MK - 18

Langit semakin menunjukkan sisi gelapnya ketika matahari telah jatuh ke kaki langit. Rumah sakit mulai tak seramai pagi tadi. Para dokter sebagian sudah kembali ke rumah, begitu pun dengan tenaga medis lain yang telah berganti jadwal.

Zean yang tadi berencana ingin pulang lebih dulu nyatanya masih tetap di rumah sakit itu hingga malam menjemput. Walau tidak enak badan, pria itu tetap menyempatkan diri untuk melihat keadaan sang ayah mertua yang baru saja mendapatkan tindakan angioplasti koroner.

Mendapati kehadiran menantu yang sempat hilang kabar, Gunawan tentu merasa bahagia, sekaligus heran karena penampilan Zean yang berubah drastis. Lebih rapi, modern, dan semakin berkarisma, meskipun pria itu tak memakai jas dokternya.

"Jadi, sejak satu bulan kemarin kamu bekerja di kota ini dan mengirimkan uang bulanan kepada Syifa?" tanya Gunawan memastikan.

"Iya, Ayah," jawab Zean dan diangguki oleh Syifa yang memang pernah kaget karena mendapat kiriman uang tanpa diketahui siapa pengirimnya. Namun, kini ia lega karena tahu bahwa sang suami adalah orang di belakangnya.

"Pekerjaanmu halal, 'kan?" selidik Gunawan dan di jawab anggukan oleh Zean. Bukan jenis pekerjaan atau pun gaji, cukup ia memastikan jika pekerjaan sang menantu adalah halal, dengan begitu ia bisa tenang menitipkan Syifa padanya.

Pembicaraan terus mengalir di antara mertua dan menantu itu hingga Zean izin keluar sebentar karena ponselnya berdering. Namun, sebelum keluar, ada hal yang harus ia pastikan lebih dulu kepada Syifa.

"Apa kamu hamil?" tanya Zean berbisik.

Syifa tertegun sejenak mencerna pertanyaan Zean, di detik berikutnya ia menggeleng pelan sambil berkata, "Nggak tahu, Mas."

"Kalau begitu, besok pagi kamu tes, yah. Aku akan keluar sebentar," ujar Zean lalu membuka pintu kamar tersebut dan pergi ke ruang kerjanya meninggalkan Syifa yang dipenuhi pertanyaan.

Zean masuk di ruangannya sambil memegangi ponsel yang masih saja berdering, di mana nama seorang detektif yang ia sewa untuk menyelidiki penyebab kecelakaan mobilnya terpampang di sana.

"Halo," ucap Zean memulai pembicaraan.

"Halo, Pak Rafael, bisa kita bertemu? Ada yang ingin saya sampaikan."

"Baik, saya akan ke tempat Anda sekarang." Zean segera pergi ke tempat yang menjadi tempat pertemuannya dengan sang detektif seorang diri karena Ken ia tugaskan untuk memeriksa laboratorium kesehatan milik keluarganya.

"Maaf, Pak. Saya sudah mencari seluruh rekaman CCTV di hotel tempat Anda hendak melakukan pernikahan waktu itu, tetapi semuanya terhapus. Sepertinya semua bukti rekaman telah dibersihkan dengan sebaik mungkin," ujar detektif itu.

Zean terdiam dengan dahi yang berkerut sambil mengamati video dari tab sang detektif yang memperlihatkan suasana halaman parkir di hotel tempat acara pernikahannya kala itu. Dari waktunya, memang terlihat ada beberapa menit yang terpotong.

"Ah, iya, saya juga sudah memeriksa video dari kamera dashboard mobil yang ada di belakang mobil Anda waktu itu, dan ini hasilnya." Detektif itu kini mengganti videonya ke video lain yang menampakkan sosok berpakaian serba hitam malam itu yang sedang berdiri memandangi mobil Zean.

"Wajahnya tidak terlihat, hanya bentuk dan proporsi tubuhnya yang tampak. Apa Anda mengenalnya?" tanya detektif itu lagi, tetapi Zean lagi-lagi terdiam. Kedua alisnya tampak hampir saling bertautan yang menandakan bahwa ia sedang berpikir keras.

"Dari tubuhnya yang lebih tinggi dan sedikit berotot, sangat berbeda dengan orang yang kucurigai," jawab Zean pelan.

"Ya, dalam hal ini, bisa saja orang yang Anda curigai menyuruh orang lain untuk melakukannya. Namun, tidak menutup kemungkinan, ada orang lain yang melakukan hal itu. Apa tak ada lagi orang yang Anda curigai, Pak?"

Zean mulai mengingat-ingat sesuatu yang ia alami beberapa bulan lalu sebelum pernikahannya dimulai.

"Ah, sebelum acara pernikahanku, aku menerima pesan dari nomor asing yang menyuruh untuk melihat calon istriku di kamarnya. Dari situ aku pun melihat hal yang tidak seharusnya dan membatalkan semuanya malam itu juga," ujar Zean lalu menatap sang detektif yang mengangguk paham. "Apa itu artinya ada musuh di balik selimut lagi yang tidak kuketahui?"

🦋🦋🦋

Pagi hari mulai menyongsong membawa kehangatan ke seluruh penjuru alam. Kali ini Zean merasa tubuhnya jauh lebih baik usai mengonsumsi vitamin B6 (piridoksin) sebagai pereda mualnya, ditambah minuman jahe yang membuat perutnya terasa nyaman.

Semalam ketika ingin kembali ke rumah sakit, ia mendapat pesan dari Syifa agar langsung beristirahat di rumahnya. Wanita itu jelas menyadari jika Zean sedang kelelahan dan memang benar, tubuhnya tak mampu menyangkal. Sepotong roti yang mengganjal perutnya siang itu tak mampu membuat ia berpura-pura kuat.

Hari ini, ketika matahari belum terbit sepenuhnya, Zean memutuskan pergi ke rumah sakit untuk melihat hasil tes sang istri sesuai permintaannya kemarin. Ia berharap apa yang dikatakan Vano benar, meski itu berarti ia tidak bisa merahasiakan pernikahannya lebih lama lagi.

Seperti biasa, Ken menjadi orang yang setia menemani perjalanannya hingga mereka tiba di rumah sakit. Namun, baru saja memasuki pintu, terdengar suara bising dari bagian administrasi.

"Bagaimana, sih, pelayanan di rumah sakit ini? Mentang-mentang kami hanya peserta BPJS gratis, kalian dengan seenaknya menggeser tempat kami! Kami juga pasien, kami butuh perawatan!" teriak seorang pria paruh baya yang emosi kepada staf administrasi rumah sakit.

Bagaimana tidak, sang anak yang seharusnya masih dirawat di kamar rumah sakit terpaksa harus beristirahat dikursi tunggu lantaran sang ayah yang belum mampu melunasi biaya kamar rawatnya.

"Maaf, Pak. Ini sudah menjadi kebijakan baru rumah sakit ini. Untuk bisa mendapat rawat inap, semua pasien harus membayar biaya kamar mereka, agar lebih adil," jawab staf itu.

"Bagaimana bisa? Aturan dari mana itu? Dulu tidak seperti ini! Padahal kami tidak meminta fasilitas mewah, asal kami bisa menerima perawatan, kami sudah bersyukur. Di sana juga ruang yang seharusnya menjadi tempat pasien BPJS gratis kosong. Jangan mencekik masyarakat miskin seperti kami, dong!" ujar pria itu semakin emosi.

Zean yang melihat keributan itu pun langsung menghampiri pria paruh baya tersebut lalu berbicara sejenak. Setelah mendengar semuanya, ia pun menoleh ke arah staf dengan tatapan serius.

"Sejak kapan peraturan berubah? Bukankah dari dulu rumah sakit ini tak pernah memungut biaya dari orang yang tak mampu?" selidik Zean menghampiri staf tersebut.

"Maaf, Dok. Kami hanya menjalankan peraturan dari direktur saja," jawab staf itu sedikit takut ketika mendapat tatapan tajam dari Zean.

"Masukkan saja, sisanya aku yang akan bayar," ujar Zean tegas di depan staf itu.

"Tapi, Pak?"

"Lalukan!"

"Ba-baik, Pak."

Usai mengatakan hal itu, Zean langsung pergi meninggalkan staf administrasi dengan rasa kesal dan emosi yang tertahan. Entah apa yang diinginkan Alvin, baru menjadi direktur, peraturan yang sudah lama berjalan langsung dirombak habis.

Sambil menarik napas dalam dan membuangnya perlahan, Zean berjalan menuju kamar ayah mertuanya. Ia berusaha mengatur perasaan dan raut wajahnya agar tak terdeteksi oleh mertuanya Tanpa ia sadari, Maisya yang memang baru tiba malam tadi mengikutinya dari belakang.

"Assalamu 'alaikum," ucap Zean setelah mengetuk pintu lalu masuk ke dalam kamar itu.

Gunawan dan Syifa menyambutnya dengan senyuman, tetapi berbeda dengan Mega, ia menatap Zean dengan mata membola karena begitu terkejut.

"Eh, Zean, dari mana saja kamu? Tiba-tiba muncul kayak tamu tak diundang saja," ujar Mega masih dengan bahasanya yang arogan selalu menyudutkan, ditambah tatapan meremehkan yang masih tak berubah dari dulu hingga sekarang.

"Maaf, Ma. Aku bekerja di sini," jawab Zean jujur.

"Alaah, kamu di sini untuk ngurusin keluarga kamu yang sakit itu, 'kan? Kasihan banget, kalau memang nggak punya uang untuk sewa kamar, jujur! Jangan berlagak kayak orang punya banyak duit saja," sela Maisya yang baru saja masuk ke dalam kamar itu.

"May!" seru Gunawan menegur Maisya.

"Kenapa, May? Apa dia berbuat ulah lagi?"

"Cukup!" ujar Syifa menghentikan perkataan sang ibu dan kakak tirinya agar tak lagi menyakiti hati Zean. Sungguh, ia tak ingin karena mereka, sang suami pergi lagi tanpa kabar.

"Mas, kita bicara di luar saja, yah. Aku punya kabar untuk kamu." Syifa segera menarik lembut tangan Zean dan membawanya keluar.

Zean yang tadinya ditarik, kini berjalan lebih dulu dan menarik tangan sang istri menuju ruangannya. Suasana lorong rumah sakit menuju ruangannya yang masih sepi membuat pria itu merasa aman tanpa khawatir ada yang melihat.

"Kabar apa yang ingin kamu katakan tadi?" tanya Zean dengan wajah yang masih cenderung. Meskipun begitu, sorot penasaran tak mampu ia sembunyikan dari matanya.

"Aku hamil."

.

.

-Bersambung-

Terpopuler

Comments

Haikal Ispandi

Haikal Ispandi

smngat sllu kutunggu

2023-10-30

1

Ria Dardiri

Ria Dardiri

💪💪💪💪💪💪💪kak

2023-10-29

1

ai_apriani

ai_apriani

love you full thor se provinsi dah
🤗❤️😘, semangat sehat thor nd jgn dibuat sad dulu y zean nd Shifa, br ketemu thor, please 🙏❤️😘

2023-10-29

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!