Bertemu dengan mu

"Ee .. apa kamu tidak malu menindas gadis kecil?" Dari belakang suara Rizal membuyarkan, Mamat menghela nafas.

Cup..

Sebuah kecupan tiba tiba di layangkan Mamat di kening Nuah yang sontak membuat gadis itu melotot, bukan hanya terkejut dia juga tidak menyangka akan dapat serangan dadakan semacam itu.

"Ka..kamu!" Nuah menunjuk wajah Mamat yang tersenyum penuh kemenangan, Rizal terkekeh dan menggeleng pelan melihat kelakuan Mamat tersebut.

"Ayo masak." Mamat terkekeh melanjutkan kegiatannya tanpa mendengarkan umpatan Nuah yang langsung menghujam telinga mereka.

Malam hari Nuah akhirnya pulang, awalnya Rizal enggan ikut bersama mereka karena takut bila Wulan tidak akan memaafkannya.

"Tuuh kan, kak Wulan juga gak ada di rumah kataku juga." Nuah menatap Alif yang tertidur dan tempat kostan yang sepi, namun seorang wanita berbaju merah dengan make up tebal datang menghampiri mereka.

"Oh, lagi cari orang buat ngangetin ranjang ya? Wulan gak ada, dia lagi mangkal di Pom." Nuah yang mendengar itu langsung berbalik.

Wanita itu ternyata seorang PSK yang tinggal di lantai dua, Nuah menghela nafas panjang dan melangkah ke arah wanita itu.

"Hei nona, berapa harga mu dalam satu malam?" Nuah mendekat melihat sekitar tubuh wanita itu.

"Aku tidak suka berkompromi dengan mu, tapi dua pria tampan di belakang lumayan juga." Wanita itu menatap Mamat dan Rizal bergantian.

"Nitip Alif dulu." Nuah menyerahkan Alif ke tangan Rizal dan melangkah mendekat ke wanita itu.

"Kak Nuah udah pulang?" Kia keluar dari kostannya dan menatap seorang wanita yang kini berhadapan langsung dengan Nuah, Kia yakin bila Nuah belum mengetahui identitas sebenarnya dari wanita itu hingga akhirnya mendekat dan meraih tangan Nuah.

"Udah kak, gak usah di ladenin. Kita masuk aja, di luar dingin. Ayo!" Kia menarik lengan Nuah, namun amarah Nuah agaknya sudah memuncak.

"Aku tanya sekali lagi, siapa wanita yang kamu sebut sedang mangkal di Pom hah?" Nuah membentak wanita itu hingga membuat Kia juga merasa merinding, bahkan hawa dari tubuh Nuah kini hampir sama dengan yang di lakukan Mamat tempo hari.

"Ini?" Rizal menatap Mamat yang nampak tenang tenang saja dan memperhatikan punggung kecil Nuah yang tengah menentang dengan kasar.

"Memang benarkan? Kalo tidak, bagaimana dia bisa punya anak di luar nikah? Itu jelas karena perbuatan nyelewengnya kan? Heh punya anak haram saja di banggakan, aku bahkan malu mengakuinya." Kia yang mendengar itu kini juga malah tersulut emosi.

"Heh, tante! Kamu punya mulut di bersihin dulu pakek sabun ya! Sekalian otaknya juga biar bersih." Kia menekan dada wanita itu hingga membuat wanita itu refleks menggenggam tangan Kia.

Tangan Kia di remas hingga membuat Kia menjerit seketika, Nuah terkejut dan langsung mengambil pergelangan angan wanita itu menekan nadinya.

KREEEK..

Suara benda patah terdengar, bersamaan dengan itu tangan Kia terlepas dan jeritan berganti menjadi tangis dari wanita tersebut.

"Denger baik baik, kalo kamu berani menyinggung sahabat ku lagi. Bukan cuma sendi yang akan aku buat masalah. Hidup kamu juga akan aku buat menjadi bermasalah, ngerti!" Nuah melemparkan wanita itu hingga terjerembab ke arah timbangan air di sekitar sana dan langsung meraung kesakitan.

"Feet..." Mamat tidak tahan untuk mengeluarkan tawanya, dia langsung menarik tubuh Nuah dan mengelus kepala gadis itu.

"Sadis.." Komentar Mamat, Nuah sendiri hanya berdecak kesal mendengar komentar itu dan langsung mengambil kembali Alif.

"R...i.. hiks... Rizal..?" Sebuah suara serak tiba tiba keluar dari belakang Nuah, Nuah berbalik bersama ketiga orang di depannya, Nuah melotot menatap Wulan yang berada di sana.

Kia mundur, agaknya keberadaannya saat itu tidak baik. Kia langsung masuk ke dalam kostannya, Nuah sendiri menggusur Mamat masuk ke dalam kostannya bersama Alif karena tidak ingin mengganggu pertemuan sakral tersebut.

"Wulan?" Rizal setengah berbisik dengan air mata ang tiba tiba keluar, suaranya berbuah parau dan lidahnya kelu seketika.

PLAK..

PLAK..

Dua tamparan di layangkan Wulan di pipi kiri dan kanan milik Rizal, Rizal tau bila kelakuannya tidak di maafkan. Bahkan cincin yang dia berikan tidak ada di jari Wulan, itu sudah jelas bila dirinya mungkin akan sulit masuk ke kehidupan Wulan lagi.

"Dasar pengecut!" Wulan menarik lengan Rizal masuk ke dalam kostannya dengan air mata berlinang dan menutup pintu kostan tersebut dengan sangat kasar.

"Dasar pecundang, kamu bahkan tidak mengakui orang kecil seperti ku." Wulan menerjang dada bidang Rizal dan memeluk pria itu dengan air mata yang terus mengalir.

Rizal bisa merasakan tubuh Wulan yang bergetar hebat, dia juga bisa mencium aroma keringat dari gadis miliknya itu.

"Maaf sayang, aku mengakui mu. Tapi aku tidak bisa apa apa saat aku harus pergi, bahkan saat itu aku tidak tahu bila kamu... huft!" Belum selesai Rizal menyelesaikan kalimatnya bibir Wulan sudah menyumpal bibirnya, rasa asin dan rindu berbaur dalam bibir mereka.

(AUTHOOOOOR MALUUUUU!!!")🙈🙈

"Kamu baik baik saja di sana?" Wulan memukul dada Rizal, rasa kesal dan rindu menjadi satu dalam hati Wulan, jelas hatinya tak bisa mengatakan benci, tapi dia juga tidak bisa bila harus mengatakan rindu.

Apa yang sudah di lakukan Rizal sudah sangat menyakiti hatinya, tapi dia juga tidak bisa bila harus mencampakkan pria yang selalu ada di hatinya itu.

"Sayang, maaf." Rizal sulit mengatakan apapun hingga pelukan merekalah yang menafsirkan perasaan mereka kala itu denyut nadi dan detak jantung mereka sekan melebur menjadi satu, sunyinya malam itu menjadi saksi tentang rasa bahagia yang sulit tergambar di hati keduanya.

"Dari mana saja kamu?" Wulan mengangkat wajahnya hingga dua mata mereka beradu, Rizal mengecup sekilas kening Wulan hatinya benar benar menyatu kini.

"Aku di suruh belajar di NYU, aku tidak bisa menolak keinginan itu. Bahkan, demi memberikan kado itu saja aku sampai pingsan." Nampak senyum pahit tergambar dari bibir Rizal saat menyampaikan kalimat itu.

"Pingsan?" Wulan kembali memendamkan wajahnya dalam pelukan rizal.

"Ya, aku di kurung di kamar bahkan jendela yang biasa aku pakai kabur saja di lapisi jeruji besi. Sekarang kamu mengartikan kenapa aku tidak bisa menemui mu. Aku bangga dan sungguh sangat cinta pada wanita ku ini. Astaga.." Rizal mempererat dekapannya hingga sebuah senyum tersungging di bibir Wulan.

Kepercayaannya selama ini terhadap pria itu ternyata tidak sia sia, cinta keduanya mengunci mereka dalam saling percaya. Jarak tak mengubah apapun hanya menambah rasa cinta di antara keduanya yang semakin besar.

"Sayang, aku cinta kamu." Rizal mengecup bibir Wulan hingga akhirnya Wulan membuka mulutnya memberikan jalan pada mulut ganas itu untuk menjelajahi setiap rongga mulutnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!