Keesokan harinya, Nick yang baru selesai membereskan pekerjaannya langsung meraih jas yang ia simpan di tempat khusus menggantung Jas. Belum beres Nick mengenakan jas, ia mendengar suara pintu ruangan yang terbuka dan menampilkan Chloe yang baru saja masuk dengan sebuah map di tangannya.
Langkah Chloe yang hampir mendekati meja Nick dengan perlahan terhenti, ia melirik jam dinding dengan cepat lalu kembali menatap Nick. "Kau sudah akan pulang sekarang Sir?" tanya Chloe yang tampak bingung karena biasanya Nick selalu pulang diatas jam 5, namun sekarang, jarum jam baru menunjukkan pukul 4 sore bahkan kurang beberapa menit.
Nick yang mengerti dengan kebingungan Chloe hanya mengangguk pelan, ia merapikan jasnya terlebih dahulu lalu menoleh pada sekertaris ya. "Aku akan pergi bersama John, jika Daddy menanyakan aku katakan saja aku sudah izin pulang cepat untuk kumpul bersama teman lama, jangan menyebut nama John sedikitpun, dia sangat sensitif dan pastinya akan menghubungi ku terus," jelas Nick yang langsung dijawab anggukan oleh Chloe. "Oh, dan apa itu yang kau bawa?" tanya Nick sambil menunjuk sebuah map yang ada ditangan Chloe.
"Ini satu lagi berkas yang harus kau tandatangani, Sir." Chloe berjalan menuju meja Nick dan membuka map itu terlebih dahulu sebelum menyimpannya di atas meja.
"Kau sudah membacanya dengan teliti?" tanya Nick yang kembali duduk dan melihat sekilas kata-kata yang ada di kertas tersebut.
Lagi-lagi Chloe menganggukkan kepalanya, ia memberikan pulpen khusus Nick yang selalu ia bawa ditangannya jika membawa berkas untuk ditandatangani, selama ia menjadi sekertaris Nick ia selalu mengamati jika Nick selalu berekspresi malas jika sudah mencari pulpennya yang terkadang menghilang di atas meja, bukan hilang sebenarnya, hanya saja Nick selalu menaruh sembarangan pulpen yang memiliki harga tidak normal itu. "Sudah Sir, ini laporan mengenai promo Minggu kemarin, tidak ada kendala dan rating beberapa hotel mulai meningkat," jelas Chloe.
Nick membaca sekilas laporan tersebut, lalu tanpa menunggu lama ia pun segera menandatangani laporan tersebut dan Chloe dengan cepat menutup kembali map. "Bisa kau kirimkan aku soft filenya?" tanya Nick.
"Tentu saja." Chloe menatap Nick lalu tiba-tiba tersenyum samar. "Oh ya Sir, selamat untuk pertunanganmu, Tuan Besar sudah mengumumkan pada semuanya jika kau akan menikah sebentar lagi," ujar Chloe yang terdengar semakin pelan.
Nick mengerutkan keningnya samar, lalu ia berdecak pelan. "Kapan Daddy ku mengumumkan itu?" tanya Nick dengan cepat.
"Kemarin." Chloe sebenarnya memiliki sikap yang ceria, hal itu juga yang membuat Chloe bisa bertahan bekerja disini, sikap Nick sebenarnya baik namun yang menyebalkan adalah sikap seenaknya yang terkadang membuat pusing semua karyawan.
Nick menghembuskan nafasnya pelan, ia kembali berdiri dari duduk dan bersiap untuk pergi. "Huh, mulutnya memang seperti wanita. Kalau begitu aku pergi sekarang, kirim saja pesan jika ada sesuatu dan ingat jangan menelepon," pesan Nick lalu berjalan keluar dari dalam ruangannya, ia merogoh saku celana dan melihat kunci mobil yang kini ada ditangannya. "Apa John membawa Jema?" gumam Nick pelan. Padahal baru beberapa hari tidak bertemu wanita itu, namun Nick rasanya ingin cepat kembali bertemu karena ia tak memiliki satupun foto untuk melihat wajah Jema kembali, wajah yang tak akan pernah membosankan menurutnya. Nick menggelengkan kepalanya pelan, apa hanya ia yang merasakan hal ini? apakah Jema juga merasakan hal yang sama? Atau justru Jema kini sedang merasa sedih karena akan berpisah dengan kekasihnya?
***
Sementara di dalam mobil, John meminta supirnya untuk mengemudikan mobil dengan cepat, ia ingin segera sampai di pelabuhan dan memulai rencana gilanya. Ada kalanya John berharap jika Nick berbeda jauh dengan rumor yang beredar tentang dirinya, karena jika dilihat, Nick sepertinya seorang pria yang jauh dari sikap kasar dan licik. Namun, siapa yang bisa menebak seseorang? semoga saja penilaiannya tidak salah.
Di tengah perjalanan, John merasa ponselnya bergetar dan sebuah pesan masuk mulai terlihat, Nick mengatakan jika sebentar lagi ia akan tiba di pelabuhan yang sudah John tetapkan sebagai titik kumpul. Lalu tak berapa lama, sebuah panggilan masuk dari orang yang berbeda muncul, senyum John sedikit terlihat ketika membaca nama dari panggilan masuk tersebut. "Halo anakku, bagaimana pekerjaan mu disana?" tanya John yang kini sudah bersandar dengan santai di kursi mobil, anak laki-lakinya memang selalu datang di waktu yang tetap untuk menghilangkan kepeningan John.
Terdengar helaan nafas yang cukup panjang di sebrang sana, pasti sangat lelah dengan tanggung jawab yang sedang ia pikul sekarang. "Pekerjaan ku lumayan padat Dad, bagaimana kabar Jeslyn? aku tidak sempat menghubunginya 2 hari ini, tapi tadi aku mencoba untuk menghubungi, sepertinya ponsel Jeslyn tidak aktif. Aku sedikit mengkhawatirkannya."
John terkekeh pelan mendengar hal itu, selalu saja Robert merasa cemas jika Jeslyn sulit dihubungi. Padahal, Jeslyn akan selalu aman di dalam rumah dengan beberapa penjaga yang cukup ketat. "Mungkin dia sedang tidur," jawab John. "Um, apa adikmu menceritakan sesuatu tantang dirumah?" tanya John sedikit penasaran apakah Jeslyn menceritakan masalah dirinya yang menggantikan Jema untuk makan malam saat itu atau tidak. John juga sebenarnya sedikit bingung harus menjelaskan apa pada Robert tentang rencananya yang akan menikahkan Jeslyn dengan Nick dalam waktu yang cukup dekat ini. Belum saatnya Nick memberitahu siapapun tentang hal ini, ia ingin memastikan terlebih dahulu apakah semuanya berjalan dengan lancar atau tidak.
Pertanyaan John rupanya menimbulkan beberapa pertanyaan di kepala Robert. "Tidak, apakah ada sesuatu Dad? Apa Jeslyn menyembunyikan sesuatu dan memintamu untuk merahasiakan nya padaku?" tanya Robert yang tampaknya mulai sedikit cemas. Ia sangat tahu bagaimana sikap adiknya, ia tak ingin membuat orang lain khawatir dan lebih memilih untuk menyimpannya seorang diri.
John menggelengkan kepalanya pelan, ia tidak ingin membuat Robert lebih cemas lagi. "Um tidak, hanya saja dia masih selalu mengurung diri jika aku tidak bekerja dan seharian dirumah," jawab John pada akhirnya. Mengalihkan pembicaraan mereka tentang rahasia dan hal menyembunyikan yang sebenarnya memang ada.
"Sabar Dad, Jeslyn memang sedikit sulit terbuka, tapi aku akan terus mengingatkan dia untuk tidak perlu takut padamu. Teruslah berusaha mendekatinya, aku yakin lambat laut Jeslyn akan bertingkah seperti anak kecil jika sudah dekat," kekeh Robert yang sepertinya sudah lepas dari segala rasa khawatir yang awalnya muncul memenuhi kepalanya.
John pun tertawa kecil mendengar itu. "Baiklah, terimakasih kalau begitu. Jika kau ingin mengambil cuti katakan saja pada Bella, biar dia yang mengurus tiket penerbangan mu kemari."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
Aditya HP/bunda lia
apa si Rachel yang membunuh mamanya Jeslyn?
2023-10-03
1