"Syifa, hentikan air matamu itu! Apa yang kau lihat dari pria seperti Zean. Ketampanan? Tubuh yang sempurna? Semua itu tidak ada artinya tanpa uang dan kekuasaan, apalagi ternyata dia adalah seorang pencuri, sangat mempermalukan nama baik keluarga." Mega berbicara dengan nada suara sedikit ditinggikan kepada Syifa yang sengaja ia kurung di dalam kamar.
"Mama seperti ini, karena Mama mau kamu memiliki masa depan yang jelas dan cerah. Bersama Zean, bukannya masa depanmu cerah, tapi justru suram. Sekarang pikirkan baik-baik, pernikahanmu ini sudah tidak layak dipertahankan. Masih banyak pria lain diluar sana yang lebih baik dari Zean, seperti Niko," tukas Mega, lalu segera pergi dari hadapan kamar Syifa.
Sementara itu di dalam kamar, Syifa hanya menangis tanpa memberikan respon dari perkataan sang ibu. Ia masih saja meratapi sang suami yang diseret ke dalam penjara pagj itu. Padahal rencana mereka untuk hidup mandiri berdua sudah di depan mata. Namun, kenyataan buruk justru menerpa rumah tangganya.
Syifa yang lelah menangis dalam keadaan tiarap kini memperbaiki posisinya. Ia duduk bersandar di kepala tempat tidur sambil menyeka air matanya yang masih saja gencar keluar. Pandangan wanita itu kini tak sengaja tertuju pada pintu menuju balkon yang terbuka lebar.
Perlahan ia beranjak dari tempat tidur dan berdiri di balkon kamar yang berada di lantai dua. Ia menatap ke bawah sejenak, dan muncullah sebuah ide dalam benaknya.
"Maaf, Ma. Bukannya aku tak ingin taat padamu, tapi aku sudah memiliki suami, dan dialah yang lebih berhak kutaati selama itu bukan dalam hal kemaksiatan. Hati kecilku mengatakan, Mas Zean tidak melalukan hal tercela seperti yang mama tuduhkan, dan sebagai istri, aku memilih percaya padanya¹," lirih Syifa seraya mengambil kain seprei dari dalam lemarinya, lalu ia sambungkan hingga memanjang.
Dengan hati-hati, Syifa turun dengan bantuan seprei yang sudah ia ikat di pagar balkon. Jantungnya berdebar menahan rasa takut akan ketinggian. Semua itu ia lakukan agar bisa bertemu dengan Zean.
Wanita itu kemudian pergi tanpa menggunakan mobilnya dan memilih menggunakan taksi agar tak ketahuan. Setibanya di kantor polisi, ia berlari kecil melewati pintu masuk dan bertanya kepada polisi yang berada di sana mengenai sang suami.
"Maaf, Bu. Baru saja tadi Pak Zean keluar. Dia dibantu keluar oleh seseorang bersama pengacaranya dan langsung pergi," jawab polisi itu.
"Apa? Siapa orang itu?" tanya Syifa bingung.
"Maaf, Bu. Saya tidak tahu."
"Apa orang itu sudah tua, rambutnya putih, dan sedikit botak di bagian depan?" tanya Syifa menyebutkan ciri-ciri ayahnya.
"Bukan, Bu."
"Terus orangnya kemana, Pak?" tanya Syifa lagi mulai panik. Terang saja, keadaan sang suami belum pulih dari amnesia dan tak mengenal banyak orang. Lalu, siapa yang membawanya? Wanita itu benar-benar gelisah saat ini.
Syifa kini semakin gelisah, bahkan ia tampak seperti orang gila yang ke sana-ke mari mencari kabar sang suami. Air matanya semakin deras mengalir ketika Gunawan yang mendapat kabar penangkapan Zean juga datang ke kantor polisi dan bertemu dengannya.
"Ayah, Mas Zean di mana? Ke mana dia? Hiks, Syifa mau ketemu sama dia, Syifa tidak ingin dia pergi." Syifa menangis tersedu-sedu dalam pelukan sang Ayah.
Seketika rasa penyesalan karena tak segera menemui Zean menghampiri wanita itu. Kepergian sang suami benar-benar membuatnya hilang arah. Bahkan pada saat yang sama, ia merasakan patah hati untuk pertama kalinya.
🦋🦋🦋
Sementara itu, saat ini Zean sedang berada di dalam sebuah mobil mewah, tepatnya di jok belakang, dan pria berjas tadi duduk di depan layaknya supir pribadi dan bosnya. Mereka sedang dalam perjalanan menuju kota di mana ia berasal.
Ya, pagi tadi, pria bernama Ken itu menjelaskan siapa dirinya dan tujuan kedatangannya kepada Zean. Ia juga mengatakan keadaan Abdillah yang semakin memburuk padanya. Merasa tidak asing dengan itu, Zean akhirnya setuju untuk ikut pergi bersama pria itu.
Lagi pula, Zean tak ingin berharap lagi pada keluarga sang istri. Rasa kecewa dan sakit hati telah membuatnya tak ingin kembali lagi ke rumah tersebut. Pria itu juga merasa sedih karena Syifa tak menemuinya hingga ia pergi. Entah karena wanita itu tidak mempercayai jika dia bukanlah pencuri, atau karena alasan lain.
Keputusan yang ia ambil kali ini sungguh berat karena berpisah dengan Syifa, wanita yang sangat ia cintai. Namun, jalan inilah yang harus ia ambil. Zean ingin mengembalikan ingatan dan mengubah hidupnya agar tak ada lagi orang yang meremehkannya di masa yang akan datang.
"Ken, bisa kau perlihatkan fotoku sebelum aku kecelakaan?" tanya Zean memecah keheningan di dalam mobil itu.
"Tentu, Tuan Muda." Ken menghentikan mobil sejenak, lalu mengambil sebuah tab dari dalam tas, kemudian memberikannya kepada anak dari bos besarnya. Pria itu sudah mengetahui bahwa Zean mengalami amnesia, oleh sebab itu ia tidak heran jika Zean ingin melihat fotonya sendiri.
Zean mulai melihat berbagai fotonya ketika mengenakan jas dokter. "Apa aku seorang dokter?" tanya pria itu.
"Iya, Tuan Muda. Anda adalah dokter spesialis bedah jantung di rumah sakit Platinum Medisentra milik ayah Anda," jelas Ken membuat Zean seketika tersedak oleh salivanya sendiri.
"Apa? Dokter bedah jantung kau bilang?" tanya Zean tidak percaya.
"Iya, Tuan muda. Anda bahkan terpilih menjadi ikon rumah sakit karena kehebatan Anda dalam melakukan bedah jantung," jawab Ken menjelaskan.
Zean tertegun mendengar perkataan Ken. Ia benar-benar tidak menyangka akan identitas dirinya yang sangat jauh di atas ekspektasi. Dahulu ia sempat mengira jika dia hanyalah seorang petugas medis yang bertugas di ambulans dalam melakukan pertolongan pertama, sehingga ia begitu lancar menangani korban dalam insiden di super market waktu itu. Ternyata, dia adalah seorang ahli bedah jantung.
Zean kembali menggeser layar di tab itu dan melihat fotonya yang begitu tampan dengan setelan tuxedo hitam dan cokelat. Sejenak ia menunduk mengamati penampilannya saat ini dan membandingkannya dengan penampilan di dalam foto tersebut.
Sangat kontras bagai langit dan bumi. Penampilannya saat ini meski rapi, tapi terlihat sangat jadul, sedangkan di foto itu, ia terlihat sangat tampan dan keren dengan gaya modern. Bagaimana tidak, ia terlanjur menyukai gaya berpakaian Hadi, sehingga meski Syifa membelikan pakaian terbaru, gayanya tetaplah terlihat kolot.
"Apa karena ini orang-orang itu menatapku dengan tatapan remeh?"
🦋🦋🦋
Suara alarm pada sistem peringatan berbunyi dari sebuah ruang VVIP, diikuti dengan suara alarm dari monitor EKG (Ekokardiogram) yang menandakan adanya perubahan irama jantung yang tidak normal, membuat para perawat dan dokter berlarian menuju ruangan tersebut.
Tampak Abdillah dengan beberapa alat yang melekat ditubuhnya sudah tidak sadarkan diri. Detektor oksigen yang melekat pada jarinya pun berbunyi karena kadar oksigen dalam darah mulai menurun di bawah ambang normal.
"Serangan jantung!" seru dokter usai memeriksa keadaan Abdillah.
Dengan cekatan, para tim medis mulai melakukan tindakan darurat, mulai dari pemberian obat-obatan untuk memulihkan sirkulasi darah melalui suntikan, kemudian melakukan CPR atau kompresi dada, dan pemeriksaan ritme jantung oleh dokter lain.
Ketika proses CPR masih dilakukan, dokter yang telah selesai memeriksa ritme jantung langsung memberikan instruksi kepada perawat untuk menyiapkan alat kejut jantung (defibrillator).
"Charge!"
"Clear!" Dokter mengintruksikan agar semua orang menjauh dari tubuh Abdillah. Begitu pun dengan alat yang menempel di tubuhnya segera dilepas.
"Shock!" Dokter mulai menempelkan dua pad tersebut ke bagian dada Abdillah. Lalu dilakukan kembali CPR sambil diamati ritme jantungnya. Namun, setelah segala upaya yang dilakukan, suara monitor EKG justru kini mengeluarkan suara datar yang cukup lama. Semua tim medis yang menyaksikan monitor EKG tersebut tampak murung dan sendu.
"Dokter Abdillah, waktu meninggal, Selasa, 20 Mei 2020, pukul 15.23."
-Bersambung-
NOTE:
¹Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata:
سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ أَعْظَمُ حَقًّا عَلَى الْمَرْأَةِ؟ قَالَ: «زَوْجُهَا» قُلْتُ: فَأَيُّ النَّاسِ أَعْظَمُ حَقًّا عَلَى الرَّجُلِ؟ قَالَ: «أُمُّهُ»
Aku bertanya kepada Nabi ﷺ siapakah orang yang paling besar haknya untuk ditunaikan oleh seorang wanita? Maka Nabi ﷺ menjawab: Suaminya. Kemudian Aisyah Radhiyallahu ‘anha kembali bertanya: lalu Siapakah orang yang paling besar haknya untuk ditunaikan seorang laki-laki? Nabi ﷺ menjawab: Ibunya. (HR. An-Nasa’i)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Neneng cinta
Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun...smg ada keajaiban saat Zean datang.. ..cuma mati suri....🤲
2023-10-15
1
Neneng cinta
karena alasan lain Zean...jgn salah faham.....
2023-10-15
2
Neneng cinta
sabar Shifa...smg ada petunjuk tentang zean....ga boleh terpuruk...semangat....💪💪💪
2023-10-15
1