Kabur

Kabar yang paling ditunggu Nick akhirnya tiba, sebuah email dari Brian yang disertai lampiran membuat senyum Nick sedikit terlihat setelah beberapa hari ini tak pernah terlihat senyum setulus itu lagi, ia dengan cepat membuka lampiran tersebut dan melihat sebuah foto kelulusan seorang wanita yang sedang dirangkul oleh seorang pria yang tampaknya tak asing. Tunggu, apa maksudnya foto ini? Apakah wanita itu adalah calon istrinya? Lalu siapa pria disamping wanita itu? Tanpa sadar Nick bergumam pelan. "Apa dia sudah memiliki kekasih?"

Karena kesal ada banyak pertanyaan yang ada di otaknya, Nick dengan cepat meraih ponsel dan menghubungi Brian. "Halo?"

Mendengar suara Brian yang tampak santai, Nick menggerakkan jemarinya di atas meja. "Apa hanya foto itu yang kau kirimkan? Tanpa deskripsi?"

"Ah, pesan email ya? Maaf, tadi ada kesalahan, aku sedang mengetiknya. Nah, sudah."

Tak berapa lama, sebuah pesan masuk dari Brian menyusul dan akhirnya memecahkan kebingungan Nick tentang foto tersebut. "Baiklah, aku akan menghubungimu lagi jika ingin memastikan sesuatu." Nick langsung mengakhiri panggilannya dan mulai fokus membaca pesan yang baru saja Brian kirimkan.

[Nama wanita itu Jema, entah nama panggilan atau nama aslinya, semalaman aku mencari semua yang aku bisa dan aku mendapatkan foto itu. Cukup cantik menurutku, hanya saja terlihat sulit dikendalikan dan hal yang lebih penting lagi dia sudah memiliki kekasih seorang penyanyi yang belum terlalu terkenal. Aku yakin foto itu sangat akurat, sudah aku cocokan dengan yang lainnya, ada juga sebuah Vidio yang menunjukkan Rachel menghadiri acara kelulusan tersebut dan foto itu yang paling terlihat jelas.]

Baiklah, sekarang yang ingin Nick yakinkan kembali adalah jika calon istrinya seorang wanita yang cantik, ia memiliki seorang kekasih dan cukup sulit dikendalikan. Terlihat sudah cukup sempurna bagi anak tunggal yang kelebihan harta, lalu mengapa Nick yang menjadi sasaran John untuk menjadi calon suami Jema? bukankah lebih baik jika anak kesayangannya itu menikah dengan pria yang ia sayang? Lalu jika John menginginkan seorang menantu yang bisa mengelola bisnis, bukankah ada banyak pria lain selain Nick yang jauh lebih sempurna? Perusahaan keluarga Nick bisa dibilang besar, tapi tidak raksasa seperti bisnis para konglomerat layaknya John, Hans dan lainnya yang selalu masuk ke dalam majalah dengan judul 7 urutan pengusaha tersukses tahun ini. Marteen maupun Ace (mendiang kakek Nick) maupun Nick sendiri tidak pernah masuk ke dalam 7 urusan pengusaha tersukses, perusahaan mereka tidak sehebat itu. Lalu, apa yang membuat John berpikir untuk menjadikan Nick sebagai calon menantunya? Apakah dia sudah gila?

Sebanyak apapun Nick berpikir, tetap saja ia tidak bisa menemukan alasan yang logis untuk John menjadikannya menantu yang jelas-jelas akan menjadi penerus yang membantu Jema untuk menjalankan bisnisnya.

Pesan baru kembali muncul dan membuat Nick langsung membuka pesan tersebut. [Aku akan mengirimkan sebuah video, bersiap-siaplah.]

Kening Nick sedikit berkerut samar, ia menantikan apa yang akan Brian berikan untuknya. Tak sampai 1 menit, sebuah email masuk dan benar saja sebuah link yang menunjukkan akses menuju sebuah Vidio terlihat. "Wow, oke," gumam Nick saat sudah membuka Vidio tersebut dan melihat Jema sedang menari bersama pria lain, wajah yang sangat berbeda dengan pria yang ada di foto tadi. "Dia cukup liar," lanjut Nick.

Seketika, entah mengapa rasa penasaran mulai menyelundup ke dalam hatinya, bukankah selama ini dia selalu berhasil meluluhkan seorang wanita seperti Jema ini? wanita dengan tingkat kesetiaan rendah membuat Nick langsung berpikir jika dalam sekali pertemuan saja wanita itu akan melirik Nick karena paras wajah dan tubuh Nick yang cukup disenangi oleh para wanita. Baiklah, untuk saat ini lebih baik mengikuti apa kemauan Ayahnya sekaligus bermain-main pada seorang wanita kaya raya yang sulit di taklukan itu. Perlahan Nick menarik nafasnya dalam, mungkin saja setelah ini ia akan dihantui mimpi buruk oleh Laura.

***

Sementara di tempat lain, suara tinggi John membuat semua orang terdiam di tempat, amukan John kali ini benar-benar parah sampai gelas yang ada ditangannya ia lempar ke sembarang arah. "Besok malam keluarga Marteen akan kemari, cari dan tangkap anak nakal itu sebelum Marteen dan anaknya datang!" teriakan John yang disertai hentakan keras tangannya diatas meja membuat Jeslyn hanya bisa mengerjapkan matanya beberapa kali, ingin rasanya ia melarikan diri dari tempat menyeramkan ini sekarang juga, namun belum ada cara yang ia dapatkan untuk bisa keluar dari rumah ini seperti Robert, kakaknya berhasil keluar dari rumah ini karena mulai ditugaskan untuk mengelola perusahaan John di Mexico.

"Sayang, tenanglah, aku yakin Jema akan segera kembali, dia hanya pergi sebentar," ucap Rachel yang tampak gelisah. Sangat jelas jika suara Rachel yang berusaha menenangkan John cukup bergetar, ia pun sepertinya panik dan tak percaya dengan keputusan Jema yang melarikan diri disaat situasi makan malam 2 Minggu lalu yang begitu kacau.

Bukannya tenang, John yang mendengar itu justru melayangkan tatapan tajam pada istrinya. "Kau pikir aku bodoh? anak itu sedang melarikan diri, tidak ada orang normal yang hanya pergi sebentar tetapi membawa semua baju dan uang di brankasnya!" pekik John naik pitam.

"Mungkin Jema sedang syok karena acara makan malam yang mendadak, seharusnya kau bisa lebih lembut pada Jema sayang, dia tidak akan me—"

"Sudah cukup! temukan anak itu sekarang juga!" perintah John pada semua anak buahnya.

Jeslyn menggenggam kuat ujung pakaian nya, jika ini terus berlanjut dan berakhir dengan pertengkaran Rachel dengan John seperti 2 Minggu lalu, bisa ditebak jika dalam beberapa hari ini Rachel akan meluapkan semua kekesalannya pada Jeslyn saat John kembali pergi dan tak tahu kapan ia akan pulang.

Dua Minggu lalu, kedua tangan Jeslyn berwarna merah, ia mendapatkan hukuman dari Rachel karena Jeslyn tak mengikuti ucapan Rachel yang meminta untuk mengantarkan makan malam Jema ke kamarnya. Jeslyn harus memotong semua rumput di halaman depan yang begitu luas, Rachel tak membiarkan Jeslyn menggunakan alat lain selain gunting berukuran sedang yang sudah tidak terlalu nyaman digunakan. Beberapa kali Loly ingin membantu Jeslyn, namun beberapa pelayan setia Rachel mengancam Loly untuk tidak membantu Jeslyn. Tak ada satu orangpun yang berani melawan Rachel dirumah ini.

"Dia sama seperti mu, tidak beraturan dan tidak tahu diri," desis John pada Rachel saat meninggalkan ruangan.

Jeslyn menoleh dengan perlahan, melihat kearah Rachel yang kini wajahnya sudah berwarna merah menahan rasa malu dan kesal akibat ucapan John yang pastinya didengar oleh beberapa pelayan dan penjaga yang sedang berjaga di setiap sudut ruangan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!