Tua

"Ka..kamu!" Nuah merasa sangat kesal, tadi dia juga merasa apa yang di katakan Mamat memang benar adanya, benar benar membuatnya aekak mat.

"Oh iya aku bawa kamu ke sini, mau tanya pendapat kamu tentang rumah ini." Mamat buru buru membuka pintu kamar agak dirinya dan Nuah tidak terjebak dalam kekakuan.

"Heh, apa urusannya dengan ku?" Nuah membuang muka, Mamat terkekeh dan menarik lengan Nuah.

"Rumah ini di buat oleh Om Fadli untuk Rizal, dia berharap Rizal dan Wulan bisa hidup bahagia di sini." Mamat memperlihatkan sebuah hunian megah bak istana, bahkan ukuran rumah itu hampir sama dengan rumah Nuah di Desa.

"Gimana?" Mamat tersenyum menanyakan pendapat rumah itu kepada Nuah. Nuah menggelengkan kepalanya.

"Sebuah rumah bukan karena indah, bagus ataupun besar yang membuat hal itu nyaman tapi penghuni rumah itu sendiri. Menurut aku rumah ini terlalu besar kalo untuk ukuran keluarga yang baru nikah." Nuah berjalan menilai rumah tersebut.

"Oh, lalu baiknya seperti apa?" Kini Nuah beneran masuk pada perangkap Mamat.

"Rumah buat yang baru nikah itu harusnya sederhana aja, tapi kumplit. Siapin makanan cepat saji juga, kakak gak tau pasti dulu di kampung kata Bu Ustadzah orang yang baru nikah itu gak bakal sempet ke luar kamar katanya hahahahah.. " Nuah tertawa mengingat bagaimana percakapannya bersama ibu ibu di kampungnya dulu.

"Mereka yang baru nikah yang paling penting dan utama adalah KAMAR, ngerti?" Nuah masih dengan senyumnya dan melangkah ke arah kamar utama.

"Ini?" Nuah menatap seluruh kamar yang berhiaskan lampu menyala di atasnya layaknya bintang yang bertebaran, wajah Nuah bersemu merah merasa nyaman dengan isi kamar tersebut.

"Bagus gak?" Mamat bertanya menatap Nuah yang tengah terpesona dengan keindahan tersebut.

"Indah banget, kak Wulan emang suka bintang. Kak Rizal perhatian banget ya? Sampai hal terkecil dari kak Wulan dia bisa memikirkannya." Nuah menatap berbagai jenis hiasan kamar itu yang sangat sesuai dengan kesukaan Wulan.

"Kamu sendiri suka yang seperti apa?" Nuah mengangkat alisnya bingung menatap Mamat yang kini tersenyum kaku.

"Aku sukanya? Apa sangkut pautnya sama aku, dihhh..." Nuah bedecih dan keluar dari kamar tersebut menuju bagian depan rumah.

Taman di kediaman itu juga cukup luas meski gerimis masih melanda namun itu malah mempercantik bunga bunga yang nampak bermekaran, Nuah tersenyum dalam hatinya dia merindukan taman depan rumahnya yang penuh dengan bunga bunga.

Nuah duduk di bagian samping kediaman tersebut memperhatikan gerimis hujan dan anggukan daun daun, Nuah merasakan sejuk di kulitnya.

"Kangen rumah." Nuah menghela nafas, meski baru beberapa minggu dia jauh dari rumah dia benar benar merindukan saat saat di kampung halamannya itu.

Mamat diam diam memperhatikan Nuah menyandarkan lengannya ke tembok dengan tangan bersedekap menatap Nuah yang kini menikmati suara lembut hujan.

Di tempat lain, Rizal menangis hingga akhirnya Alif terbangun dan matanya yang bulat berwarna coklat sontak membuat dada Rizal melonjak bahagia.

"Sayang sudah bangun, sini sama Papa." Rizal mengangkat tubuh Alif.

Breeek..

"Eeeehhh..." Suara Alif mendesah seperti mengeluarkan sesuatu, hingga sebuah aroma tidak enak keluar dan membuat Rizal tutup hidung saat itu juga.

"Astaga anak Papa ni ya!" Rizal terkekeh dan mengelus punggung Alif lembut membiarkan bocah itu menyudahi kegiatan hajatnya.

Rizal dengan bercampur muntah dan hati hati melepaskan Pempes yang di pakai oleh Alif dan mencari gantinya di tas yang di bawa Nuah semula. Dengan hati hati Rizal mengganti dan membersihkan tubuh bocah itu di kamar mandi.

Rizal membawa Alif ke ruangan depan dan menciumi wajah bocah itu hingga dirinya merasa puas, Rizal sekan mendapat mainan baru yang sangat bagus dia bermain dengan Alif dengan bahagia.

Tanpa terasa waktu menunjukkan pukul 4 sore dan suara pintu rumah tersebut terbuka, SIAPA lagi yang bisa membuka pintu tersebut selain sahabat julid yang tidak punya akhlak itu.

"Kakak Nuah..." Alif berbicara seraya berjalan menuju Nuah, Alif tersenyum melihat hal tersebut dan langsung duduk di sofa.

"Kakak, tu.. Papa." Alif menunjuk ke arah Rizal mungkin maksudnya Alif ingin menunjukan pada Nuah bila di sana ada Papa nya.

"Iiihhh... pinter banget si, adek nya siapa ini.. tututu..." Nuah mencium pipi Alif gemas.

"Sana, kasihin ke Bapaknya. Ganggu orang baru datang aja." Mamat berdesis kesal meraih tubuh Alif dan memberikannya pada Rizal.

"Gitu banget posesifnya, kapan nikahnya woii?" Rizal menepuk bahu Mamat yang kini duduk di sebelahnya.

Mamat tidak menjawab dan matanya malah mengarah ke arah Nuah ang nampak masih belia, ya saat itu Nuah masih ber usia 19 tahun.

"Nikah apaan si, baru kenal kak. Aku laper." Nuah merasakan perutnya yang berdemo meminta sembako.

"Astaga, hei Mat lo ngajak jalan cewek gak di kasih makan. Mahluk apaan lo?" Rizal menyikut bahu Mamat yang nampak bersalah.

"Gue lupa, gue masak aja kalo gitu. Bantuin yo!" Mamat menarik tangan Nuah ke dapur sedangkan Rizal hanya menggeleng melihat kelakuan sahabatnya itu.

"Emang bisa masak?" Nuah penasaran melihat wajah Mamat yang ku dan meyakinkan, masa iya wajah setampan itu bisa masak pikirnya.

"Mau meragukan aku nih?" Mamat mendekatkan wajahnya yang sontak tampaklah dengan jelas semburat merah di pipi Nuah.

"Ish.. sana jangan deket deket." Nuah mendorong pria kurang ajar itu, dia benar benar sering jantungan bila selalu berdekatan dengan pria itu.

"Berapa usianya?" Mamat bertanya santai seraya mulai mengambil beberapa sayuran di dalam lemari pendingin, namun sekilas Nuah juga bisa melihat telinga Mamat yang memerah.

"Kepo banget, emangnya kenapa?" Nuah terkekeh sejenak, dia berfikir bila warna merah itu hanya halusinasinya saja.

"Kalo mau nikah harus lebih dari 17 tahun, kalo belum umur segitu aku harus nunggu dulu kan?" Mata Nuah tiba tiba membulat mendengar penuturan abstrak pria tersebut, sungguh tidak jelas pikir Nuah.

"Apaan si gak jelas banget." Nuah kembalikan wajahnya enggan bila pipinya yang kini memanas hebat terlihat oleh pria itu.

"Apa harus sangat jelas ya?" Mamat mulai mengiris berbagai sayuran dan beberapa daging.

"Ya, bukan gitu masalahnya. Kakak ini udah tua." Nuah berceloteh seenaknya, Mamat menghela nafas tajam dan seketika menghentikan kegiatannya memotong daging.

"Tua?" Mamat mulai merasa tidak percaya diri akan hal itu, memang usianya sudah hampir mencapai angka 30.

"Apa aku keliatan setua itu?" Mamat mendekat ke arah Nuah dan mengunci pergerakan wanita itu, tangan kiri dan kananya mengunci tubuh Nuah di sisi tembok.

Nuah menelisik setiap sudut wajah Mamat, sayang kata yang di ucapkan sebelumnya yaitu TUA tidak ada dalam kamus wajah pria itu, dia bahkan nampak sangat tampan dan sempurna.

Ilustrasi Wulan dan Rizal

Wahai para pembaca julid ku, apa kalian mau Wulan sama Rizal cepat bahagia? atau kita siksa dulu nih?

Mohon jawab di kolom komentar karena besok sesi mereka akan di mulai, oleh sebabnya saran dari pembaca menentukan alur kisah selanjutnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!