Sudah satu bulan berlalu sejak Zean melepas gipsnya. Pria itu mulai rutin melakukan fisioterapi selama dua kali seminggu. Fisiknya yang kuat dan sehat membuat pria itu pulih lebih cepat. Ia bahkan sudah bisa berjalan ketika melakukan proses fisioterapi kali ini dengan didampingi Syifa tentu saja.
"Selamat, Pak Zean. Anda dinyatakan pulih dan ini adalah fisioterapi terakhir anda. Selanjutnya lebih berhati-hatilah dalam melakukan sesuatu, terutama yang membutuhkan tenaga besar dalam menggunakan tangan dan kaki, seperti gym atau mengangkat beban berat," ucap sang dokter tersenyum senang.
"Terima kasih, Dok, atas semua bantuan dan bimbingannya selama ini," ucap Zean.
"Terima kasih, Dok. Kalau gitu kami pamit dulu," ucap Syifa pamit. Keduanya kini berjalan keluar dari ruang dokter spesialis ortopedi tersebut.
Syifa kini bisa leluasa menggandeng tangan sang suami. Mereka berjalan bersama menyusuri lorong rumah sakit yang sedikit lenggang. Berhubung jam kerja wanita itu telah berakhir, maka ia sudah bisa pulang bersama Zean sore itu.
"Bagaimana kalau malam ini kita adakan acara barbeque bersama keluarga untuk merayakan kesembuhan kamu?" tanya Syifa begitu antusias sampai melupakan sesuatu. "Ah, maaf, Mas. Nggak jadi," lanjut wanita itu mengurungkan niatnya.
"Kenapa tidak jadi?" tanya Zean sedikit bingung.
"Aku tidak ingin kamu terlalu sering berbaur dengan mama dan Mbak Maisya. Mereka sering menyindirmu, kamu pasti tidak nyaman," kata Syifa lesu.
Zean bergeming sejenak. Ia setuju dengan perkataan sang istri. Ibu mertua dan kakak iparnya itu memang agak keterlaluan karena selalu menyindirnya habis-habisan tiap kali ia berada di antara mereka, terlebih ketika Gunawan sedang tidak ada di sana.
Mega bahkan tidak segan-segan menyuruh Zean untuk membereskan rumah ketika semua orang termasuk Syifa sedang ke rumah sakit untuk bekerja. Padahal, mereka memiliki lima asisten rumah tangga di rumah itu.
Syifa sendiri sudah pernah menawarkan kepada Zean untuk mencari rumah sendiri demi menjaga perasaannya. Namun, Zean dengan tegas menolak. Bukan tanpa alasan, sebagai pria dan suami, menyediakan rumah adalah kewajibannya, dan ia ingin menyediakan rumah tersebut dengan jerih payahnya sendiri.
Akan tetapi, jika ia menghindari keluarga sang istri, sampai kapan pun ia tak akan bisa memiliki hubungan yang baik dengan mereka. Ah, sungguh, segalanya membuat Zean dilema.
"Kita lakukan saja, siapa tahu dengan kita sering bersama mama dan Mbak Maisya, aku bisa dekat dengan mereka," ucap Zean menampilkan senyuman samar, berusaha menepis akalnya yang menolak keras.
"Kamu serius?" tanya Syifa memastikan.
"Iya, aku serius," ucap Zean dengan anggukan penuh keyakinan.
Syifa diam sesaat menatap lekat mata pria itu, kemudian ia berkata, "Baiklah, kalau begitu, ayo, kita belanja!" Syifa menggenggam tangan Zean lalu menariknya menuju mobil.
"Biar aku yang menyetir," ucap Zean ketika melihat Syifa hendak masuk melalui pintu sebelah kanan mobilnya.
"Memangnya kamu masih ingat cara nyetir mobil?" tanya Syifa sedikit ragu.
"Kita coba dulu."
"Ih, kalau kamu nggak yakin, mending aku yang nyetir," tolak Syifa cepat.
"No, biar aku yang nyetir, oke?" kata Zean dengan nada tegas, begitu pun dengan wajahnya yang serius.
"Oh, ba-baiklah." Kali ini Syifa tak berkutik. Apalagi ketika melihat ketegasan Zean, ia merasa pria itu bukanlah orang sembarangan. Caranya dalam berbicara dan berjalan menunjukkan kewibawaan yang sangat kental, bahkan aura seorang pemimpin bisa ia rasakan dari sang suami.
Zean mulai melajukan mobil dengan hati-hati, awalnya ia sedikit tegang, tapi semakin lama ia merasa rileks. Bahkan, tanpa di sadari mereka kini telah tiba di sebuah minimarket yang Syifa tunjuk untuk membeli bahan-bahan barbeque.
Untuk pertama kalinya, sepasang suami istri itu belanja bersama. Zean yang mendorong troli dan Syifa yang memilih bahannya. Usai memilih beberapa daging khusus untuk barbeque, kini mereka masuk ke deretan bumbu dan saus.
"Kamu suka saus apa? Lada hitam, mushroom, teriyaki, atau apa?" tanya Syifa menunjuk deretan saus yang biasa digunakan dalam barbeque.
"Saus mushroom kayaknya enak," ucap Zean.
"Oke, kalau gitu aku saus lada hitam saja," kata Syifa, lalu mengambil saus-saus tersebut.
Mereka terus berbelanja kebutuhan lainnya hingga mereka tiba di kasir. Pada saat seperti ini, lagi-lagi Zean hanya bisa memendam rasa bersalahnya karena belum pernah memberikan uang sepeser pun kepada sang istri. Justru sebaliknya, Syifalah yang menyediakan semuanya tanpa pernah mengeluh.
Aku benar-benar tidak berguna.
Zean membatin dengan segala rasa yang berkecamuk dalam dadanya. Sebuah tekad pun akhirnya muncul dalam hati pria itu, bahwa mulai besok ia akan mencari pekerjaan dan memberikan nafkah lahir dan batin untuk sang istri.
Setelah selesai berbelanja, Zean dan Syifa berjalan kembali ke dalam mobilnya. Namun, belum sempat memasuki mobil, wanita itu baru menyadari bahwa masih ada satu kantong barangnya yang tertinggal di kasir.
Syifa hendak kembali ke dalam minimarket itu , tetapi Zean langsung menahannya. "Biar aku saja," ucapnya lalu segera pergi.
Zean berjalan menuju pintu masuk minimarket. Namun, sebuah kejadian tidak terduga muncul di depan matanya. Seorang ibu yang sedang menggendong anaknya tiba-tiba terpeleset dan jatuh, di mana kepalanya terbentur lantai yang berada di dekat pintu masuk minimarket.
Beruntung, anak itu tidak terbentur sama sekali dan langsung di ambil alih oleh seorang wanita paruh baya yang kebetulan berada di sana. Namun, ada yang aneh dari ibu bayi itu. Usai terbentur, tubuhnya mendadak kaku dan cenderung menekuk ke belakang, matanya terbuka tapi tidak ada respon dari wanita tersebut ketika ada yang memanggilnya.
Lagi-lagi sebuah kepingan kenangan melintas dalam ingatan Zean, di mana seorang pria dengan jas putih tengah berlari menghampiri orang yang sedang terluka di atas brangkar. Masih larut dalam kepingan memorinya, tangisan seorang anak balita tiba-tiba menyadarkan pria itu hingga membuatnya langsung berlari menghampiri ibu tersebut yang kini dikerumuni banyak orang.
"Permisi, tolong beri tempat yang luas untuk ibu ini." Zean melewati kerumunan orang dan meminta mereka untuk memberi ruang kepada wanita itu sehingga semuanya melangkah mundur. "Pak, tolong hubungi ambulance sekarang!" lanjutnya pada pria berseragam satpam.
Zean duduk dengan menekuk lututnya di samping wanita tadi, di panggilnya wanita itu dengan menggunakan suara dan sentuhan pada pipi, tapi tak ada respon sama sekali. Ia kemudian mengecek napas dan denyut jantungnya, tapi lagi-lagi tak terdeteksi.
Menyadari ini adalah kejadian yang membutuhkan penanganan segera, Zean langsung meluruskan posisi kepala dan leher wanita itu, perlahan ia mulai melakukan CPR kemudian memberikan napas buatan pada wanita tersebut. Ia kembali mengulangi tindakannya hingga beberapa saat kemudian wanita itu akhirnya bergerak.
Ucapan syukur dan tepuk tangan takjub diberikan oleh orang-orang yang menyaksikan tindakan pertolongan pertama tersebut kepada Zean, bahkan ada yang sengaja mengambil videonya secara diam-diam.
Tak lama kemudian, ambulance benar-benar datang. Petugas ambulance itu kini melontarkan beberapa pertanyaan terkait kondisi wanita tersebut kepada Zean, dan ia menjawabnya sesuai dengan apa yang ia lihat dan apa yang tadi ia lakukan.
"Terima kasih, Pak. Jika tadi anda tidak segera melakukan pertolongan pertama dengan tepat, mungkin nyawa wanita ini sudah tidak ada," ucap petugas tersebut.
Zean membuang napas lega melihat kepergian ambulance itu, kemudian ia menunduk menatap kedua tangannya dengan perasaan aneh. Sebuah pertanyaan tiba-tiba melintas begitu saja dalam pikirannya, rasa penasaran atas dirinya pun kini semakin bertambah.
Siapa pria terhina ini sebenarnya?
-Bersambung-
NOTE:
CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) atau resusitasi jantung paru-paru adalah tindakan pertolongan pertama Bantuan Hidup Dasar pada orang yang mengalami henti napas karena sebab-sebab tertentu. CPR bertujuan untuk membuka kembali jalan napas yang menyempit atau tertutup sama sekali dengan melakukan beberapa teknik pemijatan atau penekanan pada dada. (Wikipedia)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
luiya tuzahra
sebenernya BHD bisa dilakukan semua org tdk hanya org medis asal pernah ikut pelatihan dan yg paling penting tdk panik dan yakin,krn dokterpun kadang ada yg gagal
2023-12-16
1
Neneng cinta
ini bisa jd ide kerjaan mu Zean..buka klinik az....
2023-10-08
1
Neneng cinta
nah betul Zean tdnya aku ma nyaranin kamu kerja tp yg ringan2 dulu..smpe kamu mampu...💪💪💪💪💪♥️
2023-10-08
1