...Maaf, hanya itu yang bisa kukatakan saat ini. Bukan maksud ingin menyakitimu, atau lari dari hinaan. Aku juga merindukanmu, sangat merindukanmu. Sungguh, aku ingin sekali bertemu denganmu dan menggenggam tanganmu di hadapan kedua orang tuamu, tapi dalam versi terbaikku....
...(Zean)...
____________________________________________
Zean menghela napas lesu, lalu segera menonaktifkan kembali ponsel yang Syifa belikan untuknya. Pria itu memejamkan matanya sejenak untuk menguatkan hati, kemudian mulai menyalakan komputer yang ada di depannya dan memasukkan kartu memori dari kamera tersembunyi milik sang ayah.
Beberapa saat Zean menatap layar komputer dengan seksama. Dahinya berkerut hingga alisnya hampir saling bertautan. Ia mengeratkan giginya, lalu berkata lirih, "Sepertinya aku tahu harus memulai dari mana penyelidikanku ini."
Tok tok tok
Suara ketukan pintu dari luar membuat Zean dengan cepat mencabut kartu memori tersebut dan menyimpannya ke dalam saku baju.
"Masuk!" ucapnya setelah memastikan semuanya aman.
Seorang wanita berambut pirang memasuki ruangan itu dengan percaya diri lalu menghampiri Zean.
"Apa kamu sudah makan, Sayang?" tanya Viona dengan nada manja.
"Sayang?" ulang Zean dengan wajah risih. Ia benar-benar tidak suka mendengar panggilan yang keluar dari mulut wanita itu.
"Iya, itu panggilan sayang antara kamu dan aku, apa kamu lupa?" jawab wanita itu penuh keyakinan
Zean menghela kapas kasar sambil membuang pandangannya ke arah lain sambil tersenyum kecut. Pria itu benar-benar tidak habis pikir Viona akan menggunakan keadaan amnesianya untuk membuat hubungan mereka semakin dekat.
Padahal seingatnya, selama ini, tak pernah sekali pun ia bersentuhan dengan wanita selain ibu kandungnya dan Syifa tentu saja. Ia benar-benar benci dengan sentuhan, kecuali sentuhan tersebut memang sudah terbiasa ia rasakan sejak kecil.
Meskipun dulu Zean memang sangat mencintai Viona karena mereka telah dijodohkan sejak kecil, tapi bukan berarti ia akan bersikap brengsek dengan memanggil sayang apalagi sampai menyentuh ketika belum ada ikatan yang sah. Yang jelas, kini rasa cinta itu telah berubah menjadi benci karena sesuatu yang hanya diketahui olehnya.
"Iya aku lupa banyak hal, maaf," balas Zean kemudian berusaha bersikap biasa layaknya pria amnesia yang bod0h dan tidak tahu apa-apa.
"Tidak apa-apa, Sayang. Kalau begitu, aku ingin mengajakmu makan siang bersama. Sekalian ada yang ingin aku bicarakan padamu. Ini mengenai pernikahan kita yang kamu batalkan secara sepihak waktu itu." Viona segera menarik tangan Zean, tetapi langsung ditepis oleh pria itu.
"Maaf, tapi aku belum lapar, kamu pergilah lebih dulu, kita bisa bicara nanti. Aku sangat sibuk sekarang," tolak Zean dengan raut wajah datarnya.
"Ck, baiklah kalau begitu." Viona terlihat mendengus kesal dan tak bersemangat, tetapi ia tak memiliki pilihan selain keluar dari ruangan Zean.
Pria itu menatap sinis ke arah punggung Viona yang kini hilang di balik pintu dengan salah satu ujung bibir yang terangkat. "Aku akan mencari bukti agar terlepas darimu setelah semua misiku selesai."
🦋🦋🦋
Tak terasa, dua bulan sudah Zean hilang kabar. Pria itu tak bisa dihubungi, pesan yang pernah dikirimkan pertama kali pun hanya dibaca saja. Hal itu benar-benar membuat Syifa kehilangan semangat untuk melalukan apa pun.
Sebuah notifikasi pesan yang masuk ke dalam ponselnya membuat wanita itu segera memeriksanya. Wajah wanita itu seketika terlihat bingung. "Ini transferan uang dari siapa sebenarnya?" monolognya lirih ketika melihat ada transferan uang lagi sejumlah delapan digit yang masuk pagi ini di rekeningnya, sebagaimana bulan lalu, pada tanggal dan jam yang sama.
Saat ini, Syifa dan keluarganya sedang sarapan bersama sebelum berangkat ke rumah sakit. Suasananya sangat hening dan tak ada pembicaraan apa pun di sana. Sang ayah yang menyadari akan sikap putrinya lebih banyak diam dan tampak sedang memikirkan sesuatu akhirnya buka suara.
"Syifa, bagaimana? Apa sudah ada kabar dari suamimu?"
Syifa menggelengkan kepalanya lesu. "Tidak, Ayah."
"Ck, kenapa masih dicari, sih? Ajukan saja perceraian. Pria seperti Zean itu memang tak memiliki tanggung jawab. Lepas dari penjara, bukannya menemui kamu, eh malah hilang seperti ditelan bumi," ujar Mega memanas-manasi.
"Tunggu dulu, bicara tentang pria itu, kemarin ketika ke pusat kota untuk seminar, aku tidak sengaja menemukan selebaran yang berisi pencarian orang hilang. Dan kalian tahu foto siapa yang ada di sana?" ujar Maisya seraya mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Siapa, Sayang? Zean?" tebak Mega.
"Yupp, benar, Ma. Zean. Lihat ini!" Maisya mengeluarkan selebaran itu dan meletakkannya di tengah meja makan. Syifa langsung mengambilnya dan memperhatikan foto pria itu lekat-lekat.
"Benar, 'kan? Mataku masih bagus, aku tidak mungkin salah orang," ujar Maisya memperhatikan reaksi Syifa.
"Benar, ini Mas Zean," ucap Syifa dengan suara bergetar, matanya mulai tertutupi kabut kesedihan memandangi wajah pria yang sangat ia rindukan.
"Nah, 'kan, Mama bilang juga apa? Zean itu bukan pria baik-baik. Dia pasti sudah jadi buronan polisi."
"Syifa tidak yakin ini pencarian dari polisi. Hadiah yang dijanjikan pun cukup fantastis, sampai 100 juta. Dilihat dari tanggal pencariannya juga sudah lama, bahkan sebelum Mas Zean pergi dari sini." Syifa segera mengambil ponselnya ketika melihat sebuah nomor telepon tertera di sana.
"Ya, itu karena Zean memang dari dulu adalah penjahat berbahaya. Sudahlah, kamu tidak perlu menghubungi pencuri itu ...."
"Ma, Mas Zean bukan pencuri! Mas Zean hanya korban fitnah dari Mama," sanggah Syifa yang tadinya hendak menghubungi nomor di kertas itu. Namun, urung karena tidak suka sang suami selalu dikatakan pencuri oleh ibu tirinya.
"Apa? fitnah dari mama? Jangan sembarangan tuduh kamu!" Mega menatap Syifa dengan mata melototnya menahan amarah.
"Maaf, Ma. Selama ini aku diam. Bukan karena tidak tahu. Aku sudah menyelidiki semuanya dan aku tahu bahwa Mama yang memasukkan kalung itu ke dalam tas Mas Zean ketika dia lengah," kata Syifa membungkam mulut Mega.
"Benar begitu, Ma?" Kini giliran Gunawan yang bertanya.
"Ti-tidak, mana mungkin Mama melakukan hal seperti itu. Kamu jangan asal tuduh, yah, Syifa" ujar Mega sambil menatap tajam ke arah Syifa.
"Ya, cukup tahu saja, Mas Zean tidak bersalah, dia pria baik-baik. Maaf, Syifa ke kamar dulu." Syifa segera beranjak dari ruang makan yang kini terasa sedikit tegang karena apa yang baru saja ia katakan.
Sejujurnya, Syifa tak ingin membuat Mega tersudut karena masih menghormatinya sebagai ibu. Namun, ia mulai tak tahan karena nama Zean selalu saja diseret sebagai pencuri di rumah itu. Wanita itu bahkan sudah membuat klarifikasi tertulis tentang kesalahpahaman yang dimasukkan ke RW dan ditempel di papan pengumuman masjid tanpa membawa nama sang ibu sebagai pelaku.
Sebagai istri, Syifa berkewajiban menjaga nama baik suaminya, ibarat pakaian yang menutupi tiap kekurangan tubuh yang tidak seharusnya terlihat. Sebagai anak, ia pun ingin menjaga nama baik ibu dan keluarga besarnya.
Kini Syifa duduk di kamarnya, ia hendak kembali menghubungi nomor yang tertera pada selebaran tadi. Ia begitu penasaran dan ingin memastikan bahwa Zean sudah ditemukan atau belum. Namun, setelah beberapa kali mencoba, panggilan wanita itu selalu saja gagal.
"Ck, kenapa nomornya tidak bisa dihubungi? Apa mungkin Mas Zean telah ditemukan?" Syifa tampak berpikir keras sambil mondar-mandir di kamarnya, hingga suara keributan dari ruang tamu mengalihkan atensi wanita itu.
Syifa segera keluar dari kamar untuk melihat apa yang terjadi. Mata wanita cantik itu terbelalak ketika melihat dua pria bertubuh besar sedang berdiri di ruang tamu dan hendak memukul sang ibu, sementara ayahnya tersungkur di lantai.
"Hentikan! Ada apa ini?" tanya Syifa seraya menghampiri sang ayah dan membantunya berdiri karena baru saja dipukul hingga terjatuh.
"Tanyakan saja pada ibumu, dia telah meminjam uang ke bos kami, dan rumah ini sebagai jaminannya," jawab pria bertubuh besar itu.
"Benarkah begitu, Ma?" tanya Syifa tak percaya pada wanita paruh baya yang kini tengah menangis ketakutan.
"Maafkan mama. Mama telah ditipu sahabat mama. Niat mama ingin membantu sahabat untuk membangun usaha dengan investasi, tapi ternyata semua uang Mama malah dibawa pergi," jawab Mega sambil menangis sesenggukan.
"Kenapa Mama tidak pernah bilang ke ayah?" tanya Gunawan.
"Maaf, Yah." Hanya kata itu yang bisa dikatakan Mega, wajahnya begitu murung dan penuh akan penyesalan.
"Memangnya berapa utang mama hingga kalian begitu kasar kepada kami?" tanya Syifa dengan berani.
Salah satu pria itu tersenyum, lalu mendekati Syifa dan membuka sebuah buku catatan utang sang ibu yang bernilai sangat besar.
"Tiga tahun lalu, ibumu berutang 800 juta kepada kami, jaminannya sertifikat rumah ini," kata pria itu.
"Tapi kenapa total yang harus dibayar sampai sebanyak itu? Kalian jangan memeras kami seperti ini, kami bisa melaporkan kalian ke polisi, loh!" ujar Syifa tegas.
"Hey, Nona! Itu kesepakatan yang sudah disetujui ibumu. Utang 800 juta ditambah bunga 10% tiap bulan, ya hasilnya memang sampai lebih 3M."
"Apa? 3M?" Gunawan yang mendengarnya seketika merasa tubuhnya kaku, dan dadanya terasa sakit.
"Ayah!" teriak Syifa begitu terkejut ketika menyadari sang ayah yang berada di sampingnya ambruk tidak sadarkan diri.
.
-Bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Nurmalina Gn
ayahnya Syifa cinta buta apa cinta ooooon ya...masa gak pernah tau kelakuan buk mega
2024-01-09
1
💞Amie🍂🍃
Othornya yang jahat😪😪
2023-12-23
2
Uba Muhammad Al-varo
kisah hidupnya Shifa yang menyedihkan banget, punya ibu tiri yang membencinya juga membawa kesengsaraan terhadap ayahnya.😭🤧
2023-12-22
1