Satu menit ... dua menit ... tiga menit berlalu begitu saja tanpa ada perkataan apa pun yang keluar dari pria berjas dokter itu. Wajahnya masih pucat, tetapi jantungnya berdetak sangat kuat. Pikirannya pun masih berusaha mencerna bahwa Syifa, wanita yang ada di hadapannya saat ini bukanlah hasil halusinasi.
Mata pria itu mulai berkaca-kaca ketika menyadari Syifa yang berdiri tidak jauh dari posisinya saat ini tengah berderai air mata. Entah kenapa, Zean merasakan tubuhnya seketika terkunci, tak mampu bergerak kala wanita itu melangkah semakin mendekat dengan tangan yang terulur hendak menyentuh wajahnya.
Akan tetapi, belum juga berhasil menyentuh wajahnya, Zean yang mendengar suara Viona berbicara semakin mendekat dari lorongnya saat ini langsung menarik tangan sang istri berjalan lebih cepat menuju ruang kerjanya.
Lagi-lagi keduanya terdiam dengan pandangan yang saling mengunci satu sama lain. Sungguh, ingin sekali rasanya Zean memeluk tubuh wanita yang sangat ia rindukan itu, tetapi lagi-lagi tubuhnya tak berdaya tiap kali melihat air mata wanita itu mengalir.
Tangan Syifa kembali terulur semakin mendekat. Namun, tangan yang tadinya terbuka seketika mengepal. Sebuah pukulan dapat ia rasakan mengenai dada bidangnya. Tidak sakit sebenarnya, tetapi hatinya yang melihat sang istri menangis tersedu-sedu jauh lebih sakit.
Tak hanya sekali, dua kali, tetapi berkali-kali pukulan itu Syifa layangkan pada dadanya hingga membuat tangan wanita itu terasa bergetar.
"Kamu jahat, kamu ke mana saja selama ini? Kenapa tinggalin aku? Apa aku sudah tidak berharga bagimu?" cecar Syifa menghentikan pukulannya, lalu menatap wajah Zean. Sorot matanya teramat memilukan, tetapi menuntut penjelasan.
Air mata Zean tak mampu lagi terbendung. Ia tak menjawab pertanyaan Syifa melainkan langsung menariknya dalam pelukan yang begitu hangat dan erat. "Maaf, maafkan aku," ucapnya lirih lalu menghujani kepala dan wajah sang istri dengan kecupan.
"Aku masih istrimu, 'kan?" tanya Syifa dengan nada lirih membuat Zean mengangguk lalu kembali memeluknya.
"Iya, kamu masih istriku," jawab Zean.
"Lalu kenapa kamu meninggalkanku seperti itu? Tak ada kabar sama sekali, bahkan pesanku tak pernah kamu balas," tanya Syifa dengan suara bergetar.
Zean melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Syifa. Perlahan pria itu menghapus air mata yang membasahi pipi wanita itu. "Nanti akan aku jelaskan."
Zean mengunci ruangan itu lalu menarik tangan Syifa lembut dan mendudukkannya di atas sofa.
"Sekarang katakan, kenapa kamu ada di sini?" tanya Zean tanpa melepas tangan Syifa.
"Ayah terkena serangan jantung. Ada penyumbatan di pembuluh darahnya, makanya ayah dirujuk ke sini karena katanya rumah sakit ini adalah rumah sakit terbaik dalam menangani masalah jantung," jawab Syifa.
"Innalillahi wa innailaihi roji'un, maaf aku tidak tahu," ucap Zean pelan. Seketika ingatannya kembali pada pasien yang saat ini sedang menjalani tindakan angioplasti koroner.
"Apa ayah sedang menjalani angioplasti koroner?" tanya Zean ingin memastikan dan mendapat anggukan dari Syifa sebagai jawabannya.
"Dari mana kamu tahu?" Syifa mengerutkan dahinya, kemudian menyadari jas putih yang sedang di pakai Zean. Ia kemudian memandangi nama yang tertera di jas tersebut.
"Kamu dokter? Dokter Rafael Zean Abdillah spesialis bedah jantung?" tanya Syifa dengan mata membola membuat Zean mengangguk pelan.
"Apa ingatanmu sudah kembali?" tanya Syifa dan lagi-lagi direspon dengan anggukan.
Syifa menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut dengan dua jawaban Zean. Tampak sekali wanita itu ingin menanyakan berbagai hal, tetapi sorot matanya tampak ragu.
"Kamu beneran belum menikah, 'kan?" Dari semua pertanyaan yang ada di pikiran Syifa, pertanyaan itulah yang lebih dulu ia utarakan.
Tok tok tok
Baru saja Zean hendak menjawab, suara ketukan di balik pintu ruangannya membuat perhatian pria itu teralihkan.
"Rafael, apa kamu di dalam?"
Mendengar suara Viona dari luar, Zean dengan cepat berdiri lalu membawa Syifa bersembunyi di dalam kamar mandi. "Kamu di sini dulu, yah, jangan keluar, nanti akan aku jelaskan semuanya."
Usai mengatakan itu, Zean langsung keluar meninggalkan Syifa yang berdiri kebingungan dengan ribuan pertanyaan di kepalanya.
"Ada apa?" tanya Zean setelah membuka pintu ruangannya dan menjumpai Viona berdiri di sana.
"Sayang, aku dengar dari Vano, katanya kamu sakit?" Viona hendak memegang wajah Zean, tetapi dengan cepat pria itu mundur.
"Benar, wajahmu pucat sekali, apa kamu sudah makan siang?" tanya Viona dengan raut wajah khawatir. "Biar aku bawakan kamu makanan ke sini, yah," lanjutnya menawarkan.
"Tidak usah, aku akan pulang setelah ini," jawab Zean.
"Oh, kalau gitu aku antar kamu, yah?"
"Tidak perlu, akan pulang bersama Ken," tolak Zean lagi.
"Oh, baiklah kalau begitu. Ah, iya, ini vitamin untukmu." Viona memberikan sebuah botol dengan merk mulvitamin penjaga daya tahan tubuh kepada Zean.
Sejujurnya, Viona tak tahu harus mengatakan apa lagi. Semenjak kembalinya Zean, pria itu tampak sangat dingin dan selalu berusaha menjauh. Entah kenapa, tetapi wanita itu menganggapnya sebagai efek amnesia yang ia derita.
"Sebaiknya kamu keluar, aku akan bersiap pulang." Zean berjalan ke arah pintu lalu membukanya sebagai tanda agar Viona segera keluar. Mau tidak mau, wanita itu akhirnya keluar tanpa kata dengan wajah kecewa.
Setelah memastikan Viona menjauh dari ruangannya, Zean segera kembali ke kamar mandi. Tubuh pria itu seketika mematung ketika mendapati Syifa menatapnya dengan tatapan tajam bagai pedang yang siap menghunus.
"Jadi, kamu beneran sudah menikah?" selidik Syifa.
"Be-belum," jawab Zean sedikit terbata.
"Lalu dia siapa? Kekasih kamu? Indah sekali, yah, pake panggil 'sayang' segala." Syifa menghampiri Zean dan mendongak menatap wajahnya dengan mata memicing. "Di jawab, dong, Mas," lanjutnya menutut jawaban.
"Sebenarnya, dia calon istriku. Malam ketika aku mengalami kecelakaan adalah malam pernikahanku dengannya, tapi aku batalkan secara sepihak."
"Kenapa?"
"Karena ...." Zean memejamkan matanya sejenak seraya membuang napas kasar, lalu kembali menatap manik mata Syifa dan melanjutkan, "Karena dia mengkhianatiku bersama pamanku sendiri."
"Apa? Benarkah?" tanya Syifa begitu terkejut.
Zean mengeraskan rahangnya lalu membuang napas kasar lagi. "Malam itu, aku tak sengaja melihat mereka berc!uman dan saling melontarkan kata cinta di kamar Viona yang kebetulan tak tertutup sempurna waktu itu. Mereka juga mengatakan akan menghancurkan hidupku dan keluargaku."
Sorot mata Zean seketika berubah sendu. "Padahal, selama ini ayah dan aku telah begitu baik pada mereka ...." Pria itu tak lagi melanjutkan perkataannya ketika merasakan sebuah pelukan hangat dari Syifa disertai usapan lembut di punggungnya.
Zean terdiam, lalu ikut memeluk erat tubuh Syifa dan menghirup aroma tubuh yang sangat ia rindukan.
"Itu sebabnya, untuk saat ini berpura-puralah tak mengenalku di rumah sakit ini, aku khawatir mereka akan melukaimu jika mengetahui kebenarannya." Zean melepas pelukannya lalu menatap sang istri dan berkata kembali, "Kamu paham maksudku, 'kan?" Syifa mengangguk pelan tanpa perlawanan apa pun.
"Oh, iya, mengenai ayah, biar aku yang mengurusnya, hm?" ujar Zean dan Syifa hanya mengangguk pelan merespon perkataan Zean.
🦋🦋🦋
Sementara itu, di sebuah ruangan direktur, Viona berjalan memasukinya dengan membawa wajah suntuk. Wanita itu menghampiri Alvin yang duduk di kursi kebesarannya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Alvin yang langsung menarik Viona ke pangkuannya.
"Aku kesal banget sama Zean, dia semakin dingin padaku, dia bukan Zean yang dulu. Aku capek terus berpura-pura di depannya, Sayang," rengek Viona manja.
"Sabar, Sayang. Sampai dia menikahimu, tetaplah seperti ini."
"Tapi kapan dia akan menikahiku? Tatapannya padaku saja sudah berubah, tak ada lagi cinta di matanya untukku, Sayang."
"Itu karena dia amnesia, dia tidak mengingatmu. Makanya kamu harus berusaha membuatnya jatuh cinta kembali, dengan begitu, kamu akan segera dinikahi dan semua hartanya akan menjadi milikmu."
Viona terdiam sejenak.
"Oh, iya, apa kamu sudah memberikan obat itu padanya?" tanya Alvin kemudian.
"Iya, sudah, Sayang," jawab Viona.
"Bagus, untuk saat ini, kita harus pastikan dia amnesia selamanya."
.
.
-Bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Danny Muliawati
huh jahat nya yah alvin d viona serakah dg harta yg bkn milik nya hingga dg sgl cara di lakukan ... sabar zean d syifa Allah itu ga tidur
2023-11-25
2
Neneng cinta
ternyata gtu ya...viona sm pamanya zean...mg zean ga minum obatnya....seneng deh ketemu sm shifa...♥️♥️♥️
2023-10-25
3
Abiel Davisa
smngt thor...cpt smbuh biar bs trs up
2023-10-25
1