Baru saja 2 hari berlalu dengan cukup tenang tanpa adanya kegaduhan, Jeslyn kembali harus dikagetkan oleh suara pecahan gelas yang membuatnya begitu terkejut. Lagi-lagi luapan penuh emosi kembali terdengar. "Apa kalian semua benar-benar bodoh!" teriakan Rachel membuat Jeslyn yang baru saja akan turun ke lantai dasar langsung terdiam di tempat, ia sepertinya akan mengurungkan niatnya untuk ke taman belakang sekarang. "Aku beri waktu 1 Minggu untuk menemukan Jema sebelum hari pertemuan dengan keluarga Marteen, jika belum menemukannya juga aku akan memecat kalian semua!" Lanjut Rachel tak sudah tak bisa mengendalikan emosinya.
Lagi-lagi Jeslyn harus menarik nafasnya panjang, semua ini masih tentang hal yang sama, Jema. Sampai hari ini Jema belum ditemukan bahkan kabarnya Jema tak bisa dilacak sama sekali, tak ada titik terang, kekasihnya pun tak tahu dimana Jema berada, sudah beberapa hari mereka mengikuti Jacob tak ada sedikitpun gerak gerik yang aneh dan mencurigakan, karena memang Jacob hanya terlihat seorang diri di dalam apartemen mewahnya. Semua itu Jeslyn tahu tadi beberapa pengawal yang sedang memberikan laporan setiap harinya pada Rachel.
Jeslyn sendiri tak tahu harus berbuat apa, setiap hari ia selalu mendengar kecemasan Rachel yang mencari anaknya namun masih cukup tenang tidak separah hari ini. Pikiran Jeslyn tertuju pada sebuah pertanyaan yang ada di dalam kepalanya. Bagaimana jika Jema belum juga ditemukan sampai Minggu depan? apakah Daddy akan mengatakan hal yang sejujurnya pada keluarga Nick dan membatalkan semuanya? sungguh disayangkan jika hal itu sampai terjadi, Nick adalah pria yang sempurna menurut Jeslyn, begitu sempurna sampai-sampai Jeslyn tak bisa melupakan setiap memori yang tercipta pada makan malam itu, Jeslyn yakin Jema jika sudah bertemu dengan Nick pun pasti akan luluh sepertinya saat ini. Namun entahlah, Jeslyn belum pernah berpacaran dengan siapapun, ia tidak yakin hatinya sudah terisi oleh seseorang apakah masih bisa menerima orang baru dihatinya?
Baru saja Jeslyn akan kembali masuk ke dalam kamar, ia mendengar sesuatu yang lebih mengejutkan lagi dan Jeslyn yakin Rachel lah yang jauh lebih terkejut mendengar suara seseorang yang cukup lantang hingga menggema di ruangan besar itu. "Siapa yang memberikanmu kewenangan untuk memecat orang-orang ku!" tentu saja suara itu adalah John, ia rupanya tak jadi pergi ke kantor dan memutuskan untuk kembali ke rumah karena menemukan suatu ide yang cukup bagus untuk menenangkan situasi kacau ini dan sepertinya juga cukup bagus untuk membangun misinya yang sudah direncanakan selama ini.
John menatap para pengawalnya dan mengibaskan tangannya secara perlahan. "Kalian teruslah mencari anak nakal itu, aku sudah menyiapkan hukuman yang akan membuat dia menyesali perbuatannya saat ini," kata John yang masih bisa terdengar oleh Jeslyn karena suara itu pun cukup bergema. Hukuman seperti apa yang akan diberikan oleh John? Padahal bulan Jeslyn yang akan menerima hukuman, namun rasanya cukup menakutkan jika John sudah berbicara seperti itu.
Seperti yang bisa dibayangkan oleh kita semua, wajah Rachel seketika menampilkan raut memelas yang menyebalkan. Tanduk yang awalnya keluar kini telah menghilang digantikan oleh mata berkaca seolah ia tak sejahat yang dipikirkan John. "Sayang, bukan seperti itu, aku hanya ingin mereka bekerja dengan benar. Jema pasti sekarang sedang bersembunyi di suatu tempat dan ia takut untuk pulang karena kau pasti akan memberikannya hukuman." Rachel berjalan mendekati John dan menggenggam tangan John dengan lembut. "Bersikap baiklah sedikit padanya, Jema pasti akan bisa dikendalikan kita kau bisa membujuknya, dia tidak akan menurut jika kau masih menggunakan nada bicara seperti ini sayang," lanjut Rachel.
John yang sudah merasa muak hanya menghempaskan tangan Rachel yang tak pernah ia ingin sentuh, ia berjalan meninggalkan semua yang ada di ruang tengah dan mulai menaiki anak tangga, baru beberapa anak tangga yang ia naiki terlihat Jeslyn yang tampak buru-buru masuk ke dalam kamarnya. John hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan, ia tidak akan mengganggu Jeslyn untuk saat ini, ia akan memikirkan rencananya dengan matang-matang agar kedua anaknya bisa mendapatkan keadilan dan pengakuan anak John yang sah dari semua orang. Sudah cukup ia bersabar dengan segala gosip miring jika Robert dan Jeslyn adalah anak haramnya, semua hal itu tak benar sama sekali, mereka berdua adalah malaikat kecil yang dilahirkan dari sosok wanita yang sangat John cintai. Namun, John tentunya tidak bisa membungkam satu persatu mulut orang yang membicarakannya, ia hanya bisa menutup telinga dan saat tiba waktunya ia akan menunjukkan semua hal yang belum mereka ketahui.
Jika dipikirkan lagi Jeslyn merasa kurang bebas tinggal dirumah ini, jauh lebih baik jika ia tinggal diluar dengan seseorang yang bisa menjaganya dengan baik. "Aku akan menguji pria itu dulu," gumam John dalam hati. Ia akan membuat pertemuan dengan Nick yang nantinya akan ia tes apakah pria itu pantas untuk menemani Jeslyn selama rencananya sedang disusun, atau ia harus mencari pria lain yang jauh lebih pantas menemani Jeslyn. Masih ada sedikit keraguan jika Nick yang akan menikahi Jeslyn nantinya, ia takut berita yang beredar tentang sikapnya yang selalu mengganti wanita akan tetap ia lakukan dan membuat Jeslyn tersiksa batinnya. Tidak, John harus memeriksa lebih detail kembali seorang Nick. Jeslyn harus mendapatkan sosok pria yang bisa melindunginya dan yang pasti bisa membuat Jeslyn merasa bahagia dan bebas.
Sementara di dalam kamar, Jeslyn terdiam di balik pintu, ia berusaha menenangkan hatinya yang tak karuan. Ingin rasanya Jeslyn menenangkan John, namun saat ia melihat John menaiki anak tangga, hanya ada rasa takut dan tubuhnya pun secara spontan menghindar dari Ayahnya sendiri. Padahal John memperlakukannya dengan sangat baik, tidak pernah Jeslyn mendapatkan bentakan bahkan hukuman dari John, tetapi hal itu sepertinya tak cukup, Jeslyn tetap merasa takut pada amarahnya yang meledak seperti tadi.
"Maafkan aku Dad," gumam Jeslyn pelan. Sudah beberapa kali Robert mengingatkan dirinya untuk mulai terbiasa di dekat John, Robert pun mengatakan jika John tidak akan pernah berani menyalahkan Jeslyn jikapun ia berbuat salah, wajah Jeslyn begitu mirip dengan mendiang Ibu mereka dan membuat John sangat menyayangi Jeslyn.
Karena merasa lelah dengan sikapnya yang selalu takut, Jeslyn berjalan menuju jendela kamar dan memperhatikan taman indah dibawah. Mengapa ia harus selemah ini? Mengapa tak ada keberanian sedikitpun dalam dirinya untuk mendekati Ayahnya sendiri dan menolak semua perintah Rachel yang selalu menganggapnya tak penting. Dengan begitu, hidupnya di rumah ini mungkin saja jauh lebih baik dari pada sekarang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
Aditya HP/bunda lia
lanjut
2023-10-02
0