannya tanpa ada batasan di antara kami," jawab Syifa.

Zean menatap Syifa sendu. Haru, bahagia, dan juga sedih kini menyelimuti hatinya pada waktu yang sama. Sebuah pertanyaan seketika muncul dalam benaknya. Bisakah ia membahagiakan wanita itu?

"Zean ini, 'kan amnesia, suatu saat mungkin ingatannya akan kembali. Apa kamu yakin siap menerima segala konsekuensinya?"

"Syifa siap, insya Allah," jawab Syifa yakin.

Gunawan terdiam sejenak, ia memandangi Syifa dan Zean secara bergantian, mencari ketulusan cinta dari sorot mata mereka. Pria paruh baya itu menarik napas dalam sebelum membuat keputusan besar.

"Baiklah, kalau begitu, menikahlah malam ini juga. Setelah itu kembalilah ke kota bersama suamimu. Rawat dia dengan baik di sana."

-Bersambung-

Terpopuler

Comments

Mia Roses

Mia Roses

Taoi jika saya yang jafi orangtua Syifa, saya pun ga ngijinin anak gadis saya nikah dengan seorang yg amnesia yang ga tau asal usulnya, semua ortu pasti menginhinkan rumahtangga yg harmonis bagi anaknya.
Di novel ini, reader kan tau siapa Zean, jadi.... maju terus Syifa 😁

2023-09-30

1

Ria Dardiri

Ria Dardiri

niat baik harus disegerakan😉😉

2023-09-30

1

Neneng cinta

Neneng cinta

Alhamdulillah....♥️♥️♥️

2023-09-30

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!