“Aku sudah mengatur pernikahanmu bersama anak Marteen, walau dia belum cukup matang dalam mengelola bisnis namun aku yakin dia bisa berkembang dengan pesat mengingat banyak prestasi yang ia dapatkan selama menyelesaikan S2-nya.”
Awalnya, Jema berpikir kalau pendengarannya sedikit bermasalah, namun ketika melihat wajah John yang tampak serius Jema pun menjadi yakin dengan kata-kata menyeramkan itu. “Kau sedang bercanda bukan?” tanya Jema setelah berhasil menghabiskan sisa makanan yang ada di dalam mulutnya. Ini benar-benar hal gila yang tak pernah Jema bayangkan, apa? Seorang Ayah yang tidak pernah menunjukkan kasih sayangnya itu tiba-tiba saja mengatur sebuah pernikahan untuknya?
John dengan wajah datar menggelengkan kepalanya, ia kembali fokus pada makan malamnya dan memotong kecil steak dengan tingkat kematangan medium. “Tidak, untuk apa aku bercanda?” jawab John datar, tanpa menoleh sedikitpun pada Jema yang kini sudah mengekspresikan ketidak suka-annya.
“Oh ayolah Dad! Aku sudah bersama Jacob, untuk apa kau sibuk mengurusi masalah pernikahanku? Jika pun aku harus menikah, Jacob yang akan menjadi suamiku!” pekik Jema dengan raut wajah protes yang menunjukkan ketidak sukaannya pada keputusan John. Jema membenci semua ini, ia merasa tertekan pada sikap John yang selalu menyulitkannya, entah mengapa Jema merasa John selalu menentang keinginannya sedari kecil, beralasan jika semua itu untuk kebaikan Jema namun hal sebenarnya adalah membuat Jema merasa terbebani, tersiksa oleh hal yang tidak dia sukai.
Terlihat hanya ada senyuman miring yang dilakukan pria itu, lalu terdengar kekehan pelan yang membuat tubuhnya sedikit bergetar. “Jacob menjadi suamimu? Lalu bagaimana dengan bisnisku? Pria itu tak mengerti sama sekali tentang bisnis saat aku berbincang dengannya, lalu kau, Jema, kau melewatkan kesempatan emas untuk mengambil study manajemen bisnis dan lebih mementingkan sekolah music yang sebenarnya tidak kau sukai bukan? Itu hanya alasan untukmu bisa bersama Jacob setiap saat! Lagi pula pria itu hanya bisa bernyanyi dan saat popularitasnya menurun apakah ia bisa memberimu makan?” banyaknya pertanyaan membuat Jema merasa jengah, itu bukan pertanyaan melainkan sindiran! Setidaknya, jika John tidak pernah memberikan kasih sayangnya sebagai seorang Ayah, lebih baik dia tidak mengusik kebahagiaan Jema perihal urusan cinta.
Karena merasa udah terlalu muak, Jema berdecak pelan. “Sudah cukup pembicaraan bodoh ini, aku sudah muak!” Tanpa merasa bersalah sedikitpun karena sudah membuat keadaan makan malam menjadi tegang, Jema pun berdiri dengan menghentakkan kakinya cukup keras dan meninggalkan meja makan itu dengan penuh amarah.
“JEMA!” teriak Rachel dengan mata yang membulat melihat tingkah laku anaknya yang semakin susah untuk dikendalikan. Rachel menoleh pada John dan menatap pria itu dengan ekspresi merajuk, tangan kiri Rachel mengusap pelan punggung tangan John dan tangan kanannya terulur pada gelas milik John lalu memberikannya agar amarah John sedikit berkurang. “Sayang, maafkan Jema, aku yakin dia akan menyetujuinya jika hal ini dibicarakan baik-baik.”
Tanpa disadari, Jeslyn satu-satunya orang yang tak mengeluarkan kata sedari tadi, sikapnya yang tertutup terkadang membuat orang-orang tak menyadari keberadaannya. Jeslyn kembali melanjutkan makan malam miliknya dengan perlahan walaupun tak nyaman, jantungnya selalu berdebar kencang saat mendengar pertengkaran seperti tadi.
Baru saja Jeslyn akan membuka mulutnya untuk menggigit daging yang menancap di garpu, Rachel tampak menoleh padanya sambil tersenyum yang Jeslyn yakinin bukanlah sebuah senyuman yang tulus. “Jeslyn, antarkan makanan Jema ke kamarnya, dia pasti sangat lapar setelah sore tadi-“ ucapan Rachel terhenti saat John tiba-tiba saja menoleh dengan wajah yang semakin berwarna merah.
“Apa dirumah ini tidak ada pelayan yang bisa kau suruh! Jeslyn, lanjutkan saja makan mu,” bentak John membuat kedua wanita tersebut diam dan membeku. Jeslyn hanya mengangguk pelan, ia menundukkan kepala sambil berpikir apakah ia harus pergi saja dari meja ini atau ia harus menghabiskan makan malamnya terlebih dahulu?
“Sayang, ada apa denganmu? Kau selalu tak bisa mengendalikan emosimu akhir-akhir ini, apa sakit kepalamu belum juga sembuh?” tanya Rachel dengan nada khawatir.
Jeslyn menarik nafasnya dalam saat mendengar suara Rachel yang merajuk seperti itu, suara yang sangat berbeda dengan saat John tidak ada dirumah ini. Jeslyn menatap daging lezat diatas piring dengan selera makan yang telah hilang. Sudah biasa Rachel memperlakukan Jeslyn layaknya pelayan dirumah ini ketika John pergi keluar rumah, namun Jeslyn tak bisa mengadukan hal itu pada John layaknya seorang anak pada Ayahnya secara umum, ia cukup sadar diri setidaknya ia harus bersyukur karena Rachel masih membiarkan John membawa Jeslyn dan Robert ke rumah besar layaknya istana ini. “Mom,” gumam Jeslyn dalam hati, saat usianya 10 tahun ia masih ingat jelas John datang untuk pertama kalinya ketika Ibunya dalam keadaan kritis, saat itu juga Jeslyn baru tahu jika ia masih memiliki seorang Ayah sedangkan Robert yang sepertinya sudah mengenali John langsung memeluk tubuh John dengan erat.
Brak!
Jeslyn kembali terkejut saat gelas yang ada ditangan John terjatuh dengan sengaja, amarah John tampak semakin menjadi dan bersiap untuk membentak Rachel. "Nona, kembali lah ke kamar mu terlebih dahulu, biar aku yang akan membawakan makan malam dan minuman untukmu."
Bisikan seorang pelayan bernama Loly yang selama ini berada di dekat Jeslyn membuatnya menoleh dan lagi-lagi Jeslyn hanya bisa menuruti semua perkataan dari orang-orang di dalam rumah ini. "Terimakasih," jawab Jeslyn sambil ikut berbisik dan mulai bangun dari duduknya, ia berjalan menuju anak tangga pertama dan menoleh kearah belakang dimana John dan Rachel masih terlibat adu mulut yang cukup berisik karena kalo ini Rachel tidak lagi menenangkan John, kini Rachel ikut marah dan tak terima dengan sekap John yang memperlakukannya seperti ini.
"Ayo Nona, lanjutkan makan malam mu di kamar," ucap Loly yang rupanya sudah berdiri dibelakang Jeslyn dan menantikan Jeslyn untuk mulai menaiki setiap anak tangga dengan hati-hati. "Kau akan lebih tenang di dalam kamar untuk saat ini Nona," lagi-lagi Loly tersenyum seakan memberi tahu Jeslyn jika semua ini akan berakhir dan kembali tenang seperti semula. Tapi sampai kapan? Hampir setiap Minggu Jeslyn mendengarkan pertengkaran di rumah ini.
Jeslyn mengangguk pelan, ia mulai menaiki setiap anak tangga dengan hati berdebar dan pikiran yang mulai menumpukan beberapa pertanyaan untuk dirinya. Sampai kapan ia terpenjara di dalam rumah ini? Ada apa dengan hubungan John dan Rachel yang tak pernah harmonis dari awal Jeslyn pindah ke rumah ini? Jika Jeslyn memilih keluar dari rumah ini apakah ia bisa bertemu dengan Robert dan tinggal bersama kakaknya itu? Tetapi apakah John mengijinkan hal itu?
**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
🤩😘wiexelsvan😘🤩
pasti jeslyn sangat tertekan hidup d dalam sangkar emas,,,rachel pasti sangat membencinya krn jeslyn ank jhon bersama selingkuhannya,,,udah keliatan dari cara rachel memperlakukan jeslyn di depan ma di belakang jhon 😁😁😁
2023-09-24
1