Wulan menatap Box berbentuk love itu dan membawanya ke atas kasur, perlahan dia membuka benda tersebut dan tampaklah sebuah ponsel mahal dengan harga selangit, sebuah baju berwarna merah muda, kartu hitam dan sebuah kotak kecil bersama merah.
Wulan membuka kotak kecil tersebut dan tampaklah sebuah cincin berlian sekian karat tapi gak karatan yang bahkan harganya bisa membeli sebuah pulau, tapi bukan pulau jawa. Wulan tertegun menatapnya hingga secuir kertas dia temukan di dekat cincin tersebut.
Sayang maafkan aku bila aku pergi, tunggu aku. Aku pasti kembali untuk mu, aku mencintaimu.
Rizal tersayang mu
Tanpa sadar sebutir air mata keluar dari mata Wulan, hatinya tiba tiba berdenyut perih ada sebuah luka menganga di dalam sana. Sangat sakit dan perih, hujan di luar kian deras bahkan angin serta petir beradu dengan kasar.
Wulan merasa hidupnya hancur tanpa arti, dunianya sekan hilang tersedot cacing luar angkasa, sangat menyakitkan.
Perut Wulan terasa bergetar saat tangis itu kian menjadi, malam kian larut namun kehampaan dalam hatinya belum juga terobati. Seseorang yang sangat di cintainya kini pergi tanpa bertemu dengannya.
Pedih, perih dan hampa. Hal itu terasa menyatu dalam dada Wulan hingga berminggu minggu lamanya, perut Wulan juga kian membesar hingga membuat desas desus tentang dirinya kian menyebar.
"Kak, perut kamu kenapa?" Saat itu Syahrul baru pulang dari Universitas dan tanpa sengaja bertemu Wulan yang akan pergi.
"Aku hamil, udah aku pikirin akibatnya. Aku bego! Aku mau gugurin dia." Syahrul tiba tiba melotot dan menarik tubuh Wulan untuk duduk di kursi tepat di depan kamar kost Wulan.
"Kamu hamil kak? Tapi?" Syahrul menjambak rambutnya dan menatap intens ke arah perut Wulan.
"Gue malu Rul." Wulan tiba tiba menangis dan menumpahkan air matanya yang selama ini dia pendam sendiri, dia tidak pernah merasa memilki sesorang yang bisa mendengarkan keluh kesahnya.
"Lo malu kak, gue lebih malu kalo lo gugurin bayi yang gak punya salah itu kak." Syahrul memeluk Wulan dengan erat hingga kemeja abu abu yang semula di kenalannya basah oleh air mata Wulan.
"Gue harus gimana sekarang?" Wulan duduk lemas, Syahrul berjongkok di hadapan Wulan dan memegang kedua lengan yang kini sangat rapuh itu.
"Rul, gue gak punya orang tua. Gue cuma punya keluarga lo yang jadi keluarga gue sekarang, gua takut Rul." Wulan menggemgam erat tangan Syahrul.
"Lo emang kakak gue yang terbaik kak, meski gue keponakan lo yang gak punya ahlak tapi si tampan ini juga pasti punya jalan keluar. Lo gak usah takut, ok?" Syahrul berusaha mencairkan suasana membuat seulas senyum tergambar di wajah Wulan.
"Gue percaya kok." Wulan merasakan kehangatan dalam hatinya hingga seorang wanita mungil dan manis datang menghampiri keduanya.
"Permisi, aku mau tanya sesuatu nih." Wanita itu berdiri di belakang Syahrul membawa dua buah koper besar dan tersenyum kaku.
"Kamu ini?" Syahrul berbalik seraya bertanya pada sosok manis di hadapannya.
"Oh iya, aku Kia. Aku kesini mau tanya cara buat bisa ngekost di sini, aku harus gimana?" Syahrul tersenyum dan berdiri.
"Ok, aku bantu ya? Kak lo diem aja, inget apa yang gue bilang tadi." Syahrul menatap Kia sebelum akhirnya menetap Wulan dan sebuah anggukan kecil di berikan Wulan sebagai jawaban dari ancaman Syahrul.
Syahrul membantu Kia untuk mendaftar dan memilih kostan yang tepat, hingga pilihannya jatuh di samping kostan seorang wanita yang sudah memilki anak dua.
"Baiklah mulai sekarang kamu tinggal di sini, oh ya namaku Syahrul dan aku tinggal di sana." Syahrul menunjuk ke arah sebuah pintu yang berhadapan langsung dengan pintu kamar Wulan.
"Oh iya makasih banyak kak." Wulan tersenyum lembut dan tampaklah sebuah semburat merah di pipinya membuat Syahrul sendiri salah tingkah saat menatapnya.
"Ee.. a.. kamu istirahat dulu kalo gitu." Syahrul terpaku dan segera balik kanan merasakan debaran aneh di dadanya.
Kia juga menjadi sangat salah tingkah di buatnya, dia tersenyum senyum sendiri seraya mengigit bibir bawahnya dan membuka pintu kostan barunya.
Beberapa hari berlalu dan kedekatan Kia dengan Syahrul juga kian menjadi sangat akrab, berawal dari minta tolong benerin lampu sampai minta tolong benerin keran di kamar mandi Kia lakukan agar bisa melihat sosok tampan itu.
Tak ketinggalan juga Syahrul yang selalu meminta bantuan Kia untuk memilih bunga, dan terkadang mereka basah basahkan bersama saat mencuci sepeda motor Syahrul.
Bukannya buta, Wulan yang melihat keuwuan itu malah mendukung dari belakang ya meski dia sendiri terkadang sering ceplas ceplos dan melarang mereka untuk tidak terlalu dekat untuk sementara waktu.
Waktu yang di khawatirkanpun terjadi, tepat di pagi hari saat para warga kostan sudah pergi menuju tujuannya masing masing wulan merasakan perutnya mengencang.
"Ssst.. kok sakit sih?" Wulan mengelus perutnya, namun sayang perutnya itu masih terasa sakit hingga sebuah cairan keluar.
Dengan susah payah Wulan keluar dari kamarnya dan menatap kamar Kia dan Syahrul yang nampak sudah sangat sepi.
"Asssshhh... Sakiiit.." Wulan melihat darah mulai keluar dan pahanya sudah di penuhi cairan dan darah.
"Astagfirullah Mbak? Mbak kenapa?" Seorang wanita berparas cantik dengan hijab putih menghampiri Wulan.
"Tolooong.." Wanita itu tidak lain adalah Sofie yang baru saja pindah ke kostan tersebut kemarin sore.
"Iya kak, tapi ini..." Sofie membantu Wulan untuk melangkah masuk menuju kostannya dan dengan cepat melihat tempat tersebut.
"Oke tenang Sofie.." Sofie menarik nafas dalam dalam dan secepat kilat berlari menuju kamarnya mengambil perlengkapan kebidanan miliknya.
Sofie adalah seorang Mahasiswi kebidanan dan baru saja menyelesaikan KKN, namun karena kostan yang dulu dia tempati cukup jauh dari daerah kampus membuatnya harus pindah ke tempat tersebut.
"Ini udah bukaan 9!" Sofie tercengang, di tambah saat itu di kostan sangat sepi. Tangan Sofie dengan cepat memanaskan air dan membawa sebaskom air hangat ke dekat Wulan.
Tangan Sofie yang cekatan juga buru buru mengambil karpet plastik dan selimut untuk menjadi alas, hingga akhirnya darah tidak mengalir ke kasur.
Wulan memperhatikan dan terus mendengarkan intruksi yang di berikan oleh Sofie, saat yang paling sulit itu Sofie datang layaknya malaikat yang di turunkan oleh tuhan pada Wulan. Sofie ada tanpa Wulan sadari dan orang yang membantunya dalam kondisinya yang paling sulit.
"Oke kak, kepala bayinya sudah keliatan. Ayo tarik nafas dan keluarin kak.. ayo kak semangat!" Air mata Sofie berderai tangannya ikut bergetar karena bagaimanapun itu adalah pertama kalinya Sofie menjadi juru kunci atas keselamatan dua nyawa sekaligus.
"Rizaaaaaaal!!!!" Wulan berteriak memanggil sosok yang sudah membuatnya seperti itu jelas bukan benci dia melakukannya, dia melakukan hal itu karena dia sangat mencintai sosok tersebut dan menjadikannya sebagai sosok semangat dalam hidupnya.
Syahrul
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments