"Halo."
(...)
"Innalillahi wa innailaihi roji'uun. Baik, kami akan langsung ke sana."
Ken menarik napas dalam dan membuangnya perlahan. Wajah pria itu seketika berubah sendu, bahkan air matanya lolos setetes dari pelupuk mata.
"Kita akan langsung ke mension utama, Tuan muda," ucap Ken kemudian.
"Memangnya kenapa? Bukankah tadi kau mengatakan bahwa kita akan ke rumah sakit dulu melihat keadaan ayah?" tanya Zean bingung.
"Maaf Tuan muda, tapi Tuan Abdillah sudah tiada," jawab Ken dengan suara bergetar.
"Apa? Ayah meninggal?" Jantung pria itu berdebar, meski ia belum mengingat wajah sang ayah, tapi hati kecilnya merasa sakit mendengar kabar kepergiannya. Ada rasa kehilangan yang seketika hadir dalam hatinya, membuat si empunya meneteskan air mata tanpa sadar.
Beberapa jam berlalu, kini mereka tiba di mansion utama pada pagi hari. Sebuah rumah yang menjadi tempat tinggal Zean dan sang ayah selama ini. Melihat ukurannya yang sangat besar, bisa diperkirakan ukurannya empat kali lipat lebih besar dari rumah Gunawan dan Mega. Bahkan, kolam yang ada di depan mansion itu saja sedikit lebih luas dari luas tanah rumah mereka.
Kedatangan Zean rupanya disambut dengan antusias oleh para pelayan dirumah itu. Dengan sigap, mereka segera berkumpul di samping mobil sambil menunduk.
"Ken, mereka ini kenapa, sih?" tanya Zean dengan wajah datarnya. Ia sedikit risih diperlakukan bak raja. Sangat berlebihan menurutnya.
"Memang begitulah seharusnya mereka menyambut kedatangan Anda, Tuan muda." Ken langsung keluar dan membukakan pintu kepada Zean.
Untung saja, sebelum mereka sampai di mansion, Ken lebih dulu membawa Zean ke salon langganan keluarga Abdillah untuk mengubah gaya dan penampilan pria itu. Tampaklah kini penampilannya tampan dan berkarisma seperti biasa, sebelum ia hilang.
"Selamat datang kembali, Tuan muda," ucap ketua pelayan memberi hormat. Hal itu membuat Zean ikut menunduk di hadapan mereka karena bingung harus bersikap bagaimana. Namun, karena para pelayan itu takut jika Zean menunduk lebih rendah, mereka semakin merendahkan tunduk mereka.
Zean berdiri tegak menatap aneh ke arah para pelayannya karena tak kunjung kembali mengangkat wajah. Baru saja ia hendak memegang salah satu pundak pelayan itu, Ken langsung mencegahnya.
"Maaf, Tuan muda. Sebaiknya Anda langsung masuk ke dalam. Keluarga besar sudah menunggu Anda." Ken mengarahkan Zean berjalan memasuki mansion tersebut.
Mulai terlihat beberapa orang dengan pakaian serba putih sedang berkumpul di ruang tamu. Zean berjalan mengikuti Ken, hampir semua yang ada di sana tampak asing, kecuali seorang wanita cantik yang sedang berdiri sambil berbicara dengan seseorang.
"Rafael, syukurlah, akhirnya kamu kembali juga, Nak. Kami sangat mengkhawatirkanmu," ucap seorang wanita tua dengan rambut yang sudah memutih, tetapi masih terlihat cantik dan anggun dengan gaya yang cukup berkelas menyambut kedatangan Zean.
"Beliau adalah Nyonya Amanda, ibu tiri ayah Anda, alias istri muda almarhum kakek Anda, Tuan," bisik Ken menjelaskan.
"Rafael, aku tidak menyangka, kau selamat dalam kecelakaan itu. Bagaimana kabarmu?" tanya seorang pria yang tampak sedikit lebih tua dari Zean.
"Namanya Dokter Alvin, adik tiri ayah Anda, anak dari Nyonya Amanda, Anda biasa memanggilnya 'paman'," kata Ken berbisik.
"Alhamdulillah, baik, Paman," jawab Zean.
"Rafael," seorang wanita yang sejak awal tampak tidak asing di matanya kini ikut menghampiri Zean dan langsung memeluknya sambil menangis. Zean begitu terkejut hingga tubuhnya refleks bereaksi melepaskan pelukan wanita itu dengan cepat.
"Dia Viona, calon istri Anda, Tuan muda," bisik Ken lagi.
What? Calon istri?
"Kamu kemana saja? Kenapa kamu membatalkan pernikahan kita malam itu dan pergi? Kamu tahu, rasanya aku bisa mati karena memikirkan kamu," ucap wanita itu lalu kembali hendak memeluk Zean, tetapi dengan cepat pria itu mundur.
"Maaf, kita bukan mahram," ucap Zean.
"Apa? Tapi dulu kita sering melakukannya, bukankah dari sekian banyak orang, hanya aku yang kamu izinkan menyentuhmu?" tanya Viona dengan mata berkaca-kaca.
Benarkah? Apa aku se-brengsek itu?
"Maaf, mungkin karena dulu aku tidak tahu jika itu harusnya tidak boleh dilakukan," jawab Zean cepat sebagaimana yang terlintas dipikirannya saat itu juga. "Oh, iya, di mana ayah?" lanjutnya bertanya.
"Itu dia." Alvin menunjuk sebuah jenazah yang terbujur kaku dan tertutup kain putih. Posisinya saat ini berada di tengah-tengah para pelayat yang sedang membaca Al-Qur'an.
"Kami baru saja memandikannya, setelah ini akan di sholati di masjid depan rumah, lalu langsung dimakamkan," jelas Alvin lagi.
"Terima kasih, Paman sudah mengurus ayah," ucap Zean pelan lalu segera menghampiri jenazah sang ayah.
Dibukalah kain putih yang menutupi wajahnya. Tampaklah wajah pucat yang sangat tidak asing dalam ingatan Zean. Tiba-tiba kepalanya terasa sakit, tetapi ia abaikan. Bayangan masa kecilnya bersama sang ayah seketika mendominasi, membuat pria itu langsung menumpahkan tangisannya sambil memeluk tubuh yang sudah kaku itu.
"Maafkan anakmu yang baru muncul ini, Ayah. Maaf, aku belum bisa membuatmu bahagia, maafkan aku yang tidak ada saat Ayah sakit, maaf, maaf, maaf." Zean menangis sejadi-jadinya, hingga Ken datang dan menyadarkan pria itu.
"Tuan muda, tolong ikhlaskan Tuan Abdillah, beliau sudah tenang. Tolong jangan menangis seperti ini, air mata Anda bisa mengenainya," ucap Ken memperingatkan membuat Zean langsung bangkit dan duduk tegap seraya menghapus air matanya.
"Maaf, Ayah."
Usai ikut menyolati, Zean mengantar sang ayah untuk kembali ke tempat peristirahatan terakhirnya. Mata pria itu tampak sembab dan bengkak, untungnya ada kacamata hitam yang berhasil menutupi semuanya.
Ketika semua orang sudah kembali pulang, Zean memilih diam di samping pusara ayahnya sambil membacakan doa. Bahkan Ken telah diminta untuk pulang agar ia bisa menghabiskan waktunya sendiri.
Sementara itu, di dalam sebuah mobil, seorang pria dan seorang wanita tampak sedang memerhatikan Zean dari kejauhan dengan dahi yang berkerut.
"Sayang, katamu Rafael mengalami amnesia, tapi kenapa dia begitu sedih dengan kepergian ayahnya? Bukankah ayahnya saja tidak ia kenali?"
"Itu yang dikatakan Ken, aku juga sudah memeriksa riwayatnya di rumah sakit tempat dia memeriksakan diri. Memang ada sedikit kerusakan di otaknya," jawab pria itu. Namun, wanita yang duduk di sampingnya tetap saja terlihat gelisah dan khawatir.
Pria itu melirik ke arah sang kekasih, lalu menggenggam erat tangannya. "Sayang, tenanglah. Reaksi yang kamu lihat dari Rafael itu adalah reaksi dari alam bawah sadarnya. Kamu tahu sendiri, kakakku dan anaknya itu sangat dekat, jadi ikatan batin mereka tentu sangat kuat," kata pria itu mencoba menenangkan.
"Kamu yakin?" tanya wanita itu, dan mendapat anggukan dari sang kekasih.
"Sudahlah, dari pada pusing memikirkan Rafael, mending kita mempersiapkan diri karena besok aku akan dilantik sebagai direktur utama rumah sakit yang baru, dan setelah itu, kita akan semakin berkuasa."
-Bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Mustarika
jadi penasaran siapkah wanita dan lelaki tu, semangat thor☺
2023-10-16
1
Neneng cinta
beneran meninggal ya ayahmu Zean...😭😥,,,smg terbuka kelicikan orang yang ingin menghancurkanmu....ada petunjuk......
2023-10-15
3
Ria Dardiri
lanjut ka
2023-10-15
1