Bertemu

"Kamu gak inget kayanya? Gadis baik itu harus bisa menerima kenyataan jangan menghindar." Mamat melanjutkan ucapannya kian membuat Nuah merasa bingung.

"Minggu besok saya jemput di sini. Jangan lupa jam 8 pagi." Mamat langsung berlalu pergi membuat Nuah tak memilki kesempatan untuk membantah ataupun menolak keinginan pria tersebut.

Nuah masuk ke dalam kostannya dan melihat Wulan yang sedang duduk di teras kostannya. Nuah melongokkan sedikit wajahnya dan akhirnya memilih mendekat ke arah Wulan.

"Kak semalam itu?" Nuah merasa bingung dengan apa yang terjadi namun Wulan malah tersenyum saja enggan menjelaskan.

"Kamu itu ya Nuah, kalo ada dua jalan antara menjalani dan melupakan pilihan yang bener itu ya menjalani lah Nuah. Mungkin kamu gak tau tapi aku yang punya pengalaman pahit aja masih serasa manis tau. Coba lihat anakku itu, dia gak punya bapak sekarang. Hari hari kesendirian aku Nuah dan kepedihan aku ini masih bisa aku telan, mungkin ini resiko menikmati kenikmatan hidup. Aku hamil sebelum menikah dan bertekad akan menentang takdir tapi coba lihat sekarang semuanya ancur loh. Tapi meski sakit dan perih tapi aku masih punya kenangan indah, dan membuat anak juga masuk salah satu kenangan indah ku loh Nuah." Wulan berbicara panjang lebar namun dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Nuah.

Nuah terdiam berusaha menyerap apa yang di katakan sesepuh dari kostan tersebut dan pada akhirnya dia menemukan jalan buntu. Nuah benar benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Beberapa waktu lalu, Kia saat itu baru saja tiba di kostan dan melihat Sofie belum pulang dan Wulan tengah menyuapi anaknya makan siang.

"Tumben masih siang?" Wulan menegur Kia yang kini duduk di sampingnya.

"Cuma 2 SKS jadi cepet pulang, oh iya kak semalam itu kenapa sih?" Kia bener bener sudah tidak sabar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu.

"Kakak juga gak tau pasti, tapi kakak pernah ngerasain apa yang di rasain oleh Nuah. Haaa.. meski begitu Kakak lebih memilih mengingat pria kurang ajar yang sudah pergi itu dari pada melupakannya, mau bagaimanapun dia adalah cinta dalam hidup kakak dan selamanya seperti itu." Wulan menjawab sembari dengan telaten menyuapi putra kecilnya.

"Aku gak ngerti kak." Kia menggaruk kepalanya tidak mengerti maksud yang di ucapan oleh Wulan.

"Udah di bilang kakak juga gak tau pasti apa yang terjadi, tapi kakak pikir Nuah itu pernah mengalami trauma dan ingatan kelamnya selalu dia simpan dan ingin melupakan semua hal tersebut, itu agak tidak masuk akal. Tapi kakak juga pernah mengalami hal sesakit itu dan mencoba melupakannya tapi kakak gagal karena setiap ingin melupakan, kenangan pahit itu akan muncul di saat saat tertentu." Wulan menjawab panjang lebar membuat Kia mengangguk faham.

"Jadi kak Nuah ini pernah mengalami trauma gitu?" Kia mengambil kesimpulan dari penjelasan Wulan.

"Ya kayana si gitu, dan semalam saat lampu mati dan petir itu kayanya bersangkut paut dengan kenangan buruknya Nuah, jadi ingatan yang terkubur itu muncul lagi. Tapi setelah tidur dia gak akan ingat apa yang sudah terjadi." Wulan menerangkan dengan teliti karena bagaimanapun dia juga pernah mengalaminya dan dia berjuang sendiri untuk memeluk kenangan pahit itu bersama dalam hidupnya.

"Aku kurang ngerti si, tapi kayanya itu sesuatu yang besar. Terus cowok yang semalam itu juga cuma kebetulan gitu kayanya ya?" Kia kembali bertanya dengan penuh penasaran.

Wulan mengangkat bahunya tidak tahu, tapi dia merasa itu takdir yang harus membelit hidup Nuah, sebagai seorang yang baik. Wulan hanya ingin menunjukkan jalan terbaik bagi Nuah.

"Hai Kia? Udah pulang?" Seorang pemuda berwajah tampan dengan kacamata menghias wajahnya menyapa Kia yang kini senyum senyum tidak jelas.

"Udah belajar sana, punya ponakan terus aja nyari kesempatan deketin gadis." Wulan mendorong tubuh pemuda itu masuk ke dalam kostan di seberang kostan mereka.

"Kak Wulan ih, kak Erul makin ganteng deh.. ahhh... hihihi." Kia cengar cengir sendiri dan melompat lompat seperti kangguru masuk ke dalam kamarnya.

Pria itu sendiri bernama Syahrul dan dia selalu di panggil Erul, Syahrul sendiri adalah seorang Mahasiswa di jurusan Teknik Informatika dan akan segera melakukan sidang skripsi. Di sisi lain Erul sendiri adalah keponakan dari Wulan meski usia mereka seumuran dan mereka juga tumbuh bersama hingga kedekatan Syahrul dan Wulan juga sudah seperti kakak beradik bahkan seperti saudara kembar.

Wulan hanya menggeleng saja melihat kegilaan Kia dan Syahrul yang entah seperti apa sebenarnya dan jalinan apa yang mereka miliki, namun bisa di pastikan dari begitu banyak pertemuan mereka Syahrul dan Kia memiliki rasa kagum satu sama lain.

Kembali lagi ke saat Nuah baru pulang dari kampus, dia akhirnya tak menemukan jawaban apapun dan berlalu pergi menuju ke kamarnya, Nuah mulai merasa ada yang aneh dari dalam dirinya, entah apa namun perasaanya selalu terasa tidak enak dan perasaan seperti itu bahkan semakin membuatnya tersiksa.

"Kayanya aku harus tau jawabannya." Nuah menghela nafas tajam dan membuka buku catatan hasil prakteknya sore itu dan mempelajarinya dengan seksama.

Beberapa hari berlalu dan pagi itu keriuhan benar benar tercipta di kostan itu, orang orang sudah banyak yang bersiap pergi dengan penampilan paling cantik dan tampan, Kia nampak tidak ada di kamarnya.

"Kia kemana Kak?" Tanya Nuah pada Sofie yang baru saja keluar dari kamarnya.

"Udah pergi, katanya mau ada acara di taman hijau. Biasa, dia itu dari fakultas kehutanan jadi lagi melakukan kegiatan berbau hutan sekarang." Nuah mengangguk mengerti.

"Eh, kamu mau kemana udah rapi gitu?" Sofie bertanya pada Nuah yang nampak sudah cantik dan siap pergi.

"Gak tau aku juga kak, ada yang ngajak main. Lumayan kalo gratisan kan?" Nuah terkikik dan memakai sepatunya sebelum akhirnya pergi.

"Aku pergi dulu kalo gitu kak Sofie, Papayo..." Nuah pergi meninggalkan Sofie yang tersenyum seraya melambaikan tangan pada Nuah.

Cuaca hari itu cukup dingin, Nuah menggunakan sebuah baju tebal dan mengikat sedikit rambut di bagian atasnya dua ke belakang hingga menunjukan sisi manis dari Nuah.

"Hai?" Seorang pria datang dengan mengenakan baju tebal juga menghampiri Nuah yang tersenyum lembut ke arahnya.

"Kak Mamat." Nuah menatap Mamat dari ujung kaki ke ujung kepala, saat mengenakan baju ketat tubuh atletis pria itu terpampang dengan sangat indah, namun saat menggunakan baju yang besar seperti itu Mamat terlihat seperti orang kurus saja, dan bahkan tidak memperlihatkan tubuh indahnya yang sudah sering berseliweran dalam fantasy liar Nuah.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!