Disebuah taman yang cukup ramai, beberapa orang melakukan rutinitas mereka seperti biasanya, ada yang hanya berjalan-jalan santai dan ada pula yang berjalan tergesa memasuki sebuah gedung di dekat taman itu.
Seorang pria mengenakan sweater putih yang dipadukan dengan celana training terlihat begitu santai di salah satu bangku taman, ia mengenakan headset dan memainkan ponsel dengan mata yang sesekali mengawasi sekitar. Saat sebuah notifikasi muncul di ponselnya, kening pria itu langsung berkerut samar. Ia menekan salah satu tombol yang ada di headset itu dan duduk dengan tegap. "Hai, ini sangat aneh," ucapnya sambil berbisik lalu melepaskan tombol yang ada di headset tadi. Pria itu adalah salah satu pengawal John yang sedang bekerja keras mencari Jema. Beberapa pengawal yang tampak sudah mengenakan pakaian santai untuk mengelabui target agar tidak bisa mengenali mereka pun berkumpul.
"Ada apa?" tanya salah satu dari keempat orang yang sedang berjaga di daerah parkiran dekat studio musik Jacob. Selagi belum menemukan titik terang, mereka masih mencuriga jika Jema pasti berada di sekitaran Jacob.
Pengawal yang pertama kali berbicara tidak menjawab apapun, ia hanya mengulurkan tangan dan menunjukkan ponselnya, layar itu menampilkan sebuah chat yang cukup singkat namun membuat mereka semua kebingungan dan merasa aneh pada Bosnya sendiri.
[Ulur waktu pencarian Jema sampai pernikahan Jeslyn dan Nick diadakan, jangan khawatir dengan segala ancaman istriku.]
Salah satu dari mereka menggelengkan kepalanya, ia berdecak kecil karena sudah merasa begitu terbebani dengan tugas berat ini. "Aneh sekali, lalu kita harus tetap mencari atau tidak?" tanya salah satu dari mereka yang mulai menatap satu sama lain. Saat ini mereka ditekan oleh dua belah pihak, satu pihak menginginkan Jema segera di temukan, sedangkan satu pihak lainnya menginginkan pencarian ini diulur.
"Kita dengarkan saja perintah Tuan, jangan mengkhawatirkan ancaman istrinya." Mendengar itu, mereka semua pun setuju dan saling menganggukkan kepalanya.
**
Nick menghentikan ketikannya di atas keyboard saat melihat sebuah notifikasi pesan di bagian bawah layar laptopnya. "Dia ingin menelfon?" gumam Nick saat membaca pesan John yang begitu singkat namun menimbulkan sejuta pertanyaan dalam kepalanya.
[Hubungi aku jika kau ada waktu luang.]
Karena tak ingin dihantui rasa penasaran yang akan menggangu kerjanya nanti, tanpa menunggu lama Nick dengan cepat meraih ponselnya dan mencari nomor pribadi John. Sempat ragu, namun Nick meyakinkan dirinya jika ada suatu hal penting yang akan John katakan.
Sesibuk apapun kegiatan Nick saat ini kemungkinan besar akan ia tinggalkan jika John mengirim pesan seperti itu, orang se-misterius John hanya akan membuat Nick dihantui rasa penasaran. Nick menekan sebuah icon berwarna hijau dan menempelkan ponselnya di telinga sambil menunggu panggilannya diangkat oleh John.
"Ah, Nick, kau sedang tidak sibuk rupanya," ucap John yang terdengar cukup santai. John lalu terkekeh pelan dan sepertinya sedang berjalan-jalan kecil disebuah ruangan karena suara ketukan sepatu mahal itu cukup menggema dan terdengar di telinga Nick memalui telepon.
Nick mengetuk pelan jemarinya diatas meja, terlalu penasaran membuatnya tidak ingin berlama-lama lagi dengan basa basi seperti itu. "Sebenarnya aku sedang memeriksa beberapa file, apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Nick yang langsung pada intinya.
Beberapa detik pertama tak ada jawaban apapun dari John, lalu pada detik selanjutnya suara John mulai kembali terdengar. "Mari kita berbicara santai saja, aku ingin dekat dengan calon menantu ku. Apa malam besok kau tidak memiliki acara? aku ingin mengajakmu berkeliling dengan kapal kesayanganku. Kau tidak keberatan bukan?"
Ada perasaan tak enak yang seketika menyelimuti Nick, jika niat John ingin mendekatkan diri dengan Nick apa itu artinya hanya Nick saja yang diundang? kedua orangtuanya pun tidak ikut bukan? Nick kembali mengetuk pelan jemarinya diatas meja, terlalu bimbang dengan apa yang sedang John rencanakan. Bukannya Nick ingin berpikir buruk tentang John, namun ia hanya merasa jika ada sesuatu yang janggal. "Um, sepertinya aku bisa menyempatkan waktu untuk besok," jawab Nick pada akhirnya, bagaimana pun nanti Nick akan meneruskan usaha milik John, tidak boleh sedikitpun ia membuat John merasa kecewa karena penolakannya. Tidak ada salahnya juga untuk John mengenal Nick lebih jauh lagi untuk memastikan keputusannya sudah 100% benar karena memilih Nick sebagai calon menantunya.
"Baiklah, kalau begitu sampai bertemu besok." Tak menunggu Nick menjawab, panggilan itu sudah dihentikan terlebih dahulu oleh John, membuat Nick sedikit mendengus pelan dengan sikap John tadi.
***
Sementara di tempat lain, John langsung mematikan panggilan telepon nya dengan rasa lega karena tak ada masalah dalam membujuk Nick untuk masuk kedalam perangkapnya. John pun kembali duduk di kursi santai kesayangannya, ia meminum sedikit kopi yang baru saja dibuat.
Sebenarnya rencana John untuk Nick tidak terlalu mengerikan, ia hanya ingin melihat secara langsung apakah Nick akan menolak atau justru terjebak dalam permainan John nanti. Semua ini ia lakukan akan Jeslyn mendapatkan seseorang yang bisa menemaninya selama keluar dari pengawasan John. Mungkin beberapa orang berpikir jika John terlalu buruk menjadi seorang Ayah, hanya menyayangi Jeslyn dan Robert, sedangkan Jema seakan ia buang begitu saja. Setiap kali John melihat Jema, ia merasa jika Jema tidak memiliki ikatan apapun dengannya, kejahatan Rachel disaat dulu membuat John pun menjadi tak segan-segan bersikap tegas dan tak memberikan kasih sayangnya pada Jema.
John menghembuskan nafasnya pelan, ia pun sering merasa bersalah dengan sikap tak adilnya, mungkin saja ia akan meminta maaf jika semua rencananya sudah terlaksana dan apa yang ia curigai benar-benar terjadi. Sekarang yang harus John pikirkan adalah kesetiaan Nick terlebih dahulu.
Besok malam, ia akan mengetes Nick, jika pria itu bisa menahan beberapa godaan kecil dari pada wanita cantik yang akan menjadi pelayan mereka di kapal, itu artinya Nick pantas untuk menjadi suami Jeslyn. Namun sebaliknya, jika Nick dengan mudahnya goyah, ia akan membatalkan semua rencana pernikahan itu dan mencari pria lain yang lebih pantas untuk Jeslyn.
Jemari John mulai meraih sebuah foto keluarga yang ada di atas meja, foto penuh kepalsuan karena tak ada kebahagiaan sedikitpun didalamnya. Tanpa diduga siapapun, John mulai membongkar bingkai foto tersebut dan mengambil foto lain yang tersembunyi didalamnya, sebuah foto dimana John tersenyum pada seorang wanita cantik yang tengah hamil besar, di tengah merekapun duduk seorang anak laki-laki yang tampak memegang perut besar itu seakan menantikan sang adik keluar dari dalam perut.
"Jeslyn sangat mirip denganmu sayang, dia sudah tumbuh besar sekarang."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
Jhein Tayu
upnya banyak2 dong..
2023-10-02
0
🤩😘wiexelsvan😘🤩
jangan jangan jema bukan anak kandung dari jhon tp anak dr hugel rachel ma selingkuhannya 😁😁😁
2023-10-02
1