Rumah Sakit Platinum Medisentra kini di hebohkan dengan kembalinya Dokter Rafael yang telah hilang kabar selama beberapa bulan terakhir, bahkan ada yang mengatakan jika ia telah meninggal. Tak jarang, banyak dari mereka yang bekerja di rumah sakit itu sengaja ikut mengintip ketika mengetahui kedatangan dokter idola mereka.
Zean berjalan dengan begitu gagah memasuki rumah sakit terbaik itu di temani Ken yang berjalan di sampingnya. Semua petugas di rumah sakit yang mengenalnya akan menunduk hormat. Tak ada yang mengetahui jika dokter yang mereka idolakan itu adalah pria amnesia di mata keluarga besarnya.
Tujuan awal Zean kali ini bukanlah ruang kerjanya, melainkan kamar VVIP yang pernah menjadi tempat sang ayah di rawat.
"Jadi ini kamar rawat ayah," lirih Zean berjalan dan menelisik tiap sudut ruangan. "Siapa yang sering mengunjunginya selama ini selain kamu, Ken?" lanjutnya bertanya.
"Selama ini selain saya, hanya Dokter Alvin dan Dokter Raihan, selaku dokter yang bertanggung jawab pada Tuan Abdillah, serta beberapa dokter lain yang ingin melihat keadaan Tuan waktu itu," jawab Ken.
Zean mengerutkan dahi mendengar jawaban pria yang kini menjadi asisten pribadinya. "Aneh sekali, bukannya ayah masih memiliki ibu tiri, dan keluarga dari ibu tirinya? Apa mereka tidak pernah datang?" tanyannya karena merasa ada yang tidak beres.
"Mereka pernah datang, tapi hanya sekali ketika Tuan Abdillah baru masuk rumah sakit," kata Ken menjelaskan.
Zean terdiam sambil menatap langit-langit kamar. "Lalu bagaimana dengan Viona? Bukankah sebagai calon istri, dia harus peduli pada calon ayah mertuanya?"
"Maaf, Tuan muda. Setahu saya, nona Viona tidak pernah berkunjung ke sini," jawab Ken lagi.
Zean mengangguk paham akan sesuatu sambil tersenyum kecut, dan tanpa sengaja melihat benda aneh di dekat gorden. "Apa itu, Ken? Apa itu kamera tersembunyi?"
"Apa Anda bisa melihatnya, Tuan muda?" bukannya menjawab, Ken malah balik bertanya.
"Apa maksudmu? Mataku masih bagus, tentu saja aku bisa melihatnya. Apa itu milikmu?" selidik Zean.
Ken tak langsung menjawab, ia segera mengambil kursi dan membawanya ke dekat jendela. Kursi itu ia gunakan sebagai tumpuan agar ia bisa menjangkau kamera tersembunyi tersebut yang letaknya agak tinggi.
"Beberapa hari setelah Tuan Abdillah masuk ke kamar ini, beliau meminta saya untuk menyimpan kamera tersembunyi di sana. Alasan utamanya saya tidak tahu, tapi sepertinya Tuan mencurigai sesuatu," kata Ken.
"Mencurigai sesuatu?" Alis Zean kini hampir bertautan karena semakin bingung.
"Iya, Tuan muda. Saya serahkan kamera dan memori ini kepada Anda, mungkin Anda akan tahu jawabannya setelah melihat apa yang terekam oleh kamera ini." Ken menyerahkan kamera tersembunyi tersebut kepada Zean.
"Terima kasih, Ken. Oh iya, sekarang bawa aku ke ruang dokter Raihan."
"Maaf, Tuan. Apa Tuan muda tidak diberi tahu bahwa hari ini akan dilakukan pelantikan direktur rumah sakit yang baru?" tanya Ken.
Zean hanya menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mendengar apa pun. Lalu siapa yang akan mengganti ayahku?"
"Sebaiknya, Anda harus ke sana, Tuan muda. Izinkan saya mengantar Anda." Zean berjalan dengan langkah lebar mengikuti ke mana Ken mengantarnya.
Kini mereka telah tiba di depan sebuah ruangan dengan pintu besar. Dengan hormat, Ken membuka pintu dan mempersilahkan Zean masuk. Sontak saja, ruangan itu seketika ramai oleh protes para jajaran pengurus rumah sakit yang lain.
"Tunggu, dulu! Itu, 'kan dokter Rafael? Bukankah dia yang lebih berhak menempati posisi direktur utama rumah sakit ini?"
"Benar, Dokter Rafael yang lebih berhak. Almarhum Dokter Abdillah juga menginginkan itu."
Hampir semua jajaran pengurus itu melontarkan pertanyaan yang sama. Hal itu sukses membuat Alvin yang sudah berdiri di atas podium mulai kebakaran janggut.
"Maaf semuanya, saya sengaja tidak mengundang Dokter Rafael ke sini karena dia sedang sakit. Lebih tepatnya ingatan Dokter Rafael sedang sakit. Dia mengalamj amnesia akibat kecelakaannya beberapa bulan yang lalu," ujar Alvin dengan tenang.
Zean hanya berdiri menatap Alvin. Ia tak ingin menyangkal apa yang dikatakan sang paman, tapi entah kenapa ia merasa tidak suka dengan sikapnya.
"Bukannya amnesia itu bisa sembuh, Dokter Alvin?" tanya salah satu pengurus yang kebetulan bukan seorang dokter.
"Memang, tapi Anda jangan lupa, kita tidak bisa menebak kapan sembuhnya amnesia itu. Bisa seminggu, sebulan, setahun, bahkan bisa saja permanen. Apa Anda ingin rumah sakit ini dipimpin oleh orang yang lupa ingatan? Saya jamin, wajah ayahnya saja mungkin tidak akan dia ingat jika saja dia tidak sempat melihatnya kemarin untuk yang terakhir kalinya. Dia bahkan tidak bisa dijadikan dokter bedah jantung untuk sementara hingga ingatannya pulih."
Semua orang yang ada dalam rumah sakit itu seketika terdiam. Begitu pun dengan Zean yang masih memilih tak berkomentar meski ia benar-benar benci mendengar perkataan Alvin.
Ditengah keheningan rapat, pintu ruangan tiba-tiba dibuka oleh seorang dokter koas.
"Hei, kau siapa? Berani-beraninya kau masuk begitu saja ke ruang rapat ini?" tanya Alvin dengan suara yang menggelegar karena marah.
"Ma-maaf, Dokter Alvin, saya ke sini ingin menyampaikan pesan dari Dokter Veni bahwa pasien dengan gangguan katup jantung bernama Pak Hendro yang saat ini berada di Unit Perawat Intensif kondisinya semakin memburuk."
"Lalu kenapa kau ke sini? Bukankah kau bisa langsung menghubungi dokter Raihan, ahli bedah jantung atau kardiolog lainnya?" tanya Alvin dengan suara yang masih meninggi.
"Dokter Raihan yang seharusnya mengoperasi hari ini mengalami kecelakaan, beberapa jam lalu beliau menelepon untuk mengabarkan jika beliau tidak bisa datang. Dokter lainnya sedang mengikuti seminar di luar kota," jawab dokter koas tersebut.
"Astaga, la--."
"Bagaimana keadaan pasien itu?" tanya Zean cepat memotong perkataan Alvin.
"Kondisinya semakin memburuk, Dok. Hasil tes terbaru menunjukkan adanya kerusakan yang parah pada katup jantung hingga terdeteksi enzim masuk ke dalam darah. Pasien juga mengalami gejala yang semakin memburuk, termasuk nyeri dada yang bertambah kuat dan sulit bernapas."
"Saya akan ke sana." Zean langsung berlari cepat ke arah dokter koas itu.
"Hei, Rafael! Apa yang kau lakukan? Kau tidak ingat apa-apa? Jangan macam-macam kau! Kau bisa menyebabkan celaka di dalam ruang operasi!"
"Lalu, Paman mau bagaimana? Mau diam saja tanpa usaha sedikit pun hingga pasien itu meninggal?"
"Tapi kau tidak ingat apa-apa, kau belum boleh kembali bekerja sebagai dokter bedah jantung selama amnesiamu belum sembuh."
"Aku akan buktikan, Paman. Terlepas dari keadaanku saat ini, aku masih layak menjadi dokter bedah jantung."
"Tidak, Rafael, tunggu!" teriak Alvin ketika melihat Zean langsung pergi bersama dokter koas tersebut.
Zean langsung mengikuti kemana dokter koas itu membawanya, hingga mereka tiba di tempat pasien bernama Hendro. Di sana masih ada Dokter Veni selaku kardiolog penanggung jawabnya.
Mereka berdiskusi sejenak mengenai keadaan pasien. Berhubung hari itu adalah jadwal operasi pasien, dan keadaan pasien juga semakin memburuk, maka Zean memutuskan untuk langsung mengambil alih tindakan operasi tersebut.
"Tolong siapkan ruang operasi dan tim bedah. Sepuluh menit lagi operasi akan dilakukan."
Rafael berjalan cepat menuju ruang operasi. Namun, langkahnya dicegat oleh Alvin dengan tatapan penuh amarah.
"Hentikan kesombonganmu ini, Rafael!" kata Alvin penuh penekanan.
"Aku tidak sedang menyombongkan diri, Paman. Aku hanya ingin memberikan usahaku yang terbaik untuk menolong pasien."
"Tapi dia bisa mat! jika kau melalukan kesalahan di dalam sana!"
"Dari pada membiarkan pasien meninggal tanpa usaha apa pun. Keluarganya juga sudah setuju, Paman."
"Itu karena mereka tidak tahu kalau dokter yang akan melakukan operasi adalah orang amnesia! tegas Alvin. " Jangan keras kepala kau, Rafael. Kau bisa saja merusak reputasi rumah sakit ini jika gagal," lanjutnya dengan suara penuh penekanan.
"Insya Allah, tidak akan, Paman." Zean segera berjalan melewati Alvin, tapi langkahnya tiba-tiba terhenti dan berbalik. "Oh iya, jika operasiku berhasil, tolong izinkan aku bekerja kembali sebagai dokter di rumah sakit ini. Ingatanku mungkin terganggu, tapi aku yakin, apa yang sudah menjadi kebiasaanku, pasti bisa aku lakukan."
Zean kembali melanjutkan langkahnya sambil tersenyum miring.
Asal paman tahu, ingatanku sudah kembali sejak pertama kali melihat ayah. Namun, aku memilih berpura-pura lupa karena ada kebenaran yang ingin aku selidiki.
...
Di dalam ruang operasi, tim yang dipimpin oleh Zean telah siap. Pasien pun telah dibius total oleh dokter anestesi. Pasien juga telah dipakaikan alat bantu pernapasan dan ekokardiografi transesofageal (TEE) melalui kerongkongan untuk memantau kondisi katup jantung selama operasi berlangsung.
"Hendro Wijaya, umur 60 tahun, mengalami kerusakan katup jantung. Mengingat kondisi katupnya yang rusak, maka kita akan menggantinya dengan katup baru."
Sebelum memulai Zean mengajak timnya untuk berdoa bersama, kemudian mulai melakukan operasinya yang pertama setelah kembali ke rumah sakit.
"Scalpel." Zean meminta pisau bedah dan menggunakannya untuk membuat sayatan mulai dari bawah leher hingga ke dada.
"Bovie," ucapnya meminta sebuah alat elektrik untuk membantu memotong jaringan dan menghentikan pendarahan.
Proses pembuatan sayatan di sepanjang dada terus berlangsung dengan hati-hati, hingga tiba di tulang dada. Zean menggunakan sebuah alat yang bernama Sternum Saw untuk membuat sayatan pada tulang dada. Dilanjutkan dengan menggunakan refraktor untuk menjaga sayatan itu tetap terbuka guna memberikan akses dalam melakukan operasi jantung.
Sebelum memulai tindakan inti, Zean menggunakan mesin jantung punclut (Heart Lung Mechine) untuk mengambil alih fungsi jantung, mengalirkan darah dan menjaga jantung tetap berhenti selama prosedur berlangsung. Dengan begitu, ia akan lebih mudah bekerja tanpa gangguan denyut jantung.
Zean mulai membuat sayatan di pembuluh darah arteri besar (aorta) untuk akses masuk ke katup jantung.
"Suction." Ia mengintruksikan pada asistennya untuk mengarahkan alat penghisap pada genangan darah yang keluar ketika sayatan arteri dilakukan.
"Clamp," ucap Zean meminta asisten bedahnya untuk menjepit bagian lain aorta dengan mosquito atau gunting lurus khusus untuk menjepit agar darah tak terus keluar selama proses pergantian katup berlangsung.
Selanjutnya, Zean mengangkat katup jantung yang mengalami kerusakan dan menggantinya dengan katup yang baru. Setelah katup baru terpasang dengan baik, ia mulai menutup sayatan di aorta tersebut dengan menjahitnya hati-hati.
Usai memastikan prosedur inti selesai dengan baik, Zean mengaktifkan kembali jantung pasien dengan alat kejut jantung.
"Tanda vitalnya bagaimana?" tanya Zean pada dokter anestesi yang memantau monitor ICU di ruang operasi.
"Semuanya baik, Dok."
"Alhamdulillah, sekarang tutup sayatannya."
Zean dibantu dokter asisten bedah kini mulai menutup tiap sayatan dengan cara dijahit menggunakan benang medis khusus yang kuat.
"Cut." Zean meminta sang asisten untuk memotong benang pada jahitan terakhirnya dipermukaan kulit.
"Tolong selesaikan sisanya." Zean meminta kepada asisten bedahnya untuk melakukan langkah terakhir yaitu pemakaian antiseptik dan perban khusus untuk mencegah infeksi. Tak lupa pasien dipakaikan alat pacu jantung untuk memantau kondisi jantungnya pasca operasi.
Sementara itu Zean kini keluar dari ruang operasi sambil membuka baju, masker, beserta handscoon yang tadi ia gunakan . Rupanya Alvin masih menunggunya di luar dan pria itu langsung menahannya.
"Bagaimana operasinya?" tanya Alvin.
"Alhamdulillah, mulai hari ini, aku akan kembali bekerja sebagai dokter bedah jantung di rumah sakit ini," jawab Zean. "Permisi, Paman, aku mau istirahat dulu." Pria itu kemudian pergi meninggalkan Alvin yang tampak termangu di tempatnya.
"Terserah kau saja, yang penting jabatan direktur tetap menjadi milikku," ujar Alvin tersenyum sinis.
...
Zean masuk ke dalam ruangannya dan duduk sambil meregangkan tubuh. Ia kemudian mengambil ponsel yang sejak dari kantor polisi tak pernah ia aktifkan. Dahinya berkerut sorot matanya berubah sendu tatkala mendapati panggilan tak terjawab dan pesan dari Syifa yang begitu banyak.
-Bersambung-
Episode kali ini berisi adegan operasi, jika ada kesalahan atau kekeliruan, mohon diluruskan tanpa menjatuhkan.
Othor sudah berusaha riset sampai gumoh, loh 😅. Namun, namanya manusia tak luput dari kesalahan. Othor bukan dokter, tidak pernah melakukan operasi (sudah pasti 🤭), jadi jika ada kekeliruan mohon diluruskan dengan cara yang baik. Saling menghargai itu lebih baik.
Oh iya, maaf karena belum sempat update MENGGAPAI REMBULAN. Qadarullah sejak dua hari lalu Othor dan anak jatuh sakit, jadi nggak bisa nulis lama. Mohon doanya untuk kesembuhan kami, yah kakak-kakak yang baik. Terima kasih 🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Sri Puryani
semoga cpt sembuh kakak dan putranya
2024-07-09
1
💞Amie🍂🍃
Kerennn
2023-12-18
1
Rahayu Irmayanti
keren
2023-12-16
1