Langit mulai gelap di Desa Lambani. Hamparan bintang mulai menampakkan diri menemani sang rembulan yang menandakan berakhirnya aktivitas para warga di desa itu. Begitu pun dengan Hadi yang hendak menutup kliniknya.
Sebuah tangan kekar tiba-tiba muncul di hadapan pria paruh baya itu dan menghalangi pintu yang akan ditutup.
"Tunggu sebentar, Pak. Kami ingin bicara!" ujar pria berkacamata hitam dengan nada tegas.
Sesuai permintaan mereka, Hadi kembali membuka pintu tersebut, lalu bertanya, "Siapa kalian? Ada perlu apa kemari? Apa ada yang sakit?"
"Apa kau pernah melihat orang ini?" Bukannya menjawab pertanyaan Hadi, pria itu malah bertanya balik sembari memperlihatkan foto seorang pria.
Hadi mengerutkan dahinya melihat foto pria yang sangat ia kenali. Ya, itu adalah foto Zean, hanya saja di foto itu dia terlihat lebih rapi dengan jas hitam yang membuatnya begitu berkarisma dan berkelas.
"Siapa kalian? Kenapa kalian mencarinya?" selidik Hadi mulai waspada.
"Kau tak perlu tahu siapa kami. Cukup jawab saja, apa dia pernah menjadi pasienmu?"
Hadi tak langsung menjawab. Ia mengamati satu per satu wajah dari empat pria berpakaian rapi di depannya. Wajah mereka terlihat tegas dan sedikit menakutkan menurutnya.
"Ya, dia pernah menjadi pasienku ..., tapi tidak lagi karena dia sudah kembali bersama keluarganya," jawab Hadi jujur.
"Keluarga?" ulang salah satu pria itu terlihat sedikit bingung.
"Iya, keluarganya," jawab Hadi menegaskan.
Keempat pria itu kini tampak berunding, entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas Hadi menaruh curiga pada mereka.
"Apa kau yakin orang ini yang kau lihat?" tanya pria itu lagi memastikan.
"Iya, meski usiaku tidak muda lagi, tapi penglihatanku masih berfungsi dengan baik," jawab Hadi meyakinkan keempat pria itu.
"Lalu, di mana rumah keluarganya?"
"Maaf, kalau itu aku tidak tahu."
"Hey, kau jangan mempermainkan kami, yah!"
"Aku tidak mempermainkan kalian. Aku tidak memiliki hak untuk mengetahui alamat keluarga pasienku. Jika mereka ingin memberitahuku, ya, tidak apa-apa, tapi jika tidak maka bukan masalah bagiku." Hadi berbicara dengan begitu tenang.
Merasa tak menemukan titik terang, keempat pria itu langsung kembali ke mobil mereka usai pamit. Ya, Hadi memang berbohong jika ia tidak tahu alamat rumah Syifa. Hanya saja ia khawatir empat pria tadi adalah orang-orang yang menjadi penyebab kecelakaan mobil Zean.
Bukan tanpa alasan, setelah kecelakaan malam itu, keesokan harinya Hadi meminta temannya yang seorang polisi untuk menyelidiki penyebab kecelakaan mobil Zean, dan ia mengetahui bahwa ada yang sengaja merusak rem mobil tersebut. Itulah sebabnya, pria paruh baya itu memilih merahasiakan keberadaan Zean, ia tidak ingin suami dari keponakan kesayangannya kembali mendapat masalah.
🦋🦋🦋
Malam itu sepulang dari rumah sakit, Zean dibantu oleh Syifa mandi seperti biasa. Pria itu duduk di kursi khusus sementara sang istri menggosok tubuhnya dengan lembut. Bahkan sesekali ia memejamkan mata karena merasa nyaman akan pijitan wanita itu.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Zean ketika Syifa memijit pergelangan tangannya agar lebih rileks.
"Tanya apa?" tanya Syifa sambil menatap sang suami.
"Apa kamu pernah mengurus pria lain selain aku seintensif ini?" tanya Zean dengan wajah datar, tapi sorot matanya menyiratkan akan rasa penasaran.
"Pernah satu orang, selain itu nggak pernah. Apalagi jika menyangkut pasien di rumah sakit, itu biasanya dilakukan oleh perawat," jawab Syifa.
"Jika bukan pasien, lalu siapa dia?" Pria itu semakin menatap kedua manik mata Syifa dengan lebih serius.
"Dia ..., dia adalah orang yang sangat berarti bagiku dulu." Syifa menjeda perkataannya sejenak seraya melirik sang suami. Wanita itu sengaja tak langsung menyebut namanya, agar bisa melihat bagaimana reaksi dari pria itu.
Benar saja, wajah Zean kini tampak murung, dahinya berkerut, dan terdengar embusan napas kasar seolah kecewa mendengar jawaban Syifa.
"Oh, kupikir akulah pria pertama yang kamu lihat seluruh tubuhnya seperti ini," ucapnya tak bersemangat.
"Apa kamu marah atau cemburu?" tanya Syifa memancing kejujuran Zean lagi setelah tadi di rumah sakit.
"Untuk apa aku marah?" tanya Zean seraya memalingkan wajahnya ke tempat lain memaksa bersikap tak acuh.
"Kamu cemburu?" tanya Syifa kali ini dan tak mendapat respon dari Zean.
Syifa mengambil shower dan menyirami tubuh Zean perlahan hingga semua busa di tubuhnya berangsur hilang dan bersih. Wanita itu kini mengambil handuk dan mengeringkan tubuh dan rambut sang suami, lalu memakaikan pakaian lengkap. Terakhir ia membantu sang suami keluar dari kamar mandi dengan cara memapahnya.
Sebuah ketukan pintu disertai panggilan bibi Dinar selaku asisten rumah tangga di rumah itu untuk makan malam bersama kini terdengar dari luar. Syifa kembali mendudukkan Zean di kursi rodanya, lalu ia duduk di pinggir tempat tidur menghadap ke arah sang suami.
"Kita makan malam dulu, yah. Kamu mau aku bawakan ke sini atau ikut makan bersama yang lain?" Syifa memberikan pilihan kepada Zean sebab ia tahu bagaimana resiko yang bisa saja diterima pria itu ketika bertemu dengan ibu dan kakaknya.
Akan tetapi, Zean tak menjawab, ia lagi-lagi memalingkan wajahnya ke tempat lain dengan wajah ketus.
"Kamu kenapa?" tanya Syifa lembut.
"Aku baik-baik saja," jawabnya datar.
Sejujurnya Zean bingung dengan sikapnya yang sangat labil ini. Cuek, tapi juga mudah cemburu, bahkan mengatakan cinta saja rasanya ia gengsi. Ia tidak tahu apakah ini adalah sikap aslinya, atau sikapnya yang muncul semenjak amnesia.
Syifa tersenyum menatap Zean, ia meraih kedua tangan pria itu dengan hati-hati.
"Laki-laki yang aku maksud tadi adalah almarhum adikku. Waktu itu mama meninggal usai melahirkan seorang bayi kecil secara prematur karena pre-eklampsia. Aku pikir adik kecilku itu akan bertahan dan menghibur kami yang sedih karena kepergian mama, tapi setelah berjuang di dalam ruang NICU selama beberapa hari, dia akhirnya pergi menyusul mama." Syifa menjeda perkataannya sejenak untuk menarik napas.
"Waktu itu, aku membantu memandikan adikku, dia adalah satu-satunya lelaki yang pernah kumandikan sebelum kamu." Syifa menatap manik mata Zean dengan begitu dalam. Mata wanita itu tampak berkaca-kaca, tapi senyuman diwajahnya tak pudar sedikit pun.
"Maaf," ucap Zean yang kini dirundung rasa bersalah. Ia menyadari dirinya telah bersikap kekanak-kanakan karena telah cemburu buta. Pria itu jelas mengakui bahwa dirinya memang cemburu, tapi untuk mengatakannya terasa sangat sulit.
"Tidak masalah, aku. Memang sengaja tidak memberitahumu karena aku ingin melihat bagaimana reaksimu, tapi ...." Syifa membuang napas kasar lalu membuang pandangannya ke arah lain. "Tapi sepertinya kamu tidak cemburu," lanjutnya dengan bibir yang sengaja ia manyunkan.
Zean tertunduk tak tahu harus bagaimana. Apakah Syifa tidak bisa melihat bagaimana reaksinya tadi? Apakah harus ada pengakuan melalui lisan agar wanita itu senang? Sebagai pria, ia merasa sulit untuk melakukan sesuatu yang tak biasa ia lakukan sebelumnya. Entah, masa lalunya seperti apa. Namun, semuanya terasa asing saat ini.
"Kamu mau makan di mana, Mas?" tanya Syifa kembali berusaha mengalihkan pembicaraan yang kini membuat suasana terasa canggung.
"Kita makan bersama saja," jawab pria itu.
"Baiklah, ayo!" Syifa segera mendorong kursi roda Zean keluar dari kamar. Namun, belum juga sampai di meja makan, tatapan sinis dari Mega dan Maisya sudah langsung menusuk relung hati mereka.
Syifa membantu Zean duduk di kursi, kemudian mengambilkan makanan dalam satu piring. Wanita itu kini hendak menyuapi seperti biasa, tapi urung ketika pria itu menahan tangannya.
"Kamu tidak makan?" tanya Zean pelan.
"Aku makan, kok. Kita makan sepiring berdua lagi aja, nggak papa, 'kan?" tanya Syifa dan mendapat anggukan dari dari Zean, tentu saja dengan wajahnya yang datar tanpa ekspresi seperti biasa.
Sementara itu, Maisya yang melihat Syifa menyuapi Zean dan dirinya secara bergantian hanya bisa menahan tawa sambil menatap remeh mereka. Namun, baik ia maupun sang ibu tak ingin berkomentar lagi selama ada sang ayah di sana.
Suasana makan tampak hening. Hanya terdengar langkah kaki seorang anak empat tahun yang merupakan anak dari Bibi Dinar sedang bermain ke sana-ke mari. Gunawan dan keluarganya sama sekali tidak mempermasalahkan anak tersebut bermain bebas di rumah mereka, mengingat tak ada lagi anak kecil yang membuat suasana rumah itu lebih hidup.
Tring
Suara ponsel Gunawan yang berbunyi tiba-tiba mengalihkan atensi semua orang. Pria paruh baya itu kini tampak berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon. Ketika panggilan telah berakhir, ia langsung menyelesaikan makannya dengan buru-buru.
"Maaf, ayah ke rumah sakit dulu, yah! Ada operasi darurat malam ini," ucapnya lalu segera pergi menuju rumah sakit.
Sementara di ruang makan kini tersisa Mega, Maisya, Syifa, dan Zean yang sedang menikmati makanan mereka masing-masing.
"Ekhem, enak banget, yah jadi suami sekarang. Asal-usul tidak jelas, bekerja tidak, beres-beres rumah juga tidak, tapi makan disuapin, mau ke mana-mana didorongin. Manja banget, yah, Ma?" Maisya mulai menyindir Zean secara terang-terangan.
Zean dan Syifa yang mendengarnya langsung menghentikan aktivitas makan mereka dan menatap ke arah Maisya.
"Mbak, tolong, yah. Sekali saja, hargai keberadaan suami Syifa," tegur Syifa merasa tidak enak hati.
"Kapan aku bilang suami kamu. Ih pede banget, sih!" kilah Maisya sambil tertawa mengejek.
"Kenapa kamu marah? Memang faktanya suami kamu begitu, kok! Mama malah curiga jika sebenarnya suami kamu itu hanya berpura-pura amnesia dan terluka agar bisa hidup enak dalam keluarga kita. Ya, secara, kan, keluarga kita adalah keluarga dokter yang kaya raya. Tidak seperti dia yang sebenarnya pengangguran dan hanya memanfaatkan ketampanan untuk meraih simpati wanita polos sepertimu!" timpal Mega dengan begitu angkuh.
Mendengar semua itu, hati Zean benar-benar panas dan terluka. Sebegitu rendahnya kah ia di mata mereka hingga diperlakukan seperti itu?
"Cukup, Ma! Zean suami Syifa. Syifa tidak suka jika dia direndahkan. Syifa percaya padanya, dia pria baik dan tulus. Jadi tolong, hargai dan perlakukan suami Syifa dengan baik," tegas Syifa membuat hati Zean menghangat.
Suasana ruang makan itu semakin memanas karena Maisya masih saja terus memprovokasi Mega untuk terus merendahkan Zean. Begitu pun dengan Syifa yang tak ingin tinggal diam ketika harga diri suaminya diinjak-injak.
Uhuk uhuk
Semua perhatian kini teralihkan pada anak Bibi Dinar yang berdiri di dekat Zean sambil terbatuk dengan tangan yang memegangi leher, wajahnya memerah dan napasnya mulai tersendat-sendat.
"Dia tersedak!" lirih Zean yang mulai menyadari akan bahaya tersebut, bagaikan kepingan ingatan yang tiba-tiba melintasi pikirannya.
Dengan gerakan cepat, Zean menarik anak itu, lalu mulai melakukan abdominal thrusts dengan memosisikan anak itu berdiri membelakanginya. Kemudian ia melingkarkan kedua tangannya ke depan tubuh anak tersebut seolah sedang memeluk dari belakang.
"Hey, apa yang kau lakukan! Jangan sembarangan kamu!" teriak Mega sedikit panik dengan keadaan itu. Namun, Zean tak mengindahkan teguran wanita paruh baya itu.
Zean mengepalkan tangannya pada bagian tengah perut di antara uluh hati dan pusar anak itu, lalu menghentakkannya sebanyak lima kali hingga sebuah benda melompat keluar dari mulut anak tersebut.
Mega, Maisya, bahkan Syifa hanya bisa tertegun melihat cara Zean menangani anak Bibi Dinar. Pria itu tampak tenang dan yakin seolah hal itu sudah sering ia lakukan sebelumnya.
-Bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Nurmalina Gn
buk Mega sombong amat,
mbak maisya,,, gak takut jadi jomblo abadi
judes nya level akhir
2024-01-09
1
Neneng cinta
Pa Dokter walau amnesia tetap az jd dokter ya👍🏼👍🏼👍🏼🤗
2023-10-08
1
Mustarika
tugu tanggal mainya buk mega dan meisya..
2023-10-06
1