"Di mana suamimu, Nak?" tanya Gunawan ketika melihat Syifa datang di ruang makan seorang diri.
"Mas Zean lagi istirahat, Ayah. Dia kelelahan," jawab Syifa, lalu mengambil piring, kemudian mengisinya dengan nasi serta sayur dan lauk.
"Heleh, suamimu itu memang tidak berguna. Baru cedera sedikit aja udah kayak gitu. Pake dibawain makanan segala lagi. Aneh!" sindir Mega dengan bibirnya yang dimiring-miringkan.
"Benar, Ma. Ngasi duit tidak, tapi mau diperlakukan seperti raja. Tidak nyadar diri. Apalagi ...." Perkataan Maisya terputus ketika Syifa berdehem begitu beberapa kali.
"Sudah, Ma, Mbak May! Bisa tidak, kalian menghargai Zean sebagai suami Syifa? Menerimanya dengan baik dan tidak merendahkannya?" Dahi Syifa berkerut menahan rasa panas yang menghampiri hati dan telinganya. Jika saja dua wanita itu bukan ibu dan kakaknya, sudah dari tadi ia memarahi mereka.
"Kalian itu kenapa, sih? Zean itu sudah menjadi bagian dari keluarga kita. Mau bagaimanapun keadaannya, tolong hargai dia!" Gunawan ikut menegur. Sejak tadi pria itu merasa geram dengan omongan pedas istri dan anak tirinya.
Maisya dan Mega hanya diam tak menanggapi perkataan Syifa maupun Gunawan. Mereka kembali melanjutkan makan mereka tanpa memperlihatkan rasa bersalah sedikit pun.
"Syifa, pergilah ke kamarmu, Nak. Layani suamimu dengan baik. Bagaimanapun keadaannya, dia adalah imammu, Nak. Jangan terpengaruh oleh perkataan Mama dan Kakakmu ini," ujar Gunawan lagi sambil menatap tajam ke arah dua wanita itu secara bergantian.
"Iya, Ayah." Syifa segera pergi dengan membawa nampan berisi sepiring makanan dan segelas air minum.
Wanita itu berjalan memasuki kamar dan mendapati Zean tengah berdiri menatap jas dokternya. Tak hanya itu, stetoskop yang tadinya berada dalam saku jas kini sudah berada di tangannya.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Syifa seraya meletakkan nampan yang ia bawa di atas nakas.
"Aku hanya melihat jas dokter dan alat ini. Kamu juga dokter, yah?" tebak pria itu, kemudian jalan sedikit tertatih ke tempat tidur karena kakinya yang masih menggunakan gips.
"Iya, Mas," jawab Syifa. "Maaf, aku tidak memberitahukanmu pasal itu," sambungnya ketika melihat raut wajah Zean semakin meredup.
"Kalian memang keluarga yang hebat," ucap Zean tersenyum nanar.
Syifa yang memahami keadaan hati Zean langsung menghampirinya. Wanita itu memosisikan dirinya di hadapan Zean lalu berdiri dengan bertumpu pada lutut. Di raihnya tangan kiri pria itu lalu mendongak menatap dalam kedua matanya yang indah dan dihiasi alis tebal yang menampakkan ketegasan.
"Jangan ambil hati perkataan mama dan Mbak May, yah! Mereka memang begitu, cukup dengarkan aku saja," ucap Syifa lembut.
Zean terdiam sejenak, menatap wajah sang istri sekali lagi yang cukup meneduhkan dalam jarak dekat, lalu tersenyum tipis.
"Aku seorang pria, aku tidak akan goyah karena mereka meremehkanku."
"Benarkah?"
"Iya, asal kamu ada di sampingku." Zean memberanikan diri mengusap pipi Syifa dengan lembut, lalu perlahan ia bubuhkan sebuah kecupan hangat pertama di dahi wanita itu hingga beberapa detik lamanya. Merasakan desiran cinta dalam hati, bagai bunga mekar yang sangat indah.
Zean tidak menyangka pria kaku seperti dirinya bisa melontarkan kalimat dan perlakuan manis kepada sang istri. Ia mengira sejak awal dirinya memang memiliki karakter serius dan tak bisa bercanda apalagj sampai bersikap romantis, ternyata tidak sepenuhnya seperti itu.
Zean kini menjauhkan wajahnya memandangi manik mata indah Syifa. Untuk sesaat keduanya saling mengunci tatapan satu sama lain, hingga suara aneh yang berasal dari perut sang istri menyadarkan keduanya.
"Makan dulu, yuk!" ajak wanita itu berpura-pura biasa saja, padahal ia sedang malu saat ini. Ia bersyukur Zean hanya mengangguk dengan wajah datar dan bukan tertawa. Wanita itu kini membantu sang suami agar duduk bersandar di kepala tempat tidur.
Syifa mulai menyuapi sang suami makanan, lalu berganti menyuapi dirinya sendiri. Menikmati makan bersama dalam piring dan sendok yang sama untuk pertama kalinya, hingga makanan tersebut tandas tak tersisa.
Keduanya pun memutuskan untuk berisitirahat dalam kamar untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah.
...
Keesokan harinya, Syifa mengajak Zean ke rumah sakit tempat ia bekerja. Wanita itu membawa sang suami untuk mendapatkan pemeriksaan mengenai kondisi kepalanya melalui MRI. Dokter pun mengatakan jika memang ada kerusakan ringan di bagian hipokampus otaknya akibat kecelakaan dan itulah yang menyebabkan pria itu mengalami amnesia.
Tak hanya itu, Syifa juga memeriksakan keadaan tulang Zean kepada dokter spesialis ortopedi. Seperti dugaannya, gips sang suami benar-benar dilepas saat itu juga. Namun, berhubung tangan dan kaki kanannya yang mengalami cedera itu masih rawan, maka untuk beberapa saat pria itu harus menggunakan kursi roda hingga pulih sempurna.
"Gimana rasanya lepas gips?" tanya Syifa sambil mendorong kursi roda sang suami menyusuri lorong rumah sakit.
"Nyaman dan lega," jawab Zean singkat sembari memegangi kepalanya yang lagi-lagi terasa sakit, seolah gambaran-gambaran acak sedang berterbangan dalam ingatannya.
"Kamu kenapa? Apa kepalamu sakit?" Syifa menyadari Zean sedang memegangi kepalanya dengan dahi berkerut.
"Tidak apa-apa, aku hanya merasa suasana seperti ini sangat tidak asing dalam ingatanku," jawab Zean.
"Benarkah? Mungkin dulu kamu pernah ke sini," tebak Syifa.
"Mungkin."
"Apa sekarang kamu ingin pulang? Masa cutiku sudah habis, aku harus kembali bekerja," tanya Syifa.
"Tidak, aku ingin menemanimu di sini, entah kenapa, aku suka dengan suasana rumah sakit," jawab Zean sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.
Syifa pun akhirnya membawa sang suami menuju ruangannya untuk beristirahat.
"Ini adalah ruanganku, kamu bisa beristirahat di sofa itu selagi aku bekerja memeriksa pasien." Syifa mendorong kursi roda Zean ke dekat sofa. Wanita itu hendak membantu sang suami berpindah tempat, tetapi urung ketika seorang pria tiba-tiba memasuki ruangannya.
"Syifa, apakah kamu sudah kembali?" tanya pria berkacamata dengan jas dokter serupa.
"Iya," jawab Syifa singkat.
"Siapa dia, Fa?" tanya pria itu ketika menyadari keberadaan Zaen.
Syifa memandangi Zean sambil tersenyum, lalu menoleh ke arah pria berjas dokter itu, dan berkata, "Kenalkan, Nik. Ini suamiku."
"Suami?" ulang pria itu, tidak percaya, lalu mengamati Zean yang penampilannya sedikit terlihat kolot karena memakai pakaian pemberian Hadi dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. "Kapan nikahnya? Terus kenapa dia di sini? pake kursi roda lagi," tanya pria bernama Niko itu melanjutkan.
"Waktu cuti kemarin aku nikah di desa pamanku. Suamiku lagi sakit, Nik. Sudahlah, jika tidak ada urusan lagi, sebaiknya kamu keluar," kata Syifa lalu mengusir Niko keluar dari ruangannya.
Syifa kembali membantu Zean untuk berpindah tempat dengan hati-hati.
"Apa dia temanmu?" tanya Zean dengan wajah datar.
"Iya, Mas. Dia teman kerjaku di sini," jawab Syifa jujur sambil duduk disamping Zean.
"Jika tidak ada pasien sebaiknya kunci pintu ruanganmu agar para dokter pria di rumah sakit ini tidak mengambil kesempatan untuk masuk," ujar pria itu dengan wajah serius membuat Syifa memilih diam memandangi sang suami yang terlihat lucu.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Zean salah tingkah.
"Tidak, kamu lucu kalau lagi cemburu." Syifa mengulum senyum tanpa mengalihkan tatapannya dari Zean.
"Cemburu? Tidak, tuh!" elak Zean, lalu mengalihkan tatapannya ke segala arah berusaha menghindari tatapan sang istri yang membuat jantungnya seolah ingin meledak. Ia tak menyadari jika saat ini wajahnya yang merah merona sudah menjawab praduga Syifa.
Syifa tertawa semakin gemas dengan tingkah sang suami. Wanita itu mencubit kedua pipi Zean dan menggoyangnya pelan. "Kamu menggemaskan sekali, Mas. Aku istrimu, belajarlah untuk tidak kaku di depanku. Apa susahnya mengatakan cemburu jika memang cemburu?"
Syifa melepaskan cubitan tersebut, lalu kembali ke meja kerjanya memperhatikan beberapa berkas pasien yang akan ia tangani beberapa saat lagi. Sementara Zean hanya diam di sofa mengamati wanita itu yang tampak sibuk. Perlahan kedua ujung bibirnya terangkat membentuk senyuman samar di wajahnya.
🦋🦋🦋
Di desa Lambani, beberapa pria berjas dan berkacamata hitam tampak keluar dari sebuah mobil. Mereka menghampiri beberapa warga seraya menunjukkan sebuah foto pria.
"Ini, 'kan pasien dokter Hadi?" ucap salah satu warga yang mengenali wajah pria itu.
"Iya, benar. Dia pasien dokter Hadi yang ditemukan di bawah jurang itu," timpal warga lain yang melihatnya.
"Di mana rumah dokter Hadi?"
-Bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
💞Amie🍂🍃
Sakit keknya
2023-11-22
0
Neneng cinta
next..
2023-10-04
1
Neneng cinta
makan sepiring ber2😍....kenyang ga nih😁,,yg penting keberkahannya....
2023-10-04
1