Rasa Penasarannya Tinggi

Selama perjalanan menyusuri lorong panjang menuju ruang perpustakaan, tak ada percakapan yang mereka lakukan lagi, hanya terdengar suara ketukan ringan dari sepatu mereka yang menginjak lantai. Nick belum pernah gugup seperti ini pada seseorang, rasanya ada perasaan segan dalam diri Nick untuk bersikap sok akrab seperti biasanya dalam mendekati seorang wanita. Jema terasa terlalu jauh untuk di dekati, ia seakan menjaga jarak dan tidak ada tatapan tertarik sedikit pun pada Nick. "Ekhem." Nick terbatuk kecil untuk melegakan tenggorokannya yang terasa sedikit gatal ingin berbincang, pembicaraan mereka tentang buku tadi hanya sebentar, membuat Nick berpikir jika Jema tidak terlalu tertarik pada buku. "Apa kita bisa tempat lain selain perpustakaan?" tanya Nick pelan agar topik pembicaraan mereka lebih banyak di tempat lain.

Jeslyn seketika menghentikan langkahnya dan membuat Nick secara spontan ikut berhenti melihat reaksi Jeslyn yang menatapnya tampak seperti panik. "Apa kau tidak tertarik pada perpustakaan? Disini ada ruang musik, namun hanya ada piano dan biola yang sering aku gunakan, atau kau ingin menuju kolam renang, tetapi tidak ada yang terlalu menarik di sana," jelas Jeslyn dengan cepat. Lagi-lagi ia ingat jika Rachel sudah menegaskan jika ia harus bisa bersikap sebaik mungkin, jangan sampai membuat calon suami Jema menjadi bosan atau lebih parahnya merasa tak cocok dengan sosok Jema yang sedang ia gantikan sekarang.

Wajah Nick langsung sedikit ceria melihat reaksi Jema yang seperti tak mengabaikan Nick begitu saja, sedikit kepercayaan diri Nick pun kembali muncul seperti biasanya saat mendekati seorang wanita. "Ruang musik sepertinya menyenangkan, kau bisa memainkan piano?" tanya Nick.

Jeslyn pun menganggukkan kepalanya ragu, ia mulai menyadari jika ini adalah kesalahan yang bisa saja menjadi bencana baginya nanti. Jema mengambil sekolah musik dan memohon pada Rachel untuk membuatkan ruangan musik untuknya belajar, namun ruangan itu hanya terpakai 1 bulan disaat Jema sudah merasa bosan karena tak ada perkembangan yang ia miliki, ia lebih memilih untuk memiliki fokus pada suaranya dan melatih vokalnya. Pertanyaannya adalah, bagaimana jika sekarang Jeslyn menunjukkan kemampuannya memainkan Piano namun suatu saat nanti Jema yang asli tidak bisa melakukan hal yang sama? Bukankah akan membuat Nick merasa curiga? "Tapi kemampuan ku dalam bermain piano tidak terlalu baik," jawab Jeslyn.

"Tidak masalah, aku akan mengajarkan mu," balas Nick dengan senyuman yang mulai mengembang sempurna.

Terlihat sorot mata Jeslyn tampak langsung berbinar dan menandakan juga jika Jeslyn cukup menarik mendengar ucapan Nick. "Kau bisa memainkan piano?"

"Tentu saja, itu adalah kesenangan ibuku," jawab Nick.

"Pasti ibumu yang mengajarkan mu," tebak Jeslyn yang menjadi ingat pada kenangan masa kecilnya dulu, dimana ibunya selalu mengajarkan Jeslyn alat musik tersebut.

Nick menggelengkan kepalanya, ia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto usang yang masih berlatarkan hitam putih. "Ini foto ibuku saat ia masih muda, bahkan saat Mommy belum menikah dengan Daddy." Terdengar helaan nafas dari tubuh Nick yang membuat Jeslyn melirik pelan wajah tampan yang sempurna itu. "Sayangnya semenjak aku lahir aku tidak pernah bertemu dengannya, Daddy menceritakan beberapa lagu yang sering ia dengar ketika Mommy memainkan piano, jadi semenjak itu aku mulai belajar memainkannya dan sedikit rinduku mulai berkurang."

"Ah maaf, aku kira—"

"Kau tidak perlu meminta maaf, Mommy Juliet adalah ibu sambung paling baik menurutku, dia sangat menyayangi aku layaknya anak dia sendiri." Nick mulai melihat beberapa pelayan yang melintas sambil menundukkan kepalanya, ia pikir berbincang di lorong tidak terlalu bagus untuk mendekati Jema. "Um, kau bisa menunjukkan ruang musiknya?" tanya Nick yang langsung di angguki Jeslyn dengan cepat.

**

Seorang pelayan membukakan pintu cukup besar yang ada di hadapan mereka, ia melirik ke arah Jema yang tampak menunduk pelan pada pelayan tersebut sambil mengucapkan terima kasih. Apakah informasi yang di dapatkan Brian salah? Jema sama sekali tak memiliki sikap seperti yang Brian jelaskan, ia sopan, lemah lembut dan pendiam. "Oh, ada Gramofon juga?" tanya Nick saat mereka mulai masuk ke dalam ruangan.

"Itu Gramofon tua kesayangan Daddy yang baru 2 tahun ini dipindahkan, aku tidak terlalu tertarik karena tak bisa berdansa," ujar Jeslyn sambil menyentuh Gramofon tersebut. Ia masih ingat saat Jema membuang ruangan musik ini untuknya, saat Rachel marah karena Jema tak lagi memakai ruangan musik untuk belajar piano dan biola. 'Ruangan itu berikan saja pada Jeslyn, dengan begitu Daddy tidak akan marah Mom. Aku ingin berlatih suara saja, aku mohon tanda tangani surat itu.' rengekan Jema masih ia ingat dan membuat Jeslyn sangat senang karena tidak akan terlalu bosan berada di rumah ini. Namun jika dipikirkan lagi ruangan ini hanyalah buangan dari rasa bosan Jema, sungguh menyedihkan.

"Mau aku ajarkan?" tawar Nick dengan tiba-tiba.

Dengan spontan Jeslyn menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku sudah pernah belajar namun malah menginjak kaki orang yang melatihku," jawab Jeslyn dengan cepat. Orang itu adalah Robert, kakaknya sendiri yang sampai lelah mengajarkan Jeslyn padahal Robert sudah sangat sabar ketika meluangkan waktunya untuk berlibur dari pekerjaannya di Mexico. Mengingat Robert, membuat Jeslyn berpikir apakah kakaknya sudah memiliki kekasih? Apa suatu saat nanti Robert akan menikah dan melupakan Jeslyn? Tidak, ia tidak boleh memikirkan hal seperti itu, Robert berhak menikah dan memiliki keluarga kecilnya sendiri, akan ada bagiannya sendiri di mana John akan menjodohkan dirinya seperti Jema hari ini.

Nick pun hanya bisa menganggukkan kepalanya, ia tak mungkin memaksa jika wanita itu sudah mengatakan tidak, ia tidak ingin di cap sebagai pria yang selalu memaksa seseorang, apalagi raut wajah Jema yang tampak murung setelah menolak ajakan Nick. Pandangan Nick tertuju pada bulu mata lentik dan membuat diri Nick tak bisa menahan rasa penasarannya lagi. "Jema," panggil Nick pelan membuat Jeslyn pun langsung menoleh dan menelan saliva nya kuat ketika wajah Nick tiba-tiba saja mendekat dan membuat Jeslyn pun seketika memundurkan wajahnya. "Sebenarnya aku tidak keberatan dengan wajahmu yang sedang iritasi, aku penasaran dengan wajah cantik mu, bolehkah kau membukanya?" tanya Nick dengan lembut.

Bola mata Jeslyn seketika membulat, ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Maaf tapi aku benar-benar tak bisa, iritasi ku sangat parah, aku tidak ingin kau melihat ku dalam keadaan seperti ini, saat pertemuan kita yang kedua nanti aku berjanji akan memperlihatkan wajahku," ucap Jeslyn dengan panik, ia benar-benar tidak ingin mengacaukan acara pernikahan Jema, ditambah lagi pria di hadapannya terlalu memikat dan Jeslyn tidak boleh sampai tergoda oleh calon suami Jema.

**

Terpopuler

Comments

Aditya HP/bunda lia

Aditya HP/bunda lia

Nick kamu curangi ajah pura2 jatuh atau apalah trus tanpa sengaja ceritanya kamu tarik tuh penutup wajahnya ... 😂😂

2023-09-28

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!