Nick menghembuskan nafasnya berat, tak bisa lagi ia berucap satu katapun untuk saat ini. Dua minggu sudah berlalu dengan begitu cepat, pikiran tentang John yang tertarik menjadikan Nick sebagai menantunya sudah tak ia ingat sedikitpun.
Namun kini, tiba-tiba saja sebuah undangan pertemuan makan malam dikediaman John membuatnya menjadi yakin jika perkataan Ayahnya bukanlah omong kosong untuk menggertak Nick, dan sekarang Ayahnya pun pasti sudah mendapatkan undangan yang sama dan akan memaksa Nick untuk hadir. "Apa yang harus aku lakukan?" gumam Nick pelan.
Tak ada yang bisa ia lakukan sebenarnya, menolak perintah Marteen hanya akan membuat hidupnya semakin menderita, Ayahnya pasti akan memberikan hukuman kecil seperti menyita mobil dan ATM miliknya seperti saat Kuliah dulu. Hidupnya pasti akan dibuat menderita!
Lagi-lagi Nick menghembuskan nafasnya berat, ia tidak bisa diam saja namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, berada di situasi seperti ini hanya membuat Nick pening. Sekarang ia benar-benar tak tenang! "Oh **'*," gerutu Nick. Orang seperti Marteen pastinya tidak akan melewatkan kesempatan emas seperti ini, siapa yang bisa menolak dijodohkan dengan seorang putri yang akan menjadi pewaris sah satu-satunya, apalagi ini menyangkut sebuah kekayaan milik John, perusahaan raksasa, memiliki saham dimana-mana. "Dan aku pasti merasa terinjak," gumam Nick sambil berdecak.
Jelas saja Nick akan merasa terinjak, jika benar ia akan menikah itu artinya istri Nick nanti yang memiliki segalanya, ia akan besar kepala dan menentang apa yang diucapkan Nick, belum lagi gaya hidup yang lebih mewah dan lebih parahnya lagi bisa saja wanita itu merendahkan penghasilan Nick yang tidak sebanding dengan kekayaannya. Haruskah Nick diam saja harga dirinya di injak seperti ini? "Ah, bagaimana jika aku berpura-pura sudah memiliki kekasih?" gumam Nick yang masih memikirkan cara agar terbebas dari semua hal yang tidak membuatnya bahagia.
Nick menggelengkan kepalanya, itu bukan ide yang bagus, permasalahan sekarang bukan hanya pernikahan, namun kesempatan Emas yang dimiliki ayahnya. "Sudah buntu, aku harus bagaimana Laura?" tanya Nick pada sosok Laura yang ada di dalam sebuah foto kecil di mejanya.
***
Malam yang gelap, angin yang berhembus dingin dan suasana hati yang sedang gelisah.
Nick mengambil ponselnya dari dalam saku, malam ini ia hanya seorang diri di dalam Apartemen, pikirannya cukup kacau oleh ucapan Marteen di telepon sore tadi, Ayahnya meminta Nick untuk mempersiapkan segalanya agar makan malam Sabtu nanti cukup berkesan di mata John. Haruskah ia melakukan semua itu? Haruskan Nick benar-benar diam saja dan menuruti semua ini?
Mata Nick membulat tak percaya. "Apa-apaan ini?" gumam Nick dengan kening yang berkerut dalam. Tak ada satupun informasi mengenai John yang ia cari di internet, hanya tertera beberapa artikel mengenai nama pengusaha raksasa itu, namun mengenai keluarga dan identitas John lebih detail tidak ada satupun.
Sebenarnya siapakah John ini? Istrinya bernama Rachel dan mereka memiliki 1 orang putri yang tak tercantum namanya di segala web. Bahkan kemanapun John pergi ia tak pernah membawa anaknya, hanya istrinya yang terlihat begitu sosialita dan sama tertutupnya seperti John mengenai profil pribadinya, mereka pun sepertinya tak memiliki sosial media.
Nick tak ingin hanya diam saja, ia mulai berpikir keras, ia tidak ingin terjebak begitu saja dalam sebuah permainan bisnis. Sangat tidak masuk akal juga tiba-tiba saja John memilihnya sebagai menantu, pasti ada sesuatu yang salah dengan putrinya, apakah ia memiliki kelainan dari segi fisik atau mental? Nick menggelengkan kepalanya, semakin ia memikirkan hal itu, semakin otaknya merasa akan pecah. "Aku tahu siapa yang bisa membantuku," gumam Nick yang langsung mencari sebuah kontak dan mengirimkan pesan untuk datang ke kantor Nick besok.
***
Keesokan harinya, Nick masih tak bisa fokus pada pekerjaannya, ia masih dibuat kacau dengan apa yang terjadi kemarin, tanpa pikir panjang Nick membuka kembali sebuah email masuk yang dikirimkan oleh sekertaris John kemarin, sedikit keraguan kembali muncul dan membuatnya menjadi ingin berteriak dengan kencang dalam seketika. Nick belum siap dan tak akan pernah siap untuk sebuah pernikahan, ia benci pada sesuatu yang terikat dan melibatkan perasaan, bahkan sampai saat ini tak ada satupun wanita yang berhasil menyembuhkannya dari trauma itu.
Seketika kepanikan Nick mulai mereda, ada pikiran positif yang melintas di kepalanya, senyum Nick tiba-tiba terukir dengan pelahan. “Ah tidak, ini hanya undangan kerabat bisnis bukan? Mengapa aku terlalu berpikir jauh?” gumam Nick pelan, sedikit menenangkan hatinya agar tidak terlalu panik, namun lagi-lagi perintah Marteen kemarin membuatnya menjadi yakin jika perjodohan sudah ada di depan matanya.
Ketukan pintu membuat pikiran Nick sedikit teralihkan dan menatap seorang pria yang masuk ke dalam ruangannya. “Tumben sekali kau menghubungi aku lagi Nick, apa ada sesuatu yang harus aku kerjakan?”
“Tentu saja, mana mungkin aku menghubungi mu hanya untuk berbincang santai,” jawab Nick tanpa basa basi sedikitpun. Pria itu adalah Brian, ia dikenal cukup ahli mendapatkan segala informasi dengan keterampilannya di dunia digital. Kali ini yang Nick butuhkan dari teman kuliahnya itu adalah informasi mengenai calon istrinya, terlalu beresiko jika mencari tahu tentang sosok John, lebih baik ia langsung mencari tahu terlebih dahulu sosok calon istri misteriusnya.
Nick membalikkan layar laptopnya untuk menunjukkan sebuah email yang baru saja ia dapatkan kemarin. “Perkiraan besar makan malam ini akan menjadi perbincangan mengenai pernikahanku dengan Putri satu-satunya John.” Nick yang melihat Brian memperhatikan ucapannya langsung melanjutkan kembali perkataannya. “Aku sudah mencari informasi mengenai wanita yang akan menikah denganku itu, namun tak ada satupun hasil yang aku dapatkan, tampaknya John memang menutup semua akses media untuk mempublikasikan keluarganya. Apa kau bisa mendapatkan informasi yang aku butuhkan dalam waktu 24 jam?” tantang Nick dengan tatapan serius.
Brian tampak berpikir sejenak, seolah mengingat-ingat terlebih dahulu nama yang sepertinya tak asing di telinganya. Namun karena tak menemukan ingatan tersebuta, Brian hanya mengangguk kecil. “Baiklah, akan aku coba,” jawab Brian pada akhirnya membuat Nick dapat tersenyum dan sedikit lega.
"Ingat, jangan ada sedikitpun kesalahan tentang informasinya, aku tahu akan sedikit sulit, tapi kau juga tahu bukan bayaran yang akan aku berikan pastinya setimpal dengan apa yang kau kerjakan?"
Brian tersenyum, kali ini ia menganggukkan kepalanya dengan lebih bersemangat. "Tantu saja aku tahu, kau juga sudah beberapa kali melihat hasil kerjaku bukan? Aku tidak akan mengecewakan mu. Kalau begitu aku harus pergi dan memulai pekerjaan ini."
*
Jangan lupa like dan komen biar author semangat ya💗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
Jhein Tayu
crta yg ku tunggu2 ahirnya mncl.
2023-09-30
0
Jhein Tayu
crta yg ku tunggu2 ahirnya mncl.
2023-09-30
0
Aditya HP/bunda lia
Nick datang dan pada akhirnya dia memilih menikahi Jeslyn daripada Jema .... 🤭🤭
2023-09-25
0