Jeslyn menutup pintu kamarnya dengan perlahan, ia berjalan menuju cermin dan membuka kain penutup wajah yang di ikatkan dari atas telinganya. "Kapan kesempatan ku bisa bertemu dengan pria seperti Nick?" gumam Jeslyn, ia dapat melihat dengan jelas pipi yang masih hangat dan berwarna pink muda. Setelah ini ia akan merasakan bosan kembali terkurung di rumah beras ini dan tidak memiliki teman seperti tadi. Pernah suatu hari Jeslyn meminta salah satu pelayan yang cukup muda untuk bermain dengannya di taman, namun Rachel yang melihat itu malah menampar pelayan wanita tersebut karena dianggap tak bekerja sama sekali, semenjak itu juga Jeslyn benar-benar tertutup pada semua orang yang ada di rumah ini, satu-satunya orang yang berani ia ajak bicara dan menumpahkan semua emosinya hanyalah Robert, namun saat Robert mulai pindah ke Mexico ia mulai benar-benar merasa kesepian, curhat pun jika Robert memiliki waktu luang dan tidak terlalu lelah sepulang kerjanya. Jika nanti Robert menikah, mungkin kesempatan Jeslyn untuk curhat semakin jarang saja.
Tak ingin terus memikirkan Nick, Jeslyn berpikir jika mandi malam mungkin akan membuat dirinya segar dan bisa membuatnya kembali tersadar jika dunianya yang asli membosankan seperti kemarin-kemarin, 2 jam tadi hanyalah kesempatan langka yang tak mungkin terjadi kembali.
Jeslyn tersenyum pada cermin dan mengingatkan dirinya jika semua akan baik-baik saja. "Baiklah, ayo mandi dan tidur, besok aku ingin kembali bermain piano seperti permainan Nick barusan," ucap Jeslyn yang tanpa sadar mengingat pria tadi.
***
Sedangkan di ruang santai John, mereka semua sudah mencicipi anggur yang benar-benar hebat, rasanya unik dan terasa begitu mahal. Nick mengingat-ingat dimana ia pernah meminum anggur ini, rasanya seperti tak asing.
Tanpa disadari, Juliet diam-diam memperhatikan gerak-gerik Nick yang tampak santai, Nick tampak tak tertarik pada pembicaraan bisnis dan lebih memilih asik menatap gelas berisikan anggur dengan ekspresi yang seakan sedang berpikir ringan. Dengan perlahan Juliet mendekatkan wajahnya sedikit dan menanyakan hal yang cukup membuatnya penasaran. "Bagaimana perjalanan kalian tadi?" bisik Juliet membuat Nick langsung menoleh dan senyumnya seketika itu juga mengembang.
"Cukup menyenangkan," jawab Nick sedikit berbisik karena tak ingin mengganggu percakapan Ayahnya dengan John.
Juliet yang mendengar itu ikut merasa senang, ia bersyukur jika Nick tidak merasa tertekan dengan perjodohan ini, entah bagaimana perasaan Juliet jika ia yang berada di posisi Nick sekarang, mungkin ia sudah memilih bungkam dan tidak tersenyum sama sekali. "Lalu bagaimana? apa kau menerima perjodohan ini?" tanya Juliet sambil mengerjapkan mata menggoda putranya sendiri. Jika dipikirkan kembali, Nick pandai merayu para wanita seperti Ayahnya, apalagi sosok wanita yang akan menjadi calon istri Nick cukup cantik walaupun mengenakan penutup wajah.
Nick mengetuk pelan gelas yang ada di genggamannya, jika dipikirkan lagi tidak terlalu rumit memiliki istri seperti Jema. Ia merasa nyaman dan tidak ada salahnya mencoba untuk membuka lembaran baru dengan sebuah pernikahan. "Um, sepertinya aku tidak keberatan," jawab Nick dengan sedikit malu sebenarnya. Ia ingin mengatakan ini nanti saat mereka pulang, namun ia tak tahan dengan pertanyaan Juliet yang seakan tahu suasana hatinya sedang bagus.
Mendengar hal itu jelas-jelas membuat Juliet menjadi bertambah senang, dengan mata yang berbinar ia kembali berbisik pada Nick. "Apa kau sudah menanyakan jika Jema menerima perjodohan ini juga?" tanya Juliet dengan semangat.
Mendengar itu, seketika Nick langsung terdiam, ia menatap Juliet bingung karena hal itu pun sekarang menjadi pertanyaan besar untuk dirinya. "Haruskah aku bertanya? bukankah Ayahnya sendiri yang memintaku untuk menjadi suaminya, sudah pasti dia mau bukan?" ucap Nick balik bertanya.
Juliet pun menarik nafasnya cukup dalam, ia menggelengkan kepalaku pelan. "Astaga, kau sama seperti Ayahmu, hanya pintar merayu diawal tapi tidak romantis dan tidak peka. Setidaknya kau tanyakan dulu apakah dia merasa terpaksa dengan pernikahan ini atau tidak, hanya basa basi saja," ujar Juliet gemas.
Tanpa mereka sadari, kegiatan saling berbisik itu menarik perhatian Rachel yang sedari tadi ikut bergabung dalam perbincangan bisnis John dengan Marteen. "Apa ada sesuatu?" tanya Rachel yang terdengar begitu lembut dan perhatian membuat percakapan Nick dan Juliet terhenti sampai disana.
Mereka berdua pun langsung menghentikan kegiatan mereka dan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Ah tidak, ini, Nick sepertinya meninggalkan pematik kesayangan di suatu tempat," jelas Juliet membuat Nick mengerutkan keningnya bingung, tidak ada pembicaraan seperti ini sebelumnya. Namun beberapa detik kemudian ia mulai mengingat kembali percakapan terakhir mereka dan Nick pun menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan Juliet dan meyakinkan Rachel.
"Ya, sepertinya aku meninggalkan nya di ruang musik," lanjut Nick dengan ekspresi menyesal.
Rachel yang sudah pandai berekspresi di setiap keadaan langsung menunjukkan kepanikannya, ia pun menutup mulutnya seakan tak percaya. Tapi menurut Nick itu adalah hal yang terlalu berlebihan, namun ia tak bisa berbuat banyak, hanya akan memunculkan masalah jika ia menunjukkan rasa tak sukanya."Oh astaga, biar aku meminta pelayan untuk mencarikannya ya," komentar Rachel yang langsung berdiri dari duduk nya seakan hendak keluar dari ruangan dan mencari pelayan yang pastinya selalu ada di depan ruangan.
Namun Nick dengan cepat menghentikan itu, ia pun berdiri secara spontan dan menahan Rachel yang akan pergi. "Biar aku saja yang mencarinya, aku sepertinya ingat meninggalkannya di mana," ucap Nick.
"Lain kali kau harus berhati-hati Nick, jangan sampai teledor seperti ini lagi, kau sudah dewasa dan sudah seharusnya menjaga milikmu dengan benar," komentar Marteen yang langsung membuat Nick menghembuskan nafasnya berat, hidup Ayahnya terlalu serius dan membosankan.
Juliet menepuk pelan lengan Marteen dan tersenyum kecil. "Tidak usah di perbesar sayang, ayo, lebih baik kita melanjutkan pembicaraan kita tadi, baru sampai mana?" tanya Juliet yang mencoba untuk mengembalikan suasana agar tidak tegang. "Nick, cepat ambil pemantik mu dan kembali bergabung disini," ucap Juliet yang kini sudah menatap Nick dan memberikan kode agar Nick cepat keluar dari ruangan santai dan melanjutkan niat Nick untuk menanyakan hal penting pada calon istrinya.
Nick pun menganggukkan kepalanya pelan. "Baik Mom," jawab Nick yang langsung berbalik dan melanjutkan kembali langkahnya untuk keluar dari ruangan. Untung saja ia sudah memiliki Juliet yang bisa menghadapi sikap menyebalkan Marteen, jika tak ada Juliet mana bisa Nick akan merasa nyaman dengan acara makan malam yang cukup lama ini. Rasanya mungkin hanya ada ketegangan dan bosan. "Ah, bagaimana pun dia adalah Ayahku," gumam Nick pelan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
Aditya HP/bunda lia
akhirnya Nick mengetuk kamar Jeslyn dan akhirnya melihat wajah Jeslyn dan akhirnya ..... kita tunggu kelanjutannya 🤭
2023-09-29
1