Jema

Disebuah tempat yang tak banyak diketahui banyak orang, Jema membuka masker dan topi hitam yang ia kenakan lalu melemparkannya ke atas sofa yang berada di Apartemen baru milik Jacob. Bangunan apartemen ini terbilang cukup kecil, hanya memiliki 4 lantai dan 2 kamar disetiap lantainya. Robert memang sengaja memilih Apartemen seperti ini agar tidak terlalu banyak orang yang bisa melihat Jema, untungnya kamar yang kosong pun ada di lantai 1 membuat Jema merasa semakin aman tanpa takut ada orang yang melihatnya.

Jema menghembuskan nafasnya pelan, dua hari di dalam Apartemen membuatnya bosan ternyata, namun saat ia akan mencari udara segar dengan mencari minimarket diluar lingkungan Apartemen, ia melihat beberapa pengawal John sedang mencarinya dan untung saja Jema yang terlebih dahulu mengenali mereka. Tidak enak berada di posisi seperti ini, tidak bebas dan merasa seperti buronan yang kabur dari dalam penjara. "Sampai kapan aku akan menjadi buronan seperti ini!" gerutu Jema kesal.

Ia berjalan menuju sofa lainnya dan mencoba untuk duduk dengan nyaman, ia mengeluarkan ponsel milik Jacob yang jarang dipakai karena jika Jema ceroboh menyalakan ponsel miliknya ia pasti akan segera menemukan para pengawal menyebalkan itu berada di depan pintu Apartemen. Mereka semua begitu cepat, namun sayangnya Jema bisa lebih cepat.

Jema membuka sosial media miliknya yang tentu saja memakai nama samaran dan tak ada satupun postingan foto dirinya melainkan beberapa barang mewah yang baru ia beli, keluarganya tak ada yang mengetahui tentang akun sosial medianya itu, hanya Jacob dan beberapa teman dekatnya saja. Beberapa detik kemudian, jemari Jema tampak seperti ingin mengetik, ia mencari sebuah nama yang sebenarnya membuat Jema penasaran sedari awal. Saat sudah menemukan akun yang ia cari, Jema mengangguk pelan dan menekan salah satu foto yang ada di akun tersebut. "Jadi ini Nick yang akan dijodohkan denganku?" gumam Jema saat menatap sebuah foto yang menampilkan pria tampan dengan tubuh profesional yang membuat siapapun langsung jatuh cinta. Namun sayang, Jema sudah mengetahui reputasi pria itu, ia selalu mengganti banyak wanita dalam setiap bulannya. Entah apa yang John pikirkan hingga memilih pria seperti itu untuk dijadikan calon suaminya, reputasi di kantor tidak sehebat yang Jema bayangkan saat mendapatkan informasi dari orang bayarannya, hanya ada sebuah gosip miring tentang hobinya yang bermain wanita.

Apa dengan semudah itu John tertipu oleh pria bernama Nick itu? Atau ada hal lain yang sedang John rencanakan pada Jema? Namun apapun itu, Jema sudah tidak tertarik pada harta kekayaan, tidak peduli jika ia dihapus dari daftar ahli waris. Sudah cukup tekanan yang sudah ia rasakan sedari dulu, mungkin sekarang sudah saatnya Jeslyn yang merasakan tekanan tersebut. Sudut bibir Jema terangkat dengan sinis. "Ah pastinya anak kesayangan itu akan mendapatkan calon suami terbaik pilihan Daddy," gumam Jema yang selalu merasa iri pada sika John yang berbeda, padahal Jema hanyalah anak dari simpanannya yang dengan beruntung diterima masuk untuk menumpang tinggal di dalam rumah. Memang lebih merasa adil tinggal bersama Jacob, ia merasa di cintai dan di perhatikan, hanya ada kebahagiaan yang Jema rasakan.

Walaupun Jema sering merasa bosan pada Jacob dan bermain kecil dengan beberapa pria baru, namun ia tetap mencintai Jacob, ia tetap bersama pria itu. Untuk urusan pernikahan tetap saja Jema ingin yang terbaik untuk dirinya, ia ingin bersama Jacob dan membesarkan anak-anak mereka dengan baik nantinya, bukan bersama pria yang hanya bisa berbisnis dan bermain wanita, sama saja ia terperangkap dengan seseorang yang seperti John, sungguh membosankan mengulang kisah dengan alur yang sama. Mungkin Jema akan seperti Rachel yang selalu kena amukan disaat John marah, tak pernah sedikit pun di bela dan diam-diam melihat suaminya masih menyimpan foto wanita lain yang tak lain adalah simpanannya diluar.

Decakan kecil keluar dari mulut Jema, ia sedang tak ingin membuat kesal dirinya hanya sedang mengingat betapa kacaunya keluarga Jema saat ini. Lebih baik ia memikirkan hal menyenangkan dan membuat dirinya merasa lebih baik. "Aku jadi penasaran bagaimana acara makan malam semalam, apakah gagal?" gumam Jema pelan, seketika ia terkekeh pelan, ia membayangkan bagaimana marahnya John selama ia pergi, apakah ada gelas yang dilempar? Atau bahkan lebih dari itu. Siapa yang suruh untuk terlalu mengekangnya begitu berlebihan, John kini merasakan Boomerang nya sendiri bukan?

Sebenarnya, semua kenakalan Jema saat ini adalah perbuatan John sendiri, sedari kecil Jema selalu mencari perhatian John agar bisa mendapatkan kasih sayang seorang ayah, namun John justru malah sering menghukumnya dan lebih menyayangi anak haram yang ia bawa dari wanita lain itu. Jema menyimpan ponselnya di atas sofa, ia merentangkan tangannya dan bersandar dengan santai di sandaran sofa. "Ah lebih baik hidup seperti ini dari pada harus hidup dengan penuh peraturan gila itu," desis Jema tampak lega. Karena sudah kembali muak pada keluarganya sendiri, ia memasukkan kembali ponsel ke dalam saku dan mulai mencari kesibukan lain yang bisa ia lakukan di Apartemen kosong ini. "Apa aku akan mulai berbelanja beberapa perabotan rumah?" gumam Jema pelan. Pikirannya berputar mencari cara bagaimana ia bisa aman saat keluar nanti.

Jema tahu mungkin ketenangannya hanya akan berlangsung beberapa Minggu saja, atau mungkin beberapa hari. Para pengawal John pasti akan menemukannya karena tekanan yang diberikan oleh Rachel dan John, namun Jema setidaknya bisa sedikit senang karena perjodohan gila itu sudah batal dan semoga saja John tidak berpikir untuk kembali menjodohkannya dengan pria asing lainnya. Tidak, sampai kapanpun tidak, ia hanya akan menikah dengan pria yang ia sayangi dan ia sudah tidak perduli pada Ibunya yang gila harta itu, Rachel pun sama halnya seperti John, membuat Jema merasa begitu muak lama kelamaan. Jema selalu merasa jika Rachel tak menganggap Jema seperti anaknya sendiri melainkan boneka yang sepertinya bisa ia mainkan sesuka hati, memintanya seperti apa yang diinginkan oleh Rachel untuk menjadi anak putrinya yang penurut dan membosankan.

Mungkin bagi sebagian orang sangat menyenangkan dilahirkan di keluarga dengan sendok emas di mulutnya, mereka tak mengerti dengan rasanya kesepian. Sebenernya yang Jema inginkan adalah hal yang sederhana, ia ingin mendapatkan kasih sayang yang tulus tanpa harus merasa iri dengan orang lain. Ia ingin merasakan dukungan untuk hal yang ia senangi, bukan paksaan dengan hal yang harus ia lakukan padahal itu bukan keinginannya sendiri. Bukan harta yang melimpah, tapi kehangatan dari kedua orangtua yang rasanya tak pernah ia dapatkan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!