Malam itu adalah malam paling berbeda yang pernah Nuah jalani, Kia menggedor pintunya saat jam menunjukan pukul 8 malam.
"Nuah, ayo kita ngumpul." Kia dengan khasnya yang riang langsung menggusur tangan Nuah yang masih terpaku.
"Nah kenalin ini kak Sofie dan ini kak Wulan." Kia menunjuk pada seorang wanita berhijab besar dan tersipu menatap Nuah.
"Hai kak Sofie nama ku Nuah." Nuah mengulurkan tangannya yang mendapatkan sambutan hangat dari Sofie.
"Kak Wulan hai, aku Nuah." Nuah tersenyum mengulurkan tangannya pada Wulan, Wulan tersenyum dan menarik lengan Nuah untuk duduk di sampingnya.
"Oke Nuah, gak usah sungkan sungkan di sini." Nuah mengangguk.
"Gadis berambut hitam dengan wajah ayu di seberang sana, ayo duet sama abang?" Seorang pria dengan spaiker dan son yang cukup besar meraung raung.
"Tuh dedemit suka bener nyari masalah sama gue!" Wulan bangkit dari duduknya dan berkacak pinggang menunjuk ke arah seberang kostan, dimana sosok pria tengah senyam senyum ke arahnya.
"Eh Jenglot idup! Suara fals gitu aja mau duet sama aye? Gak level woi!" Nuah terkejut bukan main dengan suara cempreng bernada tinggi dari Wulan.
"Aduh nyai anu gelis kawanti wanti, penting gampil ngambek atuh liss bilih tereh kolot." Nuah yang mengerti dengan ucapan pria itu terkikik.
"Jangan pakek bahasa alien dong woi!" Lagi lagi suara cempreng itu mampu membuat Nuah terkejut.
"Hahahahah, iya iya.." Kia yang memperhatikan itu langsung mendekat ke arah Nuah merasa bila Nuah mengerti dengan ucapan pria itu.
"Apa artinya?" Tanya Kia dengan mata berbinar penuh dengan rasa ingin tahu.
"Katanya jangan marah marah nanti cepet tua." Jawab Nuah membuat telinga gajah yang dimiliki oleh Wulan beraksi dengan cepat.
"Eh Jenglot! Lo ngatain gue cepet tua ya? Sial lo!" Nuah terkekeh memperhatikan tetangga barunya itu.
"Kia, kenapa Wulan kaya yang sewot banget gitu?" Kia yang mendapatkan pertanyaan itu langsung bersikap gaya khas profesional dan dengan cepat memaparkan keterangan yang begitu panjang.
"Begini dulu deh, kita liat dulu sosok di depan sana yang di panggil Jenglot oleh Kak Wulan dia bernama Jaka, dia berasal dari Ciamis. Dia sebenernya baik banget dan naksir berat sama kak Wulan, tapi kak Wulannya belum bisa move on dan gak suka di ganggu cowok gak jelas kaya gitu. Sekilas info nih ya Nuah, Kak Wulan itu dulu di tinggalin pacarnya dan lagi hamil dua bulan. Aku juga gak tau yang sebenernya terjadi kaya apa, yang jelas orang orang di sini nganggap kak Wulan itu sebagai wanita murahan tapi buat aku pribadi dia itu gak kaya gitu. Bahkan menurut aku sendiri kak Wulan adalah sosok paling dewasa dan suka ngejagain kita dan paling peka di antara kita semua." Kia memaparkan keterangannya hingga suara tangis bocah terdengar dari dalam kostan Wulan.
"Mama... haaa..." Tangis bocah laki laki membuat Wulan buru buru masuk ke dalam kostannya dan melihat bocah kecil berusia setahun lebih tengah berjalan ke arahnya.
"Cup, cup sayang anak Mama yang ganteng. Bobo lagi yo?" Wulan lama didalam kamar sedangkan percakapan di luar kamar tidak begitu banyak, Kia yang memang sangat kepo itu terus nyerocos menginterogasi Nuah, sedangkan Sofie yang terkesan pemalu dan tidak banyak bicara hanya menjadi pendengar saja.
"Anak udah tidur, kalian lagi ngurusin apa?" Wulan duduk di samping Nuah dan menepuk paha Nuah.
"Nyari cowok jaman sekarang gak boleh cuma ganteng dan kaya aja, kita harus nyari sosok pria yang berprinsip yang utama." Wulan langsung masuk pada pembicaraan saat mendengar Nuah yang baru memutuskan pacarnya karena perselingkuhan kekasihnya yang terbongkar.
"Iya kak, harta bisa di cari bareng bareng dan bersama ganteng juga gampang sekarang tinggal masuk salon aja. Tapi kalo orang berperinsif dan setia itu tidak mudah zaman sekarang." Nuah dan Wulan merenung, ucapan Nuah barusan yang menerangkan dirinya sendiri juga tanpa sengaja menoreh kenangan dalam benak Wulan.
"Ya, aku juga ngerasa gitu makanya aku milih minta di jodohin aja sama bapak." Sofie kini ikut berbicara membuat perhatian Nuah, Kia dan Wulan mengarah pada mulut besi Sofie.
"Di jodohin?" Kia yang memilki rasa ingin tahu tinggi langsung merapat dan duduk mendekat ke arah Sofie, Wulan yang merasa penasaran juga duduk mendekat.
"Gimana ceritanya Fie?" Wulan penasaran dan memasang telinganya berusaha menyimak ucapan Sofie.
"Sebenernya ini udah lama banget si, sekarang aku lagi ngerjain sekripsi dan bentar lagi mau sidang. sebenernya setelah aku lulus aku mau langsung di pinang sama seseorang." Alis mata Kia dan Wulan berdenyut berusaha memahami apa yang mereka dengar.
"Siapa calonnya?" Wulan yang pernah mengalami kegagalan akan cinta kini merasa sangat perduli pada temannya itu, karena mau bagaimanapun rasa sakit yang dulu sempat dia miliki masih sangat terasa dan sulit untuk menemukan obatnya.
"Kata bapak dia seorang Habib dan insya allah dia orang yang baik." Mata Kia melotot seketika.
"Wahhh, nanti anaknya bisa jadi Habib dan Syarifah dong? Eh tapi ni ya kak, kata orang orang kalo nikah sama Habib itu mesti siap di poligami. Emang siap?" Wulan mengangguk setuju dengan apa yang di paparkan oleh Kia.
"Aku gak tau si, tapi aku merasa kalo dia adalah jodoh yang di berikan tuhan buat aku." Sofie senyum senyum di benaknya kini terlintas sosok pria yang sudah berjanji hendak mempersuntingnya dan sosok yang akan jadi imamnya kelak.
"Wah, ada bunga bunga cinta disini. Ada calon budak cinta." Wulan terkekeh melihat semburat merah yang terlihat di pipi manis Sofie.
"Gimana si rasanya punya pacar?" Kia kini malah penasaran, Nuah menatap Kia yang nampak sangat polos meski nampaknya teori yang dia miliki cukup matang tapi sepertinya bila urusan pengalaman dia masih anak jagung.
"Kamu gak usah tahu apa itu pacaran, sekolah aja dulu yang bener jadi orang dulu baru mikirin cowok itu juga kalo kamu sudah tajir, ngerti!" Wulan nyerocos seakan tengah memarahi adiknya sendiri yang ketahuan pacaran.
"Iya kak, cuma aku penasaran aja gimana rasanya." Kia cemberut lemas dan duduk menatap ke arah luar dan menatap langit yang kini penuh bintang.
"Tuhan sudah menyiapkan seseorang untuk Kia, seseorang yang baik pastinya karena Kia juga orang yang baik." Sofie dengan petuah bijaknya memberikan pengarahan pada gadis polos seperti Kia.
"Iya, jangan kecil hati kalian. Mendingan tahan sama perasaan seperti itu utamakan dulu untuk bahagia." Wulan juga menatap ke arah langit hingga matanya terasa panas seolah sosok yang dulu meninggalkannya tanpa permisi itu berlalu di ujung matanya.
Ilustrasi Kia
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments