Dimohon bijak dalam membaca! Episode ini mengundang beberapa edukasi untuk pemula.
Ciuman itu kian dalam hingga tanpa terasa tangan Rizal mulai bergrilia di bagian belakang tubuh Wulan, hal itu dapat di terjemahkan dengan baik apa yang di inginkan oleh Rizal.
"Aku belum mandi." Wulan mendorong tubuh Rizal menjauh dari tubuhnya dan cepat cepat mengambil handuk yang terdapat di tempat itu.
"Aku mau kamu sayang." Rizal meraih tubuh Wulan hingga tubuh itu tak dapat menahan kekangan dari tenaga besar yang di miliki oleh Rizal.
"Ta..tapi aku.. Ahhh!" Sebuah desain lolos dari bibir Wulan saat telinganya di hisap dengan ganas oleh Rizal secara membabi buta.
Hisapan dan ciuman kian menjadi di seluruh tubuh Wulan membuat tubuh yang sudah lama tak tersentuh itu mengekang dan mengerahkan pelukannya.
Rasa nyaman dan indah malam itu berbaur menjadi penyatuan tubuh yang sangat panas. Maaf Author tidak dapat menulis secara detail karena takut tidak lulus revisi.
Di kamar sebelah Wulan dimana Sofie biasanya berada kini sepi karena Sofie belum kembali dari kampung halamannya berbeda dengan kamar sebelahnya di mana terdapat dia manusia lain yang bisa mendengarkan apa yang di lakukan oleh Rizal dan Wulan.
Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari, namun kegiatan dua manusia itu agaknya belum berakhir, wajah Nuah sejak awal sudah memerah bahkan sebagai seorang manusia normal dia juga merasa sedikit malu.
"Kamu demam?" Mamat menekan kening Nuah saat pipi gadis itu terus meronta merah.
"Enggak kok, aku gak demam. Sana sana.." Nuah mendorong tubuh Mamat untuk menjauh darinya.
"Alif pinter banget ya, dia belum bangun." Mamat menempelkan kepalanya di atas kasur sedangkan tubuhnya di bawah beralaskan karpet lembut.
"Tiap malam juga dia pinter, makanya mamanya bisa kerja." Nuah berceloteh merasakan kantuk di matanya.
"Kalo ngantuk tidur aja." Mamat menarik tubuh Nuah ke dalam pelukannya membuat secepat kilat Nuah berontak dan berdiri tegak.
"Apa apaan si! Itu pelecehan namanya tau!" Nuah membentak Mamat dengan sangat kasar namun senyum malah nampak tersungging dari bibir pria itu.
"Ck, ngeselin." Mamat berdecak kesal kembali menarik tubuh Nuah dalam dekapannya dan sekilas namun jelas pria itu menyatukan bibir mereka.
"Kamu sudah tersegel sebagai milikiku, coba jelas kan di mana bagian pemecahannya?" Nuah melotot mendengar penuturan itu.
"Dasar tidak tau malu! Semua yang kamu lakukan itu namanya penindasan atas dasar pelecehan tau!" Nuah memutar bola matanya sebal pada Mamat.
"Feet.. baiklah, kalo itu masukan pelecehan kalo lebih dari itu di sebutnya apa?" Mamat bertopang dagu dengan santainya bertanya tanpa rasa berdosa.
"Astaga pak bos, apa kamu tidak pernah belajar hukum dan adat ya? Ngeselin banget si!" Nuah membelakangi Mamat dan langsung pergi ke atas ranjang memeluk Alif hendak tertidur.
Tanpa sadar wajah Nuah saat itu sudah merah seperti kepiting rebus, lampu kamar yang terang membuat Mamat dapat melihat itu dengan jelas.
"Dasar kucing manis." Mamat bergumam dan tanpa sadar dirinya tertidur.
Seisi kamar itu akhirnya terlelap dalam mimpi namun di kamar sebelah agaknya lebih indah dari sekedar mimpi, Wulan dan Rizal melakukan itu hingga pagi hari.
"Kak Nuah! Aku berangkat ya!" Samar suara Kia berteriak dari depan kostan Nuah sehingga dengan cepat Nuah mengedip ngedipkan matanya.
"Astaga! Jam 8!" Nuah berteriak keras dan langsung ke kamar mandi tanpa sadar ada orang lain di sana, Alif juga akhirnya ikut terbangun begitupun Mamat.
Mamat memperhatikan Nuah yang langsung masuk ke kamar mandi dan kecepatan kilat pula dia mengambil pakaiannya dan berganti pakaian saat itu juga. Saat itu Nuah benar benar tidak sadar ada orang lain yang memperhatikannya di atas ranjang kebesarannya dan tengah mimisan.
'Gadis ini.' Mamat berbisik dalam hati kecilnya hingga akhirnya saat Nuah merapikan buku bukunya dan hendak meraih ponselnya di atas kasur dia baru tersadar bila ada Alif dan Mamat di sana.
"AAAAAAA, TUKANG NGIN...peip." Nuah tidak keburuenyelesaikan teriaknanya karena mulutnya sudah di sumpal oleh telapak tangan Mamat.
"Siapa tukang ngintip, sendirinya yang ngasih tontonan gratis." Mamat mengumpat pada Nuah hingga membuat Nuah melotot dan berusaha melepaskan diri.
TOK..
TOK..
TOK..
Pintu kamar Nuah di ketok seseorang, Nuah mengangkat jari telunjuknya hendak mengancam Mamat. Nuah membuka pintu kamarnya dan tampaklah Wulan dengan wajah segar dan leher penuh bintik merah di sana.
"Aku mau ngambil Alif." Nuh tersenyum dan mempersilahkan Wulan masuk, Wulan melotot ke arah Mamat hingga membuat Mamat tersadar pasti Rizal sudah memeberi tahu rahasianya pada wanita itu.
"Ini bukan tempat kamu, pulang sana!" Wulan berdesis kesal pada Mamat hingga akhirnya Mamat mengangguk faham dan keluar dari kamar Nuah.
Di luar sana nampak Rizal yang sudah menunggunya dengan wajah berseri seri berbeda dengan Mamat yang nampaknya sangat kesal pada Rizal.
"Bro! Gue lakuin itu karena gue kasian sama Nuah, kalo lo terus di sana dan terus kasih harapan palsu, bisa mati gue di gantung om Wira." Rizal menepuk bahu Mamat hingga mata pria itu nampak semakin kesal di buatnya.
"Lo gak kasian sama gue hah?" Mamat berjalan cepat meninggalkan Rizal yang kini mengangkat bahunya, sekilas Rizal melambaikan tangan pada Wulan yang masih berada di ambang pintu kamar Nuah.
Hari itu adalah hari penyerahan perusahaan Fadli Group sekaligus pengumuman besar yang akan di umumkan oleh Rizal pada media masa tentang kehidupannya, banyak orang yang datang dalam acara tersebut termasuk Pak Wira ayah Mamat bersama Bu Wira dan juga Mamat di sana, siang itu Mamat merenung dan tidak banyak berbicara.
Banyak orang yang mengajak Mamat berbicara namun dia selalu mengelak dan memilih pergi meninggalkan mereka, tak ketinggalan beberapa wanita cantik yang memang sudah mengincar akan kehadiran Mamat dan Rizal pun turut mendekati mereka.
Mamat benar benar sebal pada kenyataan dunia yang harus di terimanya, begitu banyak hal yang dia miliki kini namun benar semuanya seolah tidak berarti bila tidak memiliki hati.
Mamat menatap langit yang kian senja wajah manis Nuah lagi lagi tergambar dalam benaknya, dia benar benar sudah mencintai wanita itu tak perduli sudah berapa lama dia bertemu dengannya karena pertemuan yang sekejap itu justru yang membuatnya semakin tertarik akan sosok gadis manis itu.
"Apa ada pilihan sekarang?" Mamat mengangkat tangannya, dia melihat sebuah jam yang terpasang indah. Mamat menghela nafasnya kian di lihat kian kesallah dia, waktu seakan tak bisa berkompromi dengannya. Mamat ingin merasakan cinta apa itu salah?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments