"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Zean. Ia merasa risih karena sejak tadi ditatap oleh Syifa.
Zean dan Syifa kini sudah berada di atas tempat tidur. Keduanya bersiap untuk menyelam ke alam mimpi. Namun, sejak selesai makan hingga saat ini, sang istri selalu saja menatapnya dengan sorot mata yang penuh akan pertanyaan. Bahkan wanita itu sengaja tidur miring menghadap ke arahnya yang tidur terlentang agar bisa meneruskan aksi menatap yang membuat pria itu semakin salah tingkah.
"Tadi kamu keren, loh! Membungkam mulut mama dan Mbak Maisya dengan aksi penyelamatanmu," puji Syifa seraya mengacungkan ibu jari kepadanya.
"Terima kasih," balas Zean dengan wajah yang sedikit merona karena malu dipuji oleh sang istri. Meskipun tetap saja wajah pria itu terlihat datar tanpa ekspresi.
"Ngomong-ngomong, kamu udah sering, yah, nolongin anak tersedak? Dari cara dan ketenanganmu tadi, kamu terlihat seperti profesional," tanya Syifa lagi.
Zean menatap langit-langit kamar, lalu berkata pelan, "Aku tidak tahu, semuanya muncul begitu saja dalam pikiranku."
"Benarkah? Apa kamu seorang tim penyelamat dulunya?" tanya Syifa penasaran akan siapa dia sebenarnya.
Zean hanya mengedikkan bahunya, lalu menjawab, "Aku tidak ingat." Dengan wajah datar dan pandangan yang masih saja enggan berpaling dari langit-langit kamar yang entah apa istimewanya.
Melihat sikap Zean yang masih kaku, Syifa memberanikan diri menarik tangan kiri pria itu, lalu menjadikan lengan kekarnya sebagai bantal. Tak cukup sampai disitu, kedua tangan mungil itu kini memegangi pipi sang suami dan mengarahkan wajah tampan yang kini semakin kaku ke arahnya.
"Kalau bicara sama istri itu, minimal dilihat mukanya, Mas. Memangnya kamu bicara sama langit-langit?" kata Syifa dengan alis yang hampir bertautan dan bibir yang sedikit mengerucut.
Zean terdiam, tubuhnya seketika seperti terkunci kala kedua netra mereka saling bertemu, lidahnya kelu dan jantungnya memompa sangat cepat. Jangankan berbicara, menelan salivanya saja terasa begitu sulit saat ini. Hanya indera penglihatannya yang bisa ia gerakkan, mengamati tiap garis wajah sang istri bak mahakarya terindah yang pernah ia lihat.
Entah berapa lama mereka saling adu pandang dalam jarak yang cukup dekat. Entah sejak kapan juga pria itu melayangkan sebuah kecupan di dahi Syifa. Rasa nyaman seolah mengalir dalam darahnya, semua kejadian buruk yang baru saja menimpanya seketika hilang entah kemana.
"Maafkan aku karena belum bisa menjadi suami yang baik untukmu, maafkan aku juga karena belum bisa menunaikan kewajibanku sebagai suami," lirihnya sambil merapatkan dahinya pada dahi Syifa.
Syifa memejamkan mata, merasakan embusan napas Zean yang begitu hangat. Tangannya terangkat kemudian memeluk sang suami. "Tidak apa-apa, Mas. Kita jalani semuanya pelan-pelan. Fokus saja pada pemulihan tangan dan kakimu dulu. Aku akan selalu berada di sampingmu," balas Syifa pelan.
Zean menjauhkan wajahnya untuk melihat lebih jelas wajah Syifa. Kamu janji, 'kan?" tanya pria itu.
"Janji apa?"
"Untuk selalu berada di sampingku? "
Syifa mengangguk sambil tersenyum. "Aku berjanji, apa pun yang terjadi, aku akan selalu berada di sampingmu."
"Termasuk jika ingatanku kembali?"
Syifa terdiam sejenak dengan raut wajah yang sulit diartikan. "Aku justru takut jika ingatanmu kembali, kamulah yang akan meninggalkanku," ucap wanita itu dengan mata yang mulai berkabut.
"Peganglah janjiku ini, walau ibu dan kakakmu selalu merendahkanku, aku tidak peduli asal kamu tetap berada di sampingku. Jadi, selama kamu tetap di sampingku, maka aku pun tak akan pernah meninggalkanmu," balasnya yakin.
"Insya Allah, aku berjanji, kecuali jika ...." Syifa menghentikan perkataannya tiba-tiba.
"Kecuali apa?"
"Kecuali jika Allah yang memisahkan kita dari dunia ini."
🦋🦋🦋
Di rumah sakit Platinum Medisentra yang berada di pusat kota, tampak seorang pria paruh baya tengah terbatuk-batuk di atas tempat tidurnya, sesekali ia memegangi dadanya yang terasa sesak dan sakit.
Memiliki keluarga, tapi seperti tak memiliki keluarga, mungkin itulah yang tengah dirasakan oleh Abdillah. Sudah beberapa bulan di rumah sakit sejak ia terkena serangan jantung, tapi tak ada satu pun keluarga yang menemaninya. Kalau pun ada yang datang, mereka hanya mampir sesaat lalu pergi layaknya orang lain.
Pada saat seperti ini, ia sangat merindukan sosok istrinya yang telah tiada dan sosok putra kesayangannya, Rafael. Namun, bak memeluk rembulan, semuanya terasa mustahil saat ini. Hati pria paruh baya itu kembali mendung tiap kali memikirkannya.
Suara ketukan pintu dari luar, membuat pria paruh baya yang sejak tadi bersandar di kepala tempat tidur segera menghapus bulir-bulir bening yang sudah memenuhi pelupuk matanya.
"Dokter Abdillah, maaf karena terlambat memenuhi panggilan Anda. Saya benar-benar kewalahan menangani operasi jantung akhir-akhir ini," ucap Dokter Raihan, pria yang kini sudah menginjak usia kepala empat.
"Tidak apa-apa, Dokter Raihan. Saya mengerti kesibukan Anda. Jika saja Rafael ada, Anda tak akan sesibuk ini," balas pria paruh baya itu sendu.
"Maaf, Dokter Abdillah, saya tidak bermaksud ...."
"Tidak apa-apa, Dokter Raihan, saya memang sejak tadi memikirkan Rafael," ucapnya menepis rasa tidak enak dari Dokter Raihan. "Oh, iya, bagaimana hasil pemeriksaanku? Kenapa aku merasa keadaanku semakin parah?" lanjut pria paruh baya itu bertanya.
Dokter Raihan terdiam sejenak, lalu mengeluarkan sebuah kertas yang berisi hasil diagnosa Abdillah.
"Begini Dok, dari hasil pemeriksaan, otot jantung Dokter Abdillah mengalami kerusakan, dan kami khawatir ...." Dokter Raihan menggantung perkataannya.
"Khawatir bisa saja semakin berkembang menjadi gagal jantung?" tebak Abdillah dan diangguki oleh pria di hadapannya.
"Bagaimana bisa? Bukankah ketika serangan jantung kemarin kalian langsung memberikan penanganan cepat?" tanya Abdillah sedikit tidak terima dengan kenyataan itu. Lebih tepatnya ia tidak ingin penyakitnya bertambah parah sementara sang anak belum kembali.
"Maaf, Dok. Ini baru sebatas perkiraan saja agar bisa segera dilakukan pencegahan dini. Keadaan jantung Anda, memang sejak awal sudah memiliki sedikit kerusakan. Keadaan itu makin parah karena serangan yang baru-baru ini terjadi. Anda jangan terlalu memikirkan itu. Kita akan berusaha sebaik mungkin untuk mengatasi kondisi jantung Anda dan mencegah kemungkinan tersebut. Bagaimana pun keadaan psikis dapat memberikan pengaruh pada kesehatan," jelas Dokter Raihan.
"Lalu, apa yang Anda rekomendasikan untuk pengobatan saya ini Dokter Raihan?"
"Kita akan mulai dari pengobatan yang sesuai dengan serangan jantung Anda. Kemudian, kita akan merencanakan perawatan jangka panjang untuk memantau dan mengelola kondisi jantung Anda."
Abdillah terdiam dengan raut wajah sendu.
"Bagaimana dengan rumah sakit? Saya khawatir tidak mampu memimpin dengan keadaan saya yang seperti ini dan pada akhirnya berdampak pada manajemen rumah sakit," ujar Abdillah menyuarakan rasa takutnya.
"Saya akan berbicara dengan staf manajemen rumah sakit untuk memastikan bahwa operasional rumah sakit tetap berjalan dengan baik selama Anda dalam perawatan. Anda juga bisa meminta bantuan Dokter Alvin untuk mengganti peran Anda sementara," balas Dokter Raihan memberi solusi membuat Abdillah terdiam.
Usai berbicara dan memeriksa kondisi Abdillah, Dokter Raihan akhirnya keluar dari ruang rawat VVIP itu. Pada waktu yang sama, Ken masuk ke dalam ruangan tersebut setelah mencari keberadaan Rafael sebagaimana perintah sang bos.
"Maaf, Tuan. Kami sudah mencarinya ke mana-mana tapi tak kunjung menemukan Tuan Muda Rafael," lapor asisten pribadi Abdillah.
Abdillah membuang napas kasar seraya mengusap wajahnya. "Buat selebaran untuk mencarinya, kalau perlu sebar sampai ke luar daerah. Aku sangat yakin jika Rafael masih hidup.
-Bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
💞Amie🍂🍃
Iklan sudah mendarat kakakkku
2023-11-25
2
💞Amie🍂🍃
masih mantau😁
2023-11-25
1
Ria Dardiri
lanjut k
2023-10-08
1