Gugup

Kita tunda dulu kisah dua pasangan itu, mari kita lihat sosok yang pulang kampung Sofie.

Sofie kala itu pulang menggunakan Bus, dia benar benar merasa lega saat tiba di depan rumahnya, namun pemandangan aneh nampaknya membuat Sofie menghentikan langkahnya sejenak.

"Kenapa ini?" Sofie mendekat ke arah di mana orang tuanya kini duduk di depan rumah tengah berbicara dengan sosok pria yang sangat di kenal oleh Sofie.

"Assalammu'alaikum." Sapa Sofie seketika ketiga orang itu mengangkat wajah mereka dan menatap ke arah Sofie yang kini mengulurkan tangannya pada kedua orang tuanya.

Sofie mengecup punggung tangan kedua orang tuanya penuh sopan santun, sedangkan saat menghadapi pria yang duduk di samping sang ayah Sofie langsung menelungkupkan tangan di dada.

"Wa'alaikum salam." Jawab semuanya, Sofie tertunduk malu saat tiba tiba wajahnya di teliksik oleh mata elang di hadapannya.

"Kak Revi, maaf ini ada apa?" Sofie melihat bagaimana kediamannya yang sudah berubah indah, bersamaan dengan itu dekoran yang kini menempel di setiap sudut ruangan memberikan kesan yang hangat.

"Aku akan menghalalkan mu malam ini." Mata Sofie seketika itu juga membulat mendengar penuturan yang di ucapan oleh sosok di hadapannya itu.

"Tapi kak, aku saat ini.." Sofie menggigit bibir bawahnya, dia ingin meminta waktu lebih banyak namun agaknya sekarang sudah terlambat di tambah Revi sudah cukup bersabar selama ini.

"Karena sudah datang di sini, aku pamit pulang dulu. Asslammualaikum." Sofie mematung dia bingung hendak melakukan apa kala itu.

Bayangkanlah wahai pembaca sekalian dia di mintai pulang dan saat pulang siang menuju sore dan malamnya dia harus menikah, andai ini bukan alur novel mungkin ini kehidupan kak Sofie.

Ibunda Sofie dan ayahnya sudah mempersiapkan segala hal akan di butuhkan oleh Sofie malam itu, gugup dan benar benar gugup yang di rasa Sofie malam itu.

Dia duduk di sebuah kamar yang merupakan kamarnya sendiri yang akan menjadi kamar pengantin pula baginya dan Ravi, Sofie merasakan setiap urat di tubuhnya menegang bersamaan dengan waktu yang kian menipis.

Di ruangan lain nampak berbagai orang dari berbagai kalangan sudah datang, termasuk orang tua Revi yang merupakan seorang Habib yang sangat di hormati.

Revi sendiri malam itu sebenarnya sangat gugup mau bagaimanapun ini adalah pernikahan keduanya dan dia bersumpah setelah menikahi Sofie dia akan menjadikan wanita itu sebagai sosok terakhir wanita yang menghiasi hidupnya.

Dalam bahasa arab yang fasih Revi mengucapkan ijab kobul di depan semua orang yang hadir, membuat seisi ruangan gempar setelahnya.

Seorang wanita yang tak lain adalah adik Revi membuka pintu kamar Sofie dia tersenyum tulus saat melihat gurat kekhawatiran terpampang dari kakak iparnya itu.

"Kak, jangan takut ya? Sekarang kita keluarga." Wanita yang mungkin seumuran dengan Sofie itu menutup wajah Sofie, itu memang sudah menjadi hal lumrah bagi para istri seorang Habib untuk tidak memperlihatkan wajah mereka kecuali pada suami, anak, dan orang tua mereka. Sofie mengangguk dan mulai mengikuti langkah adik iparnya itu.

Mata Revi kini tertuju pada sosok yang baru keluar dari kamar, dia mengangkat tangannya membuat semua orang berhenti bergerak termasuk Sofie yang masih di ambang pintu.

"Jangan keluar, tunggu aku saja." Semua orang tertawa mendengar ucapan Revi, memang sekarang Sofie sudah sepenuhnya menjadi hak Revi, jadi apapun yang di inginkan Revi adalah kewajiban bagi Sofie untuk mematuhinya.

Sofie mengangguk dan kembali berbalik, adik Revi nampak terkekeh melihat keposesifan kakaknya itu, dia benar benar tak habis pikir dengan apa yang akan terjadi pada Sofie bila terus berdampingan dengan Revi.

Malam itu berjalan damai damai saja, setengah jam lamanya Sofie menunggu Revi di dalam kamar, kaki Sofie kini bergetar bagaimanapun ini adalah hal yang akan di lakukan pengantin baru.

Sofie menghela nafas beberapa kali berharap menenangkan gejolak di dadanya yang tak karuan, apa yang akan terjadi setelahnya Sofie juga tak tahu, diam diam di balik penutup wajah itu Sofie tersenyum bahagia.

Revi memasuki kamar Sofie setelah menyelesaikan prosedur pernikahan berdasarkan Agama dan Negara kini dirinya benar benar sudah mengsetifikasi hak milik Sofie atas namanya secara agama dan hukum Negara.

Sofie yang merasakan kehadiran seseorang di kamarnya mulai merasa risau, Sofie duduk dengan keadaan tidak nyaman seolah yang di duduknya itu bukan kasur empuknya melainkan seperti sesuatu yang menggelitiknya.

Revi membuka penutup wajah Sofie hingga tampaklah sesosok wajah yang keindahannya seperti bulan purnama, terang dan cantik di tengah gelapnya malam itu.

Revi tak sanggup berkata kata, dia menatap setiap sudut wajah Sofie yang nampak tak terlihat kekurangan sedikitpun di matanya, dia mengusap pipi Sofie yang kini memerah.

"Kak Revi.. ak..aku.." Sofie berbicara dengan sangat gugup, Revi tersenyum penuh arti dan mengecup kening Sofie yang kini resmi telah menjadi istrinya itu.

"Jangan takut ya, aku suamimu. Panggil aku apa?" Revi bertanya dan berharap Sofie akan mengerti dengan sendirinya.

"Pa..panggil a..apa?" Sofie gelagapan kepalanya kini benar benar tak bisa berfikir jernih dengan apapun yang dia hadapi, gugup sudah menjadi panel dasarnya kini.

"Kok malah tanya balik, kan ISTRIKU sendiri yang akan memanggil suaminya." Revi menekan kata Istriku agar Sofie bisa mengerti dengan apa yang dia inginkan.

"A..aku Tidak tahu, sungguh! Aku cuma akan menurut saja. Kakak bilang saja mau di panggil apa oleh ku." Revi menepuk jidatnya benar benar pikirnya.

"Suamiku." Sofie melotot kemudian mengangguk patuh dengan keinginan Revi, saat itu Revi adalah masih dalam mode biasa belum menampakkan apapun tapi melihat ketakutan Sofie membuatnya merasa sudah sangat menindas istrinya sendiri.

"Su...suami ku.. a..anu aku mau tidur duluan ya." Sofie berusaha berdiri namun tiba tiba langkahnya terhenti saat lengan Revi menggenggam tangannya.

"Itu.." Revi nampak sedikit ragu akan mengatakannya, Sofie menangkap apa yang di maksud Revi berdasarkan sudut pandangnya.

"I...iya a..ku siap!" Ucap Sofie memejamkan matanya dan seketika itu juga tawa renyah seorang Revi keluar dari bibirnya.

"Gak mau mandi dulu maksudnya?" Ucap Revi yang langsung membuat mata Sofie membulat dan menggaruk tengkuknya ang sama sekali tidak gatal.

"Eh.. iya aku mandi dulu kalo gitu." Sofie langsung menyeret handuk miliknya memasuki kamar mandi hingga satu jam lamanya Sofie mandi hingga membuat Revi sendiri merasa khawatir.

"Sayang sudah mandinya?" Tanya Revi dari luar, Sofie tak menjawab yang membuat Revi semakin penasaran dengan apa yang terjadi di dalam sana.

Akukan suaminya, kenapa aku harus malu kalo melihat tubuh istriku sendiri. Batin Revi, Revi mengendap endap memasuki kamar mandi.

Ilustrasi Revi yang memilki tatapan tajam seperti elang.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!