Zean berlari sambil menenteng kantong belanjaan yang tadi tertinggal di dalam minimarket. Ia berharap Syifa tidak marah karena sudah cukup lama ia meninggalkan sang istri di mobil.
"Maaf lama," ucap pria itu seraya memasuki mobil dan duduk di balik kemudi.
"Iya, lama, nih! Kenapa lama?" tanya wanita itu berpura-pura tidak tahu, padahal ia sudah melihat semuanya ketika hendak menyusul sang suami karena bosan.
"Tadi ada kecelakaan sedikit di sana," jawab Zean singkat, lalu mulai menjalankan kembali mobilnya.
Sepanjang perjalanan, suasana mobil terasa hening. Zean maupun Syifa sama-sama larut dalam pikiran masing-masing. Zean yang penasaran tentang siapa dirinya, dan Syifa yang penasaran tentang siapa suaminya.
Langit semakin gelap ketika mobil yang Zean kemudikan telah tiba di halaman rumah. Keduanya berjalan bersama memasuki rumah sambil menenteng barang belanjaan yang tadi mereka beli. Usai menyimpannya di dapur, keduanya kembali ke kamar untuk membersihkan diri.
Malam harinya, semua orang sudah berkumpul di halaman belakang rumah, kecuali Gunawan yang lagi-lagi harus ke rumah sakit karena keadaan darurat. Rupanya hal itu menjadi kesempatan emas bagi Mega dan Maisya untuk kembali menyudutkan Zean.
Mereka tak hanya menyuruh Zean bersama Syifa melakukan ini-itu seperti pelayan. Mereka bahkan dengan sengaja mengundang Niko untuk ikut bergabung karena tahu jika pria itu menyukai Syifa.
"Zean, sana geser! Niko mau duduk," seru Mega menyuruh Zean untuk berpindah tempat, padahal posisinya saat ini sedang duduk di samping sang istri.
"Maaf, Ma, tapi tempat di samping Mbak Maisya, 'kan masih kosong? Kenapa tidak duduk di sana saja?"
Tentu saja Zean keberatan. Bagaimana bisa ia memberikan peluang kepada pria lain untuk duduk di dekat istrinya sendiri? Tidak! Untuk hal ini ia akan memberanikan diri untuk menolak.
"Berani kamu, yah? Heh! Ingat! disini kamu hanya pria pengangguran, sementara Niko adalah dokter ...."
"Ma, tolong ...."
"Diam kamu, Syifa! Suamimu ini makin hari makin berani sama mama! Nggak nyadar kamu yah, Zean? kamu itu hanya numpang di sini! Makan gratis, pake listrik gratis, tidur gratis, malu, dong! Jadi suami tapi semua istri yang biayai!"
"Mama, hentikan!" seru Syifa berusaha menghentikan perkataan menusuk dari sang ibu.
"Bener, Ma. Nikah aja pake modal jam tangan bekasnya, benar-benar nggak bermodal jadi orang," timpal Maisya ikut memanaskan suasana.
"Mbak Mai, hentikan!" seru Syifa lagi, tapi sayang, perkataan wanita itu bagai angin lewat, tak ada yang peduli sama sekali.
Zean mengepalkan kedua tangannya sambil tertunduk mendengar tiap kata yang keluar dari mulut mertua dan kakak iparnya. Dada pria itu bergerak naik-turun dengan cepat dan wajahnya memerah menahan gejolak amarah yang siap meledak.
Jika saja ibu mertua maupun kakak iparnya itu memaki pada saat dirinya sedang sendiri, mungkin ia tidak akan semarah ini, dan ia akan terima. Namun, keberadaan Niko di tengah mereka membuat Zean merasa begitu terhina, tak memiliki harga diri sama sekali. Malu dan marah, itulah yang ia rasakan.
Tidak tahan dengan semua itu, Zean akhirnya berdiri dan menatap tajam ke arah Mega dan Maisya untuk pertama kalinya, lalu segera pergi meninggalkan semua orang. Panggilan dari Syifa pun tak ia pedulikan.
Zean masuk ke dalam kamar mandi dan berdiri di depan cermin. Menatap pantulan dirinya yang tampak menakutkan jika sedang marah.
"Siapa kau sebenarnya, hah? Siapa??"
"Apa salahmu dimasa lalu hingga kau diperlakukan bagai sampah seperti ini?"
"Jawab!"
Teriak Zean kepada dirinya sendiri dengan tangan yang memukuli kepalanya berkali-kali. Ia benar-benar frustrasi dengan keadaannya saat ini, lemah dan terhina. Mata pria itu mulai mengembun, hatinya sangat sakit mengingat tiap kata dari mereka yang bagaikan pedang bara api, panas dan menusuk sampai ke relung hati terdalam.
"Mas, hentikan! Jangan lakukan itu, kumohon." Syifa tiba-tiba ikut masuk ke kamar mandi, lalu memeluknya dari belakang dengan suara bergetar. Wanita itu sangat khawatir melihat Zean terus memukuli kepalanya, apalagi ketika Zean mer3mas rambutnya karena merasakan sakit pada kepalanya.
"Apa aku begitu buruk sampai mereka tak menyukaiku? Memperlakukanku seperti sampah yang tak punya hati? Jawab Syifa!" tanya Zean pada wanita dibelakangnya.
"Maaf, maaf, hiks." Hanya itu yang bisa Syifa katakan, wanita itu mulai terisak tanpa melepas pelukan, membuat Zean bisa merasakan bajunya yang basah karena air mata sang istri di bagian belakang.
Zean melepas pelukan sang istri, lalu berbalik menghadap ke arah Syifa. Kedua manik mata mereka saling bersirobok dalam kesenduan. "Sekarang jawab aku dengan jujur, bagaimana aku di matamu?"
Sambil sesenggukan dengan air mata yang masih membasahi pipi, Syifa berjinjit dan menangkup kedua pipi Zean. "Kamu pria yang istimewa .... Kamu pria baik .... Kamu tulus."
"Apa kamu meminta dinikahi olehku karena kasihan?" selidik Zean, membuat Syifa menggeleng dengan cepat.
"Tidak, Mas. Aku memintamu untuk menikahiku karena aku memang mencintaimu, sungguh. Kamu pria pertama yang telah membuka hatiku. Percaya padaku ...." Suara Syifa tercekat, tapi matanya masih setia menatap bola mata Zean seolah ingin memperlihatkan bahwa apa yang ia katakan memang jujur dari hati.
Air mata Zean yang sejak tadi ia tahan pun akhirnya luruh. Ia memegang kedua tangan mungil Syifa yang masih berada di pipinya.
"Terima kasih, aku juga mencintaimu," ucap Zean yang seketika membuat jantung Syifa berdetak kencang mendengar ungkapan cinta pertamanya semenjak menikah.
Zean kini mengecup pucuk kepala sang istri berkali-kali dengan begitu sayang, lalu memeluknya erat. Pelukan yang mengisyaratkan sebuah permintaan agar tetap bersamanya walau apa pun yang terjadi.
"Apa kamu ingin kembali ke acara barbeque itu?" tanya Zean tanpa melepas pelukannya.
Syifa menggelengkan kepalanya dalam pelukan, ia kemudian mendongak menatap Zean yang kini juga menatapnya. "Aku ingin menemanimu di sini," jawab wanita itu sambil tersenyum.
Zean pun tersenyum lebar, senyuman yang baru kali ini ia perlihatkan kepada sang istri. "Aku ingin beribadah, maukah kamu menemaniku? Bersama kita meraih SurgaNya malam ini?"
Wajah Syifa seketika merona merah. Ia mengangguk perlahan lalu segera menyembunyikan wajahnya di dada bidang Zean, tak berani lagi menatap mata indahnya yang membuat wanita itu semakin salah tingkah.
Malam itu, ketika di halaman belakang rumah dua wanita dan seorang pria sedang sibuk menghibah, Zean dan Syifa justru menikmati malam indah mereka dalam membangun mahligai cinta karena Allah.
🦋🦋🦋
Beberapa hari kemudian, Zean telah berhasil mendapatkan pekerjaan di sebuah toko sebagai kasir. Awalnya, ia begitu sulit mencari pekerjaan karena hanya bermodal surat lamaran kerja dan CV yang berisi data dirinya yang baru tanpa ijazah sama sekali.
Akan tetapi, setelah hampir putus asa, seorang nenek tiba-tiba menawarkan sebuah pekerjaan padanya karena tak sengaja melihat surat lamaran di map transparannya ketika ia berbelanja di toko tersebut.
"Aku berangkat dulu, Sayang," ucap Zean seraya menyalami tangan dan mengecup dahi Syifa. Ya, Semenjak melewati malam itu, sikapnya mulai sedikit menghangat pada sang istri, walau kadang wajahnya masih sering datar ketika berbicara.
"Iya, Mas. Jangan lupa, kalau udah gajian, kita langsung pindah rumah, yah? "
"Gajiku tidak seberapa, apa kamu mau tinggal di rumah kontrakan yang kecil, bahkan lebih kecil dari kamarmu?" tanya Zean.
"Tidak masalah, asal tidurnya di kasur bareng kamu, duduknya di lantai bareng kamu, dan mandinya di kamar mandi ...." jawab Syifa asal, dan berakhir bingung untuk melanjutkan perkataannya sendiri.
"Bareng aku?" sambung Zean dengan wajah polosnya, membuat Syifa langsung menghadiahkan sebuah cubitan di pinggang pria itu hingga membuatnya meringis.
"Apaan, sih, Mas! Udah, cepat berangkat, nanti kamu telat, loh!" Syifa mendorong pelan tubuh Zean keluar dari kamar dan ikut berjalan di sampingnya, menemaninya hingga ke depan rumah.
Akan tetapi, ketika tiba di teras depan rumah, Mega langsung memanggilnya dengan keras.
"Zean!" Wanita paruh baya itu datang menghampiri Zean dengan tatapan penuh amarah.
Plak
Sebuah tamparan keras berhasil mengenai pipi kanan Zean.
"Ma, apa yang Mama lakukan?" Syifa mencoba membela Zean.
"Diam kamu, Syifa. Untuk apa kamu selalu membela pencuri ini?"
-Bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Danny Muliawati
tdk menjamin tah org yg berpendidijan tdk ounya etika
2023-11-24
1
Anindita Dita
gemes bngt nie sm mertua nya
2023-10-10
2
Ria Dardiri
tinggal ber 2 lebih nikmat😘🤗
2023-10-10
1