Pria bertubuh tinggi itu menatap Nuah dengan tajam, namun tiba tiba seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah itu dan nampak terkejut saat menatap Nuah.
"Li?" Sapa wanita itu, pria yang semula agaknya kurang percaya, akhirnya membukakan pintu dan menunduk pada kedua orang tersebut.
"Nyonya maaf, saya tidak tahu bila Nona ini adalah orang yang anda undang. Nona silahkan masuk." Pria itu mempersilahkan Nuah memasuki pintu gerbang.
"Lain kali kalo lihat dia ke sini lagi langsung izinin masuk aja." Perintah wanita itu dan langsung memeluk Nuah dengan perasaan haru dan bahagia.
"Kamu mirip sekali dengan ibu mu, dan sudah besar sekarang." Wanita itu menangis di pelukan Nuah dan kehangatan yang di berikan wanita itu mampu membuat Nuah mematung seketika.
'Apa apaan ini? Kenapa aku harus terjebak dalam kondisi seperti ini.' Nuah merasa semakin berat sekarang, hingga akhirnya wanita itu tersenyum dan langsung menarik Nuah masuk seraya menyeka air matanya.
"Pa... Pa..." Teriak wanita itu hingga keluarlah seorang pria paruh baya dengan senyum tuanya dan rambut yang meski belum memutih semuanya namun nampak tanda tanda tua sudah berada di kepalanya itu.
"Ma, kok teriak teriak si. Wah bukankah ini Li? Kamu sudah besar ya." Pria tua itu kembali memeluk Nuah dan air mata bahagia terpancar dari bola mata tuanya.
"Kamu cantik sekali Nak." Pria itu mengusap pipi Nuah dan menggenggam kedua lengan Nuah dengan senyum dan binar matanya.
'Mampus aku.' Batin Nuah, dia memang bisa menghajar orang orang kurang ajar yang tidak memiliki etika, namun bila orang orang itu sebaik ini bagaiamana caranya dia bisa menghindar.
"Assalammu'alaikum Om." Salam Nuah mengecup punggung tangan pria tua dan wanita tua itu bergantian, keduanya nampak memberi kode.
"Nuah kita makan bersama ya, ini juga akan segera malam." Nuah hendak menolak namun dia tak sempat berbicara sudah di tarik lengannya.
"Apa kabar kampung?" Pria tua yang kini di ketahui sebagai Tuan Azkara itu mulai membuka perbincangan di meja makan.
"Saya juga kurang tahu Om, saya sedang menuntut ilmu sekarang di sebuah Perguruan Tinggi." Jawab Nuah apa adanya.
"Wah hebat sekali, mengambil jurusan apa?" Kini Nyonya Azkara yang bergantian menanyai Nuah.
"Kedokteran." Jawab Nuah singkat, dia mulai mencari celah untuk memperbincangkan sesuatu yang penting.
"Begini, sebenarnya ada sesuatu yang ingin saya sampaikan hari ini." Nuah mengambil udara sebanyak banyaknya sebelum memulai percakapan penting itu.
"Aku ingin membatalkan perjodohan yang di lakukan Om dan Tante dengan Papa dan Mama saya, bukannya saya tidak suka pada kalian ataupun apapun itu, tapi saya memiliki alasan yang lain, saya sudah memiliki pilihan saya sendiri." Kedua orang yang mendengarkan itu terdiam seketika dan menghentikan kegiatan mereka.
"Siapa? Apa masih Dani?" Mendengar nama pria itu jelas membuat Nuah muak, dia menggelengkan kepalanya.
"Dia masih orang kota ini, dia seseorang yang baik dan dewasa sosok yang saya butuhkan untuk membimbing saya." Kedua orang yang mendengar itu saling bertatap-an.
"Bisa Om bertemu dengannya dulu Nak?" Nuah mengangkat alisnya dan tersenyum, Mamat sosok yang dewasa pasti mengerti bagaimana caranya menghindari dua orang ini.
"Baiklah, saya usahakan nanti saat berkunjung lagi membawanya." Ucap Nuah tersenyum lembut, kedua orang itu merasa sangat berat sekarang.
Hujan tiba tiba turun sangat lebat dan petir bergantian menyambar, Nuah yang sudah selesai makan akhirnya merasakan tangannya yang bergetar. Ternyata dia masih merasa takut.
Mata Nuah tiba tiba terasa pedih dan berkaca kaca, kedua orang yang menyaksikan keanehan Nuah mulai merasa bingung. Mereka memang tahu tentang trauma masa lalu Nuah namun mereka tidak tahu bila hal itu terbawa sampai sekarang dan sampai berbekas seperti itu.
"Kenapa Li?" Nyonya Azkara merasa risau saat tangan Nuah bergetar kian sulit di kendalikan. Bahkan tubuh mungilnya kini ikut bergetar bersamaan dengan itu keringat dingin mulai membanjiri kening Nuah.
Nuah tak menjawab apapun dia merasakan dadanya yang sesak dan matanya yang mulai berkaca kaca, namun dia masih sadar akan dirinya sendiri meski penglihatannya mulai buram.
"Sa...saya boleh pinjam kamar?" Nuah kian tak karuan, Nyonya Azkara mengangguk dan membantu Nuah berdiri menuju sebuah kamar tamu.
Nyonya Azkara kian risau saat kondisi Nuah tidak membaik, dia menatap sang suami yang kini nampak sangat kebingungan.
"Kita panggil Dokter ya Pa." Pinta Nyonya Azkara dan langsung di angguki oleh Tuan Azkara.
"Tidak, jamgan! Saya akan baik baik saja setelah istirahat." Nuah membaringkan tubuhku dan mulai merasa aman, ponselnya masih mati dan dia tidak bisa menghubungi Mamat saat itu.
Nuah berusaha menutup matanya, gambaran sosok Mamat membuat perasaannya membaik, dia mulai merasa tenang dan tertidur.
Nyonya dan Tuan Azkara yang melihat kejadian itu merasa bingung, namun mereka juga tidak bisa berbuat apa apa saat itu hingga akhirnya larut malam dan Nuah tidak terbangun.
Kedua orang tua itu akhirnya meninggalkan Nuah untuk istirahat, mereka mulai berdiskusi tentang apa yang terjadi.
"Kasihan sekali anak itu, dia pasti seperti ini setelah kehilangan orang tuanya." Nyonya Azkara merasa iba pada Nuah yang selam ini selalu tinggal sendirian.
"Tapi, dia sekarang menolak perjodohan itu. Dan anak kita juga mengatakan bila dia sudah memilki pilihannya sendiri, kita juga sebagai orang tua tidak boleh egois demi kebahagiaan mereka." Tuan Azkara yang bijaksana berusaha memahami keinginan keduanya.
"Benar, tapi setidaknya mereka bisa bersaudara dan hidup sebagai keluarga meski tidak ada ikatan darah." Nyonya Azkara berusaha mencari jalan terbaik untuk melindungi keduanya.
"Ya, kita tunggu dulu Malik pulang." Keduanya saling tersenyum dan berharap mereka bisa menjalin kekeluargaan.
Saat sudah sangat malam seorang pria masuk ke kediaman itu dan diam diam masuk ke dalam rumah itu dan langsung memasuki sebuah kamar di lantai dua begitu saja.
Pria itu adalah Malik Azkara sang penerus Azkara grup yang merupakan sebuah perusahaan raksasa dengan berbagai jenis cabang dan jenis usaha.
Malik nampak sangat kesal, sedih dan frustasi dia tidak nampak baik baik saja saat pulang, nampak setelah dirinya sampai di kamarnya dia tidak bisa memejamkan matanya sama sekali. Sebuah bayangan yang membuatnya tak mampu melupakan hal itu membuatnya kalut.
"Ahhh...ini pasti salah ku, kenapa aku mengatakan itu? Dia pasti marah dan tidak ingin menghubungi ku. Pria itu kian merasa risau dia kembali menghubungi sebuah nomor dengan nama KESAYANGANKU dengan sebuah emote hati berwarna merah.
Pria itu mondar mandir tidak jelas dan merasakan ketakutan hebat menghujani hatinya, dia benar benar mengatakan sesuatu yang membuat seseorang yang di cintainya tak membalas pesannya sama sekali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments