Matahari pagi mulai menerangi bumi. Suara kicauan burung pun turut mengiringi hari baru yang cerah. Seorang pria tampan dengan tubuh atletisnya baru saja menyelesaikan olahraga pagi. Ia berjalan menuju kamar yang dulu menjadi tempat istirahat ayah dan ibunya.
Pria itu duduk di ujung tempat tidur, lalu mengambil foto yang terpajang di atas nakas. Kedua matanya berair memandangi wajah dua orang yang sangat ia cintai, tetapi tak lagi bisa ia temui. Dua orang yang mencintainya dengan tulus di antara keluarga lain yang begitu baik karena memiliki niat terselubung.
"Ayah, ibu, bagaimana kabar kalian di sana? Aku merindukan kalian. Maafkan aku yang tidak ada ketika ayah membutuhkanku. Maafkan aku yang tidak ada ketika ada yang berlaku jahat kepada ayah. Aku berjanji akan membongkar semuanya, termasuk hang merusaki mobilku malam itu. Aku juga berjanji akan mengambil alih kembali rumah sakit kita, ayah." Zean memeluk foto itu beberapa saat, lalu melepasnya kembali.
"Oh iya, aku punya kabar baik untuk ayah dan ibu. Sebenarnya, aku sudah menikah, namanya Syifa. Aku sangat bersyukur memiliki istri yang baik dan tulus seperti dia, tapi ..." Zean menggantung perkataannya, lalu tertunduk lesu, "tapi aku harus meninggalkannya dulu demi menyelesaikan misiku. Apakah keputusanku ini sudah benar? Aku tersiksa ayah, ibu, tapi aku kesulitan juga jika harus memilih dua sekaligus, aku takut Syifa ikut terseret dalam masalah ini."
Zean mengusap wajahnya kasar sambil menarik napas dalam. Kini hidupnya benar-benar sepi. Tinggal di rumah yang sangat besar seorang diri sungguh rasanya benar-benar tidak nyaman.
Di tengah kesedihan dan kesepian yang Zean rasakan saat ini, tiba-tiba rasa tidak nyaman yang beberapa hari ini kerap mengganggunya muncul dari dalam perut pria itu, dan kali ini semakin parah. Seolah ada gejolak yang ingin memaksa untuk menumpahkan seluruh isinya.
"Huek." Zean segera berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan apa yang sejak tadi mengganggu kenyamanan perutnya. Entah berapa kali ia bolak-balik kamar mandi, kini tubuh pria itu bergetar dan lemas. Wajahnya pun pucat bagai orang yang tak pernah makan selama beberapa hari.
"Apa yang terjadi padaku? Kenapa rasanya benar-benar tidak nyaman?" lirih pria itu seraya memaksa kaki melangkah keluar dari kamar kedua orang tuanya.
Zean berjalan menuju kamarnya sambil berpegangan pada dinding. Rupanya, sejak tadi ponsel pria itu berdering dengan nama rumah sakit tertera di layar ponselnya. Menyadari jika itu adalah panggilan penting, pria itu segera mengangkatnya.
"Halo."
"Halo dokter Rafael, subuh tadi rumah sakit kedatangan pasien rujukan dari rumah sakit Yapina di Kota Baru. Pasien mengalami serangan jantung dan hasil pemeriksaan menunjukkan adanya penyumbatan pembuluh darah arteri. Dibutuhkan tindakan segera untuk membuka sumbatan itu demi keselamatan pasien karena obat saja sudah tak mampu menanganinya. Dokter Veni juga ingin meminta saran Anda."
Yapina? Bukankah itu rumah sakit tempat Syifa dan Ayah Gunawan bekerja?
"Baik, saya akan ke rumah sakit sekarang!"
Zean mengakhiri panggilannya, lalu segera membersihkan diri dan bersiap pergi ke rumah sakit. Pria itu tak memiliki pilihan lain lagi saat ini, kecuali mengesampingkan keadaannya yang tidak baik-baik saja.
Awalnya pria itu ingin sarapan terlebih dulu, tetapi ketika melihat makanan di meja, perutnya seketika ingin kembali mengeluarkan isinya. Mau tidak mau, ia hanya bisa meminum air putih saja dan langsung pergi.
Dengan ditemani Ken yang sengaja Zean hubungi untuk menemaninya, mobil pun melaju ke rumah sakit Platinum Medisentra. Sepanjang perjalanan, Zean hanya bisa memejamkan mata tanpa berbicara. Rupanya hal itu memancing perhatian Ken yang sejak tadi fokus menyetir.
"Maaf, Tuan muda. Apa Anda baik-baik saja?"
"Sepertinya tidak," jawab Zean singkat.
"Apa sebaiknya kita kembali ke rumah? Sepertinya Anda harus istirahat, Tuan muda," ujar Ken, tetapi di tanggapi Zean dengan tangannya yang memberi kode 'tidak'.
"Kita tetap ke rumah sakit, ada pasien yang menanti kedatanganku," ucap Zean dengan suara lemah.
🦋🦋🦋
Syifa tampak sedang mondar-mandir menanti hasil pemeriksaan sang ayah di ruang UGD. Tepat setelah Gunawan jatuh pingsan kemarin pagi, ia langsung membawanya ke rumah sakit terdekat.
Akan tetapi, karena keadaan sang ayah yang tak kunjung membaik setelah pemberian obat, ditambah peralatan medis yang tidak memadai, akhirnya Gunawan harus di rujuk ke rumah sakit kota pusat malam harinya. Kali ini Mega dan Maisya tak bisa ikut karena masalah utang tersebut, sehingga Syifa-lah yang pergi menemaninya.
Suara aneh yang berasal dari perut Syifa mulai mengganggu indera pendengarannya. Ia mengingat pagi kemarin adalah waktu di mana ia terakhir kali makan. Setelah itu, ia tak lagi sempat memikirkan perutnya yang kosong karena mengkhawatirkan sang ayah.
"Apa aku cari makan dulu, yah? tapi bagaimana kalau tiba-tiba dokter mencariku?" Syifa menggigit bibirnya karena gelisah. "Tapi bagaimana kalau aku malah pingsan di sini?" lanjutnya bertanya pada diri sendiri.
Pikiran Syifa benar-benar kalut saat ini, tetapi sepertinya ia memang harus makan. Bagaimana bisa ia menjaga sang ayah jika pada akhirnya dirinyalah yang jatuh sakit?
Akhirnya, setelah menimbang-nimbang, Syifa segera pergi ke penjual makanan terdekat. Wanita itu membeli roti dan air minum, dan beberapa makanan lain yang bisa mengganjal perutnya selama menunggu.
Syifa berjalan cepat menuju UGD sambil menenteng kantong plastik berisi makanan yang tadi ia beli. Namun, langkah kaki wanita itu tiba-tiba terhenti ketika dari jauh ia melihat seorang pria yang sangat mirip dengan Zean memasuki sebuah ruangan lengkap dengan jas dokternya.
"Apa itu Mas Zean?" Syifa semakin mempercepat langkah kakinya untuk memastikan siapa pria itu, tetapi pintu ruangan sudah tertutup ketika ia sudah tiba.
"Sepertinya aku terlalu banyak pikiran hingga berhalusinasi."
🦋🦋🦋
"Dokter Rafael, saya ingin meminta pendapat Anda terkait penanganan yang sebaiknya diberikan kepada pasien ini," tanya Veni yang saat ini sedang bersama rekannya ketika melihat kedatangan Zean sambil memperlihatkan hasil angiogram koroner.
Di sana terlihat pembuluh darah arteri yang tersumbat oleh plak hingga mengganggu aliran darah ke jantung.
"Pasien juga sempat mengalami serangan jantung, dan di rumah sakit sebelumnya telah memberikan obat golongan statin dan nitrat," kata Veni menjelaskan.
Zean masih mengamati hasil angiogram di hadapannya. "Hanya arteri bagian ini yang tersumbat, 'kan?" tanya pria itu menunjuk gambar arteri yang memang terlihat memiliki plak di sekitarnya.
"Iya, Dok."
"Kapan terakhir kali pasien mengonsumsi obat, makan, dan minum?"
"Kalau obat sekitar 15 jam lalu, makan sekitar 10 jam lalu, itu pun sedikit, dan minum 6 jam lalu."
"Sebaiknya lakukan dulu angioplasti koroner, melihat usia pasien yang belum terlalu tua dan keadaan arteri yang tersumbat, angioplasti lebih cocok dan lebih minim risiko untuk dilakukan."
Ya, meskipun Zean bukanlah kardiolog, tetapi ketika sedang berunding mengenai keadaan jantung dan penanganannya, Veni dan ahli jantung lainnya akan selalu meminta pendapat pria itu sebagai dokter yang ahli dalam segala hal terutama terkait jantung.
"Oke, baiklah, Dok. Kami juga setuju dengan saran Anda," ujar Veni.
"Berhubung tindakan ini merupakan tindakan non-bedah, maka saya serahkan kepada kalian. Saya juga merasa kurang fit akhir-akhir ini," balas Zean lalu bersiap keluar ruangan.
"Istirahatlah, Dokter Rafael, kami akan menangani pasien ini. Semoga lekas pulih," ujar Kevin, rekan dokter Veni selaku Dokter Spesialis Intervensi Koroner atau Dokter Keteterisasi Jantung yang tadinya hendak membantu Zean, tetapi langsung ditolak pria itu.
Kini Zean berjalan menuju ruangannya dengan sedikit sempoyongan. Rasa mual dan ingin muntah benar-benar membuatnya merasa tidak nyaman.
"Kenapa aku merasa gejalaku ini seperti dispepsia, yah? Sebaiknya aku memeriksanya langsung." Zean memutar jalan dan beralih ke ruang temannya yang merupakan Dokter Spesialis Gastroenterologi.
"Dokter Vano, tolong periksa keadaanku," pinta Zean begitu tiba di ruangan milik Vano.
"Halo Dokter Rafael, ternyata kau masih mengenal namaku. Ada apa denganmu? Apa lambungmu bermasalah?" tanya Vano
"Tentu saja aku mengetahui namamu, itu jelas tertulis di depan ruangan ini," jawab Zean tak jujur dengan wajah datarnya. "Sejak beberapa hari lalu, setiap pagi aku sering mual, sebelumnya aku bisa menahannya, tapi hari ini rasanya aku semakin tidak kuat. Lihat makanan saja selera makanku hilang," lanjutnya menjelaskan.
"Hah, kukira aku pengecualian dari amnesiamu," ujar Vano seraya membuang napas kasar. "Naiklah ke sini, aku akan memeriksamu, aku merasa gejalamu itu seperti wanita hamil," sambung Vano sambil meminta Zean untuk naik ke tempat tidur yang ada di ruangannya.
Vano mulai memeriksa Zean menggunakan USG pada bagian perut setelah diolesi gel. "Lambungmu baik-baik saja, organ sekitarnya juga baik." Pria itu menyimpan tranducer yang baru saja ia gunakan lalu duduk menatap Zean.
"Apa kau sudah menikah?" selidik Vano.
"Kenapa kau menanyakan itu?" tanya balik Zean sambil melihat ke segala arah.
"Ya, habisnya, kau bukan pria pertama yang datang padaku dengan gejala seperti itu dan setelah di periksa semuanya baik-baik saja. Kau tahu apa masalahnya?" Zean hanya mengedikkan bahunya merespon pertanyaan Vano.
"Setelah ditelusuri, ternyata mereka mengalami sindrom couvade. Istri hamil, dia yang morning sickness."
...
Zean berjalan keluar dari ruangan temannya dengan dahi berkerut. Berbagai ingatan mengenai sang istri memenuhi pikiran pria itu. Rasa penasaran akan perkataan Vano membuatnya ingin bertemu Syifa saat itu juga. Tekad untuk fokus menyelidiki kejanggalan atas kepergian sang ayah dan kerusakan mobilnya waktu itu pun seketika buyar.
Bruk
Zean segera mengangkat wajahnya ketika mendengar suara benda jatuh di hadapannya. Jantung pria itu seketika terasa berhenti berdetak ketika di hadapannya berdiri sosok wanita yang sejak tadi memenuhi pikirannya.
-Bersambung-
NOTE: Dispepsia adalah istilah medis untuk penyakit maag. Penyakit yang pernah dirasakan oleh sebagian besar orang Indonesia, termasuk othor 😅😅
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Danny Muliawati
alhamdulillah ktm dg syifa smga yg terbaik yah thor utk truz ktm
2023-11-25
1
Eva Karmila Ajjah
akhirnya yg d tunggu tunggu....selalu bikin penasaran karyamu😍
2023-10-22
1
Neneng cinta
next......maunya double up ka....😍😍😍
2023-10-22
1