MK - 03

Syifa berjalan cepat keluar dan berdiri di depan klinik. Wajahnya memerah bak kepiting rebus, jantungnya bertalu-talu bagaikan sebuah gendang yang membuat wanita itu sulit mengontrol gestur tubuh jika tetap berada di dalam kamar pasien bernama Zean.

Permintaan pria itu untuk membantu mencukur brewoknya berhasil membuat gadis itu salah tingkah. Terang saja, seumur hidup ia tak pernah dekat dengan pria lain, apalagi sampai melakukan sesuatu yang seharusnya menjadi hal yang menyenangkan jika dilakukan oleh pasangan suami istri.

"Kamu kenapa kayak gitu?" Suara bariton Hadi membuat wanita itu terlonjak kaget.

"Sampai segitunya, yah reaksi kamu, padahal paman hanya berbicara pelan." Hadi mengamati wajah sang keponakan yang masih terlihat merah merona. "Itu muka kenapa? Kayak habis makan cabe 50 biji," lanjut pria paruh baya itu menyelidik.

"Eh, nggak, kok, Paman. Syifa hanya kepanasan," kilah Syifa sekenanya.

"Beneran?"

"Iya, Paman. Mending Paman bantuin Mas Zean cukur brewoknya. Tadi dia minta Syifa melakukannya, ih ogahlah!"

Hadi memicingkan matanya menatap tiap lekuk wajah gadis di hadapannya yang coba disembunyikan.

"Paman kenapa liatin Syifa kayak gitu, sih?" tanya Syifa semakin salah tingkah.

"Jadi ini yang buat kamu menyendiri seperti ini dengan wajah memerah." Hadi menganggukkan kepalanya pelan.

"Maksud Paman apa?" tanya Syifa tapi tak dijawab oleh Hadi. Pria itu malah berbalik dan berjalan pelan kembali ke dalam klinik.

"Huft, hampir saja," lirih Syifa bernapas lega seraya mengusap dadanya pelan.

"Kamu suka, 'kan sama Zean?"

"Allahu akbar kabiira walhamdulillahi katsiira wa subhaanallahi bukratawwa asila ...." latah Syifa ketika sang paman tiba-tiba kembali menyembulkan kepalanya di balik pintu. "Astaghfirullah, Paman apa-apaan, sih? Mau buat Syifa jantungan?" lanjutnya mendesis penuh penekanan.

"Ya, habisnya paman penasaran sama sikap kamu yang baru pertama kali paman lihat ini. Jawab dengan jujur, kamu suka, 'kan sama Ze ...." Perkataan Hadi terputus ketika Syifa langsung meletakkan jari telunjuk mungilnya di dekat bibir pria itu.

"Sssst, jangan kencang-kencang ngomongnya, nanti Mas Zeannya dengar," bisik Syifa.

"Ya memangnya kenapa? Wajar, kok, kalau kamu jatuh cinta, wong hampir setiap waktu kalian bertemu dan saling berinteraksi. Paman curiga, apa kamu juga bersikap seperti ini ketika memeriksa pasien pria di rumah sakit," tebak Hadi menatap lurus ke depan, tapi sesekali melirik sang keponakan untuk melihat reaksinya.

"Ya, nggaklah, Paman! Syifa nggak pernah seperti ini sebelumnya," elak wanita itu.

"Oke, berarti fix kamu menyukainya!" kata Hadi menyimpulkan, lalu kembali masuk ke klinik meninggalkan Syifa yang masih mencerna apa yang baru saja ia bicarakan.

Akan tetapi, ketika Hadi berbalik masuk, lutut pria itu seketika terasa lemas karena Zean kini berada di hadapannya dengan kursi roda.

"Maaf, Pak. Saya mau minta tolong untuk ini," ucap Zean pelan sambil mengangkat pisau cukur dengan tangan kirinya.

"Apa kamu mendengar semuanya?" tanya Hadi tanpa merespon perkataan Zean sebelumnya.

Belum juga Zean menjawab pertanyaan Hadi, suara wanita dari luar kembali menarik perhatiannya.

"Paman, jangan menyimpul ...." Syifa menghentikan perkataan bersamaan dengan langkah kakinya ketika melihat Zean berada di hadapannya, lebih tepatnya tidak jauh dari pintu di mana Hadi juga ada di sana dengan ekspresi serba salah.

Suasana terasa canggung dan hening seketika. Tak ada yang berani berbicara apalagi menjelaskan apa yang sedang terjadi.

"Sepertinya saya salah waktu. Maaf, saya kembali dulu ke kamar." Zean kembali meletakkan pisau cukur itu di pangkuannya lalu menjalankan kursi roda dengan tangan kiri.

...

Pria itu menutup pintu lalu kembali terdiam. Ingatannya kembali berputar kala ia tak sengaja mendengar percakapan paman dan keponakan itu di luar klinik tadi. Ya, Zean mendengar sebagian pembicaraan mereka terutama mengenai pengakuan secara tidak langsung dari Syifa. Tanpa sadar, kedua ujung bibirnya tertarik hingga membentuk lengkungan tipis.

Entah kenapa, ia merasa bahagia mendengar pengakuan Syifa. Bahkan, beberapa detik ia lalui dengan hanya tersenyum dalam renungan. Tak ada gerakan dan tak ada suara, hingga tiba-tiba embusan angin yang masuk dari jendela menerpa wajahnya dan berhasil menyadarkan pria itu.

"Ekhem, ekhem, sebaiknya aku tidur saja sambil menunggu waktu makan siang," ucapnya mencoba menepis ingatan itu dan bersikap biasa-biasa saja.

Zean berdiri dengan satu kaki, lalu sedikit melompat untuk mencapai tempat tidur. Pria itu membaringkan tubuhnya terlentang, lengan kirinya terangkat menutupi mata. Perlahan, tapi pasti, pria itu mulai memejamkan mata. Sayangnya, semakin ia memejamkan mata, semakin jelas pula suara Syifa menggema dalam pikirannya.

"Ya, ampun, ada apa denganku?" Zean mengusap wajahnya kasar. Ada senang yang ia rasakan saat ini, tapi di sisi lain hatinya juga sedih pada waktu yang sama, entah karena apa.

Akibat tak sengaja mendengar pembicaraan yang mungkin tidak seharusnya ia dengar, sejak saat itu sikap Syifa jadi canggung di hadapan Zean. Jika dulu wanita itu mampu bercerita panjang lebar di hadapannya, kini keadaannya berbeda.

Jangankan bercerita, tertawa lepas dan bersikap apa adanya saja Syifa terlihat begitu kesulitan, bahkan cenderung menahan diri.

Apakah ia memiliki salah? Atau apakah sikap wanita yang sedang jatuh cinta memang seperti itu? Entahlah, Zean tak bisa memikirkan hal itu sebab setiap kali mencoba berpikir tentang cinta, kepalanya akan terasa sakit dan hatinya pun terasa perih.

Hari ini menandakan tepat satu bulan Zean tinggal di Desa Lambani, desa yang sangat asri, bebas polusi, dan masyarakat yang ramah dan peduli. Desa yang belum lama ia tempati, tapi sudah mampu mengambil tempat di hati.

Akan tetapi, wanita yang diam-diam telah mengisi relung hati justru seolah menjaga jarak, membuat Zean kembali meragukan dugaannya selama ini. Apakah dia memang jatuh hati atau hanya sekadar bersimpati.

Ya, Zean tak bisa menapikkan perasaannya pada Syifa saat ini. Meskipun dari luar ia terlihat kaku dan tak acuh, tapi diam-diam ia mulai menyadari perasaannya pada wanita itu. Bukan satu dua kali saja ia menyadari, tapi hampir setiap hari hatinya dibuat kembang-kempis akibat melihat Syifa yang sering di goda oleh beberapa pria muda di desa itu.

Bahkan, ia sering merasa kesal sendiri karena banyak pria yang rela berpura-pura sakit demi bisa bertemu Syifa. Bukannya ingin berpikiran negatif, tapi mendengar gejala dan keluhan mereka dari dalam kamarnya saja, membuat Zean menyadari kepalsuan itu. Ia juga tidak tahu dari mana ia mendapatkan ilmu dalam membedakan mana orang yang benar-benar sakit dan mana yang hanya mencari perhatian.

Jika saja Zean bukan pendatang di desa itu, dan keadaan tubuhnya sedang bagus dan kuat, mungkin sudah ia usir satu per satu para pria genit itu agar tidak menganggu Syifa dan membuatnya tersiksa akibat kobaran api cemburu yang hanya bisa ia pendam sendiri.

"Syifa, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Zean sedikit gugup setelah sejak tadi menimang dalam pikiran sambil memperhatikan wanita itu menyiapkan makan malam di meja makan.

"Tanya apa?" Syifa sedikit melirik ke arahnya lalu kembali melanjutkan aktivitasnya secepat mungkin.

"Apa aku punya salah sama kamu? Akhir-akhir ini kamu selalu mencoba menghindariku, bukan hanya itu, kamu bahkan tak berani menatapku ketika berbicara," tanya Zean dengan wajah datarnya.

Aktivitas Syifa terhenti sejenak mendengar pertanyaannya. "Tidak apa-apa, kok," jawabnya singkat lalu kembali melanjutkan kegiatannya.

"Tidak, aku merasa sikapmu padaku berubah, menatapku sekilas, tersenyum tapi tak tulus, hingga bercerita pun tak pernah lagi." Zean mengungkapkan semua kejanggalan sikap Syifa terhadapnya malam itu juga. Kali ini ia tak ingin memendamnya lagi, sungguh tidak nyaman berada dalam posisi dan suasana seperti itu.

"Kamu nanya alasanku? Apa kamu tidak sadar sejak kapan sikapku berubah? Haruskah aku mengatakan alasanku yang sebenarnya agar kamu paham?" cecar Syifa yang kini benar-benar menghentikan kegiatannya. Wanita itu menatap ke arah Zean dengan tatapan yang sulit diartikan, ada harapan, ada kesedihan, dan ada kebimbangan dalam sorot matanya.

"Ya, bukankah seseorang perlu mengungkapkan keadaan yang sebenarnya jika ingin hatinya lega? Memendam kegundahan hati seorang diri itu tidak enak, apalagi sampai orang lain terkena imbasnya," jelas Zean datar membuat Syifa tersenyum kecut.

"Oke, baiklah, aku akan mengatakan apa yang selama ini kusimpan dalam hatiku, tapi setelah ini, anggap saja kamu tidak pernah mendengar apa pun.

Zean hanya diam, ia tak bisa berjanji akan hal itu. Satu yang pasti, jantungnya berdegup kencang menanti kejujuran Syifa kali ini. Ada harapan yang muncul dalam hatinya tanpa bisa ia enyahkan.

"Aku ..., aku menyukaimu. Mungkin aku terlalu naif hingga begitu mudahnya jatuh hati pada pria asing sepertimu." Syifa tertawan nanar sambil mengusap matanya yang mulai berair, lalu kembali berkata, "Tolong lupakan apa yang baru saja aku katakan, sungguh aku begitu malu mengungkapkan perasaan ini lebih dulu pada pria sepertimu."

Zean terdiam menatap ke arah Syifa. Ya, sesuai harapannya, inilah yang ingin didengarnya sejak kemarin.

"Maafkan aku jika pengakuanku ini telah membuatmu tidak nyaman. Tolong lupakan apa yang aku katakan. Seperti katamu tadi aku hanya ingin membuat hatiku lega dengan mengeluarkan apa yang mengganggu hati dan pikiranku selama ini," kata Syifa kembali.

Suasana di meja makan itu seketika terasa hening dan canggung hingga beberapa saat kemudian.

"Aku tidak ingin melupakannya," ucap Zean kemudian membuat Syifa langsung menatapnya bingung.

"Kenapa?" tanya wanita itu.

"Ya ... karena aku suka mendengarnya," jawab Zaen menatap ke arah lain dengan wajah tanpa ekspresi. Sungguh, bukannya idiot, ia hanya gugup dengan tatapan Syifa yang semakin dalam kepadanya.

"Ap-apa maksud kamu?"

Zean tergugu, lidahnya terasa kelu dan berat untuk digerakkan. Jantungnya pun semakin terasa berdebar dan membuatnya bingung harus bersikap apa agar tidak terlihat bod0h di hadapan wanita itu.

"Sepertinya ...." Zean menghentikan perkataannya sejenak sambil sesekali melirik Syifa. 'Ah, kenapa rasanya begitu sulit untuk mengungkapkan perasaan ini?' batin pria itu kesal dengan dirinya yang sangat kaku.

"Sebenarnya ..., sebenarnya ..., aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu," ucap Zean lega lalu segera menenggak segelas air yang ada di hadapannya. Suasana yang begitu canggung dan ungkapan perasaan yang benar-benar sulit itu telah membuat tenggorokannya terasa kering.

"Benarkah? Kalau begitu, nikahi aku!" pinta Syifa tiba-tiba.

"Uhuk uhuk."

-Bersambung-

Terpopuler

Comments

Nurmalina Gn

Nurmalina Gn

woooow mendadak lamaran dokter yang hilang pada dokter yang melarikan diri

2024-01-09

1

💞Amie🍂🍃

💞Amie🍂🍃

Inniwajahtu....... Lattanya si sifa subhanallah 😊

2023-11-19

2

Neneng cinta

Neneng cinta

shifa...to the point....tp bagus sih dr pada dosa mending pacaran setelah sah...♥️♥️♥️

2023-09-28

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!