...Aku pernah terlalu bergantung dan berharap pada seseorang hingga Allah timpakan kepadaku ujian yang pada akhirnya memisahkan kami? Awalnya aku menyalahkanNya atas takdir yang begitu kejam. Namun, setelah kurenungi, kini aku sadar bahwa berharap pada manusia hanya akan mendatangkan kekecewaan dan luka di kemudian hari. Sebaik-baik tempat bergantung dan berharap hanyalah Allah Subhanahu wa Ta'ala....
...(Zean Rafael Abdillah)...
_____________________________________________
Malam itu di Rumah Sakit Platinum Medisentra, seorang pria berkacamata berjalan cepat memasuki kamar VVIP. Wajahnya tampak serius, tapi juga sangat antusias mengingat berita yang akan ia sampaikan kali ini adalah berita yang dapat membuat bosnya bahagia.
"Ada apa, Ken?" tanya Abdillah dengan suara lemah.
Keadaan pria paruh baya itu semakin lemah. Selang oksigen tak pernah lepas darinya, bahkan monitor jantung dan tekanan darah sudah ada di ruangannya untuk memantau keadaannya secara berkala.
"Saya memiliki berita bagus, Tuan. Tolong lihat ini!" Ken memperlihatkan sebuah video viral dari tabnya kepada Abdillah yang berbaring di kasur.
Alis Abdillah sedikit berkerut ketika melihatnya pertama kali, tapi lama-kelamaan sebuah senyuman bahagia muncul dari wajahnya yang pucat.
"Rafael," ucapnya dengan suara bergetar. "Di mana dia?"
"Saya sudah mencari tahu posisinya waktu itu, dan saya menemukan bahwa dia berada di sebuah kota kecil yang cukup jauh dari kota ini.
"Bawa dia kemari."
🦋🦋🦋
Zean berdiri dengan kaki yang bergetar tatkala para warga berdatangan di rumah itu karena teriakan Mega. Terlebih saat wanita paruh baya itu memaksa menggeledah tas kerjanya dan menemukan sebuah kalung berlian dari dalam sana.
Pria itu terdiam seribu bahasa, wajahnya pucat pasi, dan hatinya hancur bagai dihantam batu besar. Itu fitnah, sungguh. Jangankan memasukkan kalung tersebut ke dalam tasnya, bentuknya saja baru ia lihat saat ini untuk pertama kali.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu sekalian, tolong usir pria ini dari komplek kita dan penjarakan dia. Dia telah terbukti mencuri perhiasanku selaku mertuanya sendiri," ujar Mega.
"Tidak, Ma. Aku tidak pernah melakukan itu!" tegas Zean membantah.
"Alaah, mana ada maling mau ngaku, jelas-jelas bukti udah di depan mata, kok!" sanggah pria asing yang tiba-tiba datang dan menghasut para warga.
"Tidak! Itu tidak benar, suamiku orang baik, dia pekerja keras. Aku percaya dia, meski dia bekerja dengan gaji standar, tapi dia tidak pernah melakukan sesuatu yang dilarang!" ujar Syifa ikut membela sang suami, tapi langsung ditarik oleh Mega.
"Heh! Kamu itu jangan terlalu bucin sama dia! Kalau salah yah tetap salah, jangan memaksa bela dia, malu-maluin aja. Keluarga dokter, kok, mencuri!" kata Mega membentak Syifa.
"Sekarang, bawa pergi pencuri ini!" lanjutnya seraya menunjuk Zean dengan tatapan remeh dan jijik.
"Ma, saya tidak salah! Syifa!" teriak Zean ketika tubuhnya di seret paksa oleh para warga semakin menjauh.
"Mas Zean! Tolong jangan bawa suamiku pergi!" Syifa ikut berteriak. Ia bahkan ikut berlari mengejar sang suami, tetapi di cegah oleh warga lain.
Zean hanya bisa menatap sendu sang istri yang menangis dan memberontak di belakangnya karena di tahan oleh orang-orang. Ia pasrah, tak ada artinya dia mengelak atau memberontak saat ini, pada akhirnya dia tetap akan kalah.
Tunggu kedatanganku kembali, pada saat itu tiba, kalian akan menangis memohon maaf padaku. Hari ini aku terima kalian perlakukan aku bagai pecundang, tapi suatu saat kalian akan balik menghormatiku.
🦋🦋🦋
Zean duduk bersandar di lantai dengan tatapan kosong menatap jeruji besi di hadapannya. Hatinya benar-benar sakit difitnah dan dipisahkan dengan wanita yang sangat ia cintai.
Zean tak berdaya, ia hanya pria miskin yang tak memiliki banyak uang dan tak memiliki kuasa. Hanya satu orang yang selama ini selalu menguatkannya, ya, dia Syifa. Wanita yang tulus mencintai dan menerima apa adanya. Namun, sekarang wanita itu tak bisa ia temui saat ini.
Apa aku terlalu bergantung dan berharap pada Syifa hingga Allah memberiku ujian ini? Ujian yang pada akhirnya memisahkan kami?
Zean mulai menangis dalam diam. Ia adalah seorang pria, tapi ia benar-benar patah, tak memiliki siapa pun lagi saat ini. Berharap sang istri segera datang, tetapi sudah satu jam berlalu tak ada tanda-tanda wanita itu di kantor polisi tersebut.
"Dasar pecundang," desis Zean mengumpat dirinya sendiri yang tak bisa melakukan apa pun.
"Pak Zean!" panggil seorang polisi membuyarkan lamunan pria itu. "Ada yang ingin bertemu dengan Anda," sambung polisi itu seraya membuka kunci sel tempat Zean berada.
Zean segera menghapus air matanya, senyuman perlahan terbit di wajah tampan pria itu. Ia yakin, pasti orang tersebut adalah Syifa. Segera ia bangkit dan mengikuti ke mana polisi menuntunnya hinggackini ia tiba di depan sebuah ruangan tertutup.
Zean mencoba membuka sedikit pintu tersebut untuk memastikan dugannya. Namun, dahinya justru berkerut ketika melihat pria bertubuh tinggi dan memakai setelan jas hitam rapi sedang berdiri membelakanginya di dalam sana. Ia kembali menutup pintu lalu bertanya kepada sang polisi, "Maaf, Pak. Mungkin saya salah ruangan. Di dalam sana bukan istri saya."
"Memang bukan istri Bapak. Yang ingin menemui Bapak adalah pria dan bukan wanita," jawab polisi itu.
"Pria?" Zean semakin kebingungan. Pasalnya tak ada pria yang ia kenal, selain Hadi, Gunawan, ditambah Niko. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang memiliki postur tubuh tinggi dan berotot seperti yang ada di dalam ruangan itu.
"Silakan masuk, Pak!" seru polisi di sampingnya membuat Zean tak memiliki pilihan lain dan langsung masuk.
"Tuan muda, senang bisa bertemu kembali dengan Anda," ucap pria itu seraya membungkukkan tubuhnya ketika melihat Zean memasuki ruangan.
Zean tak mengerti dengan apa yang dikatakan prja di hadapannya. Ia berjalan menghampiri pria yang hampir memilik tinggi badan sama dengannya, lalu menepuk pundaknya pelan.
"Hey, apa yang lau lakukan?" tanya Zean bingung.
Bukannya menjawab pertanyaan Zean, pria itu malah menjauh dan kembali menunduk. "Maaf, Tuan Muda Rafael, apa yang Anda lakukan?" tanya balik pria itu gugup.
Bagaimana tidak, Rafael yang ia kenal memiliki karakter dingin dan arogan karena tak suka disentuh oleh sembarang orang. Namun, dibalik sikap itu, ia memiliki karakter otoritatif yaitu tegas, disegani, dan dihormati tanpa perlu menggunakan tindakan ancaman atau semacamnya.
Zean lagi-lagi mengerutkan dahinya tidak mengerti dengan perkataan pria itu. "Rafael? Sepertinya kau salah orang," ucapnya sambil menggelengkan kepalanya, lalu berjalan menuju pintu keluar.
Ck, kupikir istriku yang datang, ternyata orang salah alamat.
"Tunggu, Tuan muda. Saya tidak salah orang. Anda memang adalah Tuan Muda Zean Rafael Abdillah."
Zean menghentikan langkah kakinya ketika mendengar namanya disebut. Ia lantas berbalik menatap serius pria itu sambil melangkah mendekat.
"Siapa kau?"
-Bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Danny Muliawati
disini mulai terungkap jati diri zean tunggu yah syifa
2023-11-24
1
Mia Roses
Bersiaplah nyonya Mega, akan ada kejutan buatmu, jangan sampe kena serangan jantung ya 😁
2023-10-12
2
Evi
akhirnya kebenaran bentar lagi terungkap
semoga yg datang orang baik
2023-10-12
1