Trauma

"Enggak keduanya, aku hidup dengan keinginan hidup dan mimpi untuk berguna bagi orang lain dan bisa menolong orang lain. Masalah uang sepertinya hal itu bukan lagi hal penting saat kita bisa meraih asa dengan sebuah cara yang yang sulit di tafsirkan orang, bukannya itu lebih menarik?" Nuah terkekeh geli, dia mendengar tangis bocah di sebelah kamarnya dan buru buru memelankan suaranya.

"Kamu unik." Tanpa sadar Mamat mengucapkan dua kata tersebut.

Cresh...Duar..

Petir dan guntur menyambar dengan keras dan seketika itu juga lampu padam dan Nuah langsung merasakan ketakutan, tubuhnya menggigil dan kilatan petir mampu membuatnya berteriak.

"Arrrgh..!!" Nuah menutup telinganya dan air matanya jatuh perlahan, Nuah teringat kejadian dimana kecelakaan yang merenggut kedua orang tuanya. Bayangan darah kedua orang tuanya dan dirinya yang di peluk sangat erat oleh ibunya yang sudah berlumuran darah perlahan tergambar di depan matanya.

"Mama... hiks..hiks.." Nuah menangis, wajahnya memucat namun lampu belum kembali menyala.

"Pa...hiks.. hiks.. Papa.." Nuah menangis, Mamat sadar ada yang salah dengan tingkah Nuah tersebut, dia mendekat dan refleks memeluk tubuh mungil Nuah dengan erat.

"Jangan takut, meraka akan baik baik saja. Jangan takut Nuah." Mamat mengelus punggung Nuah dan merasakan getaran hebat dari tubuh Nuah.

'Ini trauma.' Mamat berucap dalam hatinya, dia terus mengelus punggung Nuah hingga akhirnya lampu kembali menyala.

Brak..!

Suara pintu kamar Nuah terbuka dan menampakkan seorang wanita menggendong bocah dan dua orang wanita berhijab menatap isi kostan Nuah.

"Nuah?" Wulan menyerahkan putranya pada Sofie dan langsung merangsak masuk ke dalam kostan tersebut.

"Mama.. hiks.." Nuah memeluk erat tubuh Mamat membuat Wulan merasa ada yang aneh pada bocah yang baru masuk ke wilayah kostan itu.

"Kamu, mau ngapain Nuah kamu?" Wulan merasa curiga namun di sisi lain dia juga merasa bila pria itu agaknya tidak menghiraukan keberadaan mereka.

"Tidak apa apa, aku di sini. Aku di sini." Itulah kata yang terus terucap dari bibir Mamat.

"Ma.. Pa.." suara Nuah bergetar kian lirih hingga setengah jam berlalu dan teman teman Nuah juga sudah duduk di dekat pintu memperhatikan kelakuan Mamat.

"Nuah, terimakasih." Mamat mengecup sekilas kening Nuah dan sontak ke tiga teman Nuah terperanjat, namun mereka seketika berhenti saat melihat Nuah sudah tertidur dan masih memeluk Mamat.

"Kamu siapa?" Wulan berbicara dengan sedikit berbisik agar Nuah tidak terbangun.

"Saya Mamat." Wulan menghela nafas panjang dan duduk dengan wajah penuh curiga.

"Saya bukan orang jahat, saya jamin itu. Saya hanya merasa bila gadis kecil ini membutuhkan saya. Betul bukan?" Mamat berkata dengan gayanya yang mengintimidasi hingga membuat Wulan sebagai sesepuh saja merasa ngeri.

Semua orang diam dan keadaan menjadi sangat sunyi, tak ada yang berani bersuara seorangpun saat merasakan aura dingin dari tubuh Mamat memancar dan membekukan sekelilingnya, jangkrik dan katak saja bahkan enggan bernyanyi malam itu.

Malam kian larut dan Nuah akhirnya bisa tenang, dengan hati hati Mamat membaringkan tubuh Nuah di atas ranjang dan menatap ke arah tiga orang wanita yang menatapnya serius.

"Mas, saya kasih tau ya. Gadis kecil yang tersakiti atau hanya di beri harapan palsu akan menjelma jadi monster mengerikan saat hatinya hancur." Wulan memberi wanti wanti saat Mamat melangkahkan kakinya ke arah tempat ponselnya tergeletak.

"Ada yang tahu sandinya?" Mamat mengangkat ponsel Nuah dan ketiga orang di sana menggeleng bersamaan.

"Minta kontak Nuah." Tanpa menghiraukan tatapan waspada ketiga gadis itu Mamat malah meminta nomor ponsel Nuah.

"Atas dasar apa kami harus memberikannya, pergi kamu!" Mamat mengangkat alisnya dan memotret Nuah yang tengah tertidur.

"Saya pergi, tapi malam ini tolong salah satu dari kalian menginap di kamar ini untuk menjaga Nuah." Mamat berlalu begitu saja dan menghubungi seseorang hingga tak lama kemudian sebuah mobil mewah datang dan mempersilahkan Mamat berlalu dari hadapan tiga gadis yang menatapnya penuh curiga.

"Haaaah.. gila aku serasa mau mati tadi!" Kia menghela nafas dan langsung terduduk lesu setelah Mamat pergi dari hadapan mereka.

"Iya, dia kaya bukan pria baik baik, iya gak si kak Wulan?" Wulan terdiam tidak menjawab pertanyaan yang di layangkan oleh temannya.

"Kak? Kak Wulan?" Wulan terkejut saat Kia memanggilnya berulang ulang dan membuat Kia dan Sofie juga ikut terkejut.

"Kak Wulan kenapa?" Wulan menghela nafas dan melihat Nuah yang terlelap dalam damai.

"Malam ini Kia tidur di sini. Sofie aku titip anak ku ya? Aku mau kerja." Tanpa menambah percakapan yang agaknya akan menjadi panjang Wulan langsung berkilah dan pergi.

"Aneh gak si Kak?" Kia bertanya pada Sofie yang nampak sangat keheranan namun dia juga mengangguk. Memang semua yang terjadi barusan agak aneh dan sesuatu hal yang tidak mereka mengerti.

Malam itupun belalu dengan penuh misteri dan tanda tanya yang belum terpecahkan kebenarannya, di tambah lagi Wulan tiba tiba diam yang menandakan sesuatu benar benar telah terjadi.

"Kia?" Nuah terbangun dari tidurnya dan melihat Kia yang sama tidur di atas ranjangnya dan menghadap ke arahnya.

"Kak Nuah, udah bangun?" Nuah mengangguk dan merasakan dadanya berdebar kencang. Nuah berusaha mengingat kejadian yang terjadi tadi malam dan dia tidak berhasil mengingat apapun kecuali saat dia mendengar guruh besar dan sudah begitu saja.

"Kak, semalam itu kakak?" Kia ingin bertanya namun Nuah langsung tersadar dan bangun dan nampak baik baik saja. Seperti layaknya seseorang yang baru bangun tidur saja.

"Mamat kemana?" Kia menelan salivanya mengingat sosok malam tadi yang suaranya saja seakan bisa membunuhnya begitu saja.

"Mamat itu siapa nya kakak sih?" Kia bertanya seraya bangkit dari pembaringan.

"Dia itu orang yang dulu mau nolong aku, cuma aku lakuin sendiri dan semalam ban mobilnya bocor dan kehujanan jadi ngikut neduh di sini. Gitu aja." Nuah menjelaskan apa yang memang sudah terjadi seingatnya.

"Oh, kepala aku rada sakit. Hari ini jalan bareng ya ke Univ." Nuah meminta saran yang langsung di angguki Kia begitu saja.

Pagi itu mereka berangkat bersama, namun Nuah harus pulang lebih sore karena harus menyelesaikan prakteknya, dia tertahan sedangkan Kiaa yang hanya mengisi dua SkS siang itu langsung pulang.

Nuah pulang cukup sore dan tanpa sengaja dia kembali bertemu dengan Mamat di depan gerbang kostannya.

"Eh kak Mamat, nyari siapa?" Nuah bertanya dengan nada sedikit penasaran.

"Nyari kamu, baru pulang?" Nuah mengangguk mengiyakan dengan pertanyaan tersebut.

"Kamu mengalami trauma ya?" Nuah mengangkat wajahnya bingung.

Aku mau memperkenalkan salah satu sahabat nih, dia orang ALIM yang pemalu dan selalu memilki banyak petuah baik.

Namanya kak Sofie, ayo say hai sama kak Sofie di kolom komentar.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!