Dalam keadaan yang sunyi dan tenang, pintu ruangan Nick terbuka lalu tak berapa lama kemudian disusul suara langkah kaki dari hak sepatu tinggi yang menyentuh lantai, rambut berwarna keemasan itu bergerak saat tubuh ramping berjalan mendekatinya. "Tuan besar ingin berbicara denganmu Sir, sebentar lagi dia akan tiba," jelas Chloe yang membuat Nick langsung menghembuskan nafasnya pelan, sekarang apa lagi? Apakah tak ada waktu baginya untuk bisa tenang di pagi hari yang cerah ini? Ah, sekarang rasanya Nick tak lagi tertarik pada laptop yang ada di hadapannya, padahal Nick sudah merasa tenang saat sang Ayah pergi begitu saja meninggalkan Nick dan mengantarkan tamu terhormat mereka pagi ini sampai ke depan Kantor. Namun sayang, ketenangan Nick rupanya hanya terasa tiga puluh menit saja, bahkan kurang!
Nick mengangguk pelan, ia menoleh pada Chloe dan tersenyum datar. "Baiklah, menolak pun aku tak bisa bukan?" gumam Nick sambil menutup layar laptop .
Chloe yang tak bisa menjawab apapun hanya mengangguk pelan, ia pun mundur dengan perlahan lalu kembali keluar dari ruangan Nick. Sungguh disayangkan wajahnya yang tampan harus terhalangi sikapnya yang tak mudah ditebak. Setibanya diluar ruangan, wajah Chloe yang tampak murah harus berubah memasang senyum palsu saat berhadapan dengan sosok Marteen. "Dia tidak menolak berbicara padaku bukan?" tanya Marteen yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Chloe. Sebenarnya Chloe tahu jika Marteen adalah sosok Ayah yang baik, ia selalu memantau Nick setiap harinya, terlalu memanjakan anak semata wayang saat kecil hingga beranjak dewasa membuat Marteen sedikit kewalahan menghadapi sikap Nick yang semaunya, hingga mau tak mau Marteen harus mengubah sikap memanjakannya menjadi tegas seperti sekarang.
"Tidak Tuan, dia sudah menutup laptopnya dan menunggumu. Aku permisi."
Nick yang mendengar percakapan kecil didepan ruangannya mulai bersandar pada belakang kursi, menunggu Ayahnya masuk dan mendengarkan apa yang akan dia ucapkan. Jika hanya ucapan makian yang akan dilontarkan, Nick bersumpah akan langsung pergi dari kantor dan kembali masuk Minggu depan sebagai tanda rasa tidak sukanya. "Ah tidak, itu sangat kekanakan," gumam Nick sambil menggelengkan kepalanya, ia sudah tidak seperti itu sekarang, jangan sampai ia melakukan hal bodoh seperti dulu.
Dan benar saja tak lama berselang dari percakapan kecil diluar tadi, pintu ruangan Nick kembali terbuka dan kini Marteen masuk dengan langkah yang cukup angkuh, tanpa mengeluarkan sepatah katapun ia duduk di kursi yang ada di hadapan Nick. "Berhentilah bermain-main Nick. Bagaimana aku bisa tenang melepaskan bisnis keluarga ke tanganmu? Sampai kapan kau akan datang ke kantor sesuka hati seperti tadi? Aku tidak bisa membayangkan betapa buruknya pekerjaanmu, dihari rapat penting saja kau bisa terlambat apalagi hari biasa?" tanya Marteen meluapkan kekesalannya. Untung saja ia mengenal sosok John dengan baik dan percakapan mereka tadi pagi cukup membuka peluang besar bagi perkembangan perusahaan.
Nick menarik garis halus bibirnya, sebuah senyuman yang bisa dikatakan kurang seperti tak berminat pada pembicaraan kali ini. Well, memangnya kapan Nick merasa minat pada obrolan bersama Ayahnya? Nick pun mengerang kesal karena ia dengan bodohnya menyetujui ajakan Louis yang membuatnya bertemu kembali dengan Elsa, jika semalam ia hanya diam di Apartemennya mungkin kejadian rumit pagi ini tidak akan datang. Tapi apa boleh buat? Ia hanya bisa menyesali dan menerima akibat yang sudah ia lakukan. "Jika aku memang hanya bermain-main tidak mungkin aku berhasil menarik perhatian seorang John untuk menjadi investor Hotel baru kita Dad. Lagi pula jika aku hanya bermain-main mungkin aku tidak akan mendatangi rapat 2 tahun lalu, Laura pun mungkin tidak akan repot-repot menyempatkan diri untuk datang mengantarkan makan siang dan kecelakaan itu tidak mungkin terjadi," jawab Nick datar tanpa ekspresi berlebih, tak ada amarah, hanya sedikit sindiran untuk Ayahnya.
Helaan nafas keluar dari mulut Marteen, ia memijit pelan bagian kening yang mulai terasa pening jika diingatkan pada kejadian 2 tahun lalu. "Nick, kau sudah dewasa, kau memahami pentingnya dirimu dalam Perusahaan bukan?" tanya Marteen. Tatapannya menunjukkan sesuatu yang berbeda saat ini, bukan tatapan kesal dan menyebalkan seperti biasanya, namun tatapan hampa yang mencerminkan keputusasaannya. "Itu semua sudah takdir, sampai kapan kau merasa bersalah seperti ini?"
Baiklah, sudah cukup membahas Laura, ia tidak ingin malam ini Laura kembali datang ke mimpinya dengan keadaan berbaring di rumah sakit lagi, juga tidak ingin segala kenangan indah bersama Laura muncul dalam mimpinya. Sungguh, Nick masih merasa sangat sedih jika rasa rindu kembali mengguncang hatinya. "Aku minta maaf atas keterlambatan ku pagi ini, aku akan berusaha kejadian seperti tadi tidak terulang," ucap Nick pada akhirnya, Marteen hanya membutuhkan ucapan penyesalan yang keluar dari mulut Nick bukan? Namun ada yang aneh untuk saat ini, kedua alis tebal Nick bergerak samar menandakan kebingungan karena Ayahnya masih tetap diam tak bergeming. "Apa masih ada yang ingin kau sampaikan Dad?" tanya Nick. Apa belum cukup permintaan maaf Nick tadi? Ah yang benar saja? Lalu apa yang harus Nick lakukan? Membuat surat perjanjian di atas materai karena Marteen sudah tak mempercayai semua ucapannya?
Marteen tak langsung menjawab pertanyaan itu, pikirannya pasti tengah sibuk mencari kata-kata yang pas untuk mengatakan sesuatu yang ada di benaknya. Nick mengetahui jelas sikap Marteen, ia seseorang yang suka bicara tanpa memikirkan ucapannya bisa melukai hati seseorang atau tidak, namun jika Marteen sudah berpikir keras seperti ini pasti ada sesuatu yang cukup penting ingin dia sampaikan. "John sepertinya sudah mengincar mu dari lama."
Kening Nick berkerut samar, menanti kata-kata selanjutnya yang akan keluar dari mulut Marteen. "Apa maksudmu Dad?" tanya Nick cukup merinding. Jujur saja, rasanya aura di sekeliling Nick saat ini tidak terlalu bagus.
"Pagi tadi Chloe tidak menyelesaikan materi presentasi sampai akhir, John tiba-tiba langsung meminta surat kontrak dan membaca poin-poin yang tercantum lalu menandatanganinya. Dia sepertinya tertarik menjadikanmu menantu." Marteen menatap Nick seolah Nick adalah sesuatu yang berharga, bukan tatapan seperti biasanya. "Dia mengatakan kau hebat dalam hal negosiasi, mengelola perusahaan dan dia menganggap mu sebagai pria setia karena tak pernah mendengar kau berhubungan dengan wanita baru setelah meninggalnya Laura."
Tunggu sebentar! Nick merasa obrolan ini terlalu berbahaya jika dilanjutkan. Apa yang barusan dia dengar adalah John tertarik menjadikan Nick menantunya? Apa ini tidak salah? Apa ini berbau sebuah perjodohan yang sudah tak ada di zaman modern ini? Nick tertawa renyah, ia menggelengkan kepalanya. "Dia mengetahui semua hal baik tentang diriku, dia belum mengetahui sisi buruk diriku," kekeh Nick yang menganggap semua itu adalah sebuah lelucon baginya. "Dad, kau sedang bercanda bukan?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
Aditya HP/bunda lia
siap siap kau Nick
2023-09-25
0